ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PASAR


__ADS_3

Hari sudah berganti, seperti yang Kakung janjikan. Harti, Bidin, Surip dan Darto sudah berkumpul di depan rumah. Mereka tengah menunggu Kakung yang tengah membersihkan dan mengeluarkan mobil kinclong miliknya itu dari dalam garasi.


"Kamu nggak mau sama akau aja Har? kalau sudah lepas sarung sama peci begini, Gus Darto lewat!" ucap Surip kegantengan, sembari merapikan rambut belah tengahnya di depan kaca jendela rumah Kakung. Saat ini Bidin dan Surip mengenakan celana pendek dan baju yang bermotif sama, kaos belang warna putih abu-abu, dan juga kacamata yang menggantung di kerah baju mereka. Kakung sempat tertawa melihat kekompakan mereka sebelum masuk ke dalam garasi.


Tidak menanggapi pertanyaan Surip. Harti terlihat malu-malu memandangi Darto di depannya. Celana jeans panjang tanpa ikat pinggang, kemeja hitam yang sengaja di buka dua kancing atasnya, serta ujung bawahnya dia masukkan ke dalam celana. Ditambah rambut klimis beraroma minyak kemiri yang dia sisir ke belakang, dengan kacamata hitam bulat bertengger di atas kepala. Hari ini Darto tampak gagah sempurna di mata Harti.


Harti tambah dirundung rasa malu, tatkala melihat pakaian dress panjang yang dia kenakan memiliki warna yang sama dengan baju yang dipakai Darto. Kebetulan yang sangat tidak terduga namun membuat hatinya benar-benar bahagia.


"Dasar wong ndeso! mau ke pasar saja pakai dandan segala. Sudah kaya mau nyalon lurah saja kalian ha ha ha ha!" ejek Kakung yang tengah terbahak menyaksikan tingkah anak didiknya, setelah selesai membawa mobilnya itu keluar dari garasi.


"Tapi ganteng kan, Kung?" ucap Darto sembari mengangkat-angkat alis seraya memasang kacamatanya yang semula bertengger di atas kepala.


"Woh! jelas gantengan Kakung dong kalau kita seumuran!" ucapnya kemudian melepas sorban dan menyisir rambut yang sudah botak sebagian, di depan kaca spion mobilnya.


Melihat tingkah lelaki tua tersebut, tidak ada satupun yang berhasil menahan gelak tawa dari bibirnya.


Setelah tangan Kakung melambai, keempat muridnya berduyun-duyun memasuki mobil dan bergegas meninggalkan pesantren. Sepanjang perjalanan mereka terus bercanda, sesekali Kakung juga ikut masuk dalam candaan muridnya itu. Namun berbeda dengan Surip, sedari berangkat dari pesantren dia bungkam tanpa membuka suara. Wajahnya pucat dan rautnya gelisah.


"Pak kyai! tolong berhenti sebentar!" Surip membuka suara untuk pertama kalinya setelah perjalanan di mulai.


Mendengar permintaan Surip, Kakung langsung menepi dan menghentikan perjalanan. Setelah mobil berhenti sempurna, Surip bergegas keluar dari mobil tersebut dan berlari menjauh.


Bingung dengan tingkah Surip, kita serentak menyusulnya bersama. Dan tak di duga, ternyata dia diam dan pucat hanya karena mabuk kendaraan.


"Ha ha ha ha! benar-benar Ndeso kamu Sur! masak naik mobil mabuk!" ucap Kakung sembari memijit pundak Surip yang tengah muntah di tepi jalan tersebut.

__ADS_1


"Huekk! Mobil Pak Kyai bau bensin!" ucap Bidin setelah memuntahkan sarapan paginya.


Mendengar ucapan Bidin ketiga temannya hanya bisa kebingungan. mereka tidak merasa mual atau bau seperti yang Surip jabarkan.


"Halah alasan! buktinya yang lain ndak mual tuh, Sur! ha ha ha ha!" Kakung masih terbahak sembari memijit pundak Surip.


Dirasa Surip sudah berangsur pulih, kembali mereka melanjutkan perjalanan kembali. Meski sempat terhenti ketika singgah di pom bensin baru yang Kakung tuju, dan kembali Surip memuntahkan sisa sarapan di perutnya itu. Kini akhirnya kita sudah sampai di area pasar yang kita tuju.


Setelah mobil terparkir sempurna, tampak Surip yang paling sigap membuka pintu. Bergegas keluar di lanjut menghirup oksigen di luar dengan rakusnya, hingga terbahak semua orang yang menyaksikannya.


Satu persatu toko pakaian sudah mereka masuki, hanya Harti yang belum menenteng baju baru ditangannya. Sedangkan yang lain sudah berhasil mendapat baju baru yang mereka sukai. Setelah sekian banyak toko yang mereka masuki, semua lelaki hanya bisa menggeleng kepala ketika Harti meminta kembali ke toko pertama yang mereka kunjungi.


Namanya saja wanita, sudah tidak heran jika sudah urusan pakaian mereka selalu selektif. Tapi meski begitu, kebiasaan wanita juga hampir merata sama. Yang suka lama pas milih, tapi yang diambil selalu pilihan pertama.


"Pak Kyai, kita cari bakso ya?" ucap Surip, yang sudah merengek kelaparan sedari tadi.


"Sudah?! ayo Simbah juga lapar" ucap kakung dan bergegas menuju warung-warung yang menyediakan berbagai makanan.


"Sini aja Pak Kyai!" Ajak Bidin di depan kios bakso yang sangat ramai. Aroma bumbunya sangat wangi, hingga memancing pejalan kaki yang lewat di samping kios tersebut. Tampak kursinya penuh hingga berdesakan semua orang yang makan di meja panjang dari kayu. bahkan ada yang mengantri hanya untuk bisa makan di warung tersebut.


"Cari yang Ndak ngantri aja Din," jawab Kakung singkat.


"Iya Din! jangan pernah makan di situ!" Darto menolak mentah-mentah ajakan bidin.


Kemudian mereka hanya berjalan beberapa langkah dan masuk ke kios bakso di sebelahnya.

__ADS_1


"Permisi Mas.?! lima porsi ya," ucapan Kakung membuyarkan lamunan tukang bakso di depannya.


"Njih pak! maaf saya Ndak tau ada pelanggan masuk he he, ditunggu njih pak!" ucap penjual itu kemudian meraih mangkok di tumpukan dan dengan sigap menghantarkan lima mangkok bakso di meja yang sudah kami duduki.


Seperti biasa, ketiga laki-laki muda langsung memamerkan keberingasan mereka. Jika sudah menyangkut urusan melahap makanan, Mereka mungkin ahlinya. Bagaimana tidak? mereka sudah selesai melahap dua mangkok bakso, dan kini hampir habis setengah batang rokok di tangan mereka. sedangkan Harti belum selesai memakan seporsi bakso di depannya.


Setelah di rasa kenyang, mereka bergegas pergi menuju mobil kembali. Darto hanya diam sepanjang perjalanan, berbeda dengan dirinya yang biasa ceria. Dan sesampainya di mobil, Darto membuka suara dan bertanya kepada Kakung.


"Apa mereka tidak merasa aneh ya Kung?" tanya Darto dengan pandangan ke arah pasar yang sedang mereka tinggalkan.


"Ya enggak lah Dar, mereka kan enggak lihat," jawab kakung berhasil mendaratkan rasa penasaran di dada ketiga teman Darto.


"Emang ada apa Gus?" tanya Bidin menyelidik.


"Kamu ingat warung yang ramai tadi?" Jawab Darto sembari menahan perut. Kini dia tampak mual, sesekali Darto hampir muntah, tapi masih bisa Darto tahan.


"Kamu mabuk kendaraan juga Gus?" tanya Surip sedikit senang, karena mendapat teman yang senasib dengannya.


"Enggak Sur! kalau kalian lihat, kalian pasti juga enggak sudi makan di sana! Pokoknya kalian jangan pernah mampir ke warung itu!" sarkas Darto semakin menambah rasa penasaran ketiga temannya. Sedangkan Kakung hanya terdiam dan fokus pada kemudinya.


"Memang ada apa Gus?" tanya Surip kembali.


"Ada sosok wanita di dekat kuali, wajahnya penuh nanah. Belatung juga bergeliat di rongga matanya, dan dari bibirnya keluar cairan busuk warna hijau mengucur ke kuah bakso yang di makan semua orang! Huek!" Darto berhasil memuntahkan bakso yang dia tahan sedari tadi.


Bersambung,-

__ADS_1


selamat membaca 😁


jangan lupa dukungannya 🤗


__ADS_2