ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERMULAAN JAKA


__ADS_3

Malam itu Tubuh jaka bercahaya, warna merah berpendar dari seluruh bagian tubuhnya. Ki Karta sudah terlelap, begitu juga dengan Jaka. Pemuda itu tidak merasakan apapun pada tubuhnya yang tengah menyala.


Darto dan Harti yang baru saja selesai melakukan tugas negara.... Eh tugas negara? Ya iyalah! Tugas menambah penduduk agar kelangsungan negara tidak punah!


Mereka berdua merasakan kegelisahan yang sama. Bukan Hanya Darto, bahkan Harti juga merasakan energi yang begitu besar malam itu, seisi rumah terasa pengap, hingga nafas mereka terasa tercekik.


Darto yang merasa telah terjadi sesuatu yang aneh, dia bergegas menggunakan celana dan baju miliknya, kemudian pergi meninggalkan kamarnya. Tempat pertama yang dia tuju adalah kamar Ki Karta, dia langsung mengetuk pintu kamar setelah sampai di depannya. Namun dia tidak mendapat jawaban sama sekali dari dalam kamar Ki Karta.


Setelah cukup lama terus mengetuk. Darto akhirnya menyerah dia bergegas menuju kamar Jaka, dia sedikit berlari karena udara di dalam rumah Ki Karta terasa semakin mencekik. Darto membuka pintu kamar Jaka tanpa permisi, dia tidak mengetuk terlebih dahulu karena Jaka memang tidak menutup pintu kamarnya secara rapat-rapat.


Ketika Darto sudah membuka pintu kamar tersebut, matanya seketika membulat, melihat tubuh Jaka yang mengambang di atas dipan dan juga cahaya. Darto sungguh tertegun melihat apa yang sedang matanya saksikan, badannya seketika mematung dan tak bisa lagi berkata-kata.


Setelah cukup lama terkejut, Darto mengerjap mata untuk memulihkan kesadarannya. Dia masih tetap melihat Jaka yang tertidur di udara meski berapa kali pun dirinya mengucek mata miliknya. Seketika Darto berteriak saat menyadari yang dilihat matanya itu nyata "Jaka! Bangun, Jak!"


Sesaat setelah Darto berteriak, tubuh Jaka langsung ambruk ke atas dipan. Dia membuka mata dan mengerjap dengan santainya, cahaya di tubuhnya pun berangsur memudar secara berkala. Saat itu jaka justru kebingungan dengan Darto yang sudah berada di depan matanya, dalam linglung dia bertanya "Ada apa, Kang?"


"Kamu nggak apa-apa?!" ucap Darto dengan wajah panik sembari berlari menuju dipan Jaka dan langsung memegang kedua pundak Jaka.


"Maksud Kang Darto apa?" jawab Jaka dengan wajah bingung. Dia sama sekali tidak tau, kemana arah Darto bertanya.

__ADS_1


"Tubuh kamu bersinar, Jak! Kamu tidur di udara! Enggak ada yang sakit, kan?!" sergah Darto sembari mengguncang pundak Jaka. Dia bertanya dengan nada tinggi, karena dia takut terjadi apa-apa pada pemuda di depannya.


"Aku tidak ingat, Kang. Tapi..." ucap Jaka terhenti, dia mencoba mengingat sesuatu yang melintas begitu saja di dalam pikirannya.


"Tapi apa Jak?!" sahut Darto menuntut kelanjutan.


Sejenak Jaka terdiam, dia menerawang sesuatu yang terlintas begitu saja. Ketika dia mengingat dengan jelas sesuatu yang tadinya samar-samar, dia langsung berkata "Oh Iya, Kang. Saya bermimpi! Saya bermimpi melihat pertarungan dua orang tua melawan api."


Darto benar-benar terkejut dengan ucapan yang baru saja Jaka utarakan. Matanya membulat sempurna, dengan raut gelisah yang begitu kentara. Dalam pikiran kacaunya Darto kembali bertanya "Dua orang tua seperti apa, Jak?!"


"Satu mengenakan jubah putih dan juga sorban putih di kepalanya. Dan yang satunya orang yang mengenakan jarik dan bertelanjang dada," jawab Jaka sembari mencoba terus mengingat mimpinya.


"Tidak begitu jelas, Kang. Tapi orang yang bertelanjang dada mirip dengan Abah Ramli," ucap Jaka sembari menatap Darto dengan tatapan yang sama herannya dengan tatapan Darto.


"Mereka bertarung dengan sengit, Kang. Tapi orang yang telanjang dada akhirnya kena percikan api, badannya langsung menyala merah, cahaya itu melilit leher pria tua itu," sambung Jaka kembali, kali ini dia sudah ingat mimpinya dengan jelas.


"Sebentar, Jak. Kamu bisa lihat ini?" tanya Darto sembari memendarkan cahaya putih di tangannya. Darto sengaja menunjukkan energi miliknya, untuk sekedar memastikan penglihatan Jaka.


"Cahaya apa itu, Kang? Kenapa bisa tangan Kang Darto bersinar?" jawab Jaka dengan wajah lugu.

__ADS_1


Darto benar-benar terkejut dengan jawaban yang Jaka berikan. Dia bahkan tidak pernah berhasil menunjukkan energi di tangannya kepada Harti, meski pun Harti bisa melihat mahluk dari alam sebelah sedari kecil. Saat itu Darto memiliki satu perkiraan, dalam pikiran Darto dia menebak jika Jaka berbeda, sama seperti dirinya dan keluarga sedarah miliknya. Setelah cukup yakin, Darto kembali berkata "Jak... kamu mungkin tidak akan percaya dengan mudah, mengenai apapun yang akan saya katakan. Tapi Aku berharap kamu bisa menerimanya."


"Apa itu, Kang? Kalau urusan hantu saya belum pernah lihat. Tapi saya percaya, Kang. Karena desa kami juga bukan sesuatu yang lumrah seperti desa pada umumnya," jawab Jaka mencoba meyakinkan Darto untuk kembali melanjutkan ceritanya.


" kamu benar, Jak. Kita hidup berdampingan dengan mahluk yang tak kasat mata, mereka ada di sebelah kita, namun di saat yang sama mereka tidak ada. Kamu mungkin punya tugas dalam hidup kamu, sama seperti takdir yang saya pegang, Jak," sambung Darto sembari menatap lurus ke arah mata Jaka.


"Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi setelah mendengar mimpi yang kamu ceritakan, sepertinya kamu mendapatkan petunjuk dari leluhurmu," ucap Darto sembari menepuk pundak Jaka, kemudian menghela nafas panjang dan kembali berkata "Cerita yang kamu ceritakan sama persis dengan penjelasan Abah Ramli di pesantren, jadi saya sangat yakin jika kamu mendapat kepercayaan dari leluhurmu."


"Kenapa saya, Kang? Bukannya semua sesepuh desa juga mengetahui cerita itu?" sahut Jaka singkat.


"Mereka hanya mendengar cerita dari sesepuh sebelumnya. Tapi tidak untuk kamu. Mereka menunjukkan kejadian yang sudah mereka alami secara langsung di dalam mimpimu, mereka pasti berfikir jika kamu adalah seseorang yang bisa memikul harapan mereka," Sambung Darto kembali, dia terus menatap nanar ke arah Jaka.


"Harapan apa, Kang?" tanya Jaka singkat.


"Saya juga tidak tau, Jak. Mungkin aku akan bersama dengan kamu lebih lama lagi, masih banyak yang harus aku cari tahu dari cahaya merah yang tadi. Kamu tidak apa-apa, Kan?" jawab Darto.


Mendengar itu, Jaka langsung mengangguk, dia setuju agar kebersamaan dirinya dan Darto berlangsung lebih lama. Karena jujur saja Jaka juga merasa gelisah, setelah melihat wajah Darto yang begitu khawatir. Padahal sedari awal dirinya bertemu, dia tidak pernah sama sekali melihat mimik tersebut dari seseorang yang dirinya kagumi.


Setelah melihat Jaka mengangguk, Darto bergegas meminta Jaka untuk kembali tidur. Jaka langsung menuruti permintaan Darto tanpa bertanya, karena mata miliknya sebenarnya masih sangat berat, karena sebelumnya dia baru terlelap beberapa menit saja. Melihat Jaka yang sudah terbaring, Darto bergegas menjauhi dipan dan berjalan menuju pintu. Saat tangan Darto menyentuh pintu, Darto mengucap sesuatu sebelum dirinya menutup pintu secara sempurna "Jaka.. Mulai sekarang kamu akan melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang dianggap satu hal mustahil, bagi sebagian orang yang masih hidup."

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2