ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PEMUDA


__ADS_3

Setelah terlelap pulas semalaman penuh, Darto dan Jaka kembali memakan bekal yang masih tersisa. Kemudian kembali melakukan perjalanan untuk mencari tempat tinggal utama dari musuh yang yang sudah menjadi tujuan awal mereka.


Berjam-jam berlalu, mereka terus melangkah sembari memasang posisi siaga. Di dalam hati mereka berempat merasakan satu hal yang sama persis, mereka semua merasa ada sepasang mata yang terus mengawasi meski tanpa menunjukkan wujudnya. Sepasang mata yang tidak pernah berkedip dan terus memperhatikan empat mahluk yang tengah masuk semakin dalam ke pusat alas ireng yang begitu luas.


Setelah cukup lama berjalan, satu pemandangan yang aneh kembali tertangkap oleh empat pasang mata lelaki itu. Mereka terkejut ketika melihat satu perkampungan, yang berdiri di tengah hutan yang sempurna berwarna hitam.


Bangunan demi bangunan yang terbuat dari bilik bambu beratap rumbia, berbaris rapi di depan Darto, Jaka, Maung dan Komang. Mereka sampai mengerjap mata karena menyaksikan keanehan yang begitu tidak masuk akal di depan wajahnya, hingga satu ketika ada satu orang yang keluar dari dalam rumahnya dan menatap lurus ke arah mereka.


Darto, Jaka, Maung dan Komang kembali memasang posisi siap, mereka memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi serangan yang mungkin datang dari pemuda di depannya untuk cukup lama. Namun meski mereka terlihat waspada, pemuda itu malah justru memasang wajah bingung seraya mendekat pada empat pendatang asing yang tengah berdiri di depan gardu perkampungan miliknya.


Dia terus berjalan maju dengan wajah heran yang terpampang di kepalanya, dan ketika sampai di depan Darto dan Jaka dia berkata, "Kalian manusia?"


Darto dan Jaka sempat bungkam di dalam rasa heran, mereka tidak menjawab sama sekali menggunakan kata-kata, namun Darto dan Jaka memilih mengangguk untuk memberikan jawaban atas pertanyaan pria di depannya.


"Kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya pemuda itu lagi, dia bertanya sembari menatap heran wajah Darto dan Jaka secara bergantian.


"Kami ... ," ucap Jaka terhenti. Darto menepuk pundak Jaka sebelum Jaka menjabarkan tujuan mereka.


"Kami tersesat," timpal Darto setelah Jaka berhenti berkata.


"Mari kalian masuk dulu, nanti saya antar kalian keluar dari hutan ini kalau sudah hilang lelahnya," sahut pria itu sembari berbalik badan. Dia melangkah menuju rumah yang paling dekat dengan gardu kemudian membuka pintu rumahnya lebar-lebar, "Silahkan masuk," sambungnya lagi.


Darto, Jaka, Maung dan Komang sempat saling menatap secara bergantian. Mereka ragu untuk masuk, namun mereka tidak memiliki pilihan selain mengikutinya.


Akhirnya mereka masuk dan bertemu dengan dua orang yang tinggal seatap dengan pemuda itu, sepasang suami istri yang sudah memiliki usia lanjut, yang diperkenalkan oleh pemuda itu sebagai orang tuanya.

__ADS_1


Darto, Jaka, Maung dan Komang kembali menyalami dua orang tua itu secara bergantian, kemudian kembali menjelaskan jika mereka tersesat hingga dua orang tua itu pun langsung percaya tanpa bertanya lagi.


"Kalian bukan manusia, kan?" tanya Darto seketika setelah semua orang berkenalan. Suasana hening langsung terpasang, dan tidak ada satu sahutan sama sekali setelah satu kalimat itu terucap.


Pemuda di depan Darto dan kedua orang tuanya menunduk, dengan wajah lesu dan pilu yang terpampang. Mereka diam untuk cukup lama, sebelum akhirnya pemuda itu membuka suara, "Kamu benar, kami bukan manusia."


"Kalian juga bukan mahluk yang terlahir sebagai penghuni dunia ini. Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Darto kembali. Kali ini dia mendapat respon wajah bingung dari tiga teman perjalannya.


"Maksudnya apa, Kang?" timpal Jaka terheran.


Mendapat pertanyaan dari Jaka, Darto hanya diam dan menatap pemuda di depannya. Darto benar-benar tidak menggubris pertanyaan Jaka, hingga Jaka tidak melanjutkan rasa penasarannya.


"Kalian mungkin tidak akan percaya dengan apa yang saya ceritakan," sahut pria itu sembari membalas tatapan Darto.


"Tidak ... kami pasti percaya dengan apapun yang kamu ucapkan. Tolong ceritakan saja, siapa tahu kita bisa membantu," jawab Darto sembari menatap lurus ke arah pemuda di depannya.


Lelaki itu sungguh terkejut, matanya membulat sempurna, dengan wajah heran yang terpampang begitu kentara. Dalam rasa penasarannya dia bertanya, "Dari mana kamu tahu nama itu?"


"Ceritanya panjang, akan butuh seharian penuh jika aku menceritakan secara rinci. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku bukan orang yang akan melukai siapapun yang tidak bermaksud jahat kepada kami," ucap Darto, "Maaf, sebelumnya saya sudah berbohong, kami sebenarnya tidak tersesat, kami sedang mencari pemimpin hutan ini," sambung Darto kembali.


"Kamu mencari pemilik hutan? Apa yang akan kamu lakukan?!" sahut pria itu dengan wajah yang berangsur berubah. Dia tidak lagi menampakkan wajah ramah, melainkan wajah marah dan dipenuhi emosi.


"Ada sesuatu yang ingin kami luruskan," sahut Darto tanpa merubah wajahnya, sedari tadi dia menatap wajah lawan bicaranya dengan tatapan yakin yang tak tergoyahkan.


Melihat ekspresi di wajah Darto yang memampangkan wajah keyakinan, pemuda itu kembali memasang wajah yang muram sembari berkata, "Apa akhirnya tiba juga waktunya? Kalau memang kalian yang bisa menolong pemimpin kami, aku mohon ... selamatkan kami juga."

__ADS_1


"Pasti! Akan aku bebaskan kalian semua!" jawab Darto sangat yakin, "Sekarang ceritakan semuanya, tentang apa yang sedang terjadi pada kalian," sambung Darto kembali.


Mendengar percakapan itu, Maung, Komang dan Jaka benar-benar tidak mengerti apa pun yang tengah dua lelaki itu bicarakan. Mereka hanya bisa mendengar sembari melihat ekspresi yang berubah-ubah dari dua orang yang tengah bercakap di depannya.


"Apa kalian tahu raja Sendang Langit?" tanya pemuda itu


"Satria?" sahut Darto singkat.


Lelaki itu kembali membuka matanya lebar-lebar. Dia benar-benar terkejut dengan pengetahuan yang Darto miliki, hingga tanpa sadar dia beringsut mundur ke belakang dengan wajah ketakutan sembari berkata, "Sebenarnya kalian siapa!"


"Sudah aku bilang, aku orang yang akan meluruskan sesuatu yang sudah menjadi tragedi di kehidupan kalian. Apa kalian percaya? Aku dan keluargaku masih menanggung apa yang Satria dan Ki Gandar lakukan di kehidupan lalu," sahut Darto dengan tatapan menyelidik.


"Ka kalian tahu tentang Ki Gandar juga?" tanya lelaki itu dengan wajah sepenuhnya berkeringat. Dia berangsur memucat setelah mendengar nama Ki Gandar keluar dari bibir Darto.


"Ya! Aku ke sini untuk bertemu dengan dia," jawab Darto singkat.


"Lebih baik kalian mengurungkan niatan kalian. Aku minta maaf, karena tidak jadi menceritakan tentang apa pun. Kalian bisa mati jika bertemu dengan beliau," ucap pemuda itu.


"Aku tahu, tapi kami sudah terlanjur kehilangan banyak keluarga hanya untuk sampai di sini. Aku lebih memilih mati saat berusaha, daripada harus pulang sebelum bertemu dengan dia," jawab Darto. Ucapannya membuat semua orang bergidik, dan membuat Jaka berangsur memasang wajah lesu setelah mengingat orang-orang tercintanya sudah pergi.


Mendengar penuturan Darto, lelaki itu kembali menghela nafas panjang. Dia mencoba menenangkan diri sejenak, sebelum akhirnya dia mau bekerja sama.


Ketika dirinya sudah bisa menekan rasa takut dan penasarannya, dia kembali mendekat dan duduk bersila di depan Darto dan Jaka. Sejenak dia menatap Darto dengan mata yang begitu lurus, kemudian berkata, "Akan aku ceritakan kebenaran setelah kami mati, dan akan aku antar kalian ke tempat beliau mengurung diri ... Tolong, selamatkan kami dari derita panjang ini."


Bersambung ....

__ADS_1


...hari senin weh?! jangan lupa vote nya 😤...


__ADS_2