
Kini Sheilla dan Vina telah sampai di lantai tiga rumah tersebut.
Vina yang tadinya jalan terlebih dahulu, ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba yang hampir saja membuat Sheilla menabrak punggung perempuan tersebut jika saja Sheilla tak refleks membelokkan tubuhnya tadi.
"Hufttt untung saja tidak nabrak. Kalau tadi nabrak aku yakin tangan aku nanti akan melepuh gara-gara kopi panas ini," batin Sheilla sembari menatap kopi yang berada di nampan yang ia pegang tak goyah sedikitpun dari tempatnya.
Sedangkan Vina, perempuan itu kini menolehkan kepalanya kearah Sheilla.
"Dilantai ini banyak sekali ruangannya. Jadi sekarang kamu jalan duluan, tunjukan dimana ruang kerja Digo," perintah Vina.
"Baik Nona. Mari saya akan tunjukkan ruang kerja tuan," ucap Sheilla kemudian ia segera berjalan menuju kesalah satu pintu yang ada di lantai tersebut.
Dan hanya beberapa langkah saja dari tempat mereka berdiri tadi, akhirnya mereka berdua telah berada di depan pintu ruang kerja Digo.
"Ini Nona ruang kerja tuan," ujar Sheilla yang diangguki oleh Vina.
"Nah untuk perpustakaan pribadi tuan ada di samping ruangan ini," sambung Sheilla sembari menunjuk kearah ruangan di samping ruang kerja Digo.
"Oke, aku mengerti. Kalau begitu kembalilah bekerja Sheilla dan biar aku yang memberikan minuman ini ke Digo," ucap Vina sembari mengambil nampan tadi dari tangan Sheilla.
"Baik Nona. Kalau begitu saya permisi." Sheilla membungkukkan tubuhnya sesaat sebelum dirinya segera beranjak dari hadapan Vina yang tersenyum melihat kepergiannya.
Lalu setelah tubuh Sheilla menghilang di balik pintu lift, Vina menghadapkan dirinya di depan pintu ruang kerja Digo. Ia sedikit merapikan tatanan rambutnya yang tergerai indah itu sebelum tangannya kini bergerak untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok!
"Masuk!" Suara seseorang dari dalam membuat Vina semakin merekahkan senyumannya. Lalu setelahnya ia segera memutar kenop pintu tersebut dan saat pintu itu terbuka, matanya langsung tertuju ke arah Digo yang tampak berkali-kali lipat terlihat tampan saat laki-laki itu fokus dengan lembaran di hadapannya.
__ADS_1
Vina kembali menutup pintu tadi, sebelum ia melangkahkan kakinya mendekati Digo yang sedari tadi tak meliriknya sama sekali. Dan sepertinya laki-laki itu tidak tau jika yang datang keruangan itu adalah Vina.
"Aku lihat-lihat kamu sangat sibuk sekali ya," ucap Vina setelah dirinya berdiri di samping Digo.
Digo mengerutkan keningnya saat suara Vina masuk ke indra pendengarannya. Dan hal tersebut membuat dirinya menolehkan kepalanya kearah Vina yang tengah menampilkan senyum manis kepadanya.
Digo menghela nafas, ia pikir yang masuk kedalam ruangannya tadi adalah Henry karena sebelumnya ia sempat menghubungi sahabatnya sekaligus tangan kanannya itu untuk keruangannya. Tapi ternyata malah Vina lah yang mengetuk pintu tadi. Kalau tau begitu, Digo akan bungkam dan tak menyuruh perempuan itu untuk masuk kedalam ruang kerjanya karena terus terang saja ruang kerjanya tak pernah di masuki oleh perempuan mana pun kecuali ibunya, adiknya, dan bik Nah yang memang dikhususkan untuk selalu membersihkan ruangan tersebut.
"Ada apa?" tanya Digo dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Hmmmm sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berterimakasih karena sudah membelikan sekaligus memilihkan pakaian untukku tadi. Dan sebagai ucapan terimakasih aku buatkan kamu kopi," ucap Vina sembari menaruh secangkir kopi tadi tepat di hadapan Digo yang membuat laki-laki itu langsung menggeser gelas tadi menjauh darinya. Bahkan ia langsung berdiri dari duduknya.
"Lebih baik minuman itu kamu bawa lagi dan segeralah keluar jika tidak ada hal penting yang perlu kita bicarakan," ujar Digo.
Vina mengerutkan keningnya.
"Saya terima ucapan terimakasihmu itu. Tapi saya tidak bisa untuk mencicipi minuman itu," ucap Digo dengan sebisa mempertahankan kesabarannya.
"Kenapa?"
"Karena saya tidak suka kopi. Kamu sudah paham kan alasan saya tidak bisa mencicipi minuman itu. Kalau sudah paham keluar dan bawa minuman itu sekarang juga!" ucap Digo dengan nada suara yang ia tinggikan. Dan suara dari Digo itu membuat Vina yang mendengarnya terperanjat kaget.
"Tapi---"
"Keluar Nona! Atau saya akan berbuat kasar dengan anda!" sentak Digo yang berhasil membuat Vina kini mengambil kopi tadi dan meletakkannya kembali keatas nampan sebelum dirinya dengan langkah lebar keluar dari ruangan kerja Digo.
Digo yang melihat pintu ruang kerjanya kembali tertutup, ia menghela nafas panjang. Dan saat dirinya baru juga mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, pintu ruangan tersebut kembali terbuka.
__ADS_1
"Apa lagi?!" galak Digo.
"Wahh wah wah santai Bro," ucap Henry yang tadi sempat melihat kilat amarah di mata sahabat itu.
"Ada apa? Siapa yang sudah buat sahabat aku yang kejam ini marah?" tanya Henry sembari mendudukkan tubuhnya di sofa di ruangan tersebut.
Sedangkan Digo, ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya.
"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan informasi tentang perempuan itu?" tanya Digo tanpa menjawab pertanyaan dari Henry sebelumnya.
Henry memutar bola matanya malas kemudian ia merogoh ponselnya dan dengan cepat tangannya meluncur ke satu berkas yang masuk kedalam email-nya beberapa jam yang lalu.
"Nama dia, Alvina Ayudia. Seorang artis dan model terkenal di negara kelahiran kita yaitu Indonesia. Jadwal dia kesini untuk melakukan pemotretan sebuah majalah. Tapi semuanya gagal setelah kejadian di bandara itu. Dan untuk tas yang berisi dokumen dia, sampai sekarang pihak kepolisian belum juga menemukannya. Dan untuk mengurus berkas-berkas penting itu yang hilang, aku sudah menghubungi pengacara kamu yang ada di Indonesia untuk mengurus semuanya disana," jelas Henry yang diangguki oleh Digo.
"Dan bagaimana perkembangan akan kasus di bandara itu?" tanya Digo.
"Polisi sudah menyelidiki dan semua pelaku sudah berhasil mereka tangkap. Dan motif dari kasus itu murni karena mereka hanya ingin melakukan aksi perampok sekaligus mencuri identitas para warga asing untuk dijadikan sebagai sarana penipu untuk publik," ujar Henry.
"Terus bagaimana dengan jasad teman dari perempuan itu?"
"Jasad dia baru selesai diotopsi sore ini dan kemungkinan besok jasad itu akan di kembalikan ke rumah duka. Yang otomatis akan dikirim ke rumah ini," ucap Henry.
"Baiklah. Besok berikan penyambutan terakhir untuk dia sebelum di kebumikan," ujar Digo yang diangguki oleh Henry.
"Sudahkan?" tanya Henry sembari memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.
"Ya. Kalau kamu mau pergi, pergilah," ujar Digo yang diangguki oleh Henry. Dan setelahnya, Henry beranjak dari duduknya dan laki-laki itu bergegas keluar dari ruang kerja Digo.
__ADS_1