
Tepat sebelum langit menjadi gelap, Jaka meminta agar Komang menjemput Sastro dan Wajana yang sudah selesai melakukan tugas mereka.
Komang berlari begitu cepat kala itu, dia mengayun empat kaki miliknya sekuat yang dia bisa, hingga hanya dalam hitungan detik saja Sastro dan Wajana sudah sampai di depan Jaka.
"Terimakasih, Komang," jaka tersenyum lega, "Sekarang kita naik ke atas batu," sambung Jaka sembari melompat.
Komang, Sastro dan Wajana langsung mengikuti langkah Jaka, mereka berempat melompat begitu tinggi, kemudian mendarat di samping batu.
Setelah kaki menapak pada permukaan batu, mereka kembali melompat dan terus melompat hingga empat pria itu sampai di puncak batu tersebut.
"Sekarang, Jak!" teriak Komang sembari melihat kerumunan binatang yang sudah menutupi seluruh jarak pandang mereka.
"Belum!" teriak Sastro dan Wajana serentak.
Jaka benar-benar fokus kala itu, dia menunggu waktu yang tepat, dengan terus mengamati jutaan kawanan yang tengah melayang di atas kepalanya.
Jaka tidak mendengar teriakan Sastro, Wajana maupun Komang. Dia tenggelam dalam konsentrasinya, sembari menciptakan sebuah bola api berukuran kelereng di atas telapak tangannya.
"Sekarang ... Jak!" Sastro, Wajana dan Komang benar-benar teriak bersamaan.
Bersamaan dengan itu pula Jaka menjentikkan kelereng api di tangannya menuju udara, dia mengarahkan energi miliknya menuju tempat yang sudah dibahas sebelumnya.
Sementara pada waktu yang bersamaan, di dalam celah batu raksasa tersebut juga tengah terjadi pertempuran sengit.
Dentuman demi dentuman terdengar jelas hingga ke segala arah penjuru. Kali ini Darto dan Maung melawan seorang manusia, dia tampak biasa saja namun kekuatannya benar-benar sebanding jika disamakan dengan Sastro maupun Wajana.
"Hei ... aku benar-benar mengira jika dirimu manusia," ucap Maung sembari terus mengayunkan cakar pada kaki depan miliknya.
"Aku memang manusia!" Jawab lelaki yang sedang Darto dan Maung hadapi.
"Jangan alihkan pandanganmu, Maung!" teriak Darto ketika melihat musuhnya menghilang dan muncul di atas tubuh Maung.
Maung langsung reflek melompat setelah mendengar teriakan Darto, dia berpindah dengan cepat menuju ke atas musuhnya yang tengah melayang itu.
__ADS_1
Melihat musuhnya tersudut di atas udara, Maung langsung melayangkan cakaran dari atas, sedangkan Darto berpindah tepat ke bawah tubuh musuhnya.
Darto dan Maung benar-benar berhasil. Serangan mereka menembus tubuh musuhnya dengan telak, dan membuat musuhnya meluncur ke atas tanah dengan tubuh lunglainya.
"Kalian hebat ... tapi anakbuahku akan memusnahkan kalian dalam sekejap," ucap pemilik kamar
"Kamu jangan khawatir, temanku pasti sudah mengurus mereka," sahut Darto dengan senyum yang menampakkan barisan gigi miliknya.
"Kamu kira mereka akan mampu melawan jutaan mahluk? kalian jangan bercanda, Ha Ha Ha ... Uhuk!" ucap pemilik kamar, dia bahkan masih meremehkan teman Darto dan Maung ketika dirinya sekarat, alhasil dia langsung muntah darah ketika baru selesai tertawa.
"Tertawa saja sepuas yang kamu mau, sebentar lagi juga kamu akan merasakan anak buah yang kamu banggakan musnah," Maung membuka suara.
Tepat setelah Maung menutup mulutnya, dentuman besar terdengar begitu hebat dari tempat pemilik kamar. Tanah di atas kepala Darto, Maung maupun musuhnya bergetar hebat, menandakan ada sebuah ledakan yang hebat di atas mereka.
"Kamu dengar itu?!" Darto tersenyum, sekarang aku hanya perlu mengirim kamu menemui anak buah kamu," ucap Darto sembari mengayun pedang miliknya.
Hanya dalam satu ayunan saja, kepala pemilik kamar nomor sebelas benar-benar terpisah dari badan.
Setelah memastikan kematian musuhnya, Darto dan Maung kembali menelusuri terowongan untuk keluar dari tempat yang mulai runtuh.
Satu detik saja Maung dan Darto berhenti, mungkin mereka berdua akan terkubur hidup-hidup di bawah batu besar yang ada di atas kepala mereka.
Kembali kepada Jaka, Sastro, Wajana dan Komang, mereka benar-benar berhasil membakar habis seluruh ruangan di kamar.
Saat Darto datang, dengan nada senang Jaka berkata, "Kang! rencana Eyang Brahmana benar-benar berhasil!"
Darto tersenyum lebar ketika mendengar ucapan Jaka, dia berangsur mendaki pada batu bersama Maung, karena api tengah berkobar pada seluruh tempat di atas tanah.
"Kalian tidak ada yang terluka, kan?" tanya Maung singkat setelah sampai di depan empat temannya.
"Tidak! Kami bahkan tidak berkeringat, HA HA HA HA!" sahut Wajana.
"Sungguh ide brilian ... Aku tidak tahu jika energi Jaka bisa membuat sebuah ledakan ketika bertemu dengan energi milikku dan energi milik Wajana," sambung Sastro.
__ADS_1
"Benar, Dar, untung kamu menyuruh membakar akar di batu lebih dulu, kalau tidak kami mungkin bisa ikut terbakar," sahut Komang.
"Alhamdulillah ... strategi itu bisa kita pakai lagi kalau ada musuh dengan jumlah banyak, tapi setidaknya kalian harus cari tempat yang tidak menerima dampak ledakan," Darto membuka suara.
Setelah itu mereka hanya berbincang sembari menunggu kobaran api lenyap. Baik rumput kering maupun padang ilalang yang membentang benar-benar terbakar oleh si jago merah yang begitu besar.
Rencana Brahmana yang meminta Wajana dan Sastro untuk menyebar energi ke udara, kemudian memicu ledakan dengan percikan energi Jaka benar-benar berhasil.
Tepat ketika Darto dan Maung berhasil melukai pemilik kamar, Jutaan musuh yang tengah terbang mengarah pada Jaka dan tiga temannya benar-benar menjadi debu di atas udara. Jutaan belalang itu terbakar setelah suara dentuman terdengar, dan setiap tubuh yang terbakar jatuh hingga membakar setiap padang ilalang uang berada di bawah mereka.
Saat itu Darto dan lima temannya benar-benar hanya bisa menunggu. Menunggu amukan api yang sedang menggila di segala sisi, dan hanya menyisakan satu tempat di atas batu besar yang tidak terkena kobaran.
Kamar sebelas yang semula merupakan padang ilalang yabg begitu luas, benar-benar berganti menjadi sebuah kamar yang berisi lautan api.
Setelah cukup lama menunggu, Darto dan lima temannya kembali menuju pintu masuk. Mereka berlari melewati tumpukan arang, dengan langkah cepat secepat yang mereka bisa.
Mengingat mereka sudah beristirahat sembari menunggu api padam, enam pria tersebut langsung membuka pintu nomor sepuluh.
Pintu yang dijanjikan oleh Brahmana, untuk menjadi tempat dimana Darto akan berlatih.
Mereka penasaran kenapa Brahmana mengatakan jika lamar nomor sepuluh adalah tempat yang tepat untuk berlatih, dan ketika enam pria tersebut membuka pintu mereka langsung tersentak melihat keadaan di dalamnya.
Tujuh goa benar-benar menanti dibalik pintu, setiap goa menuju tempat yang berbeda, dan juga lawan yang berbeda.
"Kalian siap?" tanya Darto setelah membuka pintu secara sempurna.
Lima teman Darto langsung mengangguk, mereka tidak memancarkan wajah ragu sama sekali, meski tengah dihadapi sebuah labirin yang mungkin bisa mengurung mereka selamanya.
Belum lagi, di tengah kumpulan jalan bercabang tersebut banyak sekali musuh yang sedang mengintai dari dalam goa.
Mereka menanti kedatangan musuhnya, sembari memanggil satu persatu nama rombongan Darto, bermaksud agar mereka memilih dan masuk ke dalam goa miliknya.
Sungguh saat ini Darto dan lima temannya dihadapkan dengan tujuh mulut goa yang berbisik, dengan tujuh musuh yang menanti, dan merayu agar enam pria asing tersebut masuk ke dalam goa miliknya.
__ADS_1
Bersambung.