ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
GEBRAKAN


__ADS_3

"Jadi bagaimana cara kalian sampai di sini? Bukannya tempat ini sangat susah di cari, Sas, Jan?" tanya Darto setelah selesai menyantap makanan yang Sastro dan Wajana bawa.


"Kami sebenarnya berangkat sehari setelah kamu pergi, Dar. Kami sempat ke alas ireng, tapi di sana kamu sudah selesai berurusan dengan Banaspati," sahut Sastro.


"Lalu kami pergi ke tempat ini, Dar. Memang sulit, kita sampai berputar-putar karena tidak menemukan pintu masuk. Tapi karena kamu memanggil kami berdua tadi pagi, aku jadi tahu jika kalian sedang berada di dasar jurang," sambung Wajana.


"Iya, Dar. Kalau saja tadi pagi kamu tidak memanggil kami, mungkin aku dan semua orang yang menyusul ke sini tidak akan pernah menemukan tempat ini," timpal Sastro kembali.


"Alhamdulillah ... Aku tidak tahu kenapa tadi pagi secara tiba-tiba terpikirkan kalian berdua, sebab itu aku memanggil nama kalian tanpa berpikir. Untung saja kalian mendengar panggilanku," ucap Darto lega, "Kalian datang ke sini sama siapa?" tanya Darto kembali.


"Nanti juga kamu lihat sendiri, Dar. Pokoknya kita tunggu saja mereka di sini," sahut Sastro sedikit tersenyum.


Tidak lama setelah Sastro menjawab pertanyaan Darto, rombongan kawan yang Sastro dan Wajana bawa mulai tampak dari kejauhan.


Langkah kaki mereka menggelegar, membuat tanah yang sedang digunakan untuk duduk oleh Darto dan kelima temannya bergetar.


Ratusan--ribuan mahluk berwujud manusia benar-benar datang kala itu. Darto, Jaka, Maung dan Komang benar-benar berhasil membulatkan mata mereka secara sempurna, setelah melihat jumlah bantuan yang kini tengah mendekat ke arah mereka.


"Dari mana kalian dapat bantuan sebanyak itu?!" tanya Jaka keheranan.


"Setelah Darto menyelamatkan Gending, sampai 15 tahun disaat aku kembali dipanggil oleh Darto untuk melatih Dava, aku dan Wajana tidak hanya bertopang dagu di rumah. Kita melebarkan sayap kerajaan milik Wajana, dan mereka semua adalah mahluk yang sudah berhasil kita jadikan teman dalam setiap perjuangan," jawab Sastro dengan wajah bangga, dibarengi anggukan kepala Wajana yang tengah mengulum senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Benar, Dar. Kami tahu jika kamu pasti akan membutuhkan teman yang sangat banyak. Makanya aku dan Sastro terus menerus mengumpulkan satu demi satu mahluk yang mau memberikan hidup untuk memberikan bantuan kepada penolong kita," sambung Wajana dengan wajah sumringah.


"Terimakasih, Sastro, Wajana ... jika jumlah kita sebanyak itu, mungkin aku bisa langsung menerjang ke bangunan paling besar yang berdiri di tengah," ucap Darto dengan wajah sangat senang. Dia mengira-ngira pertarungan yang akan dia lewati kedepannya.


"Aku juga ikut, Dar," ucap Sastro, "Aku juga tidak mau kalau hanya melawan anak buahnya saja," sambung Wajana.


"Terserah kalian saja, yang jelas aku butuh bantuan kalian untuk melawan anak buah mahluk itu di istana miliknya," jawab Darto sembari merubah ekspresinya. Dia menatap lima temannya secara bergantian, dengan tatapan lurus yang begitu menusuk pandangan lawan bicaranya.


Mendengar itu, Jaka, Sastro, Wajana, Maung dan Komang langsung mengangguk. Mereka tidak bertanya apa-apa lagi, ekspresi yang terpampang di wajah mereka juga berangsur menjadi serius.


Setelah percakapan itu, ribuan teman Sastro dan Wajana bawa akhirnya tiba. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan.


Satu jam berlalu, mereka semua berhenti di depan perkampungan tulang yang sudah porak poranda. Mereka semua serentak berdiri dan tidak bergeming dari tempatnya, karena mereka menunggu titah yang akan keluar dari bibir pemimpinnya.


"Darto! Darto! Darto! Darto!" teriak Sastro mengucap nama Darto berulang-ulang.


Mendengar teriakan dari sosok yang mereka junjung tinggi, satu persatu prajurit ikut menyerukan nama tersebut. Dari satu, sepuluh, menjadi ratusan orang, dan berakhir semua prajurit itu menyerukan nama Darto sembari mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi.


Mereka semua membakar semangat yang belum sepenuhnya menyala, hingga akhirnya mereka berhasil menyulutkan tekad yang kini sudah berkobar si dalam dada mereka semua.


Mendengar namanya terus diteriakkan oleh ribuan orang, Darto, Jaka, Maung dan Komang benar-benar bergidik. Bulu kuduk mereka secara instan berdiri, menanggapi suara gemuruh dari sorakan yang semua orang teriakkan.

__ADS_1


Setelah cukup lama tertegun, Darto menciptakan sebuah pedang yang sangat panjang di tangan kanannya. Jaka yang melihat itu juga spontan membuat tombak yang sepenuhnya menyala kemudian meniru gerakan Darto untuk mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.


Melihat Darto dan Jaka mengangkat senjata mereka, semua prajurit seketika hening. Mereka bungkam dan menunggu titah yang akan keluar dari bibir dua pria di depannya, dengan semangat yang masih berkobar di dalam dada mereka.


"Kita hancurkan tempat ini sekarang juga! Allahuakbar!" teriak Darto panjang kemudian melesat menuju kerumunan musuh yang masih berdiri di tengah kampung.


Jaka, Maung, Komang, Sastro dan Wajana dengan gesit menyusul langkah cepat Daro, mereka berlari tepat di belakang Darto dengan langkah yang sama cepatnya.


Semua prajurit yang melihat pemimpin mereka sudah pergi, mereka langsung meneriakkan takbir sama seperti yang Darto lakukan, kemudian secara serentak berlari sembari terus berteriak.


Mereka semua mengikuti langkah Darto dengan kecepatan sedikit lambat, namun jarak mereka tidak terpaut terlalu jauh dari lima sosok yang membukakan jalan untuk mereka.


Darto dan lima temannya langsung menerjang masuk ke dalam lautan musuh. Mereka membuka jalan dengan menebaskan senjata di tangan mereka, hingga dentuman demi dentuman kembali menggelegar di tempat tersebut.


Kali ini Darto dan lima temannya terus melangkah maju dan meninggalkan sisi belakang mereka kepada semua prajurit yang mengikuti mereka. Enam lelaki itu melesat begitu cepat, sembari membabat setiap musuh yang datang mendekat dari segala penjuru.


Mereka terus mengayun senjata di tangan mereka, sembari terus berlari menuju bangunan yang paling mencolok dengan ukuran yang sangat besar di depan sana.


Selangkah demi selangkah mereka terus mendekat ke bangunan itu, hingga tiba saat mereka sampai di depan sebuah gerbang yang terbuat dari tulang rusuk yang memiliki ukuran raksasa. Sebuah barisan tulang yang menjulang dari dalam tanah, menjadi sebuah gerbang yang menyambut enam lelaki itu ketika sampai di depan bangunan.


Sembari terus menebas senjata mereka kepada kerumunan musuh, Darto sempat memastikan jumlah teman yang mengikuti dirinya. Darto langsung tersenyum ketika melihat lima temannya masih baik-baik saja, dalam rasa senangnya dia berteriak, "MARI KITA MASUK DAN SUDAHI DERITA PANJANG INI!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2