ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TUGAS SEORANG BAPAK


__ADS_3

Setelah mendengar teriakan Darto, Kakung langsung berlari setelah meraih kontak mobilnya yang selalu tergantung di ruang tengah. Dia berlari begitu cepat menuju garasi, dan langsung menginjak gas setelah mobil menyala.


Darto yang mengikuti Kakung di belakang langsung memasuki mobil membawa istrinya, setelah Kakung memarkirkan mobil tepat di depan rumahnya. Setelah Darto dan Harti masuk, Mbah Turahmin juga ikut melesat menuju kursi depan, sebelum akhirnya mereka melesat menuju rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata.


Darto saat itu terus mengelus rambut Harti yang suah basah kuyup karena keringat. Dia terus mencoba menguatkan istrinya hanya dengan kata-kata, meski sebenarnya hatinya juga sangat gelisah melihat gelagat istrinya yang terus bernafas pendek dengan wajah penuh keringatnya.


Harti terus berteriak, seakan-akan bayinya akan lahir saat itu juga. Berbeda dengan istri Anto yang hanya mulas, Harti benar-benar terus menjerit sembari menahan agar bayinya tidak keluar sepanjang perjalanan.


Untungnya, mereka sempat sampai rumah sakit, sesaat sebelum Harti melahirkan di tengah jalan. Saat itu beberapa perawat langsung mendorong Harti di atas brangkar, dan langsung mendorong dengan kecepatan penuh menuju ruang persalinan.


Setelah masuk ruang bersalin, tidak butuh waktu lama prosesi persalinan benar-benar langsung berlangsung. Kedua Kakek Darto menunggu di depan ruangan, sedangkan Darto duduk sembari terus mengusap rambut Harti yang kini basah secara merata.


"Dorong ... dorong yang kuat, Mbak! anaknya sudah kelihatan!" ucap salah satu suster yang tengah berdiri di depan kaki Harti.


Harti benar-benar terus mengerahkan tenaganya yang mulai terkuras, dia terus mendorong keturunannya sekuat yang ia bisa. Daro yang melihat istrinya menangis sembari terus berjuang, langsung ikut meneteskan bulir bening dari kedua netranya.


Darto terus berdoa di tengah riuh isak darinya, dan juga suara jerit orang tercintanya. Darto benar-benar selayaknya ikut merasakan sakit yang Harti rasa, hanya saja sakit yang Darto rasa berada di dadanya.


Setiap keringat yang mengalir di wajah Harti benar-benar terlihat jelas, Begitu juga Darto, dia hanya bisa terus mengelus sembari mengecup istrinya yang sedang berada ditempat yang memiliki garis pembatas sangat tipis, antara hidup dan matinya. Dia memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, dengan cara terus berdoa.


"Eaaaaaa ... eaaaa ... ," tangis seorang malaikat kecil pecah sesaat setelah dia keluar dari tubuh malaikat dewasa.

__ADS_1


Bersamaan dengan tangis bayi itu, tangis dari kedua orang tuanya pun ikut meramaikan suasana di dalam ruangan tersebut. Harti hanya bisa menangis dengan nada rendah menggunakan tenaga yang tersisa, sedangkan Darto menangis sejadi-jadinya setelah mendengar tangisan yang keluar dari tubuh kecil namun memiliki suara lantang di depannya.


Untuk sesaat Darto langsung mendekap tubuh istrinya, sementara suster yang mengatasi kelahiran langsung membawa bayinya menjauh untuk membasuh tubuh merahnya. Darto benar-benar terharu, hingga setiap sendi di tubuhnya serasa meleleh. Tubuhnya begitu lemas, hingga serasa tidak memiliki tenaga meski hanya sekedar untuk gemetar.


Sesaat setelahnya, Suster kembali dengan membawa satu lelaki kecil yang masih begitu merah, dia memberikannya kepada Harti agar diberi susu untuk pertama kalinya. Setelah Harti mendekapnya, Darto langsung mencium pipi merah malaikat kecil di depannya.


Malam ini, tepat pukul 12 malam, Darto mendapatkan tugas dari seorang ayah untuk pertama kalinya, dia mengelus lembut ubun-ubun anaknya, kemudian mengumandangkan adzan tepat di samping telinga putranya. Darto melantunkan adzan dengan nada yang begitu sendu, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Sungguh dunia serasa menjadi kosong bagi Darto, ia merasa malam itu adalah malam paling terang dalam hidupnya. Dia seakan tengah berdiri di dalam satu ruangan putih, yang hanya berisi dirinya beserta anak dan istrinya saja.


Setelah adzan selesai dikumandangkan, Darto kembali menciumi dua mahluk yang sangat dirinya cinta secara bergantian. Tangis sendunya mulai berubah menjadi senyuman, bahkan dia sesekali tertawa ketika air mata masih membasahi pipinya.


"Alhamdulillah, Mbah, Kung ... kalian jadi Mbah Buyut sekarang. Anak Darto laki-laki, Mbah," ucap Darto sembari mendekap kedua Kakeknya sekaligus. Mereka bertiga menumpahkan rasa haru dalam bentuk bulir air, yang terus mengucur dari mata mereka saat itu juga.


Tidak berselang lama, seorang suster kembali mendatangi mereka berdua, sembari berkata, "Alhamdulillah, Mas. Selamat, ya, sekarang kamu jadi seorang bapak. Istri Mas benar-benar kuat, biasanya melahirkan sungsang pasti membutuhkan waktu lama, tapi anak Mas lahir dengan lancar, dan istri mas juga sehat."


Si Mbah, Kakung dan Darto seketika saling memandang, mereka saling memasang wajah bingung di dalam tatapannya, sebelum akhirnya suster tersenyum pada mereka dan pamit pergi meninggalkan nya.


"Sus ... anak saya lahir sungsang?" tanya Darto sembari menghentikan langkah wanita di depannya.


"Iya, Mas. Dia juga sudah melek pas baru lahir, tapi alhamdulillah, bayinya normal," jawabnya kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Untuk sesaat Darto menelan ludah secara susah payah, dia langsung melamun sebelum dua kakeknya datang dan membuyarkan lamunannya.


"Sudah, Dar. Mungkin cuma kebetulan, lagian Gending sudah tidak ada. Mungkin cuma ngikut cara lahir bapaknya," ucap Si Mbah sesaat setelah melihat Darto melamun.


Mendengar itu, Darto kembali melamun. Di dalam pikiran Darto hanya ada satu hal saat ini. Dia berpikir keras tentang takdir apa yang akan anaknya hadapi, mengingat kelahirannya sama persis dengan dirinya. Jujur saja, Darto langsung merasakan rasa khawatir dengan nasib putra yang baru beberapa menit yang lalu mendapat kesempatan melihat dunia.


Namun meski begitu, sudah tidak ada lagi yang mengancam keluarganya, seperti semua yang di rasa oleh sesepuhnya, yang bermula dari kisah Darsa. Dengan begitu Darto bisa bernafas lega, mengingat musuh yang mengincar garis keturunannya sudah tidak ada.


"Ayo, Dar. Kita jenguk istri kamu," ucap Kakung mencoba memecah lamunan Darto, dia merasa khawatir dengan Darto yang terus melamun mesti ada dua kakek di depannya.


Mendengar itu, Darto langsung terperanjat, dia mengangguk sebelum akhirnya berjalan menuju ruang persalinan. Si Mbah dan Kakung langsung merasa lega ketika melihat Harti yang tengah terbaring.


Harti tampak bahagia, meski wajahnya tertekan pucat dan lemas. Darto saat itu kembali mendekap istrinya, dia menciumi wajah Harti tanpa malu-malu di depan kedua Kakeknya. Dalam hatinya, dia merasa sangat bersyukur, karena semua momok yang dirinya hadapi sudah hampir semuanya tersingkirkan.


Malam itu adalah satu malam yang terasa sangat pendek, baik bagi Darto maupun semua anggota keluarganya. Mereka semua bahkan tidak merasakan kantuk sama sekali, meski suara adzan subuh sudah terdengar dari masjid yang berdiri tegap, tepat di depan rumah sakit itu.


Bersambung ....


...Kalian tau? Aku sampai tanya emak tentang proses lahiran di rumah sakit itu bagaimana ...


...🤣🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2