
Setelah Banaspati terbentuk, bola api raksasa itu melesat menuju langit, dan terpecah menjadi delapan bagian. Kemudian delapan pecahan tersebut melesat ke arah delapan mata angin yang berbeda.
Ketika Darto dan Jaka tengah tertegun melihat hal aneh tersebut, lelaki pemilik gubuk tiba-tiba hadir di belakang tubuh mereka. Dia menampakkan wujud yang sama seperti ketika berada di dalam gubuk, tanpa raga pinjaman lagi karena yang tersisa hanya ada mayat di sekitar mereka.
"Sekarang, ikuti saya," ucap lelaki itu.
"Sebentar?! Bapak sebenarnya Prabu Semar, kan?" Tanya Darto sembari menghentikan ajakan pria di depannya.
"Bukan Prabu, tapi Eyang!" Sahutnya sedikit ketus, "Saya bukan Raja, kenapa di panggil prabu?" sambungnya lagi.
Mendengar ucapan itu, Darto dan Jaka langsung saling bertatapan, kemudian merasa sedikit lega karena tujuan untuk bertemu orang tersebut sudah terlaksana.
"Jadi, apa yang sebenarnya Eyang ingin sampaikan dari hal ini?" Sambung Darto dibarengi anggukan kepala Jaka.
"Sekarang ikuti saya, buang saja raga itu, tubuh yang kalian singgahi juga sebenarnya ikut mati dalam insiden ini," jawab Eyang Semar sembari menepuk pundak tubuh yang didiami Darto dan Jaka, sejurus kemudian tubuh itu ambruk meninggalkan jiwa dua pemuda yang tengah kebingungan setelah dikeluarkan secara paksa.
Setelah melihat tubuh mereka yang tembus pandang, Darto dan Jaka menoleh ke arah yang sama, mereka kemudian mengikuti sosok Eyang Semar yang melayang, menuju bangunan keraton yang sempat mereka datangi sebelumnya.
Di dalam bangunan megah itu ternyata ada satu wanita yang begitu cantik. Kecantikannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Harti maupun Magisna, bahkan jika Gending yang semula sangat menawan akan terlihat biasa saja jika dijejerkan dengan dirinya.
Wanita itu kini tengah meringkuk sembari memeluk dua orang anak miliknya, dia menunggu kepulangan pria berblangkon dengan perasaan takut dan wajah yang begitu pucat.
Dia bersembunyi di sudut ruang di dalam kamarnya, sembari terus mencoba menenangkan anaknya yang masih bayi di dalam dekapannya.
Dia terus menggoyang-goyang sembari sesekali mengintip jendela, untuk memastikan kepulangan suaminya.
"Siapa itu?" Tanya Jaka sembari menunjuk ke arah wanita tersebut.
"Dia ibu moyang kalian," ucap Eyang semar.
__ADS_1
"Kami?!" Sahut Darto dan Jaka secara bersamaan, mereka membulatkan mata secara serentak, sembari menatap Eyang dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
"Susah menjelaskannya, sekarang kita pergi saja ke waktu saat dia datang ke sini," sahut Eyang sembari mengulurkan dua tangannya.
Darto dan Jaka langsung mengangguk, kemudian mereka meraih lengan Eyang yang masih terulur, hanya dalam hitungan detik saja mereka kembali berpindah ke tempat dan waktu yang berbeda.
Darto dan Jaka dibawa kembali melintasi kenangan ketika wanita itu datang ke desa. Mereka kini tengah menyaksikan wanita hamil yang tengah berjalan dengan gontai, memasuki desa yang dimiliki pria berblangkon.
Salah satu warga yang tengah lewat secara tidak sengaja melihat wanita hamil tersebut, dia langsung mendekat dan menawarkan sebuah pertolongan. Seorang pria yang masih sangat muda itu memapah wanita tersebut mendekat ke sebuah teras, kemudian masuk ke dalam rumah dan keluar sembari membawa segelas air putih di tangannya.
Lelaki itu memandangi wajah lebam wanita di depannya secara seksama, sebelum akhirnya dia mengucapkan kalimat singkat kepada wanita itu. Dengan tatapan iba dia berkata, "Tunggu di sini sebentar."
Lelaki itu berlari dengan tergesa, menuju rumah paling besar di kampung tersebut. Dia langsung mengetuk pintu rumah sembari berteriak dengan nafas tersengal, "Ki ... Ki Gandar ... tolong, Ki?!"
Setelah mendengar ucapan pemuda di depan rumah, Ki Gandar yang ternyata merupakan pria berblangkon itu membuka pintu kemudian berkata sembari memasang wajah terkejut, "Ada apa?! Kenapa kamu sampai tergesa begitu Tok?"
"Ki ... ada wanita di rumah saya, dia sedang hamil besar, tapi tubuhnya penuh luka dan lebam. Saya yakin dia bukan orang sini, Ki," sahut pemuda yang memiliki nama Tanto.
Setelah sampai di depan rumah Tanto, wanita itu sudah terbujur di teras. Tubuhnya terkulai lemas, dengan nafas pendek yang keluar masuk dari hidungnya.
Ki Gandar dan Tanto langsung membopong tubuh wanita itu menuju rumah salah satu warga yang merupakan tabib di desa. Mereka berjalan dengan tergesa dibantu setiap warga yang ditemui sepanjang perjalanan.
Hingga sampai di rumah tabib, semua warga yang sempat membopongnya menunggu kabar dari seseorang yang tengah memeriksa pasiennya di dalam. Mereka menunggu dengan penuh khawatir, dan juga sejuta tanya tentang identitas wanita tersebut.
Setelah cukup lama, tabib keluar dengan menyuguhkan senyum di wajahnya, dia membuka suara dengan wajah yang tampak lega, "Dia sehat ... dia cuma kelaparan."
Setelah mendengar itu, semua orang yang semula khawatir berangsur memasang senyum di wajah mereka. Tidak terkecuali Ki Gandar, dia bahkan terus mengelus dada dalam rasa leganya.
Setelah beberapa menit, wanita penuh lebam diwajahnya itu sadar. Dia langsung disuguhi sepiring makanan dan buah-buahan yang diberikan oleh tabib, tanpa basa-basi dia pun langsung memakannya dengan sangat lahap.
__ADS_1
Ketika wanita itu sudah selesai mengisi perutnya yang perih, dia langsung menunduk dan berterimakasih pada Tanto dan Ki Gandar yang ada di depannya.
"Kamu siapa? Dari mana kamu datang?" Tanya Ki Gandar lembut, dia bertanya dengan tatapan iba yang terpampang di wajahnya.
Mendengar pertanyaan itu, wanita hamil justru malah menangis, dia kembali terisak dan tidak menjawab pertanyaan yang Ki Gandar lontarkan.
"Maaf ... jika saya salah bertanya," sambung Ki Gandar dengan wajah tidak enak. Dia merasa bersalah karena menanyakan satu pertanyaan yang mungkin membuat wanita di depannya merasa terpukul.
Wanita itu hanya menggeleng sembari mengusap air di pipinya setelah mendengar permintaan maaf Ki Gandar. Dia sebenarnya ingin bercerita tapi perasaannya seketika tercabik ketika mengingat kejadian yang pernah dialaminya.
Setelah cukup lama menangis wanita itu akhirnya membuka suara, dia memutuskan untuk tidak menceritakan kebenaran yang menyakitkan secara rinci, namun dia tetap menyebutkan semua yang paling inti.
"Saya Utami, saya tidak punya tempat untuk kembali, Pak," ucapnya masih sesenggukan. Dia mencoba memberi tahu jika dirinya sudah dibuang.
"Bapak anak ini dimana?" tanya Ki Gandar kembali.
Wanita itu kembali menangis, namun kali ini dia menangis dalam bungkam. Dengan wajah lebam dan lesu dia berkata, "Bapak anak ini tidak pernah mau mengakui darah dagingnya sendiri, Pak."
Tanto dan Ki Gandar benar-benar terkejut, mereka tidak menyangka dengan ungkapan tersebut. Hingga tanpa sadar Ki Gandar langsung ikut menumpahkan bulir air dari sudut matanya.
Dengan penuh rasa kasihan, Ki Gandar berkata dengan nada yang sangat pelan dan halus, "Jika kamu tidak punya rumah, kamu bisa tinggal di rumahku. Nanti akan aku beri pekerjaan untukmu, dari hasil kerjamu, akan aku beri upah untuk menyuapi makanan anakmu selama kamu betah."
Wanita itu menatap Ki Gandar dengan tatapan sedikit takut, trauma yang dirinya miliki benar-benar membuatnya merasa waspada, kepada setiap lelaki yang dirinya temui di kehidupannya.
Namun karena tidak memiliki pilihan, Utami akhirnya mengangguk, dan mengikuti langkah Ki Gandar beserta Tanto menuju bangunan megah yang mirip dengan keraton di tengah desa.
Setelah sampai, Utami langsung diberi satu kamar yang semula digunakan oleh mendiang Ibu Ki Gandar. Kamar yang cukup besar, dan terlihat berlebihan jika hanya digunakan untuk pekerja.
Utami yang sangat lelah karena terus berjalan berhari-hari dengan perut kosong miliknya, saat itu juga langsung terlelap sesaat setelah membaringkan badan di atas dipan. Dia tertidur pulas dengan wajah yang masih berlinang air mata, sembari memegangi bocah cilik yang tengah menendang-nendang di dalam perutnya.
__ADS_1
Bersambung ...