
Malam itu angin kencang tidak kunjung mereda. Pertarungan Sastro dan Wajana benar-benar berlangsung sengit, cahaya merah dan hijau terus berkedip berpindah-pindah bagi kilatan. Sungguh Darto terpukau dengan kecakapan Sastro dan Wajana malam itu.
Darto sempat tersenyum ketika melihat Sastro dan Wajana bertarung dengan senyum mengambang di wajah mereka. Meraka serasa tengah melakukan apa yang mereka inginkan selama ini, meski saat itu nyawa mereka menjadi taruhannya.
"Bag! Bug! Wussss! Bam! Booms!"
Suara dentuman terus bersautan. Setiap kali energi mereka beradu, seketika itu juga angin kencang disertai tanah yang bergetar selalu hadir. Namun meski begitu Darto tetap tidak bergeming dari posisi duduk bersila yang ia lakukan. Darto benar-benar menyerahkan urusan di depan matanya kepada Sastro dan Wajana.
"Aaaaaaaaaaa!" pekik salah satu pocong dari kejauhan.
Serangan Sastro berhasil mendarat di kepala pocong yang ia lawan. Seketika itu juga pocong yang ia lawan menjadi layaknya selembar kertas. Api merambat membakar tubuhnya, hingga tidak meninggalkan apapun untuk disisakan.
Ketika Sastro berhasil memenggal kepala pocong yang ia lawan, dirinya langsung tersungkur dan duduk di atas tanah. Dia menyaksikan pertarungan Wajana, dengan nafas yang sudah memburu karena kelelahan. Setelah nafasnya mulai berangsur membaik, Sastro beranjak untuk membantu Wajana, dia berdiri dan melompat ke arah pocong yang tengah Wajana lawan.
Menghadapi dua lawan yang merepotkan, pocong itu benar-benar langsung tersudut. Di satu sisi Sastro terus menghalangi pergerakannya, sedangkan di sisi lain Wajana terus melempar pukulan demi pukulan beringas dari tangannya.
"Bam!!" serangan Wajana berhasil mendarat di tubuh pocong merah, pocong itu langsung terpental jauh dan mendarat tepat di depan Darto.
Tidak seperti yang pertama, Pocong itu tidak langsung terbakar. Dia terus menggeliat di atas tanah, menahan rasa sakit yang ia derita.
"Cukup!" teriak Darto ketika melihat Wajana hendak menusuk pocong dengan keris hitam di tangannya.
Mendengar teriakan Darto, Wajana langsung mengurungkan niatnya, dia menarik kembali tangannya dan kemudian hanya berdiri diam memperhatikan apa yang hendak Darto lakukan.
__ADS_1
"Weh! Dimana pemimpin kamu?!" ketus Darto sembari melirik tajam ke arah pocong yang tengah menggeliat di bawah kakinya.
"Ampun... Hu hu hu hu" tangis pocong itu pecah, dia benar-benar merasakan rasa sakit dan takut di waktu yang bersamaan.
"Woy! Kamu tuli!" sergah Sastro yang kini sudah ikut mengerubungi pocong itu.
Mendengar teriakan Sastro dan Darto, pocong itu kembali bergidik, dia merasa takut hingga tubuhnya terus bergetar.
Butuh waktu cukup lama Darto dan kedua temannya itu menunggu pocong itu membuka suara. Namun tetap saja sepertinya pocong itu tidak ingin berbicara. Hingga akhirnya Darto yang merasa tidak tega melihat pocong itu terus menggeliat di atas tanah, mendekat dan menyentuh kafan basah yang membalut badan sosok itu. Darto berniat untuk meringankan rasa sakit yang ia derita, dengan cara mengirimnya ke alam baka.
"Tunggu!" teriak pocong itu sembari memaksa untuk bangkit dari tanah. Dia mencoba menghentikan apa yang hendak Darto lakukan.
Melihat pocong yang hendak bangkit, Sastro dan Wajana langsung kembali memasang posisi siap. Mereka waspada jika sewaktu-waktu pocong itu menyerang Darto yang paling dekat dengan dirinya.
Melihat Sastro dan Wajana memasang posisi sigap, Darto hanya mengangkat sebelah tangan miliknya sebagai isyarat agar mereka tidak meneruskan keinginan mereka. Dan tanpa membuka suara, Sastro dan Wajana langsung menuruti perintah yang Darto berikan.
Mendengar ucapan tersebut Darto hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Dan setelah Darto mengangguk pocong itu mendekatkan wajah terbalik miliknya ke arah tangan Darto. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah Jiwa Darto ditarik dengan paksa untuk masuk ke dalam dunia gelap yang sudah sering Darto kunjungi semasa hidupnya.
"Maaf, Nak. Saya sudah lancang membawamu ke sini," ucap wanita setengah baya yang berdiri secara tiba-tiba di depan Darto.
"Apa yang bisa saya bantu?" ucap Darto singkat sembari menatap wajah wanita di depannya.
"Tolong... kebumikan anak saya dengan layak," ucap wanita itu tertunduk, dia merasa bersalah dengan apa yang pernah dia lakukan semasa dia hidup.
__ADS_1
"Maaf, rawa lumpur tidak dekat," ucap Darto sembari menatap wanita di depannya.
Mendengar jawaban dari Darto, wanita itu langsung menunduk. Dia juga tau seberapa jauh rawa lumpur dari desa kemoceng, hingga ia tidak bisa membantah ucapan Darto.
"Sebelumnya, kenapa kamu bisa menjadi pocong merah? jika belum memindah kuburan anakmu?" tanya Darto kembali.
"Saya dan teman saya mengingkari janji. kita berdua pergi ke rumah orang pintar untuk memutus perjanjian, tapi setelah pulang dan tertidur, jiwa kami langsung dibawa ke tepi rawa oleh buto Ireng, tubuh kami sudah mati dengan leher yang sudah tidak lengkap di tubuh kami," ucap wanita itu kemudian menatap lurus ke arah Darto.
"Tolong saya, Nak. Anak saya tidak bisa bertemu sang pencipta, sedangkan semua karena ulah saya, kasihan jika jiwanya terus menjadi tahanan dan di jadikan budak dari hasrat buto ireng hingga hari akhir," sambung wanita itu kemudian menangis sendu di hadapan Darto.
"Baik, bisa saja saya ke sana untuk mencari buto. Jika memang kebetulan saya ke sana, maka sekalian akan saya kubur ulang anak Ibu," ucap Darto setelah merasa kasihan dengan wanita di depannya.
Mendengar ucapan Darto, wanita itu langsung bersujud, dengan bibir terus mengucap terimakasih untuk waktu yang cukup lama. Setelah Darto menyuruhnya berdiri, dia langsung memegang tangan Darto dan berpindah tempat menuju tepi rawa. Dia menunjuk satu persatu letak tumbal persembahan terkubur seperti yang Darto pinta, kemudian berhenti pada lokasi terakhir tempat di mana anaknya di kubur hidup-hidup seperti yang dialami Dining dulu kala.
"Di sini, Nak. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih," ucap wanita itu sembari menunjuk sebuah tanah, kemudian kembali bersujud di hadapan Darto hingga Darto benar-benar ikut merasakan ketulusan hatinya saat meminta pertolongan.
"Sudah Bu, Bangun. Sekarang mari kita pulang," ucap Darto kemudian memejamkan mata, dan berhasil kembali menempati raganya.
"Sekarang, Saya bisa pergi dengan tenang," ucap pocong di depan Darto, kemudian tersenyum memampangkan barisan gigi hitam di wajahnya.
Mendengar itu, Darto seketika memegang kafan yang membalut kepala miliknya, kemudian membaca doa dan dzikir, dilanjut membalut tubuh pocong dengan energi yang keluar dari tangannya. Perlahan sosok di depannya berangsur menipis, tubuhnya menjadi transparan, dan kemudian menguap bagaikan asap.
"Terimakasih, kalian sudah berusaha," ucap Darto sembari memandang Sastro dan Wajana secara bergantian.
__ADS_1
Mendengar ucapan Darto, Sastro dan Wajana saling bertatap, kemudian membalas tatapan Darto sembari tersenyum. Mereka berdua hanya membalas ucapan Darto dengan mengangguk, kemudian menghilang begitu saja, dengan perasaan lega yang bersarang di dalam dada mereka.
Bersambung,-