
Tidak lama setelah Abah Ramli dan Jaka sampai di danau. Mereka mendengar suara adzan maghrib yang di kumandangkan Kakung di pesantren, mereka berdua langsung mempercepat langkah mereka menuju tempat tujuan yang tidak lain adalah pesantren milik Kakung.
Tida lama setelah itu, Jaka dan Abah Ramli langsung mengganti baju lusuh yang mereka kenakan. Membasuh tubuh mereka dan bergegas mengikuti shalat jamaah maghrib dilanjut isya di dalam masjid pesantren. Setelah shalat isya selesai, mereka baru masuk ke dalam tenda yang berdiri tepat di depan masjid. Mereka menyapu pandangan mereka untuk mencari Kakung yang sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan masjid secara buru-buru.
"Mat!" teriak Abah Ramli sembari melambaikan tangannya, setelah melihat Kakung yang sedang bersalaman dengan tamu di dalam tenda.
Melihat Ramli, Kakung langsung berlari menuju ke arahnya. Dia tergesa dengan wajah sangat terkejut karena bisa melihat sahabat yang sudah sangat lama tidak dirinya temui.
"Subhanallah... Apa kabar Ram? Kamu tahu cucu saya nikahan?" ucap Kakung sembari memeluk Ramli begitu erat.
"Cucu kamu yang mana?" jawab Ramli sembari mengernyitkan dahi.
"Halah, aku kira kamu mau kondangan," jawab Kakung sembari menggeleng, dia mengira kabar tentang cucunya bahkan sampai didengar penduduk desa kampung milik sahabatnya.
"Beneran, Mat? Yang nikah cucu kamu?" tanya Ramli kembali.
"Coba tebak, anak cowok yang lagi duduk di sana itu mirip siapa?" jawab Kakung sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Darto.
"Tumin, Mat?" jawab Ramli sembari membulatkan mata, dia langsung berlari ke arah Darto tanpa aba-aba.
"Kamu cucu Tumin?" tanya Ramli kembali setelah sampai di depan Darto.
"Iya, Kek, Kakek teman Si Mbah?" ucap Darto sedikit bingung hendak memanggil orang tua di depannya dengan panggilan apa.
__ADS_1
"Di mana Si Mbah kamu sekarang?" tanya Ramli kembali tanpa memperdulikan pertanyaan Darto.
"Di dalam, lagi ngambil minuman. Sebentar lagi paling keluar, Kek," jawab Darto singkat.
"Selamat ya, Le. Maaf saya tidak tau kalau cucu Tumin sama Amat nikah, jadi saya tidak membawa apa-apa," ucap Ramli sembari menyodorkan tangan, dan langsung diraih oleh Darto saat itu juga.
"Tidak apa-apa, Kek. Saya minta doanya saja" jawab Darto sembari menatap Abah Ramli dengan tatapan heran. Setelah melihat dengan seksama, Darto merasa orang di depannya menyimpan sesuatu benda yang terus membuat Darto merasa mendapat sebuah panggilan. Darto yang kebingungan kembali membuka suara saat itu juga "Maaf, Kek. Kakek sebenarnya menyimpan benda apa? Barang di ujung kalung Kakek terus memanggil nama saya."
Abah Ramli seketika membulatkan mata, dia menatap Darto dengan tatapan tidak percaya. Bulir bening mulai mengalir di kantung matanya, dia langsung memeluk Darto dengan begitu erat sembari berkata "Alhamdulillah, akhirnya tugas kami selesai."
Darto benar-benar bingung, dia tidak tahu tentang apa pun yang Abah Ramli katakan. Namun melihat Abah Ramli yang masih tersedu, Darto tidak berani untuk lanjut bertanya. Dia memilih bungkam dan sedikit menepuk pelan pundak milik orang tua di depannya itu.
Melihat Darto berpelukan dengan seseorang, Si Mbah yang baru saja keluar dari dalam rumah langsung berlari menuju tempat Darto. Dia meraih Ramli dengan cepat dan langsung merebut pelukan orang tersebut dari Darto.
"Sudah berapa tahun, Ram? Aku sampai lupa kalau punya teman yang namanya Ramli," ucap Si Mbah sembari menyodorkan dua gelas yang semula hendak ia bawa ke meja depan.
"Sekarang aku sudah 65 tahun Min, dulu aku ketemu kalian pas umur 15 kaya cucuku ini," ucap Ramli sembari menunjuk Jaka kemudian kembali menyambung ucapannya "Sudah lima puluh tahun, Min. Aku sebenernya pengen sekali ketemu kalian."
Darto benar-benar terkejut dengan apa yang Abah Ramli katakan, dia tidak menyangka Si Mbah dan Kakung memiliki teman yang sudah begitu lama tidak bertemu. Dalam herannya Darto bertanya pada orang tua di depannya "Memang Kakek nggak pernah main ke sini?"
Mendengar itu Si Mbah dan Kakung langsung menggeleng. Mereka berdua tahu tentang keadaan kampung halaman Ramli, meskipun mereka sebenarnya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Mereka menatap Darto dengan tatapan tajam sebelum akhirnya Si Mbah membuka suara "Mereka tidak bisa pergi dari kampung mereka, Dar."
"Memang kenapa, Mbah?" jawab Darto singkat.
__ADS_1
"Kami semua nungguin kamu, Nak. Leluhur kami berjanji pada sahabatnya, dia berjanji akan terus menjaga satu harta yang akan jadi milik kamu nantinya," sahut Abah Ramli sembari menatap Darto dengan tatapan sendu.
"Aku?" tanya Darto begitu heran. Dia seketika memasang wajah tidak percaya, sama halnya dengan Jaka yang sedang duduk di samping Abah Ramli.
"Dia yang kita tunggu, Bah? Tapi dia kan tidak pakai baju kaya yang di lukisan?" timpal Jaka.
"Dia bisa dengar suara kalung ini, sudah jelas dia orang yang leluhur kami maksud," jawab Abah Ramli sembari menjulurkan batu bening yang terlilit tali yang mengikat lehernya. Kemudian dia menatap Darto dan kembali bertanya, "Apa yang kamu tau tentang kanjeng Darma?"
"Abah Romo? Ayah Darsa? Saya tidak tahu apa-apa saya hanya pernah melihat dia sebentar saja, pas saya lagi ujian," jawab Darto dengan wajah heran, dia terkejut mendengar nama ayah Darsa dari orang yang baru saja ditemuinya itu.
"Tapi kamu lulus ujian, Kan?" tanya Abah Ramli kembali.
"Lulus, Ram. Bajunya dia simpan di kamar," sahut Si Mbah.
"Nak. Kamu harus berkunjung ke desa kami, kami mau memberi benda peninggalan leluhur kamu. Sudah ratusan tahun semenjak leluhurku menunggu penerus kanjeng Darma, dulu dia mengira akan menunggu Darsa, tapi ternyata anaknya bukanlah seseorang yang kanjeng dan leluhur kami tunggu," sambung Abah Ramli.
Mendengar itu, Darto langsung menoleh ke arah Harti, dia merasa kasihan karena sudah mendapat permintaan yang mengharuskan dirinya pergi, meski baru saja sehari mereka disatukan.
"Tidak usah terburu-buru, Nak. Kita masih bisa menunggu. Setahun dua tahun tidak lama bagi kami, di banding ratusan tahun yang sudah terlewati," ucap Abah Ramli setelah melihat Darto menatap istrinya dengan wajah Bersalah. Dia tidak ingin acara bahagia dari seseorang yang sudah ditunggu begitu lama, hancur karena keegoisan dari keluarganya.
Mendengar itu, Darto langsung berangsur memasang wajah lega, dia senang karena tidak harus cepat pergi. Malam itu Abah Ramli dan Jaka dipersilahkan untuk beristirahat di dalam rumah milik Kakung, mereka menempati kamar yang semula di gunakan Ki Karta, karena sudah dua malam ini dia belum pulang dari rumah menantunya.
Bersambung,-
__ADS_1