
"Maaf ... sebenarnya Paduka ada perlu apa? Kalian tidak datang untuk menghukum manusia rendahan ini, 'Kan? tukas Ki Jumar sembari merunduk. Tubuhnya bergetar hebat setelah melihat betapa melimpah energi merah yang keluar dari tubuh Jaka.
Mendengar ucapan Ki Jumar, Darto sempat berfikir untuk memberikan jawaban yang pas. Untuk sesaat dia bungkam, lalu membuka suara ketika Darto menemukan alasan yang tepat, "Aku ke sini hanya untuk mengenalkan orang kepercayaan mahluk yang kau sembah, tapi aku benar-benar kecewa karena kamu bahkan tidak bisa merasakan kehadiran kami."
Ki Jumar semakin gemetar ketika mendengar ucapan Darto. Dia merasa hidupnya sudah tidak akan bertahan lama lagi, dalam rasa takutnya Ki Jumar bersujud dihadapan Jaka sembari berkata, "Maafkan Hamba, Paduka. Hamba sudah lancang."
"Angkat kepalamu!" pekik Darto, dia sangat marah melihat seseorang yang begitu mudah bersujud kepada orang lain.
Ki Jumar benar-benar terkesiap, dia langsung mengangkat kepalanya dengan begitu sigap, setelah mendengar teriakan Darto. Dia sangat takut, bahkan celananya sampai basah, sama seperti pipi keriput miliknya yang kini tengah dibanjiri air mata.
"Ampun ... Saya minta maaf," sambung Ki Jumar sembari menunduk.
Jaka yang merasa kasihan memegang dada Darto, dia mencoba mencari kalimat yang pas, untuk menenangkan orang tua di depannya. Untuk sesaat Jaka bungkam, lalu dia berkata "Kamu hanya boleh bersujud pada junjungan kita."
Memang tidak salah. Jaka tidak berbohong sama sekali, dia berucap kepada Ki Jumar untuk bersujud pada junjungannya yang tidak lain adalah Tuhan mereka. Namun bagi Ki Jumar yang salah mengartikan, dia menganggap jika dirinya hanya boleh bersujud pada sosok yang dirinya sembah.
"Baik Paduka," jawab Ki Jumar sembari mengusap pipinya, tanpa melihat lawan bicaranya. Dia sama sekali tidak berani menatap Darto maupun Jaka.
Darto yang melihat Jaka berbicara dengan berani, seketika langsung bersusah payah untuk menahan tawa. Dia tidak menyangka jika Jaka bisa mengikuti sandiwara yang tengah dirinya ciptakan, dan di satu sisi Darto juga merasa senang, karena dia merasa jika akting Jaka benar-benar membantunya dalam melanjutkan rencananya.
"Kenapa kau tidak pernah berkunjung? Apa kau sudah tidak patuh lagi sekarang?Sampai-sampai kamu tidak mengenali atasan kamu. Kapan terakhir kali kamu bertemu dengan dia?" Tanya Darto tiba-tiba. Darto berharap jika Ki Jumar bisa menangkap pertanyaan ambigu yang dia lontarkan.
__ADS_1
"M-maaf ... sa-saya belum bisa menemukan desa yang beliau cari. Jadi saya belum berani bertemu sama beliau," tutur Ki Jumar tergagap. Wajahnya langsung pucat begitu mendengar pertanyaan Darto.
Jaka benar-benar terkejut. Dari ucapan Ki Jumar, dia langsung tahu jika sosok orang tua di depannya tengah mencari sebuah desa tersembunyi. dia langsung menatap Ki Jumar dengan tatapan mengancam, sembari erat mengepalkan tangannya.
"Mulai sekarang tugasmu selesai, jangan pernah cari desa itu lagi!" ketus Jaka. Dia benar-benar marah kali ini, mengingat di desa itu masih ada Si Mbok yang sangat dia cintai.
Darto langsung kebingungan ketika melihat Jaka marah. Karena panik, Darto langsung menimpali ucapan Jaka, "Kamu sudah tidak becus, mulai sekarang kekuatanmu akan kami ambil sepenuhnya."
Ki Jumar kembali menunduk, dia spontan bersujud pada Darto di depannya. Dia mencoba meminta pengampunan dari Darto dan Jaka. Namun ketika melihat hal itu, Darto justru langsung naik pitam, dia menjentikkan energi bulat seukuran kelereng, ke arah tengkuk Ki Jumar yang tengah bersujud. Dalam satu kedipan mata, Ki Jumar langsung pingsan di tempat, tanpa satupun perlawanan.
Melihat ki jumar yang pingsan. Darto menggunakan kesempatan itu untuk membasmi semua mahluk peliharaan Ki Jumar dalam satu hentakan. Semua mahluk halus yang terikat dengan Ki Jumar langsung terbakar di tempat, ketika mereka masih terus mempertahankan posisi sujud ke arah Jaka.
"Jaka ... Jangan pernah menaruh rasa kasihan maupun kepercayaan kepada sosok yang baru saja kau temui. Mereka tidak mungkin mau membantu, jika mereka tidak tidak mendapatkan keuntungan," jawab Darto sembari memandang Jaka dengan tatapan yang sangat tajam.
"Tapi mereka tidak melawan, Kang," kekeuh Jaka.
"Sekarang memang mereka tidak melawan, kamu tahu apa tugas peliharaan Ki Jumar?" sahut Darto singkat, dan langsung mendapat gelengan kepala Jaka.
"Warung kelontong yang mau kita singgahi malam ini, pernah menjadi korban dari salah satu peliharaan Ki Jumar. Tidak ada kebaikan yang bisa dipetik jika kamu bersekutu dengan mereka, entah itu si pembuat perjanjian, maupun sang korban. Kamu mau melepas sumber mala petaka untuk bebas berkeliaran?" sambung Darto sungut-sungut.
"Tidak, Kang. Maaf ... Jaka sudah berpikiran pendek," jawab Jaka sembari menunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Jak, lagian jika kita musnahkan mereka hari ini, kita juga yang diuntungkan. Kamu belum tahu, Kan? Tentang energi apa yang ada di dalam tubuh kamu?" tanya Darto memastikan.
"Memang energi apa, Kang?" jawab Jaka masih menunduk.
"Energi itu milik musuh leluhurmu, Jak. Mereka juga sekutu banaspati. Entah orang tua ini, maupun semua peliharaannya. Mereka pasti akan menjadi musuh kita besok. Jadi lebih baik kita terus mengurangi kekuatan tempur Banaspati selagi bisa, dengan cara memusnahkan mereka," jawab Darto sembari menunjuk tubuh Ki Jumar yang tengah tergeletak.
"Maksud kang Darto di dalam tubuh saya ada energi banaspati?" Jaka mendongak, dia menatap Darto dengan tatapan tidak percaya.
"Aku belum bisa memastikan, tapi energi milikmu sama seperti rantai yang menjerat leher kamu dan juga Abah Ramli," jawab Darto kemudian membalikkan tubuh Ki Jumar yang pingsan dalam posisi sujud, agar tubuhnya tidur telentang.
Jaka hanya bisa membulatkan mata miliknya, dia tidak bisa mencerna semua ucapan yang Darto lontarkan. Dalam diamnya, Jaka hanya bisa menatap Darto yang masih membalikkan tubuh orang tua di depannya itu.
Setelah tubuh Ki Jumar sudah dalam posisi tidur telentang, Darto langsung meminta Jaka untuk memegangi kening milik Ki Jumar. Jaka menyanggupi permintaan Darto tanpa bertanya, dia langsung menyentuh kening Ki Jumar dengan telapak tangannya.
Kejadian itu kembali terjadi, sama persis dengan kejadian yang pernah Jaka alami ketika memegang rantai yang mengikat leher Abah Ramli. Energi merah yang bersarang pada tubuh Ki Jumar langsung merambat masuk ke dalam tubuh Jaka, melalui setiap pori-pori tangannya. Yang berbeda kali ini hanyalah energi yang masuk ke dalam tubuh Jaka, tidak sebanyak energi yang dimiliki rantai yang mengekang Abah Ramli.
Hanya butuh waktu sebentar saja semua energi di dalam tubuh Ki Jumar tersedot habis. Kini Ki Jumar sudah menjadi seseorang yang sama sekali tidak memiliki kemampuan, yang dia miliki hanyalah kelebihan matanya saja yang bisa melihat sosok penduduk alam sebelah.
Setelah selesai merebut energi Ki Jumar, Jaka dan Darto hanya berjaga hingga orang tua itu siuman. Dan setelah Ki Jumar siuman, Darto mengajak Jaka pergi sembari berkata pada Ki Jumar, "Mulai sekarang hiduplah menjadi manusia biasa, kamu harus bersyukur karena aku tidak merenggut hidupmu. Jika suatu saat aku mendengar kabar tentang kamu yang menuntut ilmu lagi, saat kabar itu sampai di telingaku, saat itu juga kamu akan bertemu dengan penciptamu."
Bersambung ....
__ADS_1