
Setelah dia setuju, Jaka terus dilatih oleh Abirama. Sama seperti Darto sebelumnya, Jaka mempelajari teknik lempit dan juga cara untuk memakai energinya semaksimal mungkin.
Waktu terus berlalu, menit demi menit, jam demi jam, hinga hari demi hari sudah Jaka dan Darto lewati di hutan mati. Hari ini Jaka dan Darto pamit untuk pulang kepada Abirama dan Kanti, setelah genap lima bulan mereka singgah di rumah Kanti.
Setelah berpamitan, Darto dan Jaka langsung berjalan dengan kecepatan di luar imajinasi. Mereka sampai di kampung kemoceng hanya dalam waktu satu jam perjalanan dari hutan mati. Sebelumnya mereka membutuhkan satu hari satu malam agar sampai di sana, tapi ketika pulang Jaka sudah bisa mengimbangi kecepatan Darto yang terus menerus berpindah bagai hantu dari tempat ke tempat, sepanjang perjalanan pulangnya.
Setelah sampai di kampung, Darto dan Jaka langsung menuju rumah Anto. Mereka benar-benar terkejut melihat anak Anto yang sudah berbeda ukuran dengan saat mereka lihat terakhir kali. Namun sama dengan Anto, dia juga heran melihat rambut Jaka dan Darto yang sudah memanjang.
"Kamu sengaja nggak cukur, Dar?" Tanya Anto sembari memegangi rambut Darto dan Jaka secara bergantian.
"Mana ada tukang cukur di hutan mati, Tok?!" sahut Darto sedikit terkekeh.
"Kamu dari sana lagi?" tanya Anto singkat.
"Iya, Tok. Jaka berguru di sana, dia sekarang hebat," ucap Darto sembari memandang Jaka.
Jaka yang mendengar itu seketika memasang ekspresi malu. Pipinya memerah, dan wajahnya terbanting menatap tanah. Meski sebenarnya hatinya begitu senang, perasaan menggebu langsung datang ketika Darto memujinya tanpa aba-aba.
"Aku titip temen nyebelin ini ya, Jak. Misal dia macem-macem langsung tower aja, Jak. Kalau dia marah, lapor langsung ke aku, Jak. Biar aku ikat dia pakai tali yang aku rajut dari kumisku," ucap Anto sedikit terkekeh. Dia merasa sedikit sedih karena tidak memiliki kemampuan apapun, sedangkan Jaka yang masih begitu muda malah justru mendapat kemampuan yang bisa membuat Darto memujinya.
"Siap, Kang. Tapi mana berani Jaka menower Kang Darto, yang ada Jaka udah ditower duluan sebelum laporan sama Kang Anto," jawab Jaka sembari ikut tertawa. Dia benar-benar merasa senang, setelah mendengar Anto percaya padanya.
"Tok ... Pak Sapto yuk," ajak Darto pada Anto.
__ADS_1
"Ayok, Dar. Mumpung masih sore, dia tutup kalau maghrib sekarang," jawab Anto kemudian berdiri dari duduknya.
Melihat Anto berdiri, Darto langsung ikut berdiri, sedangkan Jaka hanya duduk saja. Dia tidak tau maksud Darto mengucap nama Pak Sapto.
"Ayok, Jak. Mau bakso nggak?" ucap Darto.
Mendengar itu, Jaka langsung berdiri secepat kilat, dia merasa senang karena ingin memakan makanan yang baru sekali ia rasa dulu ketika di pasar. Dalam rasa tidak sabarnya dia berkata, "Kang Darto yang bayar, Kan? Jaka tidak punya duit, he he he,"
"Nggak jadi deh, kamu di sini saja, biar aku sama Anto aja yang makan Bakso," jawab Darto singkat, dia memasang wajah serius menatap Jaka.
Jaka seketika menunduk, dia menelan paksa ludah yang sudah membanjiri bibirnya ketika membayangkan bakso. Dia tidak menyangka jika Darto akan membatalkan ajakannya.
"Dia sedih beneran, Dar. Ha ha ha ha!" Anto terbahak.
Mendengar Darto dan Anto terbahak, Jaka langsung tahu jika dirinya sedang dikerjai. Saat itu Jaka berbicara sungut-sungut, "Awas aja kalau jaka sudah kaya! Satu kampung aku kasih bakso, tapi kalian berdua tidak!"
Mendengar ucapan itu, Darto hanya menjawab, "Nggak dikasih juga nggak apa-apa ya, Tok? Kita kan bisa beli sendiri ha ha ha ha!"
"Ho.oh Dar, kita beli sama warungnya! Ha ha ha!" Anto kembali terbahak. Sedangkan Jaka malah memasang wajah bingung, dalam hatinya dia langsung bergumam, "Iya juga, ya?! Kang Darto kan banyak duit."
Setelah puas melihat kelucuan Jaka. Darto dan Anto merangkul pundak pemuda itu, dia berjalan di tengah dengan dua rangkulan yang terus melilit tengkuk miliknya, hingga sampai di depan warung yang sangat Darto rindukan.
"Assalamualaikum, Pak!" teriak Darto dari depan warung Pak Sapto.
__ADS_1
"Wa'alaykumussalam ... wah ... kapan pulang Nak Darto? Yang lain nggak ikut?" sahut Pak Sapto sembari mengelap tangannya yang basah ke baju yang dirinya kenakan, lalu menyodorkan tangan ke arah Darto.
"Cuma berdua, Pak. Sudah lama juga saya pulang, cuma ada urusan mendadak, jadi mobilnya saya tinggal di langgar," jawab Darto kemudian meraih tangan Pak Sapto. Saat tengah berjabat, Darto kembali berbicara, "Kenalin Pak, ini adik saya--Jaka."
"Loh nemu adik di mana? Kamu nggak nyesel jadi adik Darto?" sahut Pak Sapto sembari melepas jabatan dan kembali menyodorkan tangan kepada Jaka.
"Nyesel, Pak!" jawab Jaka masih sungut-sungut, sembari menyahut uluran tangan Pak Sapto. Dia masih sedikit jengkel setelah digunakan sebagai bahan candaan oleh Darto dan Anto, meski sebenarnya dia juga merasa senang karena Darto memperkenalkan dirinya sebagai adiknya.
"Ha ha ha ha! Bener kamu, Jak. Meskipun Darto baik, tapi ulahnya kadang nyebelin!" ejek Pak Sapto, setelah itu dia langsung masuk ke dalam warung miliknya.
Mendengar itu Jaka langsung tersenyum puas, dia merasa sekarang dia tidak bisa dikeroyok Anto dan Darto lagi, karena ada Pak Sapto yang berpihak pada dirinya.
Setelah cukup berbasa-basi, Anto, Jaka dan Darto langsung memesan bakso porsi JUMBO. Setelah pak Sapto menyanggupi, mereka bertiga makan seperti orang tengah melakukan sayembara. Anto yang begitu gesit, juga Darto yang begitu lahap. Jaka benar-benar tidak mau kalah, dia berhasil mengimbangi kesigapan Darto ketika makan. Hingga tanpa sadar, masing-masing dari mereka sudah berhasil menguras tiga mangkok bakso ukuran diluar nalar.
Pak Sapto benar-benar terbahak melihat tiga lelaki di depannya itu. Dia sampai terus mengeluarkan bulir bening dari matanya, sembari terus memegang perutnya yang kelu karena terus tertawa. Baru kali ini, dia melihat tiga lelaki yang memiliki perut bagaikan almari.
Butuh waktu yang cukup lama, sebelum Akhirnya tiga lelaki itu meninggalkan warung milik Pak Sapto. Mereka menghabiskan waktu di warung Pak Sapto untuk sekedar bertukar kata. Setelah makanan mereka sedikit tercerna, barulah mereka kembali ke rumah Anto dengan bingkisan yang Anto bawa.
Anto memesan bakso untuk istri dan kedua orang tuanya, rasanya tidak enak ketika memakan masakan lezat, namun orang yang tinggal di rumah tidak ikut merasakannya. Jadi Darto kali ini yang membayar semuanya, mengingat terakhir kali Anto pernah membayar Bakso ketika Darto singgah bersama keluarga lengkapnya.
Setelah sampai di rumah Anto, mereka hanya menghabiskan waktu untuk berleha-leha. Ketika hari sudah menggelap, malam itu Darto menceritakan semua kisah Jaka kepada Anto. Anto yang mendengar itu langsung menatap Jaka yang tengah tidur dengan tatapan iba, dia merasa kasihan dengan takdir yang dipikul pria kecil di depannya.
"Dar ... semoga setelah musuh terakhir ini, kalian bisa hidup tenang seperti saya," ucap Anto setelah cukup lama diam. Dia langsung berdiri, dan meninggalkan Darto yang tengah mengangguk dengan senyum yang merekah di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung ....