ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
ANUGERAH?


__ADS_3

Apa yang di alami Darto dan Darsa sungguh berbeda. Darsa bahkan tidak curiga dengan Gending sama sekali, Darsa masuk sempurna dalam rencana Sastro dan Wajana tanpa curiga.


"Sungguh cantik namamu, Dek. Sama seperti Wajahmu," ucap Darsa, yang kini tengah memperhatikan Gending tanpa jeda. Lelaki itu tampak terkesima dengan perubahan yang di alami si gadis buruk rupa.


"Terimakasih banyak, Mas. Berkat bantuan Mas Darsa, saya bisa lepas dari penderitaan yang saya alami," Ucap Gending sembari tersenyum memandang mata Darto dengan tatapan sendu.


Mendengar percakapan Darsa dan juga Gending, Darto langsung mencoba meraih tubuh Darsa di depannya. Sayangnya, tangan Darto menembus sempurna tubuh Darsa. Namun meski begitu, Darto tidak menyerah, berharap Darsa bisa mendengarnya, Darto terus berteriak hingga serak. Namun usahanya dipaksa untuk tidak membuahkan hasil, Darto tidak mendapat satupun respon untuk semua hal yang dia lakukan.


Akhirnya, Darto memutuskan sekedar menjadi penonton saja, dia benar-benar tidak bisa memberikan sebuah petunjuk baik melalui isyarat maupun tindakan.


Tampak Gending, Darsa, Wajana setra Sastro bergegas menuju kali pagi itu, mereka semua membasuh tubuh mereka di bawah pancuran air terjun. Mata Darsa tak henti-hentinya terus melihat Batu yang berdiri gagah di tengah arus sungai, kemudian beranjak mendekat dan memanjat batu tersebut.


"Wah.. di sini tenang sekali," ucap Darsa pelan, sembari memejamkan kedua matanya. Dia duduk bersila, dengan posisi dan pakaian yang sama persis, seperti apa yang Darto kenakan ketika hendak melakukan ujian, perbedaannya hanya terletak pada tasbih yang tengah Darsa gulirkan di tangannya.


Ketika Darto tengah memperhatikan Darsa, Sosok tua yang di sebut Qorin itu muncul kembali, dia menepuk tubuh Darto dari belakang.


"Nak, lihat itu," ucap Qorin sembari menunjuk Gending yang tengah mandi dengan wajah ceria.


"Jika kemarin kamu membunuhnya, tidak ada bedanya dirimu dengan dirinya," ucap Qorin itu kembali sembari menatap kedua mata Darto.


"Kenapa bisa begitu?" Darto mengernyitkan dahi di wajahnya sembari menatap balik mata sang Qorin.

__ADS_1


"Dia gadis lugu, bahkan dia tidak berbuat dosa sama sekali sebelum melakukan perjanjian. Jika kamu membunuhnya saat itu, bukannya menumpas, malah bisa di sebut kamu melakukan sebuah kejahatan, karena membunuh gadis kecil yang tidak tau apa-apa," ucap Qorin itu kembali, sembari menatap sendu ke arah Darto.


Mendengar ucapan si Qorin, Darto hanya bisa terdiam, dia tidak bisa menjawab sama sekali, karena semua ucapan mahluk di depannya benar-benar memilik dasar dan tak bisa dibantah.


"Lihatlah, Dar. Seberapa menderita dia ketika melakukan perjanjian," ucap Qorin sembari memegang pundak Darto.


Setelah tangan Qorin menyentuh Darto, kembali Darto dibawa menuju momen di saat Gending merendam dirinya. Darto bahkan hampir muntah ketika melihat ratusan, hingga ribuan ular kecil berebut masuk ke dalam tubuh gadis kecil di depannya. Hati Darto benar-benar teriris ketika menyaksikan kejadian itu, bahkan bulir air sempat menetes dari sebelah matanya ketika melihat gadis lugu di depannya terus memuntahkan gulungan rambut bercampur darah. Darto benar-benar tidak bisa menyangkal perasaannya, dia benar-benar merasa iba dengan gadis yang nantinya akan membunuh seluruh keluarganya.


"Cukup untuk di sini. Sekarang akan aku perlihatkan awal mula dia menjadi seperti sekarang," ucap Qorin itu sembari meraih pundak Darto.


Dia membawa Darto melintasi waktu begitu saja, Saat ini Darto melihat Gending yang hampir dewasa. Darsa, Sastro dan Wajana tidak terlihat lagi. Saat ini Gending benar-benar sendiri di dalam gubuk yang cukup jauh dari pemukiman.


Sepulang dari curug, hampir seluruh penduduk desa tercengang melihat kecantikan gadis yang berjalan dengan Darsa. Tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa dirinya adalah si buruk rupa, sehingga hari itu cacian yang selalu dia terima seumur hidupnya, berubah haluan menjadi pujian dan sanjungan yang selalu saja datang secara beruntun. Dan saat ini yang berdiri di depan rumah Gending adalah satu bocah yang sering sekali melempari Gending dengan batu bersama temannya, ketika Gending masih menjadi si buruk rupa.


'Iya, Mas. Ada apa Ya?" jawab Gending sembari membuka pintu gubuknya.


"Ini ada makanan, Dek. Kamu nggak mau tinggal di Desa saja? masak gadis secantik kamu tinggal di gubuk kecil dan jauh begini," ucap lelaki itu sembari menyodorkan setumpuk rantang kepada Gending.


"Tidak usah repot-repot, Mas. Saya sidah banyak sekali makanan," ucap Gending sembari menengok ke dalam rumahnya.


Gending menolak makanan dari pemuda itu bukanlah tanpa alasan, dalam sehari lelaki yang sudi untuk repot mengirim makan ke rumah Gending tidaklah sedikit, mereka rela berjalan lumayan jauh hanya untuk bisa memberikan makanan kepadanya. Mau bagaimana lagi? semua dari bujang hingga yang berumur tidak ada yang bisa lepas dari pesona yang Gending berikan.

__ADS_1


"Mubazir Dek, masak saya bawa pulang lagi? saya taruh di dalam saja ya?! rantangnya tidak usah di kembalikan tidak apa-apa," paksa si pemuda kemudian menyerobot masuk ke dalam rumah Gending.


"Maaf, Mas, saya sendiri di rumah, nanti ada kabar tidak enak jika ada yang lihat Mas masuk rumah saya"


"Halah! pelit sekali, Saya cuma mau menaruh rantang di dalam, Dek. Tidak ada niat buruk sama kamu!" bentak pemuda itu, menolak mentah-mentah semua ucapan Gending.


Mendengar bantahan pemuda itu, Gending seketika tertunduk. Kemudian wajah cantiknya benar-benar berubah menjadi wajah ketakutan ketika sang pemuda tiba-tiba menyentuh pundak Gending yang tak terbalut kain sama sekali.


"Sungguh mulus kulitmu, Dek. Kenapa kamu terus menolak? tidak mau kah kamu jadi istri dari orang terpandang?" rayu sang pemuda sembari mengelus pundak Gending. Dia merasa jika keluarga yang dia miliki merupakan orang yang memiliki pengaruh di desa.


Gending seketika menepis tangan lelaki itu, dia tidak menjawab dan segera mendorong si pemuda hingga terpental ke depan pintu, lantas menutup pintu rumahnya rapat-rapat, dengan perasaan was-was yang mulai menyelimuti. Melihat ketidaksopanan lelaki itu, Bahkan Darto pun sedikit geram. Darto terus menggelengkan kepalanya sembari mengucap istighfar.


Setelah Gending mendorongnya hingga keluar dari rumahnya, pemuda itu tidak menyerah, dia terus menggedor pintu rumah Gending sembari berteriak "Buka, Dek! Mas cuma mau lihat kamu! tidak lebih!".


Gending benar-benar ketakutan, dia menahan pintu dengan cara berdiri bersandar memunggungi pintu rumahnya, sungguh Gending terus bergidik mengingat seorang lelaki menyentuh kulitnya tanpa permisi.


Tidak lama kemudian, Sang pemuda mengumpat di depan pintu rumah Gending. Dia bahkan mengancam jika tidak dibukakan pintunya, dia akan membawa temannya untuk mendobrak bersama-sama, dan kemudian pergi setelah tidak mendapat jawaban dari Gending yang terus bungkam di dalam rumah.


Hari itu gending merasa takut akan sesuatu yang selalu dia idamkan. Saat dia menjadi buruk rupa, dia selalu membayangkan seperti apa rasanya menjadi seseorang yang cantik dan terlihat sempurna. Kini Gending benar-benar merasa keliru, dia sedikit menyesali sesuatu yang dulu selalu dia anggap sebuah anugrah.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2