
Darto saat ini berdiri tepat di depan seorang pria, yang tengah duduk diatas singgasana sembari menatap Darto dengan ekspresi terkagum yang terpancar pada wajahnya.
Sosok itu benar-benar tampak seperti manusia pada umumnya, hanya saja di setiap bagian tubuhnya memiliki bekas sayatan yang sangat jelas jika dilihat secara seksama.
Sayatan yang memenuhi setiap bagian tubuhnya tampak begitu dalam, namun tidak tampak setetes darah sama sekali yang keluar dari tempat tersebut.
Setelah cukup lama Darto dan lawannya saling menatap tanpa bergerak, sosok itu akhirnya memutuskan berdiri daei posisi duduknya.
Dia menepuk kedua telapak tangan sembari berdiri, kemudian mengucapkan sebaris kata yang berbunyi, "Hebat ... Hebat sekali... Kamu manusia pertama yang bisa sampai di tempat ini. Sungguh aku sangat beruntung bisa menemukan wadah yang justru menyerahkan dirinya sendiri."
"Coba saja kalau kau bisa... Mungkin mahluk yang kamu anggap sebagai wadah, malah justru akan membuatmu berpindah menuju kehidupan selanjutnya," ucap Darto dengan wajah bengis, berharap agar lawannya tersulut emosi.
"Ha ha ha ha... Kamu cukup lucu," mahluk itu terbahak kemudian memancarkan energi dari tubuhnya, "Sayang sekali, meski aku suka denganmu, tapi akan lebih berguna jika aku yang memiliki tubuh milikmu," sambungnya lagi sembari berjalan pelan mendekat pada Darto.
Energi yang terpancar dari iblis tersebut benar-benar hebat. Seluruh bulu kuduk Darto benar-benar langsung berdiri, disertai nafas yang tercekat di tenggorokan, karena tekanan dari energi tersebut membuat udara menjadi begitu pengap dalam sekejap mata saja.
Setiap iblis tersebut melangkah lebih dekat, semakin berat pula tekanan energi yang Darto rasakan.
Punggung Darto serasa tengah memikul seonggok batu yang begitu besar, hingga tubuhnya seakan dipaksa untuk membungkuk setiap detiknya.
Namun, untuk menanggapi hal tersebut, Darto tidak melakukan gerakan yang berarti. Dia masih terlihat cukup tenang, meski tubuhnya serasa sudah hampir hancur berkeping-keping.
Darto hanya menatap tajam ke arah musuh yang tengah mendekat dengan pelan, sembari membaca lantunan dzikir yang selalu berhasil membuatnya tenang.
Setelah cukup dekat, Darto menghentakkan salah datu kakinya ke tanah. Dia melepaskan begitu banyak energi, untuk melawan seluruh tekanan yang sedang musuh ya berikan.
Ruangan tempat iblis itu singgah tiba-tiba menjadi sebuah ruangan yang sempurna berwarna putih, dan energi mencekam yang semula dirasakan Darto sudah tidak lagi ada.
Yang ada hanya ada dirinya, dan sang iblis yang sedang menahan tekanan dari energi yang Darto berikan.
"Kamu juga bisa membuat dunia sendiri? Ha ha ha ha! Aku semakin menginginkan kamu, Manusia!" Ucap Sang iblis kemudian menghilang dari tempatnya.
Melihat musuhnya hilang dari pandangannya, Darto menebas udara menggunakan pedang energi yang begitu padat di tangannya. Dia hanya mengayun ke tempat yang menurutnya akan menjadi titik buta, dan sedetik setelahnya satu mahluk muncul tepat di bawah bilah pedangnya.
Sang iblis yang menjadi lawan dari Darto benar-benar terkejut, dia tidak menyangka jika pergerakannya akan bisa dibaca, sehingga dirinya masih menerima luka meski sudah berusaha keras untuk mengelak dari ayunan pedang yang Darto lakukan.
__ADS_1
Iblis itu mendapat satu sayatan yabg bersarang pada wajahnya, namu sama seperti bekas luka yang lainnya, sosok iblis itu itu tidak mengeluarkan setetes darah pun dari luka di wajahnya.
"Kamu tidak memiliki darah?" Darto bertanya dengan wajah santainya, ketika dirinya berhasil berpindah tepat di samping musuhnya.
Sang iblis yang tengah tertegun karena baru saja mendapatkan luka sayatan baru di wajahnya, tidak menyangka jika Darto sudah di sampingnya.
Dia spontan berpindah karena terkejut, namun Darto benar-benar sudah berpindah ke tempat tujuannya, selangkah lebih cepat dari gerakannya.
Sang iblis mendapat luka kedua di wajahnya, satu sayatan yang cukup dalam kembali tergurat di wajah tersebut, kemudian satu hal aneh terjadi di depan mata Darto kala itu juga.
Wajah sang iblis mengelupas, dan jatuh ke atas tanah, setelah mendapat serangan yang ke tiga.
"Oh... Sepertinya aku tahu," ucap Darto setelah melihat keanehan tersebut. Dia terus menyerang lawannya sembari berpindah, dan setiap iblis menerima serangan dari Darto, kulit sang iblis mulai saling jatuh berceceran di atas tanah.
"Kamu ingin menjadi manusia? Sungguh lucu... Kamu selalu membenci manusia dan menjadikan mereka makananmu bukan karena mereka salah... Tapi hanya karena kamu cemburu.. iya, Kan? Iblis buruk rupa?" Ucap Darto dengan nada sangat ketus.
Sang iblis benar-benar marah setelah mendengar rentetan ucapan, dan juga semua serangan yang Darto berikan.
Emosi yang menumpuk di dalam dadanya seketika memuncak, sehingga membuatnya berteriak begitu keras sembari meledakkan energi yang tersimpan di dalam tubuhnya.
"Ha ha ha ha! Jadi? Kamu benar-benar ingin menjadi manusia? Meski mereka mahluk rendahan? Seperti yang kau ucapkan?!" Jawab Darto mencemooh.
Emosi sang Iblis semakin dan semakin memuncak kala itu, dia mulai memancarkan energi dengan gila, sehingga dunia putih yang Darto ciptakan tidak bisa menahan tekanan yang iblis itu berikan.
Ruangan yang sepenuhnya berwarna putih, berangsur menjadi ruangan yang sepenuhnya berbeda. Warna merah mulai merambat dari bawah kaki tempat iblis tersebut berdiri, hingga memenuhi setiap sudut dari dunia yang Darto ciptakan.
Setelah itu, kulit sang iblis mulai terbakar secara merata, dia mulai menunjukkan wujud aslinya, ketika semua kulit yang menempel pada tubuhnya sudah habis terbakar dan meleleh karena luapan energi miliknya sendiri.
"Lebih baik aku lepas dulu lidahmu! supaya aku tidak mendengar kata-kata menjijikkan lagi dari bibirmu," ucap sang iblis sebelum menghilang.
Dia dua kali lebih cepat dari sebelumnya, karena kini mereka berada di dalam ruangan yang merupakan dunia milik sang iblis.
Darto benar-benar tidak bisa lagi membaca gerakan lawannya, membuatnya mendapat serangan kejutan beruntun, yang selalu berhasil menorehkan luka kecil pada tubuhnya.
Namun meski begitu, Darto bukanlah lagi lelaki lemah seperti yang duku. Dia kini memiliki seluruh kemampuan yang teman dan leluhurnya miliki, setelah Jaka memindah energi milik mereka ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
Luka yang Darto terima bisa sembuh dengan energi milik Jaka, dia hanya mengalirkan energi miliknya ke tempat yang terluka, kemudian sayatan yang menganga pada tubuhnya langsung menutup dalam sekejap mata.
Iblis itu sedikit terkejut ketika melihat Darto memakai energi yang memiliki warna seperti energi miliknya. Namun belum sempat dirinya bertanya, Darto tiba-tiba menghilang dari hadapannya, dan tidak bisa ditemukan keberadaanya.
Energi milik Darto bahkan tidak terasa, dia bagaikan pergi dan berpindah ke dunia yang lain dari tempat sebelumnya.
Namun disela kebingungan musuhnya, Darto berbicara tanpa menunjukkan wujudnya. Saat itu suaranya menggema, mengucapkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Jadi karena itu kamu menguliti tubuh manusia? Kamu membuang mereka yang tidak memiliki kulit ke dalam sungai darah, kemudian memberikan mereka kehidupan kedua untuk dijadikan sekutu?"
"Diam! Tunjukkan dirimu manusia!" Iblis itu kembali dikuasai amarah. Dia berteriak sangat keras, hingga berhasil membuat seluruh tanah bergetar karena suaranya.
"Meski kamu memakai kulit manusia, kamu tetap saja iblis yang menjijikkan!" Suara Darto kembali menggema di udara.
Mendengar bentuk tubuhnya di hina, sang iblis benar-benar melakukan segala upaya, dia mengibaskan begitu banyak energi ke segala penjuru, kemudian rentetan ledakan yang begitu dahsyat terdengar begitu lantang di dalam ruang merah tersebut.
Saat ledakan itu terjadi, Darto yang menyamarkan diri dengan cara membalut tubuh dengan energi Wajana, mulai menampakkan dirinya lagi.
Energi Wajana yang tidak berwarna tidak bisa lagi menyembunyikan tubuhnya, karena dampak dari puluhan ledakan yang diterima sungguh diluar perkiraan Darto.
Namun meski Darto sudah tidak bisa lagi menyembunyikan dirinya,dia masuk bisa menghindari serangan sang iblis, dengan cara menciptakan satu kubah berwarna hijau, yang melindungi tubuhnya secara sempurna.
Darto benar-benar sudah sangat berbeda, meski dirinya tengah berhadapan satu lawan satu dengan musuhnya, tapi Sang iblis merasa sedang berhadapan dengan begitu banyak orang dalam waktu yang sama.
Saat ini, ketika ledakan sudah sepenuhnya berhenti, Darto kembali bertatapan dengan musuhnya.
Musuh yang sepenuhnya tampak sangat berbeda dengan penampilan uang sebelumnya. Sosok itu benar-benar terlihat bagaikan manusia, namun dia juga tampak tidak seperti manusia di dalam waktu yang sama.
Darto menjadi manusia pertama yang bisa melihat wujud asli sang iblis, yang sudah susah payah disembunyikan untuk waktu yang teramat lama.
Sosok itu benar-benar pantas disebut sebagai momok, karena wujud yang selalu ditangkap oleh siapapun yang melihatnya selalu berbeda.
Ia akan menyerupai bentuk dari apapun yang ditakuti oleh orang yang tengah melihatnya, karena itu dia pernah dijuluki sebagai bentuk dari nestapa.
Bukan hanya itu saja, setiap wujud yang sedang dirinya miliki, memiliki seluruh kekuatan serta apapun yang juga di miliki oleh sosok sebenarnya.
Bersambung ....
__ADS_1