
"Jadi? Kamu bilang kita harus bunuh semua orang yang kita jumpai?" tanya Sastro dengan wajah terkejut.
Darto hanya bungkam setelah mendengar pertanyaan Sastro.
"Sepertinya bukan begitu caranya, Dar. Bagaimana jika kita membunuh semua orang, namun tidak terjadi apa-apa setelahnya?" timpal Wajana.
Darto masih tetap saja bungkam sembari menundukkan kepalanya.
"Kang ... Jaka benar-benar tidak akan tega, bahkan Jaka tidak mungkin bisa menghunus senjata kepada setiap orang yang Jaka kenal. Apa lagi jika sudah menyangkut tentang keluarga," Jaka ikut menunduk.
"Dar ... Kakung tidak akan melarang apapun yang akan kamu lakukan. Tapi ... apa kamu yakin? kamu siap membunuh tanpa pandang bulu?" ucap Kakung sendu dilanjut mengangkat cangkir kopi dengan tangan gemetaran.
"Darto hanya bilang jika ini rencana yang gila, Kung. Darto juga sama sekali tidak sanggup, jika harus menyaksikan kejadian yang sudah susah payah, untuk coba Darto ikhlaskan dulu," Darto mengangkat wajahnya, kemudian menatap sendu ke arah Kakung yang tengah menyesap kopi dengan raut ketakutan.
"Hah ...," Darto menghela nafas panjang, "Apa kita menyerah saja? Dan jalani saja kehidupan yang sekarang?" sambung Darto sembari menatap tiga teman seperjuangannya secara bergantian.
Kali ini Jaka, Sastro dan Wajana yang bungkam. Mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena mereka juga merasa ganjil dengan apa yang tengah terjadi.
"Dar ... Ini hanya sedikit saran. Coba kamu ringkus musuh yang pernah kamu lawan, atau kamu kunjungi tempat terakhir yang membuatmu ke sini," ucap Kakung memecah keheningan
Darto, Jaka, Sastro dan Wajana langsung saling menatap satu sama lain kala itu. Mereka merasa jika ide terakhir yang Kakung ucapkan benar-benar bisa dijadikan patokan.
"Bagaimana? Kalian setuju mengikuti saran Kakung?" tanya Darto singkat.
Jaka, Sastro dan Wajana langsung mengangguk tanpa aba-aba. Mereka setuju dan membahas persiapan yang akan meeka lakukan.
Tepat ketika mereka tengah membahas persiapan, terdengar suara ketukan pintu kembali. Ketika Kakung membuka pintu, dia tidak mengenali siapa yang tengah berdiri di depan rumahnya.
"Apa Darto ada di sini, Pak Kyai?" tanya lelaki yang tengah berdiri di depan pintu.
"Dar! ada yang cari kamu lagi!" teriak Kakung mencoba memanggil Darto di dalam rumah.
__ADS_1
Darto bergegas menuju tempat Kakung berdiri, dan ketika dia sampai, Darto langsung berteriak, "Komang!"
"Dar! Kamu ingat saya?" tanya Maung dalam wujud manusia.
"Masuk! kita bahas di dalam saja. Kamu benar-benar datang tepat waktu!" ucap Darto sumringah.
Melihat Darto mengenal lelaki yang tengah berdiri di depan rumahnya, Kakung langsung membuka lebar pintu rumahnya, lalu mempersilahkan Komang untuk masuk.
Ketika Komang masuk, selain Kakung semua orang langsung memasang wajah sumringah, mereka bertemu dengan wujud yang sedikit berbeda, namun ingatan mereka sama.
Empat lelaki yang datang terlebih dahulu langaung menjelaskan rencana yang Kakung sarankan, namun ketika selesai mereka menjelaskan, Komang langsung berkata, "Maaf, Dar. Tapi ... apakah kekuatanmu sama seperti saat itu, Dar?"
Mendengar pertanyaan Komang, semua orang langsung bungkam, mereka benar-benar melupakan satu hal yang sangat penting, yaitu seberapa kuat musuh, dan juga seberapa siap keadaan mereka saat ini.
"Jaka belum bisa pakai tombak dan energi itu, Kang," ucap Jaka membuyarkan keheningan.
"Sama, Jak. Aku bahkan belum bisa masuk ke dalam dunia sebelah," jawab Darto dengan wajah masam, "Apa kita perlu mengulang lagi dari nol? pasti butuh bertahun-tahun lamanya. Apa kamu lupa? dengan perbedaan waktu? Meski kita berhasil, saat kita pulang sudah pasti tidak ada lagi yang mengenali kita, Jak?" sambungnya lagi.
Tidak hanya Jaka. Sastro, Wajana dan Komang pun turut merasakan hal yang sama. Mereka benar-benar merindukan kehidupan yang dulu. Bagi mereka, tiidak ada tempat yang ingin mereka tuju, selain tempat dimana mereka seharusnya berada.
"Aku mau buat taruhan besar. Aku tetap akan menuju tempat iblis tanpa nama itu meski keadaanku sekarang seperti ini. Kalian ikut?aku tidak akan memaksa, siapapun yang tidak mau ikut, aku tidak akan mempermasalahkannya," ucap Darto kembali. Kali ini semua orang langsung mengangkat wajah mereka dan pancaran dari tatapan mata mereka juga langsung berubah drastis.
"Aku ikut!" ucap Komang tanpa ragu.
"Sudah jelas, Kan? aku sudah terlalu banyak hutang sama kamu, Dar," sambung Sastro.
"Benar kata Sastro, Dar," sahut Wajana.
"Aku pernah bilang dulu kan, Kang? Mungkin aku sudah mati jika bukan karena Kang Darto, sekarang biar aku balas kebaikan Kang Darto meski sebenarnya mungkin aku cuma jadi beban," ucap Jaka melengkapi keputusan.
Lima lelaki itu benar-benar sudah membuatkan tekad, mereka akan menghadapi apapun kesulitan di depan, dengan kekuatan yang seadanya.
__ADS_1
"Sembari kita berjalan, aku akan berlatih dalam setiap tarikan nafas," ucap Darto dengan wajah yang sangat tegas.
Semua orang langsung mengangguk untuk menanggapi pernyataan Darto, mereka benar-benar yakin jika Darto pasti bisa melakukan apa yang dirinya inginkan, karena mereka benar-benar sudah mengakui kelayakan pria yang baru saja selesai berbicara itu.
"Komang ... Kamu masih ingat jalannya, Kan?" tanya Darto.
"Masih, Dar. Tapi aku hanya bisa membawa kamu dan Jaka, Sastro dan Wajana bagaimana?" Jawab Komang dan langsung kembali bertanya.
"Kami juga masih ingat jalan ke sana. Kalian tunggu di atas tebing saja dahulu, biar kami susul kalian. Kamu jangan meremehkan kecepatan kami, Mang," ucap Sastro sedikit ketus.
"Bukan meremehkan, Sas. Tapi kalian pasti tetap akan tertinggal di belakang, kalian pasti pernah dengar tentang kecepatan yang aku punya," ucap Komang sedikit sombong.
"Iya ... iya ... aku percaya, yang jelas kalian harus tunggu di atas jurang, jangan masuk sebelum kami datang," timpal Wajana setelah melihat Sastro dan Komang saling beradu argumen.
Setelah selesai membahas persiapan, Darto, dan Jaka kembali mempersiapkan segala hal yang diperlukan.
Dengan bantuan Kakung, semua persiapan sungguh bisa dilakukan secepat kilat. Tidak butuh waktu lama untuk Kakung mempersiapkan bekal yang dibutuhkan cucunya untuk bertahan hidup di antah-berantah.
Ketika semuanya siap, Darto langsung berpamitan kepada Kakung. Dia memohon doa dan restu untuk kelancaran semua urusannya.
Setelah siap, Darto mencium punggung keriput Kakung sebelum membuka pintu rumah milik Kakungnya.
Sastro dan Wajana yang memiliki kecepatan sedang dalam berlari, mereka berangkat terlebih dahulu. Dua lelaki itu langsung menghilang bagai kepulan asap, meninggalkan Darto, Jaka dan Komang yang tengah berpamitan dengan Kakung.
Tidak lama setelah Sastro dan Wajana menghilang. Darto, Jaka dan Komang langsung berjalan menuju halaman belakang pondok. Mereka tetap tidak ingin terlihat, baik ketika Komang berubah wujud menjadi harimau, ataupun ketika mereka menaikinya.
Dalam perjalanan ke halaman belakang, Kakung menemani tiga lelaki tersebut. Di tengah perjalanan, Darto melihat seorang gadis kecil yang tengah duduk sembari memegang kitab suci di tangannya.
Hati Darto benar-benar luluh kala itu, namun dia lebih memilih untuk tidak menemui gadis tersebut.
Darto hanya bergumam di dalam hatinya, mengucapkan sebuah kalimat kalimat yang berbunyi, 'Semoga kamu masih baik-baik saja di dunia sana ... Harti."
__ADS_1
Bersambung ....