ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HAL TAK TERDUGA


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Ki Karta sembari melempar senyum kepada Mbah Turahmin serta Darto yang baru saja selesai berdoa.


"Wah... Karta?! Kami mau ke rumah kamu sehabis ini rencananya, tapi kita malah ketemu di sini," jawab Mbah Turahmin di barengi senyum dan anggukan dari Darto.


"Kamu sehat saja kan, Min? Saya sudah tunggu kamu sampai empat bulan," Sambung Ki Karta sembari meraih tangan Mbah Turahmin yang sudah disodorkan terlebih dahulu.


"Alhamdulillah, Ini cucu saya, Kar. Namanya Darto, dia yang mau urus apa yang kita tidak bisa selesaikan dari dulu," ucap Mbah Turahmin sembari menunjuk cucu di sampingnya.


"Pemuda ini? Subhanallah.. Saya kira kamu yang akan mengurus semua, Min. Tapi apa bisa, Min?" Ucap Ki Karta sedikit terjejut, dia sedikit ragu bahwa pemuda di depannya itu yang akan mengurus semua permasalahan yang melanda bertahun-tahun lamanya.


"Saya cuma remukan rengginang kalau dibanding cucu saya, Kar! Ha ha ha ha! Dia yang kemarin dirawat Kanti dan dilatih Abirama," ucap Si Mbah terkekeh pelan, sembari mengusap kepala cucunya.


"Kamu bisa saja, Min. Yasudah kita mau ke rumah sekarang atau nanti sehabis isya?" tanya Ki Karta.


"Nanti aja habis isya, daripada bolak balik," jawab Mbah Turahmin singkat.


Setelah itu, Darto dan Mbah turahmin menghabiskan bakda maghrib hanya dengan bergurau dengan penduduk desa. Darto tampak terus menyapu pandangannya menuju sekeliling surau, meski mulutnya terus menjawab rentetan pertanyaan yang Asep dan Ujang lontarkan. Asep dan Ujang langsung akrab dengan Darto, mereka langsung bercerita banyak tentang apa yang tengah terjadi di desa mereka, dan Darto hanya bisa menyuruh mereka untuk bersabar hingga tanggal 1 suro yang akan datang dua hari lagi.


"Kamu bisa tidur di rumah saya saja, Dar. Saya sendirian, orang tua saya sudah mengungsi empat bulan lalu, nanti biar ujang tidur bareng sama kita," ucap Asep menawarkan tumpangan, dibarengi anggukan kepala dari Ujang.


"Sebentar," jawab Darto singkat kemudian beranjak menuju tempat Si Mbah yang tengah bercerita panjang lebar dengan Ki Karta.

__ADS_1


"Mbah, Nanti saya tidur di rumah Asep, ya? Si Mbah saja yang menginap di rumah Ki Karta. Kata mereka Aki punya putri?" ucap Darto kepada Si Mbah turahmin, kemudian bertanya pada Ki Karta yang sedang duduk di sebelah Si Mbah.


"Iya, Dar, memang kenapa?" tanya Ki Karta sedikit bingung.


"Tidak apa-apa, Ki. Berarti mendingan saya nginap di rumah Asep saja. Takut ada omongan tidak enak dari tetangga Aki," ucap Darto kemudian sedikit tersenyum.


Mendengar apa yang Darto utarakan, Mbah Turahmin dan Ki Karta saling bertatap mata, kemudian terbahak bersama dan menyetujui permintaan yang Darto ajukan.


Setelah Darto mendapat persetujuan Si Mbah, dia kembali ke tempat Ujang dan Asep duduk. Dia berkata setuju untuk menginap di rumah Asep, setelah mengantar barang bawaan Si Mbah ke rumah Karta. Asep dan Ujang senang mengingat akan ada teman yang berkunjung ke rumahnya malam ini, mereka tampak lega karena akan ada satu orang tambahan yang akan bergantian berjaga.


Tidak bisa dipungkiri, semua warga kampung Ijuk selalu tidur dalam rasa was-was. Mereka masih takut akan kedatangan ular yang selalu muncul tiba-tiba, meski mereka sudah menabur garam mengelilingi rumah seperti yang Ki Karta anjurkan.


Tidak lama setelah perbincangan itu, Ki Karta pamit untuk sekedar mengumandangkan Adzan. Semua orang langsung bergegas menunaikan shalat isya, dan setelah itu Darto dan Si Mbah berjalan menuju mobil yang merek bawa untuk meraih barang bawaan mereka.


"Perkenalkan, Dar. Ini putri saya, namanya Gayatri," ucap Ki Karta tepat setelah sampai di rumah miliknya. Dia memperkenalkan putri semata wayangnya yang baru saja membukakan pintu untuk mereka.


Mendengar itu, Darto sontak menoleh ke arah seseorang yang tengah diperkenalkan oleh Ki Karta. Setelah matanya menangkap wajah yang dimiliki putri Ki Karta, Darto sempat tertegun hingga bungkam dibuatnya. Darto benar-benar tidak bisa membuang pandangannya ,dari wajah cantik yang tengah dia tatap dalam diamnya.


"Dar! Sadar!" ucap Ujang sembari menepuk pundak Darto.


"Eh, Maaf. Saya Darto, Mbak," ucap Darto sedikit malu karena ketahuan melamun ketika memandang wajah Gayatri.

__ADS_1


Melihat gerak gerik Darto, Ki Karta dan Si Mbah langsung bertatap mata kembali. Mereka saling memasang wajah aneh, kemudian terbahak melihat keluguan Darto yang berhasil membuat Gayatri tersipu malu. Bahkan kedua orang tua itu sempat bersiul menggoda Darto yang kini tampak begitu gelagapan, hingga pipi dan kupingnya meremang.


"Jadi ingat pas kita muda ya, Min. Ha ha ha ha!" ucap Ki Karta sembari terbahak.


"Iya! Kamu dulu pas pertama ketemu istrimu malah sampai jadi orang gagu! Eh...bukan gagu, tapi tuna wicara! Ha ha ha!" ledek Si Mbah lebih terbahak hingga keluar bulir dari matanya.


"Sudah dong! Bikin malu saja, ha ha ha!" jawab Ki Karta sembari menarik Si Mbah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Setelah masuk, semua orang disuguhi teh hangat oleh Gayatri, kemudian gadis itu ikut duduk di ruang tamu bersama Asep dan Ujang. Mereka bertiga ingin mendengar penjelasan tentang apa yang yang akan Darto lakukan, pada malam satu suro.


"Begini, Nak, di desa kami ada sungai. Kamu ikuti saja sungai itu melawan arus, nanti kamu bakal ketemu sama air terjun. Setahu saya dari sana ular-ular itu datang, saya pernah melihat induk mereka di sana," ucap Ki Karta membuka sebuah perbincangan serius.


"Aki lihat ular hitam yang besar?" tanya Darto sedikit terkejut.


"Iya, Dar. Ular itu tidak sendirian, dia punya pasangan," ucap Ki Karta dengan nada sedikit gelisah.


Mendengar ucapan itu, Si Mbah, Darto, Ujang, Asep serta Gayatri dipaksa untuk membulatkan mata. mereka benar-benar terkejut dengan kalimat yang baru saja Ki Karta utarakan. Bahkan Si Mbah langsung memasang wajah pucat, mengingat cucunya harus mengalahkan dua mahluk yang bahkan dulu bisa mengalahkan cucunya, meski hanya satu ekor saja.


"Ini, Nak. Teman saya berpesan untuk memberikan benda ini pada seseorang yang akan datang untuk menolong kampung kami," sambung Ki Karta sembari menyodorkan kalung hijau serta cincin merah yang tidak asing lagi bagi Darto.


"Sastro! Wajana!" teriak Darto dengan wajah geram. Dia memanggil dua mahluk yang terkurung, di dalam benda yang sempat hilang dari tangannya itu.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2