
"Kenapa mereka menolong saya? Apa yang mereka rencanakan sebenarnya?" tanya Darto heran kemudian menghela nafas panjang setelahnya.
"Aku juga tidak tau, Dar. Lebih baik sekarang kita lanjutkan dulu mengurus peninggalan Kanjeng Darma. Aku cuma diberi waktu lima bulan sama Kanti buat melatih kamu," jawab Abirama sembari menatap lurus ke arah mata Darto di depannya.
Mendengar ucapan Abirama, Darto langsung mengangguk kemudian menuruti segala arahan yang Abirama berikan. Mereka berdua kembali duduk bersila dengan terus mengucap doa, hingga tiba-tiba seseorang dengan pakaian serba putih berangsur mendekat ke arah mereka.
"Assalamualaikum Kanjeng," ucap Abirama kepada sosok tua yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Wa'alaykumussalam... Aku kira Darsa yang akan kemari, ternyata bukan," jawab lelaki tua itu sembari tersenyum memperhatikan Darto
"Kulo Darto, Mbah.. Kulo..." ucapan Darto dihentikan oleh orang tua tersebut, dia menepuk pundak Darto kemudian berkata, "Saya tau, kamu keturunanku. Tidak masalah jika kamu yang memiliki semua ini, karena ini semua saya persiapkan memang untuk seseorang yang layak aku jadikan penerus."
Darto langsung mengangguk ketika mendengarkan ucapan Romo, sedangkan Romo kembali tersenyum melihat Darto yang begitu penurut di depannya. Kemudian setelah Darto setuju, dengan bantuan Abirama dirinya menerima semua energi yang Romo tinggalkan di dalam tasbih kayu miliknya.
Perlahan Romo memasukkan semua energi yang tersimpan di dalam ruang tersebut, semua cahaya putih masuk ke dalam tubuh Darto secara perlahan, hingga yang semula merupakan ruangan yang sempurna berwarna putih kini berubah menjadi ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Di dalam ruang itu yang tampak hanyalah tubuhnya sendiri, serta dua orang lainnya yang kini tengah duduk di hadapan Darto. Mereka terlihat karena tubuh mereka memancarkan cahaya yang sama dengan tubuhnya sendiri. Selain mereka bertiga, yang terbentang hanyalah warna hitam pekat tanpa apapun selain kegelapan tersebut.
"Hebat kamu, Nak.. Saya kira kamu akan kesakitan menerima energi sebanyak itu, tapi sepertinya aku salah menilai dirimu. Tubuhmu lebih layak daripada kayu yang saya gunakan untuk menyimpan energi tersebut," Sambung Romo sembari menepuk-nepuk pundak Darto, wajahnya tampak bangga setelah melihat energi yang tak berujung berhasil masuk ke dalam tubuh Darto dengan begitu mudahnya. Bahkan Abirama yang sedari tadi bersiap jika akan ada lonjakan yang membahayakan Darto pun menjadi tidak perlu bergerak, karena proses pemindahan energi benar-benar berjalan dengan begitu lancar.
"Sekarang, kekuatanmu tidak bisa lagi dibanding dengan anakku. Seharusnya kamu bisa menyingkirkan siapapun yang menghalangi, Nak. Semoga Allah selalu bersamamu," ucap Romo kemudian melebur menjadi transparan dan masuk ke dalam tubuh Darto.
__ADS_1
Darto paham dengan apa yang terjadi padanya, itu sama seperti ketika dirinya bertemu Darsa di dalam tasbih. Yang dia temui sebenarnya bukanlah roh maupun qorin dari pendahulunya, melainkan perwujudan padat dari energi yang mereka tinggalkan.
Setelah proses selesai, Abirama kembali mengajak Darto pergi meninggalkan ruang gelap tersebut. Mereka kembali duduk berhadapan, kemudian raga Darto dan Abirama kembali berpindah ke tanah lapang. Tempat dimana mereka memulai semuanya, sebelum memulai proses memasuki tasbih.
"Sekarang kamu sudah jadi kuat, Dar. Raja kami pasti akan tahu jika kamu keturunan Kanjeng Darma jika kalian bertemu. Kita hanya butuh sedikit lagi agar kamu bisa sekuat kanjeng dulu... Tidak kamu bisa lebih kuat," ucap Abirama sesaat setelah mereka membuka mata.
"Apa lagi?" tanya Darto penasaran.
"Kamu baru memiliki bahan mentah, kita harus olah energi yang ada didalam tubuhmu," sambung Abirama sembari berdiri.
"Maksudmu seperti ini?" ucap Darto sembari membentuk energi miliknya menjadi sebuah cambuk yang berkilauan di tangannya.
Mendengar pertanyaan itu Darto langsung mengangguk, kemudian menunduk. Dia merasa tidak bersemangat, mengingat pertarungan yang pernah dia lakukan tidak berjalan seperti apa yang ia harapkan.
"Pantas saja kamu kalah, Ha ha ha!" ejek Abirama singkat, dia kemudian menarik Darto menuju tengah-tengah tanah lapang tersebut.
"Lihat ini," sambung Abirama sembari berjalan, dia mengacungkan jari telunjuk ke arah pohon kecil yang lumayan jauh darinya.
Saat itu satu hal terjadi, bahkan Darto sedikit terkejut melihat apa yang tengah Abirama lakukan. Darto langsung meminta Abirama mengajari itu dengan wajah tidak sabar, setelah melihat pohon yang ditunjuk Abirama terbakar meski tidak terlihat bagaimana cara dia melakukannya.
"Kenapa harus kau pegang? Jika energi milikmu bisa dilempar?" Ucap Abirama singkat sembari menatap Darto.
__ADS_1
"Apa bisa?" Darto sedikit mengernyitkan dahinya, sembari mencoba melakukan apa yang Abirama lakukan tadi.
Tangan Darto mulai memancarkan cahaya putih ketika dirinya mulai menunjuk pohon kecil yang terletak cukup jauh dari tempatnya, namun yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Energi yang Darto lontarkan tidak sampai ke pohon yang ia tunjuk, cahaya yang keluar dari tangan Darto memudar di tengah-tengah jarak diantara dirinya dan pohon sasaran.
"Ha ha ha ha ha! Kalau cuma segitu bahkan ayam bisa menghindar, Dar! Ha ha ha ha!" tawa Abirama mengejek pada Darto. Setelah melihat energi yang Darto lemparkan berjalan begitu pelan, bahkan lenyap di tengah jalan.
"Makanya ajari saya!" ketus Darto sungut-sungut setelah menelan ejekan yang Abirama lontarkan.
"Iya, iya Ha ha ha ha!" jawab Abirama sembari mengusap matanya yang mulai berair karena terus tertawa.
Setelah cukup lelah karena terus tertawa, Abirama akhirnya bisa tenang kembali. Darto yang tampak sudah kesal akhirnya mendapat petunjuk dari Abirama, untuk cara melakukan hal tersebut.
"Batu tetaplah batu, Dar. Mau dipegang, dilempar, sama saja itu masih batu yang bisa menyakiti orang jika kita gunakan untuk menyerang. Memang ukuran batu yang menentukan dampak dari serangan kita, semakin besar batu, semakin besar juga Dampak yang lawan terima. Tapi kamu tau kan? Seberapa sakitnya kalau kita terkena batu kecil yang digunakan sebagai peluru ketapel?" Ucap Abirama kali ini dengan wajah serius.
Mendengar pertanyaan Abirama, Darto langsung mengangguk paham. Dia mulai mempraktekan ajarannya, meski sedikit berbeda. Ketika Abirama mengusulkan sebuah ketapel, entah mengapa Darto langsung terpikirkan sebuah senjata yang mungkin akan berguna melawan Gending yang selalu dilindungi oleh ribuan anakan ular di sekelilingnya. Saat ini benda bersinar di tangan Darto yang selalu berbentuk cambuk, sudah menjadi benda dengan bentuk yang sepenuhnya berbeda.
Senjata yang saat ini Darto pegang berbentuk sebuah busur panah panjang, benda itu begitu mengkilap, dengan energi yang terus terurai dari pancaran sinar yang dipancarkan. Seketika mata Abirama langsung berbinar, dia tertegun menyaksikan keindahan yang terpancar dari benda tersebut.
Kelak senjata itu akan dikenal oleh penghuni alam sebelah dengan sebutan Panah Chandrabha. Sebuah nama yang dikutip dari bahasa sansekerta, yang memiliki arti kilauan cahaya rembulan.
Bersambung,-
__ADS_1