ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
DUA HARI TERAKHIR


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti, sudah satu minggu berlalu sejak percakapan Darto dan Jaka berlangsung. Dava sudah tampak lumayan cakap ketika menghadapi Sastro dan Wajana, dia sudah bisa menghindar dan menyerang menggunakan waktu yang tepat.


Melihat kemajuan Dava begitu pesat, Darto menggantikan posisi Sastro dan Wajana kala itu, tiga minggu yang tersisa Darto putuskan untuk melatih anak tercintanya.


"Dava ... coba tebas Bapak," ucap Darto singkat untuk memulai pelatihan awal yang dia berikan.


"Tapi, Pak... ," Dava terlihat ragu untuk menebas Darto yang hanya berdiri seraya bersedekap bungkam di depan dirinya.


"Kamu pikir Bapak mudah ditebas?" sambung Darto dengan wajah mengejek, disambut senyum remeh dari Jaka yang menyaksikan di dekatnya.


"Semoga beruntung, Dava, ha ha ha ha," ejek Jaka setelah melihat Dava menciptakan senjata berbentuk pedang bercahaya putih mirip punya Ayahnya.


Dava sejenak menoleh pada paman Jaka, kemudian dia menatap mata ayahnya yang terlihat sangat santai di hadapannya.


Dava bergerak maju secepat yang dia bisa, dia mengayunkan pedangnya dengan penuh perasaan ragu. Ketika pedangnya menyentuh tubuh ayahnya, pedang di tangan Dava terasa menebas udara. Padahal mata telanjang Dava melihat jika pedang itu mengenai lengan ayahnya, tapi tubuh ayahnya benar-benar seperti asap, terasa tidak memiliki bentuk fisik dan hanya sia-sia ketika senjatanya mengenai lengannya.


"Apa itu, Pak?" tanya Dava heran, matanya terbelalak, dengan bulir keringat yang mulai muncul di pelipisnya.


"Ini yang harus kamu latih selama tiga minggu," sambung Darto sembari berpindah di belakang tubuh Dava, kemudian menepuk pundak anaknya dengan senyuman yang mengambang dari bibirnya.


Melihat Darto yang tiba-tiba berdiri di belakangnya, Dava yang begitu terkejut seketika tersungkur. Dia tidak menyangka jika Bapaknya benar-benar seperti hantu, yang bisa berpindah tempat dengan kecepatan yang begitu hebat.


"Tapi kenapa tubuh Bapak tadi tembus?" tanya Dava masih kebingungan dengan apa yang terjadi sebelumnya.


"Kamu lihat kembang di sana, Dava?" sahut Darto sembari menunjuk kembang sepatu yang terletak cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


"Iya, Pak ... Dava lihat," jawab Jaka sembari melihat bunga yang ditunjuk oleh ayahnya.

__ADS_1


"Bunga ini, kan? yang kamu lihat tadi?" sambung Darto sembari menjulurkan bunga yang tadi sempat Dava lihat.


Dava mengerjap matanya berkali-kali, dia terheran karena bahkan ketika dirinya belum sempat berkedip Darto sudah berhasil meraih bunga yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Bukan hanya meraih, Darto bahkan sudah membawa bunga itu kembali ke hadapannya dalam waktu kurang dari satu detik.


Kecepatan Darto membuat mata telanjang Dava tidak bisa menangkap pergerakan tersebut, hingga serasa kembang itu tiba-tiba hilang dari tempatnya dan muncul dengan sendirinya di atas telapak tangan Ayahnya.


"Saat pedangmu hampir menyentuh tubuh Bapak, saat itu Bapak pindah dan kembali lagi ke posisi awal setelah pedang kamu melewati tubuh Bapak," ucap Darto mencoba menjelaskan apa yang sudah dirinya lakukan.


"Berarti intinya kita harus cepat ya, Pak?" sahut Dava sembari mengangguk, dia merasa sedikit mendapat jawaban dengan apa yang tengah membuatnya kebingungan.


"Naik pundak Bapak, Nak," ucap Darto sembari jongkok, dia meminta Dava untuk naik dalam gendongannya kembali.


Dava yang melihat posisi Bapaknya sudah jongkok di bawahnya seketika langsung menuruti permintaan tersebut. Sesaat setelah Dava naik, Darto berdiri dan membawa tubuh anak di dalam gendongannya untuk berpindah dengan kecepatan teknik lempit.


Dava menjadi pusing karena semua pandangannya seakan menjadi buram dan tiba-tiba pemandangan yang tersaji di depan matanya berbeda. Otak dan mata Dava benar-benar tertekan lambat, ketika tubuhnya tiba-tiba berada di tempat berbeda dalam hitungan sepersekian detik saja.


Setelah berpindah sekali, Darto kembali membawa Dava menuju tempat pelatihan semula dengan teknik yang sama. Setelah sampai di tempat semula, Dava benar-benar turun dengan tubuh sempoyongan. Mata dan keningnya terasa berkedut, disertai rasa mual yang memenuhi perut.


Sesaat setelah Darto memijit tengkuk lehernya, Dava langsung mengeluarkan isi perutnya di tempat. Setelah Dava terlihat lebih baik, Darto akhirnya mengajari anaknya setiap langkah demi langkah yang harus dilakukan untuk menguasai teknik lempit.


Hari terus berlalu dari saat itu, dua minggu setelah Darto mengajari Dava teknik itu, akhirnya hasil nyata mulai bisa disaksikan oleh Jaka, Sastro dan Wajana yang selalu memperhatikan pertumbuhan Dava.


Dava sudah bisa berpindah ke tempat tujuan yang dia inginkan, meski kecepatannya belum bisa menipu mata seperti yang dilakukan ayahnya.


Namun mengingat latihan Dava baru berjalan tiga minggu, semua orang yang melihat kemajuan Dava tidak bisa menyingkirkan rasa terkejutnya. Dava benar-benar bisa melakukan langkah awal teknik lempit dalam waktu singkat, sedangkan ayahnya membutuhkan waktu hampir lima bulan untuk menguasainya.


"Nak ... sekarang kita akan melakukan pertarungan dengan terus berpindah-pindah. Coba kejar Bapak, dan tebas Bapak jika kamu mendapat kesempatan," ucap Darto dengan wajah bangga, setelah melihat anaknya berhasil berpindah untuk pertama kali.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Dava langsung mengangguk dan menuruti permintaan Ayahnya, dia terus mengejar kemanapun Darto pergi sembari mengayun pedang bercahaya di tangannya.


Setiap hari Ayah dan Anak itu melakukan pertarungan dengan saling kejar mengejar, tidak terasa waktu berlalu dengan begitu gesit, hingga hari yang direncanakan untuk keberangkatan Darto dan Jaka sudah sangat dekat di depan mata.


Malam ini adalah dua hari terakhir Darto dan Jaka singgah di pesantren, meski begitu mereka masih melatih Dava yang sudah begitu lihai dalam pertarungan, agar mereka bisa memastikan hasil ajaran yang mereka berikan.


Dava benar-benar sudah bisa melawan Sastro dan Wajana meski mereka menyerang bersamaan. Namun Dava sama sekali belum bisa menyentuh tubuh Jaka maupun Ayahnya meski sudah berusaha sekuat yang ia bisa.


Melihat kemajuan pesat Dava, Darto mengulum senyum dan kembali berjongkok di depannya. Dia meminta Dava untuk kembali naik dalam gendongan punggung, agar Darto bisa menggendong anaknya ketika berjalan menuju rumah kesayangan mereka.


Melihat acara latihan sudah selesai, Sastro dan Wajana langsung pamit dan menghilang bagai kepulan asap, menyisakan tiga pria yang hendak melangkah meninggalkan tempat tersebut.


"Dava ... Bapak titip Ibu dan dua Si Mbah kamu, ya?" Ucap Darto pada anak yang masih bungkam dalam gendongan punggungnya.


"Apa akan lama lagi, Pak?" sahut Dava sembari memajukan kepalanya, dia mencoba melihat wajah Darto yang semula tidak tampak dari belakang.


"Bapak juga tidak tahu, Nak. Doakan saja agar cepat selesai," jawab Darto sembari menoleh ke samping, dia menatap Dava dengan tatapan sendu dan senyum paksa yang terpampang di bibirnya.


"Dava akan tunggu kabar Bapak meski itu sangat lama," kembali Dava berucap dengan bibir yang sempurna mengambang.


"Aku juga, ya?! Titip Bu Lik Magisna sama Ratna," sambung Jaka yang tengah berjalan sejajar dengan Darto.


"Siap, Paman! Mereka juga sudah seperti Ibu dan Adik Dava," jawab Dava sembari menoleh ke arah Jaka


Mendengar ucapan itu, Darto dan Jaka benar-benar merasa lega. Mereka merasa sudah bisa meninggalkan keluarganya tanpa rasa was-was, serta merasa semuanya akan baik-baik saja. Bagi Darto dan Jaka, Dava sudah bukan lagi bocah yang hanya bisa berbicara, dia sudah punya bukti nyata tentang kemampuan yang dirinya miliki.


Setelah sampai di pesantren, semuanya masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Entah itu Darto maupun Jaka, mereka terus menatap sendu wanita tercinta mereka sembari mempersiapkan kata perpisahan yang akan kembali mereka utarakan.

__ADS_1


Malam itu berlalu cukup haru bagi dua pasangan yang sempat terpisah begitu lama, karena perbincangan malam ini kembali membahas sesuatu yang mengulas tentang perpisahan kedua, yang akan berlangsung besok lusa. Namun tidak ada penolakan dari Harti maupun Magisna, mereka maklum dan juga siap menunggu suami tercintanya, meski itu membutuhkan waktu seumur hidupnya.


Bersambung ....


__ADS_2