
Tak ada percakapan yang terjadi diantara Digo, Henry dan juga perempuan yang mereka tolong itu selama perjalanan menuju ke alamat rumah Digo. Mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah memasuki rumah mewah tersebut.
Salah satu bodyguard yang di tugaskan menjaga rumah tersebut, berlari masuk kedalam rumah.
"Bos Digo dan bos Henry pulang!" teriaknya yang berhasil membuat semua maid yang tadi berkumpul menjadi satu di ruang keluarga langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Sebelum beberapa diantara mereka langsung berlari menuju pintu utama menyambut kedatangan tuan mereka.
Sheilla yang tadi terus melamun pun ia menolehkan kepalanya kearah bik Nah yang masih setia disampingnya. Terlihat jelas senyuman manis muncul di bibir wanita paruh baya itu. Lalu ia menganggukkan kepalanya, meyakinkan Sheilla bahwa perempuan itu tak salah mendengar tadi.
"Bik?"
"Iya. Tuan pulang seperti yang bibik tadi katakan jika tuan akan baik-baik saja," ujar bik Nah yang membuat mata Sheilla kini berbinar. Kemudian tanpa mengucapakan sepatah katapun, Sheilla langsung berlari kearah pintu keluar.
Dan saat dirinya sampai di pintu keluar, langkah kakinya terhenti saat melihat Digo dan Henry bukan pulang sendiri melainkan dengan seseorang yang cukup asing baginya.
Matanya memanas saat ia melihat Digo memapah tubuh perempuan itu yang tampak pincang dengan penuh kelembutan. Sheilla yang awalnya sudah excited karena laki-laki yang ia tunggu dengan penuh kecemasan itu ternyata pulang dengan keadaan baik-baik saja justru kelegaan dihatinya berganti dengan rasa tak suka melihat adegan di depannya.
Sheilla sudah tak tahan lagi melihat hal tersebut terlebih, Digo sekarang justru membopong tubuh perempuan itu ala bridal style. Sheilla yang sudah benar-benar tak kuat melihat pemandangan itu, ia memilih berlari masuk kembali kedalam rumah tersebut. Ia sempat melewati bik Nah yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya karena wanita paruh baya itu belum melihat apa yang Sheilla lihat pasalnya bik Nah tengah membersihkan alat P3K yang di gunakan Sheilla tadi. Dan saat dirinya ingin menyusul para maid yang lain, ia justru di buat penasaran dengan Sheilla yang berlari melewati dirinya begitu saja.
"Ada apa dengannya? Bukankah dia yang paling excited tadi? kenapa dia sekarang kelihatan kaya lagi nahan tangis? Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam bik Nah dan karena rasa penasarannya muncul. Bik Nah bergegas menuju pintu utama rumah tersebut dan saat dirinya telah sampai ia baru tau penyebab Sheilla seperti tadi.
"Huh pantas saja dia nahan nangis, orang lihat pujaan hatinya gendong cewek lain," gumam bik Nah sembari menggelengkan kepalanya.
Seluruh maid dan bodyguard menundukkan kepalanya saat si pemilik rumah melewati dirinya.
Henry yang berjalan di belakangnya tampak lesu sebelum langkahnya terhenti saat ada seseorang yang mencekal tangannya.
__ADS_1
Henry menolehkan kepalanya ke arah samping kanan tepat dimana seseorang yang mencekalnya tadi berada.
"Kenapa bik?" tanya Henry tak bersemangat. Ia cukup lelah hari ini dan ia ingin segara merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya itu. Namun sayang langkah kakinya justru harus terhenti karena wanita paruh baya yang sayangnya tak bisa ia abaikan itu karena ia sudah menganggap bik Nah seperti ibu kedua baginya.
"Perempuan itu siapa?" tanya bik Nah sembari menunjuk kearah perempuan yang masih di gendongan tuannya yang kini melangkahkan kakinya menuju lift.
Henry tampak menghela nafas.
"Perempuan malang yang menjadi salah satu korban dari kejadian di bandara itu. Dia baru kehilangan asistennya dan kehilangan semua barang-barangnya termasuk kartu identitas dan paspornya. Alhasil bos bawa dia kesini karena bos juga tadi yang menyelamatkan perempuan itu dari target si penembak," ujar Henry yang diangguki paham oleh bik Nah.
"Sudah kan bik tanyanya? Kalau sudah saya ke kamar dulu. Pegal semua tubuh saya dan mau istirahat juga. Mari bik dan selamat malam," sambung Henry lalu ia mulai melanjutkan langkahnya menuju ke kamar pribadinya yang berada di lantai itu.
Sedangkan disisi lain, Sheilla menatap kearah luar dari balkon kamar yang ia tempati itu. Air mata yang sedari tadi ia tahan, sekarang sudah tumpah membasahi pipinya kala ia mengingat adegan romantis tadi. Ia tak munafik semua yang di lakukan Digo dulu kepadanya justru membuat Sheilla terbawa perasaan dan jika boleh jujur ia sekarang menaruh hati ke laki-laki kejam yang hampir ia bunuh itu.
Ia terus melamun dengan air mata yang tak kunjung surut. Hingga---
Suara dobrakan pintu di kamarnya membuat dirinya terperanjat kaget, lalu dengan cepat ia menghapus air matanya kemudian ia masuk kedalam kamarnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat ternyata Digo yang melakukan pendobrak tadi. Ia berdiri mematung di ambang pintu balkon dengan mata yang melihat kearah Digo dan perempuan yang baru laki-laki itu dudukkan keatas ranjang.
Sheilla terus memperhatikan Digo yang tengah melepas sepatu high heels perempuan itu sebelum dirinya duduk tepat disamping kaki perempuan tersebut.
"Dimana yang sakit?" tanya Digo yang terdengar sangat perhatian dan lembut di telinga Sheilla.
"Di pergelangan kaki saya di sebelah kiri," ujar perempuan tersebut.
__ADS_1
Digo kini menggerakkan tangannya menuju ke pergelangan kaki perempuan tersebut lalu memijatnya dengan pelan.
"Awsss pelan-pelan. Sakit," cicit perempuan tersebut.
"Saya memijitnya sudah pelan, Nona. Jadi tahan sebentar. Jika saya tidak memijitnya sekarang, besok pagi kaki anda akan bengkak," ujar Digo. Lalu setelahnya ia melanjutkan memijit pergelangan kaki perempuan tersebut dengan telaten walaupun beberapa kali perempuan itu menjerit kesakitan jika Digo menekan bagian tersakiti di kakinya.
"Sudah. Bagaimana? Sudah mendingan?" tanya Digo. Perempuan itu tampak menggerakkan kakinya, benar saja rasa sakit akibat keseleo saat turun dari mobil tadi sudah lumayan mendingan dari sebelumnya.
"Sudah tuan. Terimakasih," ujar perempuan tersebut sembari tersenyum kearah Digo. Digo menganggukkan kepalanya.
"Lain kali hati-hati. Dan sekarang lebih baik anda membersihkan tubuh anda sebelum anda istirahat nanti," ucap Digo.
"Anda bisa ke kamar mandi sendiri kan?" tanya Digo yang membuat perempuan tersebut mengigit bibir bawahnya kemudian ia menggelengkan kepalanya.
Digo menghela nafas kemudian ia beranjak menuju ke samping badan perempuan tersebut. Lalu ia membopong kembali tubuh perempuan itu karena ia tak sabar jika harus menuntun perempuan tersebut.
Namun saat di tengah jalan, matanya tak sengaja melihat tubuh seseorang yang tengah menatap kearahnya.
"Sheilla," ucap Digo yang membuat perempuan di gendongannya menatap ke wajahnya sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah ojek yang Digo lihat. Ia membelalakkan matanya saat melihat ada orang lain yang ada di kamar tersebut.
Sedangkan Sheilla yang ketahuan melihat kemesraan kedua orang tadi, ia mendudukkan kepalanya.
"Kenapa kamu disini? Siapa yang mengizinkan kamu berada di dalam kamar ini?! Keluar dan kembali ke kamar sekarang!" perintah Digo dengan tegas yang membuat Sheilla memejamkan matanya karena terkejut akan bentakan dari Digo tadi.
"Maaf," ucap Sheilla sebelum dirinya beranjak keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Digo yang melihat tubuh Sheilla sudah keluar pun ia berdecak, lalu ia melanjutkan langkah kakinya menuju kedalam kamar mandi.
"Nanti akan ada satu maid yang kesini mengantar pakaian anda. Jika sudah selesai suruh maid itu bantu anda untuk jalan," ujar Digo dan tanpa menunggu timpalan suara dari perempuan tersebut ia bergegas keluar dari kamar tersebut menuju ke kamar pribadinya.