
Setelah membunuh sosok tinggi itu, Darto membawa Nek Ijah masuk ke dalam rumahnya kembali. Dengan bantuan Si Mbah serta Ki Karta dia mengangkat tubuh yang terkulai lemas itu. Ketika masuk ke dalam rumah, keanehan kembali terjadi.
Bau busuk sama seperti yang pernah darto cium sebelumnya, kini tercium bahkan lebih menyengat di dalam rumah tersebut. Bukan hanya Darto, kedua lelaki tua di depannya juga mencium bau yang sama. Mereka bahkan langsung pucat karena menahan rasa mual berlebih di dalam perutnya. Meski begitu, mereka bertiga tetap membawa tubuh nek Ijah untuk masuk ke dalam kamarnya. Mereka saling menahan nafas dengan langkah buru-buru agar cepat sampai ke kamar milik Nek Ijah.
Ketika sampai di depan pintu kamar, Darto bergegas membuka pintu, dia membuka lebar-lebar agar bisa dimasuki tiga orang sekaligus. Namun yang disaksikan ketiga lelaki setelah membuka pintu benar-benar membuat mereka terkejut. Lantai kamar tersebut dipenuhi dengan bunga, dan ada dua dipan yang terletak di dalamnya. Satu dipan biasa saja, dan dipan yang lain ditutup dengan kelambu tipis berwarna putih mengelilingi dipan tersebut. Bau busuk semakin tercium di dalam kamar tersebut, hingga Ki Karta memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.
"Ada mayat, Dar," ucap Si Mbah yang baru saja menemukan asal muasal bau yang terus tercium.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto bergegas meninggalkan tubuh Nek Ijah di atas dipan biasa, dan menuju tempat yang Si Mbah tunjuk menggunakan jari telunjuknya, mendekat ke arah dipan yang tertutup kelambu.
Darto membuka penghalang dipan tersebut, dia menyingkirkan kelambu dengan tangannya, kemudian matanya dapat menyaksikan dengan jelas jika ada perempuan yang menggunakan pakaian tidur berwarna, sedang tidur bersedekap di atas dipan tersebut.
Rambutnya tergerai dan tampak rapi, bajunya juga bagus sekali. Hanya saja kulit di tubuhnya sudah membiru, juga membengkak di beberapa bagian tubuhnya. Wajahnya bahkan sudah mengelupas, mulutnya sobek hingga menampakkan tulang rahang yang seharusnya tertutup kulit pipi.
Darto menahan mual kembali, dia meninggalkan dipan tersebut kemudian memuntahkan isi perutnya juga. Ketiga lelaki itu benar-benar kebingungan, mereka saling bertatap tanpa membuka suara sama sekali. Setelah melihat mayat wanita itu secara bergantian.
Setelah itu, mereka bertiga kembali menggotong tubuh Nek Ijah ke ruang tamu. Mereka tidak betah mengurus tubuh perempuan yang tengah pingsan itu di dalam kamarnya. Hingga akhirnya dia membuka mata setelah kira-kira setengah jam lamanya.
__ADS_1
Nek Ijah terus meringis. Dia menahan rasa perih dari sebagian kecil kulit wajah yang mengelupas, sembari terus mencoba memegang bagian luka menggunakan tangan gemetar miliknya. Melihat itu, Darto merasa kasihan, dia mengingat jika dulu dia memiliki luka yang lebih parah, namun bisa langsung kering setelah Darto menyalurkan energi ke pusat lukanya.
Darto langsung mendekat kepada Nek Ijah, dia mencoba melakukan apa yang pernah ia lakukan ketika mengurus luka miliknya. Perlahan namun teratur, Darto terus mengalirkan energi yang ia keluarkan dari telapak tangannya. Dan dalam hitungan menit saja, luka di wajah nek Ijah yang semula basah, langsung mengering dan menjadi hitam seperti luka yang hampir sembuh. Hanya tinggal menunggu kulit kering mengelupas saja, agar luka di bagian wajahnya bisa sembuh sempurna.
"Sekarang, coba ceritakan kepada kami, Nek. Sebenarnya siapa mahluk tinggi itu? Dan siapa wanita di dalam kamar Nek Ijah?" ucap Darto setelah melihat Nek Ijah mulai berangsur normal, saat ini dia tengah memegangi wajahnya dengan ekspresi heran yang terpampang.
"Kalian sebenarnya siapa?" sahut Nek Ijah.
"Kami cuma orang lewat, Nek. Sebaiknya Nenek ceritakan saja semuanya, dari jawaban nenek kami mungkin akan menentukan apakah kami akan membantu atau menghalangi niat Nenek," sambung Darto kembali, disertai anggukan kepala Ki Karta serta Mbah Turahmin.
"Sebenarnya..." ucapan Nek Ijah terhenti, dia menyapu pandangannya ke segala arah, memastikan ucapannya tidak akan didengar oleh mahluk tinggi yang tadi.
Mendengar itu, mata Nek Ijah seketika membulat, dia tidak bisa percaya bahwa anak muda di depan matanya bisa menyingkirkan mahluk yang sangat dirinya takuti. Dalam rasa heran dia membuka suara dan berkata "Kamu tidak bohong, Kan?"
Mendengar itu, Darto hanya mengangguk, kemudian dia meminta agar Nek Ijah menceritakan semua kejadian yang dia alami selama ini tanpa kebohongan sedikitpun. Dan akhirnya Nek Ijah pun mulai menceritakan sebuah kisah yang sudah dirinya alami.
"Perempuan di dalam kamar itu anakku. Dia meninggal secara tidak wajar, dan sosok tinggi yang kalian lawan tadi adalah penolongnya," ucap Nek Ijah kemudian tertunduk, dia terlihat sedih saat itu, namun meski begitu dia kembali melanjutkan ceritanya, "Saya pernah membuat perjanjian dengan seorang wanita cantik. Dia bercerita jika dia sudah hidup ratusan tahun, tapi wajahnya benar-benar masih seperti gadis belia. Aku tidak percaya sama sekali dengan ucapannya, namun untuk meyakinkanku, dia menusuk perutnya sendiri di depan mataku, dan anehnya luka di perutnya seketika sembuh saat itu juga."
__ADS_1
"Tunggu, Nek. Apa namanya Gending?" timpal Darto setelah mendengar deskripsi dari gambaran wanita yang memiliki perjanjian dengan Nek Ijah.
"Kamu kenal dengan Nyai Gending?" Nek Ijah kembali bertanya dengan wajah terheran.
"Dia sudah kami kubur kemarin malam, Nek," sambung Ki Karta.
"Bagaimana dia mati?" sambung Nek Ijah.
"Cucu saya sudah membunuh ular yang bersemayam di dalam tubuhnya," sahut Si Mbah Turahmin.
Mendengar perkataan tiga lelaki di depannya. Nek Ijah benar-benar bungkam. Sudah cukup lama dia mengabdi pada Gending, namun baru kali ini dia mendengar jika ada seseorang yang mampu menghentikan tingkah junjungannya.
"Sebenarnya, apa yang kamu minta dari dia?" tanya Darto.
"Saya meminta anak saya disembuhkan dari penyakitnya. Dia jadi wanita lumpuh setelah jadi bulan-bulanan masa. Dan saat aku bertemu Gending, dia menjanjikan jika putriku akan bisa berjalan kembali seperti sedia kala," sambung Nenek.
"Bulanan masa?!" sahut Ki Karta.
__ADS_1
"Dia difitnah menjadi istri simpanan juragan desa ini. Setelah itu semua wanita menjauhinya, dan semua lelaki mengolok-olok dirinya. Dan saat dia merasa sudah di ujung tanduk, dia berkelahi dengan salah satu wanita yang dulu merupakan teman dekatnya. Suaminya tidak terima, dia membawa masa menuju rumah kami, untuk menghakimi atas dasar kemarahan mereka sendiri. Putriku dipukuli oleh empat pria, tidak hanya itu dia di injak, diludahi, bahkan disetubuhi di depan mataku. Anakku tidak ingin hidup lagi setelah itu, kalian bisa lihat di tangannya ada bekas sayatan di lengannya, dia bunuh diri setelah seminggu menahan luka fisik dan batin yang ia derita," ucap Nek Ijah sembari terisak, dia menangis sembari terus bercerita. Hingga Darto dan dua lelaki tua itu langsung ikut merasa iba.
Bersambung,-