ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MALAM TERAKHIR DI KAMPUNG


__ADS_3

"O-oh, apa yang terjadi terjadilah


Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya


O-oh, apa yang terjadi terjadilah


Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa" suara penyanyi muda bernama Titiek Puspa terdengar tengah bernyanyi sebuah lagu berjudul kupu-kupu malam di dalam benda persegi yang di sebut radio di dalam warung pak Sapto.


Warung Pak Sapto ramai malam ini, Darto, kedua Kakek, Bidin, Surip, Harti bahkan Anto bersama Istrinya tengah berdesak-desakan di dalam ruang berdinding bilik bambu itu. Yah tidak heran karena besok pagi mereka semua hendak pergi ke pesantren, Anto berinisiatif mentraktir semuanya malam ini sebelum di tinggal sendiri bersama istrinya di kampung.


Malam itu mereka semua hanyut dalam candaan dan gurauan yang kakek mereka tuangkan. Sesekali ejekan keluar dari bibir Pak Sapto yang tiba-tiba masuk ke dalam obrolan. malam itu benar-benar menjadi waktu yang berharga bagi Darto. dia sangat bahagia hingga barisan gigi tidak pernah tertutup oleh bibirnya, dia terus tersenyum menyaksikan tingkah kedua Kakek dan semua teman yang sudah dia anggap sebagai keluarga.


"Pak, berapa ini?" ucap Anto yang hendak pulang terlebih dahulu, istrinya sudah mengeluh bahwa dirinya mengantuk sedari tadi setelah selesai makan.


"Satu, dua, tiga empat, totalnya 16 mangkok, tok. jadi delapan ribu," jawab Pak Sapto sembari menghitung mangkok kotor yang tertumpuk di bawah gerobak baksonya.


"Ini pak, kembaliannya ambil saja, itung-itung Aku traktir bakso yang Pak Sapto makan juga hehehe, kalau enggak ya biar mereka nambah lagi," jawab Anto sembari menyodorkan uang 10.000 rupiah di depan Pak Sapto.


"Alhamdulillah.. makasih banyak Tok, semoga rejeki kamu bertambah dan berberlipat," Jawab Pak Sapto sembari meraih selembar uang bergambar dua lelaki yang tengah menarik tambang kapal di tangan Anto.


"Amin, Pak. Saya pamit dulu ya, ada tugas yang belum selesai hehehe,"


Mendengar ucapan Anto, Darto dan temannya sedikit kebingungan, tapi tidak dengan Mbah Turahmin, Pak Sapto dan Kakung. Mereka sontak tertawa dan mengejek Anto.


"Jangan terlalu memaksa tok, bahaya kalau tulang pinggang kamu sampai encok!" teriak Pak Sapto yang sedang memandang punggung Anto dan Istrinya yang kian menjauh dari warungnya.


Mendengar teriakan itu Si Mbah dan Kakung sontak lebih terbahak dan keempat muridnya pun mulai paham dan ikut tertawa.


Karena waktu sudah malam, mereka bergegas berpamitan kepada pak Sapto. Mereka meninggalkan Darto sendiri di warung Pak Sapto, karena Darto tengah memesan 1 porsi untuk dirinya sahur nanti subuh.

__ADS_1


"Berapa Pak? 500?" tanya Darto setelah bakso pesanannya sudah terbungkus di dalam plastik.


"Bawa saja Dar, uang dari Anto masih lebih banyak tadi," jawab Pak Sapto sembari mematikan kompor di warungnya.


"Beneran ini Pak?" tanya Darto kembali memastikan.


"Iya Dar, Kalian hati-hati besok di jalan, semoga lancar sampai tuju.." ucap Pak Sapto terhenti, matanya langsung menyapu halaman warungnya, tangannya mengelus tengkuk lehernya terus menerus.


"Amin Pak, Ada apa Pak? kenapa berhenti?" jawab Darto sembari menoleh ke arah halaman warung yang terus Pak Sapto perhatikan.


"Dar tungguin Saya ya, nanti tak kasih bakso lagi kalau mau tunggu saya beres-beres," ucap Pak Sapto dengan wajah penuh keringat.


"Iya Pak, saya tunggu, tapi cepetan jangan lama-lama," jawab Darto kemudian kembali duduk di kursi kayu panjang di dalam warung.


Mendengar jawaban Darto, Pak Sapto melesat menaruh piring kotor di ruang kecil di samping warung, setelah itu dengan sigap Pak Sapto membungkus semua bakso sisa ke dalam plastik, dan memberikan 1 bakso jumbo kepada Darto sebagai imbalan. Ketika semua sudah beres, Pak sapto bergegas mengajak Darto berlari setelah berhasil mengunci pintu warungnya.


"Ada apa si, Pak?" tanya Darto sedikit heran menyaksikan tingkah Pak sapto.


"Cerita dulu pak," tukas Darto


"Enggak ada waktu, Dar, cepat!" pak Sapto memaksa, menarik tangan Darto kemudian berlari ke rumahnya yang sama sekali tidak jauh dari warungnya.


"Kamu hati-hati pulangnya, Dar," ucap pak Sapto sembari memberi satu bakso kembali ke dalam bungkusan yang Darto bawa di depan rumah Pak Sapto.


"Ada apa si, Pak?" Darto memegang tangan Pak Sapto yang hendak menerobos masuk ke dalam rumahnya.


"Nanti kamu takut jalan pulangnya, sudah besok subuh saja saya ceritakan di langgar," ucapnya kemudian bergegas menutup pintu rumahnya.


Dengan penuh rasa bingung Darto terus melangkahkan kaki menuju rumahnya yang berbeda arah, ketika melewati warung Pak Sapto kembali, samar-samar Darto melihat Harti tengah berdiri tepat di depan pintu Warung.

__ADS_1


"Dek? Ngapain nyusul kesini, kamu kira Mas enggak berani pulang sendiri?" tanya Darto setelah sampai di depan Harti.


Mendengar pertanyaan Darto harti hanya tersenyum memampangkan barisan gigi rapi di balik bibirnya tanpa berucap sepatah kata pun.


"Hilih, pakai malu-malu segala, ayo kita pulang Dek," ucap Darto kembali kemudian berbalik dan melangkahkan kaki.


Setelah dua langkah kakinya berjalan, Darto kembali berhenti karena bajunya di tarik oleh Harti.


"Apa lagi Dek?" ucap Darto sembari menoleh ke arah harti.


Bukannya menjawab, Harti malah menarik baju Darto kencang-kencang, menuju arah berbeda dengan jalan pulang yang seharusnya di lewati.


Malam itu mereka berdua menyibak jalan kecil hingga tiba di pinggiran kampung, Darto dibawa jauh sekali dari rumahnya oleh gadis itu.


"Kita mau kemana si Dek?" Darto menghentikan langkahnya, mereka sudah cukup jauh dari kampung, penerangan jalan sudah tidak ada lagi, kini mereka berdua tengah berdiri di tengah sawah.


Masih tidak menjawab. Harti hanya menoleh ke arah Darto, dia memandang lurus ke arah mata Darto, tatapan mereka bertemu di bawah langit gelap malam itu.


Darto sedikit terkejut dengan tingkah gadis idamannya itu, bahkan Darto sampai merasa diguyur rasa malu saat Harti mendekatkan wajahnya ke wajah Darto.


"Dek!" teriak Darto memegang kepala Harti, wajah mereka sudah sangat dekat, bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.


"Kamu kenapa Si Dek?" Darto menjauhkan wajahnya dari wajah Harti.


"Aku mau kamu, Mas," jawabnya dengan senyum merekah di bibirnya, matanya terus menatap lurus ke arah mata Darto sembari kembali mendekatkan wajahnya.


"Istighfar, Dek!" Darto meraih kepala Harti dan menjauhkan wajahnya kembali.


Mendengar ucapan Darto, Harti kembali tersenyum. Tapi kali ini dari bibir yang tersenyum itu keluar cairan hitam berbau busuk yang terus mengucur. Wajahnya berangsur pucat, dan setelah Darto berkedip sosok Harti berubah menjadi sosok perempuan dengan kain kafan lusuh yang tengah tersenyum menyajikan wajah penuh belatung juga cacing yang berjatuhan dari rongga matanya.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2