
"Dek ... Di mana abah Ramli?" ucap Jaka sendu. Dia juga merasakan firasat yang sangat jauh dari kata enak, setelah melihat Darto dan Harti menangis sesenggukan di depannya.
Mendengar pertanyaan Jaka, Magisna hanya menggeleng. Dia juga tidak tahu bagaimana cara untuk menyampaikan kabar duka pada suaminya. Namun kali ini Jaka malah terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya.
Jaka memang menangis tapi dia bisa dengan tenang menanggapi itu semua sembari berkata, "Di mana Kakung dan Abah di makamkan?"
Magisna langsung berdiri, kemudian menepuk pundak Harti bermaksud ingin mengajak mengunjungi makan Kakung dan Abah Ramli yang tidak jauh dari rumah tersebut.
Setelah mendapat tepukan tangan Magisna, Harti berangsur melepas pelukannya, dia menatap sendu wajah Darto yang masih dibanjiri air mata sembari berkata, "Mari, Mas. Kita jenguk Kakung dulu."
Darto seketika bungkam. Dia mengusap semua air di pipi menggunakan telapak tangannya, kemudian dilanjut mengangguk dan pergi meninggalkan rumah bersama Istri dan anaknya.
Harti, Darto, Dava, Ratna, Magisna dan Jaka melangkah menuju arah belakang pesantren. Mereka menuju tempat yang dulu digunakan untuk mengaji para penduduk alam sebelah.
Kini tempat itu sudah sepenuhnya berbeda. Yang semula hanya ada satu makam milik Istri Kakung, kini sudah bertambah dua makam yang tidak lain milik Kakung dan Abah Ramli yang meninggal dua tahun lebih cepat dari Kakung.
Tiga makam tersebut berbaris rapi di bawah atap yang dibangun mirip pendopo. Yang terletak di tengah taman yang kini sudah tampak begitu terurus.
Darto dan Jaka langsung mendekat ke arah tiga makam tersebut. Mereka berdua duduk bersila dilanjut melafalkan surah alfatihah secara berulang-ulang.
Semua yang berada di makam itu langsung mengikuti kegiatan Darto dan Jaka. Bukan hanya Istri dan anak Darto serta Jaka yang ikut berdoa. Saat itu semua murid Kakung yang pernah belajar di pesantren melakukan hal yang sama.
Mereka melingkari tiga makam tersebut sembari terus mengucap doa. Puluhan--ratusan mahluk yang tidak kasat mata benar-benar tulus mengirim doa setiap saat untuk seseorang yang sudah berjasa bagi mereka.
__ADS_1
Darto, Jaka, Harti dan juga Dava yang bisa melihat itu seketika tersenyum. Mereka merasa bangga dengan sosok yang memiliki nama Ahmad Sawaji alias Kakung. Meski dia sudah tiada, orang yang sangat mencintainya masih terus mengingat dan secara bergantian menghantarkan doa yang tidak pernah putus sejak raga miliknya terbenam.
Saat itu, perasaan duka atas kehilangan Darto berangsur menyurut setelah ikut mengirim doa. Dalam rasa haru yang tersisa, Darto menoleh pada Harti yang berjongkok di samping Dava sembari bertanya, "Bagaimana Kakung meninggal?"
"Dia tidak sakit, Mas. Sehabis jadi imam shalat isya, dia cuma bilang sama orang di belakangnya kalau kepalanya sedikit pusing, lalu Kakung berdoa sambil sandaran tiang saka di masjid untuk waktu yang cukup lama. Pas makmum terakhir yang tersisa mau pulang, dia sempat mengajak Kakung untuk pulang bersama. Tapi Kakung sudah tidak menjawab lagi," ucap Harti dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Harti, Darto yang kini sudah bisa menerima kenyataan langsung menatap istrinya dengan sendu, dia mencoba menguatkan hati istrinya serta miliknya sendiri berkata, "Orang mati itu sakitnya luar biasa, Dek. Alhamdulillah Kakung pulangnya mudah dan cepat sekali."
Harti langsung mengangguk sembari mengusap air matanya, dia juga merasa lega karena suaminya tidak begitu hanyut dalam kesedihannya.
Dalam rasa haru tersebut tiba-tiba Dava membuka suara, "Sebenarnya Bapak ke mana saja selama ini?"
Darto langsung meraih kepala Dava sembari berkata, "Bapak pergi ke dunia mereka Dava. Kamu pasti bisa melihat semua mahluk yang lagi berdoa di belakang kita, kan?"
Darto hanya mengangguk kemudian berjongkok di depan anaknya yang sudah berdiri. Tanpa menoleh pada wajah Dava Darto menepuk-nepuk punggungnya, untuk isyarat agar Dava naik dalam gendongan punggung Darto.
Dava yang sudah 15 tahun sedikit malu, namun ketika Harti memelototi dirinya, Dava langsung menurut dan naik ke punggung ayahnya. Hari ini adalah hari dimana seorang Ayah kembali menggendong putra bayinya, yang tiba-tiba sudah menjadi begitu besar hanya dalam eberapa bulan saja dirinya tinggalkan.
Darto seketika tersenyum setelah Dava mau digendong dalam perjalanan pulang. Dalam perjalanan itu Darto menceritakan semua kejadian yang sudah dirinya dan Jaka lewati.
Dava terlihat sangat kagum dengan setiap cerita yang keluar dari bibir ayahnya, begitu juga Ratna, dia yang kini tengah digendong Jaka juga memasang wajah berbinar dengan cerita yang sengaja Darto jabarkan dengan suara lantang.
Dua anak yang hampir beranjak dewasa tanpa seorang ayah pun kini mulai memasang rasa kagum kepada dua pria yang umurnya tidak jauh berbeda dari mereka.
__ADS_1
"Dava ... maaf ya, Bapak tidak bisa menemani kamu tumbuh," ucap darto dengan mata kembali berkaca.
"Tidak apa-apa, Pak. Dava percaya dengan kata Ibu, kalau Bapak pergi demi keselamatan kita," jawab Dava sembari menyandarkan dagu miliknya di pundak Darto.
Mendengar ucapan Dava, hati Darto benar-benar teriris. Karena mau bagaimanapun Darto merasa akan lebih lega jika saat ini dia menerima cacian, dari pada menerima jawaban yang begitu tulus dari orang tercintanya.
Mamun meski begitu, Darto juga merasa senang karena memiliki anak yang bersifat begitu baik sama seperti semua orang yang dirinya cinta.
Setelah sampai di rumah Harti, Jaka, Ratna dan Magisna langsung berpamitan untuk pulang menemui Pak Akbar dan Si Mbok Jaka. Magisna berkata jika Jaka sudah bisa menaiki angkutan umum, karena katanya sekarang kampung kesemek sudah menjadi jalur yang dilewati angkutan antar kota.
Darto dan Harti pun langsung mengizinkannya, mengingat mereka juga akan pergi ke kampung kemoceng yang sudah lama tidak dirinya lihat.
Hari itu Jaka langsung pergi bersama Istri dan Anaknya, sedangkan Darto masih ingin beristirahat satu malam mengingat jalan yang harus ditempuh cukup panjang.
Setelah hari berganti kembali. Darto pergi ke garasi tempat mobil tua milik Kakung yang masih tersimpan rapi di dalamnya. Ketika Darto membuka penutup yang disampirkan di atas mobil tersebut matanya kembali meredup. Dia mengingat setiap kenangan yang sudah dilewati bersama Kakung di dalam mobil tersebut, bahkan Darto masih ingat betapa hebatnya Kakung ketika mengendarai benda yang sepenuhnya terbuat dari besi tersebut.
Setelah cukup lama bergeming, Darto langsung masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Kemudian membawanya tepat ke depan rumah Harti dan mengajak Dava untuk melihat kampung Ayahnya untuk kedua kalinya.
Harti berkata jika dulu dirinya dan Dava pernah berkunjung ke sana bersama Kakung. Dan kali ini merupakan kunjungan kedua mereka untuk bertemu dengan Si Mbah Turahmin yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
Setelah semua barang yang diperlukan masuk ke dalam bagasi, akhirnya Darto, Harti dan Dava melesat meninggalkan pesantren. Mereka pergi dengan perasaan khawatir dan takut dengan keadaan Si Mbah.
Karena di dalam surat yang dikirimkan oleh Anto, dia berkata jika Si Mbah sudah terus mengigau memanggil nama cucunya yang sangat dia rindukan. Anto juga berkata jika Si Mbah sudah tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya, sehingga setiap hari hanya bisa berbaring menunggu kepulangan cucunya.
__ADS_1
Bersambung ....