ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASIH BERLANJUT


__ADS_3

Melihat musuhnya berteriak begitu lantang, Darto dan Jaka sempat menutup telinga mereka sebelum akhirnya menciptakan sebuah senjata pada tangannya masing-masing.


Darto dan Jaka tidak melakukan pengaduan energi, mereka berfikir jika goa bisa runtuh, dan juga beranggapan kalau efek dari hentakan energi mereka akan lebih membahayakan dibanding mendapat serangan dari lawannya.


Jadi mau tidak mau Darto dan Jaka harus melawan musuhnya itu satu persatu hingga semuanya habis tak tersisa.


Gelombang pertama serangan itu datang dengan jumlah yang tidak banyak, hanya ada lima kelelawar yang maju bersamaan karena ruangan di dalam gua itu memang tidak cukup lebar untuk mereka menyerang sekaligus.


Satu demi satu kelelawar datang dengan berbaris, dengan menampakkan taring dan cakar yang mereka miliki. Mereka berebut untuk saling mendahului, karena mereka merasa jika dua pria di depannya itu bisa mereka bunuh dengan mudahnya.


Darto dan Jaka yang melihat kesempatan dari jumlah penyerangnya, langsung saling mengayun tombak serta pedang panjang di tangannya dengan ayunan teratur. Satu kali tebasan dari pedang Darto dan tombak milik Jaka selalu berhasil menjatuhkan kepala kelelawar yang menganggap remeh mereka.


Melihat kejadian itu, pemimpin kelelawar yang ukurannya sangat besar berteriak dengan suara yang sangat nyaring. Semua kelelawar yang masih menggantung seketika langsung mengepak sayap mereka kemudian sebagian kecil dari koloninya turun ke atas tanah.


Serangan kedua kali ini berlangsung cukup sengit, lima kelelawar terbang di atas kepala, sedangkan sisanya ada tuju kelelawar yang merangkak mendekat menggunakan kaki belakang dan sudut siku bersenjata pada sayapnya sebagai kaki depannya.


Mereka terus mendekat dengan jumlah yang sama hingga tidak terhitung sudah berapa kali Darto dan Jaka meladeni musuh yang terus mendekat. Lengan Darto dan Jaka benar-benar terasa loyo, karena terus mengayun senjata di tangan mereka tanpa henti-hentinya.


Setelah cukup lama, Darto memperhatikan pemimpin mereka yang sama sekali belum melakukan gerakan, dia masih menggantung berselimutkan sayap yang terlipat sembari mengamati pertarungan.


"Jaka ... kamu bisa pindahkan energi kamu ke bawah kepala pemimpin mereka?" ucap Darto sembari terus menebas gerombolan lawan di depannya. Darto sedikit geram setelah melihat pemimpin musuhnya masih terus memperhatikan dengan tatapan remeh dari kepala terbaliknya itu.


"Ulur saja waktunya, Kang. Aku pindah ke sana kalau sudah terkumpul banyak," sahut Jaka sembari menatap tajam pada Darto.


Mendengar permintaan Jaka, Darto langsung mengangguk kemudian menciptakan cambuk bersinar dengan ukuran yang begitu panjang. Senjata Darto benar-benar bisa menggapai kepala gua sehingga dia bisa menebas setiap musuh yang datang entah dari atas maupun bawah kakinya.

__ADS_1


Melihat Darto bisa menghalangi setiap musuh yang berbondong datang, dia langsung duduk bersila dan menciptakan energi bulat sebesar bola sepak. Jaka terus memasukkan energi miliknya ke dalam lingkaran itu, hingga dirasa energinya cukup padat Jaka menoleh pada Darto sembari berkata, "Sudah siap, Kang."


Mendengar itu, Darto langsung memecut cambuk di tangannya sekuat tenaga, dia menebas puluhan musuh dalam satu gerakan sembari berkata, "Pindah sekarang, tepat di bawah kepalanya!"


Ketika Darto meminta Jaka untuk memindah energinya, dalam waktu yang bersamaan Darto menciptakan busur dan anak panah di kedua tangannya. Dalam kurun sepersekian detik Jaka berhasil memindah energinya tepat di bawah kepala yang menggantung, sedangkan Darto sudah berhasil menarik anak panah pada busur yang kini sudah melengkung sempurna.


Ketika Darto melihat energi Jaka sudah berpindah, dia melepas anak panahnya hingga menembus puluhan kelelawar yang hendak datang pada mereka. Anak panah itu terus melesat melubangi tubuh setiap musuhnya, hingga akhirnya mengenai energi merah menyala berbentuk bulat yang sudah berhasil Jaka pindahkan menggunakan teknik lempitnya.


Kedua energi milik Darto dan jaka seketika berbenturan, ledakan besar langsung menyertai pergesekan anak panah dan bola energi Jaka. Dentuman yang sangat memekakkan telinga seketika menggelegar, dibarengi ratusan kelelawar yang musnah dalam satu kali serangan.


Pemimpin kelelawar benar-benar terkejut dengan satu serangan kejutan itu, dia sampai terluka parah dan kehilangan satu sayap, dengan kepala yang sudah tidak utuh bentuknya. Kedua telinganya sudah hancur dan melebur, setelah menerima ledakan kejutan yang sama sekali dirinya tidak sangka itu.


Dia menjerit dengan suara begitu lantang, suaranya tidak kalah menggelegar dibanding suara dentuman tadi. Namun ketika Darto melihat musuhnya tersulut marah, dia kembali menggunakan kesempatan ketika musuh sedang mendongak sembari berteriak.


Satu anak panah mengenai dagu pemimpin yang tengah berteriak, dua sisanya mengenai dinding goa yang digunakan sebagai pijakan pemimpin musuhnya. Mahluk itu langsung tergeletak di atas tanah, kemudian tertimbun oleh reruntuhan batu stalaktit runcing yang menembus tubuhnya.


Dia terkapar sembari bergeliat, dengan tubuh yang selayaknya dipaku menggunakan batu runcing yang masih menancap di perutnya. Sedangkan semua anak buah yang masih tersisa terbang dengan ketakutan, mereka sangat berbeda dengan ketika masih ada yang memberi arahan.


Semua kelelawar yang tersisa hanya berkelebat memutar-mutar, mengelilingi tubuh pemimpin yang kehidupannya sudah diujung tanduk. Melihat kesempatan itu, Darto dan Jaka kembali mengulang serangan yang tadi.


Kali ini mereka membenturkan energi di atas tubuh pemimpinnya, hingga semua musuhnya lenyap dalam satu serangan susulan tersebut.


Melihat semua musuhnya sudah menjadi debu, Darto dan Jaka spontan langsung terduduk dengan wajah lega. Mereka mengusap keringat yang membanjiri wajah, kemudian saling menatap dan kemudian tertawa.


"Kalau saja aku sendirian, Jak. Mungkin aku sudah jadi santapan mereka," ucap Darto sembari terkekeh, dia merasa sangat puas hingga tidak bisa menahan gelak di dadanya.

__ADS_1


"Apa lagi aku, Kang? Pasti dijadikan bakso sama mereka," sahut Jaka yang juga ikut terkekeh.


Setelah nafas mereka kembali teratur, mereka memutuskan untuk menuju mulut goa. Karena sudah cukup lama mereka menunggu, namun dua temannya itu belum juga kunjung tiba.


Karena sudah terlalu lama, Jaka dan Darto yang tidak ingin terus membuang waktu, mereka memutuskan untuk pergi ke sarang ngengat itu lagi. Mereka berjalan dengan Jaka yang memimpin, karena meski tidak terlalu jelas, samar-samar Jaka masih bisa mengingat rute tempat dia dibawa berlari oleh Komang beberapa waktu lalu.


Mereka berdua kembali menyibak hutan yang sepenuhnya berwarna hitam, hingga satu saat mereka melihat gerombolan ngengat yang tengah terbang tergesa di atas kepala mereka.


Darto dan Jaka langsung saling bertukar tatap ketika melihat itu, karena arah gerombolan anak ngengat benar-benar berbeda dengan arah tujuan Darto dan Jaka. Sesaat mereka bungkam sebelum Darto berkata, "Kita ikuti saja mereka, Jak. Pasti mereka mau nyusul pemimpin mereka."


Mendengar ide yang Darto sebutkan, Jaka langsung mengangguk kemudian berlari dengan langkah lebar mengikuti Darto yang memimpin jalan. Mereka berlari sembari sesekali bersembunyi, agar aksi membuntuti yang tengah mereka lakukan tidak diketahui oleh targetnya.


Sudah cukup jauh mereka terbang, hingga satu waktu mereka berhenti di atas suatu tempat. Darto dan Jaka yang melihat gerombolan anakan ngengat terus berputar di atas tempat yang sama langsung berpindah, mereka berpindah ke atas dahan pohon hitam yang cukup lebar, hingga tampak dengan jelas kebenaran yang ada di bawah gerombolan.


Di sana ada dua lelaki kembar yang tengah berdiri bertolak punggung, dengan satu ngengat raksasa yang terus mengitari mereka. Dari situ, Darto dan Jaka langsung mengulum senyum, karena mereka melihat dua teman yang ditunggu masih baik-baik saja.


Sejenak Darto dan Jaka kembali saling bertukar tatap, sebelum akhirnya mereka saling mengangguk dan menghilang bagai kepulan asap.


"Terimakasih, Komang ... Maung, kalian sudah mengulur waktu," ucap Jaka setelah sampai di samping tubuh Komang.


"Mari kita selesaikan urusan ini," sambung Darto setelah berdiri di samping Maung.


Mengetahui Darto dan Jaka baik-baik saja dan sudah sampai di samping mereka, Maung dan Komang langsung tersenyum sembari berkata, "Sisanya kita serahkan pada kalian berdua."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2