
Satu tahun berlalu. Sejak malam itu, Darto lebih sering mengurung diri di rumahnya. Hanya keluar ketika melakukan shalat jamaah di masjid, membeli makan di depan pesantren sebelum magrib, maupun melakukan sebuah kegiatan sosial.
"Gus Darto gimana kabarnya ya Din?" ucap Surip yang tengah duduk berdua dengan Bidin di teras masjid.
"Iya ya Sur, kita jadi jarang ketemu sekarang, terakhir dua minggu lalu kita ke rumahnya tapi dia enggak keluar kamar," Jawab Bidin yang tengah rebahan di samping Surip.
"Kita coba mampir lagi yuk. Sekalian ajak Harti" Ajak bidin, kemudian mereka beranjak pergi menuju rumah Harti yang bersebelahan dengan rumah Pak Kyai.
"Assalamualaikum!" teriak Bidin di depan pintu rumah yang di tinggali keluarga Harti.
"Waalaikum salam!" jawab Bu Sumi sembari membuka pintu.
"Ada apa Le?"
"Harti di rumah Bu?" Tanya Surip
"Oh Harti, Dia lagi ke rumah Pak Kyai, katanya mau ngecek Darto. Pak kyai bilang Darto sudah jadi hafiz,"
"Beneran Bu?! yasudah kami susul ke sana sekarang"
"Pareng Rumiyin njih Buk, Assalamualaikum!" (permisi pulang dalam bahasa jawa halus)
"Njih," (Iya) Jawab Bu Sumi kemudian menutup pintu rumahnya.
Surip dan Bidin bergegas menuju rumah sebelahnya. Benar saja ada sendal perempuan di depan pintu rumahnya.
"Nah ini sandal Harti Din, Kita langsung masuk saja yuk" Ajak Surip sembari melepas sandal jepit di samping sendal Harti.
"Assalamualaikum.!" Teriak Bidin seusai membuka pintu rumah Pak Kyai, Bagaimanapun rumah Pak Kyai itu rumah temannya sendiri, jadi mereka tidak perlu menunggu di bukakan pintu, sudah hal biasa mereka membuka sendiri.
"Waalaikumsalam" jawab tiga orang dari dalam rumah, yang tidak lain adalah Harti, Kakung, dan juga Darto yang tengah duduk di ruangan depan.
Sama seperti tahun lalu, mereka berlima duduk di satu ruangan. Bedanya, sekarang ketiga temannya tengah menyaksikan ujian akhir dari Pak Kyai untuk Darto, sesekali Pak kyai menyebut angkat ayat dari sebuah surat, dan Darto menjawab menjawab dengan melantunkan ayat yang di sebutkan Kakung tanpa membaca kitab.
Target Darto untuk hafal dalam dua tahun, berhasil dia singkat menjadi setahun. Surip dan Bidin yang terus terpaku dengan lantunan dari bibir Darto seketika mengerti. Seberapa keras temannya itu berusaha menghafal, hingga mengurung diri di rumah selama setahun penuh.
__ADS_1
"Kalian gimana? Kurang berapa juz lagi?"
Tanya harti mengulum senyum memampangkan rasa bangga karena calon suaminya sudah di nyatakan lulus oleh Pak Kyai.
"Sebentar lagi saya susul Gus Darto, tinggal lima juz lagi," jawab Bidin.
"Aku tinggal empat setengah lagi. Berarti pinter aku ya Din daripada kamu hahaha!" Surip terbahak.
"Saya doakan kalian cepat nyusul Darto, dan Saya bangga karena kalian yang jadi teman Darto" ucap Kakung dengan mata sendu.
"Amin Pak Kyai" ucap serentak Surip dan Bidin.
Memang benar, peribahasa yang mengatakan, jika berteman dengan tukang minyak wangi, maka kita juga bakalan wangi. Karena teman adalah cerminan diri kita sendiri.
"Dar.. Kakung sudah mengajarkan semua yang Kakung punya. Selanjutnya tinggal bagaimana kamu memolesnya, karena sekarang kamu libur puasa, Simbah kasih kamu tugas!" Ucap kakung menghentikan obrolan empat murid teladan di ruang tersebut.
"Tugas nopo Kung?" (Tugas apa) jawab Darto yang seketika membuat suasana menjadi hening, teman-temannya memasang telinga dengan rasa penasaran di dadanya.
"Sekarang kamu balik ke danau, dan bawa mahluk itu ke sini. Itu tugas pertamamu Dar"
Mendengar ucapan kakung, ketiga teman Darto bergidik seketika. Bulu kuduk mereka meremang, mengingat kejadian tepat setahun lalu yang mereka alami.
Jawab Darto dengan tatapan tegas, tak terlihat keraguan sedikitpun dimatanya.
"Kalian harus temani Darto ya?" Kakung menoleh dan memastikan satu persatu wajah teman Darto yang ketakutan itu.
"Tapi pak Kyai.." Bidin berharap bisa menciptakan alasan. Namun dia sama sekali tidak bisa berdalih.
"Sudah! Darto sudah bisa di andalkan, tugas kalian cuma lihat dia, kalau semisal ada apa-apa, kalian bisa lapor, biar Simbah susul ke sana!"
"Yasudah Mbah, Saya mau!" Jawab Harti.
"Nah kan, Lanang kok kalah karo wedok!"
(cowok kok kalah sama cewek) Kakung tertawa sembari mengelus jenggot panjang di bawah dagunya.
__ADS_1
Mendengar ejekan Pak Kyai, Surip dan Bidin terpaksa menyanggupi permintaan Pak Kyai untuk berkunjung kembali ke danau itu, setelah tepat satu tahun tidak pernah ke sana.
"Aku pengen makan ikan lagi, nanti kalian mancing ya, pas aku lagi jalanin tugas," Ucap Darto.
"Tapi kalau dapat kepala lagi gimana Gus?" Tanya Bidin ketakutan.
"Aman! kalian tenang, biar kepala itu aku yang urus. Ambil aja pancingan itu di belakang, sama bumbunya juga ada," ucap Darto santai.
"Aku ambil Gus, Kalian tunggu sini!" ucap Bidin bergegas menuju dapur rumah Darto.
Setelah perlengkapan siap, mereka bergegas berjalan menuju danau kembali. Menyibak hutan yang memisahkan pesantren dan danau. Sesekali Bidin dan Surip berhenti setiap mendapati pohon pisang, mengais tanah di bawahnya untuk mencari cacing. Dan kini mereka berempat sudah sampai di tepi danau itu lagi. Meski tidak terlihat penampakan apapun. Selain Darto masih sesekali bergidik ngeri, mengingat apa yang mereka alami setahun lalu.
"Gus.. Bagaimana caramu bawa kepala itu ke pesantren? masak mau di jinjing?" tanya Surip dengan wajah pucat.
"Hahahaha kamu ada-ada saja Sur, dia kan bisa jalan sendiri!" jawab Darto terbahak.
"Emang punya kaki Gus? bukannya cuma kepala?" Tanya Bidin juga memasang wajah pucat.
"Duh! kalian ini! emang susah ngomong sama orang susah!" ejek Darto yang malas menjelaskan, di sambut gelak tawa Harti yang sedari tadi diam.
"Sudah kalian sana mancing, nanti kalau dapat ikan biar Harti yang masak. Saya ke atas batu dulu"" ucap Darto kemudian meninggalkan ketiga temannya di tepi danau.
Terlihat Darto melihat ke arah danau untuk sesaat, kemudian duduk bersila, matanya terpejam, tangannya terus memainkan bulir tasbih, dan tubuhnya di hadapkan ke arah danau tersebut sembari terus melafalkan doa. Ketiga temannya hanya bisa memperhatikan Darto dari samping batu sembari menunggu umpan di makan.
Tak berlangsung lama umpan yang Surip lemparkan mendapat sambaran. Bukannya senang, Surip dan Bidin malah saling bertukar pandang, dan tak lupa meneguk saliva.
"Ini ikan bukan ya Din?" Ucap Surip yang tengah memegang senar yang terus bergerak di tangannya. Dan hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari Bidin.
"Sudah, percaya saja sama Mas Darto!" Harti membuka suara dari belakang mereka berdua.
Ucapan Harti membuat kedua orang itu spontan memalingkan pandangan mereka ke arah Harti. di lanjut kembali saling bertukar tatap, dan memberanikan diri untuk menarik senar yang tengah Surip pegang, setelah Bidin memberi isyarat sebuah anggukan kepala.
"Bismillah.." ucap Surip di lanjut menarik benda yang sudah terjerat kail diujung senar yang dia pegang itu.
Bersambung,.
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya 😁...
...Dan jangan lupa bahagia 😅...