ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
LANGKAH AWAL


__ADS_3

Hari kembali berganti, pagi ini Darto dan Jaka sudah siap mempersiapkan bekal yang mungkin akan mereka butuhkan dalam perjalanan. Setelah selesai, semua orang yang tinggal di rumah Kakung beserta orang tua Harti ikut berkumpul di ruang tamu Kakung.


"Jaka pamit, Bah. Doakan semuanya cepat selesai," ucap Jaka sembari mencium punggung tangan Abah Ramli.


"Iya, Le. Semoga kamu dan Darto cepat kembali," jawab Abah Ramli kemudian mengusap kasar rambut cucunya itu.


Setelah mendapat ijin dari Abah Ramli, Jaka bergegas memeluk Magisna. Dia mendekap untuk waktu yang cukup lama, kemudian berkata, "Tunggu Jaka pulang ya, Dek."


Magisna hanya mengangguk dia mendekap suaminya, dengan mata yang sudah mulai berair. Dia tidak bisa mencegah keinginan Jaka, meski sebenarnya dia selalu ingin bersama. Mengingat di dalam perutnya kini sudah bersarang satu Junior yang tinggal menunggu waktu saja, untuk bisa bertemu dengan Ayahnya.


Sedangkan Darto, dia terus mengusap kepala Harti dan Dava, dia terus menciumi kedua orang tercintanya secara bergantian, sebelum akhirnya dia berbicara kepada orang tua Harti.


"Buk, Pak ... maaf saya meninggalkan Harti lagi, maaf saya merepotkan kalian lagi," ucap Darto sembari menunduk.


"Tidak apa-apa, Dar. Jangan terlalu banyak berfikir, lebih baik kamu fokus untuk urusan kamu saja, urusan Harti ada kami dan Pak Kyai yang siap mengurus," jawab Ibu Harti sembari mengacak kasar kepala Darto, dan langsung mendapat anggukan kepala Darto.


"Dar ... tolong terima ini. Dulu barang ini selalu dikenakan istri Kakung. Kakung Harap kamu jaga baik-baik barang ini, karena ini satu-satunya barang berharga milik Kakung," ucap Kakung sembari menyodorkan sebuah cincin perak, dengan batu berwarna bening sebagai matanya.


"Apa ini, Kung?" Tanya Darto penasaran.


"Itu batu yang Kakung Dapat dari orang tua Kakung. Sudah saatnya itu jadi milik kamu, nanti juga kamu tahu sendiri fungsinya," jawab Kakung sembari menepuk pundak Darto.


Darto langsung mengangguk, dia langsung mengenakan cincin itu di jari tengah, karena ukurannya yang terlalu besar jika dikenakan di jari manis. Untuk sesaat Darto merasakan sesuatu yang hangat merambat pada tubuhnya, tanpa dia sadari tubuhnya mulai terlapisi dengan energi yang berasal dari dalam cincin tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit," ucap Darto sembari merangkul pundak Jaka.


"Mau jalan kaki ke gunung merbabu?" tanya Abah Ramli kebingungan.


"Tidak, Bah. Kami naik sesuatu yang lebih cepat dari mobil Kakung," sahut Darto sembari tersenyum, selang beberapa detik dia memanggil sebuah nama, "Komang!"


Komang langsung muncul di hadapan Darto sedetik setelah namanya di panggil, dia masih berwujud manusia, tapi selang beberapa saat dia berubah menjadi sosok harimau jawa yang lebih besar dari sapi. Abah Ramli yang baru pertama melihat wujud Komang langsung terperanjat, dia tersungkur dengan mata yang membulat memandang komang.


"Dia sudah jadi teman kamu?!" ucap Abah Ramli sembari mencoba berdiri dibantu Kakung.


"Sejak kalian bebas dari desa, dia sudah menjadi teman Darto, dia bahkan sudah pintar mengaji sekarang," sahut Kakung dan mendapat respon bingung dari Abah Ramli.


"Yasudah ... kami berangkat dulu ya Kung, Bah. Tolong rawat Istri dan anak kami seperti kalian merawat kita berdua," ucap Darto sembari naik ke punggung Komang. Dia sengaja meninggalkan Magisna beserta orang tua Harti di dalam rumah, mengingat mereka mungkin akan terkejut melihat dua lelaki yang mengambang ketika menaiki Komang.


Setelah mendengar ucapan Darto, Abah Ramli, Kakung, beserta Harti langsung melambaikan tangan mereka. Mereka menyuguhkan senyum terlebar miliknya, sembari memandang punggung dua lelaki yang tengah menaiki seekor harimau raksasa.


Dalam satu kali lompatan, Darto dan Jaka sudah berpindah ke alam sebelah. Mereka masuk ke alam itu beserta raga mereka, berbeda dengan ketika mereka menjelajah dengan jiwanya saja. Itulah yang membuat Darto khawatir sebenarnya, karena mengingat perbedaan waktu yang cukup mengerikan, antara tempat itu dan dunia nyata tempat keluarganya menunggu.


"Kita mau ke mana? Langsung ke istana banaspati?" tanya Komang sebelum berlari.


"Tidak. Kita harus menemui teman Kanjeng Darma dulu, temanku dulu pernah berkata jika dia tinggal di gunung merbabu," ucap Darto sembari menatap Komang.


"Prabu Semar?!" tanya Komang dengan nada terkejut. Tubuhnya seketika bergetar, setelah mendengar kata merbabu.

__ADS_1


"Iya ... kamu tahu tempat tinggalnya?" Jawab Darto dilanjut bertanya. Dia merasa sedikit aneh karena Komang tampak begitu takut saat ini.


"Saya tahu, tapi saya tidak berani masuk ke sana. Nanti saya antar kalian ke perbatasan wilayahnya saja, kalian paling perlu berjalan kaki selama dua hari untuk sampai istana miliknya," jawab Komang masih dengan wajah ketakutan.


"Kenapa kamu takut sekali?" Tanya Jaka.


"Siapa yang tidak takut dengan beliau? Bahkan banaspati saja tidak berani menyebut namanya," sahut Komang.


"Ayok cepat, kita jangan buang waktu di sini, lebih baik sekarang kamu berlari sekencang yang kamu bisa," sergah Darto memaksa. Dia tetap tidak merasa nyaman dengan kondisinya, mengingat waktu yang terlewat di dunia nyata bisa bertaut begitu lama.


Mendengar desakan Darto, Komang langsung mengangguk dan berkata, "Pegangan yang erat."


Setelah mendengar kata itu, Darto dan Jaka memegang bulu harimau itu sekuat tenaga, kemudian Komang berlari dengan kecepatan yang gila, bahkan angin saja sampai terlambat menanggapi respon kecepatan tubuh Komang. Setiap Komang melangkah, satu detik kemudian barulah angin berhembus setelah Komang sudah berada jauh dari tempat tersebut.


Jaka dan Darto benar-benar tercekik. Mereka seakan tidak bisa bernafas, karena kecepatan laju Komang benar-benar membuat mereka gelagapan. Mereka tidak bisa mendapat oksigen meskipun mereka mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya.


Menanggapi itu, Darto menepuk pundak Komang dengan sedikit kasar. Kemudian bertanya setelah Komang menghentikan langkahnya, "Bagaimana Kanjeng Darma bernafas ketika kamu ajak berlari?"


Komang menatap Darto dan Jaka dengan heran, dia terus melihat dua orang yang memiliki wajah pucat, hanya setelah dia berlari beberapa detik saja.


"Kalian tidak melindungi wajah kalian dengan energi?" tanya Komang dengan ekspresi heran.


Mendengar pertanyaan Koman Darto langsung menggeleng kepala dan sedikit terkekeh, sebelum akhirnya melapisi wajahnya dengan energi miliknya. Darto juga membuat energinya berpendar, agar Jaka juga bisa terlindung dari angin yang menerobos paksa ke wajah mereka.

__ADS_1


Melihat Darto dan Jaka sudah siap, Komang kembali berlari sekuat yang dia bisa, hingga hanya dalam hitungan menit saja, dia sudah menggilas ratusan kilo meter tanpa jeda. Kini mereka sudah berada di perbatasan wilayah milik sosok yang begitu tua, sosok yang namanya sudah menggema, jauh sebelum kaki manusia menginjak pulau Jawa.


Bersambung ....


__ADS_2