ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PILIHAN


__ADS_3

Delapan bulan kembali berlalu, kelahiran putra lelaki Utami berlangsung lancar. Tidak ada hambatan dan juga terkesan tidak menyulitkan.


Ki Gandar benar-benar senang di hari itu, dia merasa menjadi ayah yang sesungguhnya, setelah darah dagingnya keluar dari rahim istrinya.


Hari ini kampung milik Ki Gandar sangat ramai, mereka sampai berpesta hanya untuk menyambut kedatangan keturunan Ki Gandar. Semua warga membawa separuh dari persediaan makanan di rumah mereka, hanya untuk menggelar selamatan untuk kelahiran anak Raja mereka.


Ki Gandar dan Utami benar-benar merasakan kebahagiaan yang lengkap, mereka berdua terus hanyut dalam rasa suka cita. Tanpa mereka sadari lima bulan dari hari kelahiran Brahmana sang adik Amerta, dua kakak adik itu akan kehilangan sosok ayahnya, yang hangus terbakar bersama semua warga tercintanya.


Darto dan Jaka kembali dibawa menuju tempat terbakarnya semua warga, saat itu delapan pecahan bola api menyebar. Mereka berdua dibawa menuju tempat dimana kedelapan bola api itu singgah secara bergantian.


Satu demi satu desa yang merupakan wilayah dari kekuasaan kerajaan Sendang langit hangus terbakar. Tidak ada satupun nyawa yang tersisa dalam kurun waktu dua hari saja.


Kerajaan Sendang Langit yang begitu besar pengaruhnya, dan juga begitu luas wilayahnya benar-benar berubah menjadi abu. Tidak ada yang tersisa, dan semua orang juga takut untuk menyebut nama kerajaan tersebut.


Setelah hari itu, nama dari Sendang langit menjadi sebuah pantangan bagi semua orang yang hidup disekitar wilayah kerajaan tersebut.


Semua orang takut akan mati terbakar, meski hanya menyebut nama kerajaan tersebut. Mereka percaya sepenuh hati, setelah melihat dengan mata kepala sendiri semua sisa kerajaan sudah rata dengan tanah.


Itu lah awal mula hilangnya sebuah kerajaan yang maha luas dan sangat besar pada masanya, nama yang lambung setinggi langit pada masa kejayaannya, namun hilang bagai ditelan bumi hanya dalam hitungan hari saja.


Setelah melihat satu persatu tempat yang sudah menjadi arang. Jaka dan Darto dibawa ke sebuah tempat yang semula pernah ia datangi. Eyang Semar menyuruh mereka mencelupkan wajah dua pemuda dengan mata terbuka di dalam kubangan, dan sesuatu langsung mengejutkan Darto dan Jaka setelah melihat keanehan ketika tengah melihat di dalam air.


"Apa itu, Eyang?" tanya Jaka dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa mirip sekali dengan aura Jaka?" sambung Darto lebih keheranan.


"Semua keturunan Raja Sendang Langit memiliki aura merah sama seperti Jaka. Bedanya warnanya lebih padam, tidak secerah milik Jaka," sahut Eyang semar mencoba menjelaskan.


"Mahluk yang kalian lihat itu wujud dari sosok yang melakukan perjanjian dengan Raja pertama di kerajaan Sendang Langit," sambung Eyang Semar.


"Lalu? Apa hubungannya dengan Jaka, Eyang?" Timpal Darto dengan kening mengkerut.


"Anak pertama yang dirawat oleh Gandar adalah darah daging Satria. Karena kecantikan yang dimiliki olehnya, wanita itu dibawa oleh Satria ketika dia tengah merebut paksa kampung halaman tempat tinggal Utami. Sampai di sini kalian pasti paham, Kan?" Sahut Eyang Semar.


"Jadi sebelum sampai di tempat Ki Gandar dia pernah tinggal di kerajaan Sendang Langit?" tanya Jaka.


"Dia dikurung selamanya di dalam kamar, tugasnya hanya untuk melayani hasrat biadab Satria setiap harinya. Suatu saat dia hamil anak Satria, namun Satria justru merasa tidak suka dengan hal tersebut. Satria terus menyiksa Utami dan calon anaknya, dengan maksud untuk menggugurkannya. Tidak cuma sekali--dua kali Utami menerima pukulan telak di perutnya, namun tidak ada yang bisa menolak kehendak Yang Maha Kuasa," ucap Eyang Semar terhenti, dia menghela nafas panjang untuk sesaat.


"Darah daging satria benar-benar tetap sehat, meski Ibunya kadang tidak makan sampai tiga hari. Satu hari setelah puas memukuli Utami, Satria pergi dan lupa tidak mengunci pintu kamar yang digunakan Utami. Utami yang melihat kesempatan langsung pergi meninggalkan kamar miliknya kemudian kabur melalui hutan yang berada di belakang istana," sambung Eyang sembari membanting pandangannya. Dia merasa kasihan dengan sosok wanita yang memiliki nasib begitu tragis.


Jaka hanya menunduk kemudian berkata, "Lalu? Eyang bilang jika Kang Darto juga memiliki Nenek moyang yang sama? Bukannya dia juga menjadi incaran Banaspati?"


"Kamu itu keturunan Amerta, Jak. Anak pertama Utami. Sedangkan Darto memiliki garis darah yang dimiliki Brahmana, adiknya Amerta. Darto membawa garis darah Gandar," jawab Eyang singkat.


"Kamu, Dar. Mungkin hanya kamu yang bisa menghentikan Banaspati, bahkan Darma tidak pernah aku tunjukkan ingatan ini. Aku menyesal dulu tidak percaya pada Darma, sehingga dia mati demi melindungi Surya," ucap Eyang kembali, kali ini dia menatap Darto dengan air mata yang mulai terkumpul di kantung matanya.


Mendengar ucapan Eyang Semar, Jaka dan Darto benar-benar keheranan. Mereka berdua menganggap jika takdir memang berjalan dengan sejuta kebetulan, yang membuat mereka dan juga pendahulunya selalu bertemu dengan garis keturunan, yang sudah tidak saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


"Darto ... Jaka ... ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Jadi jawab sejujur-jujurnya karena ini dua pilihan yang kalian miliki," ucap Eyang memecah kebingungan Darto dan Jaka.


Mendengar ucapan itu Darto dan Jaka sontak saling mengangguk kemudian memasang telinga untuk pertanyaan yang akan Eyang katakan.


Melihat dua pemuda di depannya mengangguk Eyang kembali membuka suaranya, "Kalahkan banaspati dengan bertarung, atau serahkan Jaka untuk persembahan, mana yang akan kamu pilih, Dar? Kedua pilihan itu bisa mengakhiri pertikaian ribuan tahun ini."


Mendengar itu Jaka spontan menunduk, dia merasa sedih setelah tahu jika dirinya membawa takdir yang sangat mengerikan di dalam darahnya. Sedangkan Darto yang melihat Jaka tertunduk sesaat langsung menghela nafas panjang dan berkata, "Sudah jelas bukan? Aku pergi bersama adikku untuk meminta pertolongan Eyang. Kami sudah sepakat untuk melawan mahluk itu bersama."


Jaka langsung mendongak setelah mendengar ucapan Darto. Dia merasa terharu dengan ucapan yang keluar dari bibir Darto, hingga tanpa sadar bulir air mengalir dari sudut matanya. Dalam rasa sedihnya Jaka berkata, "Terimakasih, Kang. Tapi jika nanti Kang Darto dalam bahaya, ijinkan Jaka menyerahkan diri saja."


"Tidak! Tidak akan aku biarkan kamu mati! Akan aku lindungi kamu, Jak. Jangan pernah ucap kata itu lagi!" sahut Darto sedikit ketus, matanya melihat ke arah Jaka dengan tatapan tajam. Sungguh tatapan yang terpampang sangat menjelaskan betapa yakin Darto dengan pilihan yang sudah dirinya pilih.


"Tapi, Kang?!" tolak Jaka dia tetap tidak bisa menerima jika Darto harus membahayakan nyawanya, ketika ada pilihan yang lebih bagus dengan hanya mengorbankan dirinya.


"Jaka! Cukup!" Teriak Darto dengan wajah emosi, dia sangat tidak terima dengan pemikiran Jaka.


Melihat Darto yang emosi, Eyang Semar menarik Darto menepi, meninggalkan Jaka sendirian agar dia tidak mendengarnya.


Saat itu Eyang Semar membisikkan sesuatu di telinga Darto. Jaka yang tidak bisa mendengarnya dari tempatnya berdiri tampak begitu penasaran, sedangkan di sisi lainnya Darto tampak sangat terkejut dan sangat kebingungan. Wajahnya tertunduk layu, dengan ekspresi bimbang yang terpampang.


Tidak lama setelah Eyang Semar membisikkan satu kebenaran pada Darto, Eyang Semar membawa kembali Darto yang masih tampak kebingungan ke sisi Jaka. Kemudian kembali bertanya pada Darto, "Apa kamu siap Nak Darto sang keturunan Prabu Amerta?"


Sejenak Darto menunduk, dia berfikir keras dengan ekspresi benar-benar bingung, namun sejurus kemudian Darto menatap Jaka yang kebingungan dengan wajah polosnya. Setelah melihat wajah Jaka yang selalu membuatnya merasa menjadi seorang kakak, Darto mengangkat wajahnya sembari berkata, "Aku siap!"

__ADS_1


Melihat wajah Yakin pada Darto, dan juga wajah rela berkorban pada Jaka, Eyang Semar langsung tersenyum dan memeluk dua jiwa di depannya. Dia memeluk sangat erat dengan ekspresi lega yang sangat kentara. Dalam dekapannya, Eyang semar menghela nafas panjang, kemudian menghembuskan sekali tiup sembari berbisik, "Kalian lulus."


Bersambung ....


__ADS_2