
Ketika sampai di depan pintu rumah Harti, Darto dan Jaka sempat saling menatap dan meneguk ludah yang tercekat di tenggorokan. Ada perasaan was-was, karena mungkin yang membuka pintu bukan lagi pemilik yang sama.
Setelah cukup lama bergeming di depan pintu, Darto akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk daun pintu kayu di depannya.
"Assalamualaikum ..." teriak Darto sembari mengetuk pintu tiga kali.
Tidak ada jawaban sama sekali, hingga dirinya mengulang ketukan tangannya pada pintu tersebut.
Bertepatan dengan ketukan pertama Darto, seseorang membuka pintu dari arah dalam. Perempuan paruh baya, yang terlihat sedikit asing namun familiar di mata Darto dan Jaka.
Perempuan itu tertegun melihat dua lelaki muda yang tengah berdiri di depan rumahnya, dia tidak bergerak sama sekali dan mematung seketika.
Air mata mulai mengucur disela tubuh yang mematung, saat suara tangisnya pecah dia langsung menghambur lalu mendekap Darto, yang juga masih terdiam memandang perempuan di depannya.
"Mas ... kenapa lama sekali," ucap Harti dengan suara parau. Dia mendekap suami yang sudah sangat lama dirinya nanti dalam kesepian.
"Harti?" tanya Darto sedikit ragu, meski Darto benar-benar mengenal suara yang keluar dari bibir wanita di depannya itu.
Mendengar pertanyaan Darto, Harti langsung mengangguk dan melepas dekapannya. Dia mengusap air mata di pipinya sembari berkata, "Magisna di dalam, Jaka. Dia lagi masak."
Setelah mendengar ucapan itu, Jaka langsung berlari menuju ke dalam rumah Harti. Sama halnya dengan Darto, dia melihat wanita yang sama namun penampilannya sangat berbeda.
Jaka juga langsung dipeluk oleh Magisna dengan rasa sedih, haru, senang, bahagia yang berkecamuk di dalam hatinya. Dua wanita itu sungguh sudah menunggu untuk waktu yang tidak bisa disebut singkat.
Setelah saling melepas pelukan mereka kemudian duduk berkumpul di ruang depan. Sesaat setelah mereka berkumpul kedua orang tua Harti ikut membaur ke ruang tersebut. Mereka juga merasa keheranan dengan dua pria yang masih tampak sama dengan saat mereka pergi.
Ibu dan Bapak Harti benar-benar sudah tampak lebih tua. Mereka bahkan sudah memiliki uban di kepala, dengan wajah yang mulai memiliki keriput di beberapa sisi.
Setelah cukup berbicara, Darto kembali bertanya pada Harti, "Dava di mana?"
"Dava sedang mengaji sama Ratna," sahut Harti.
"Ratna? Siapa Ratna?" Tanya Darto sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Dia anakku sama Kang Jaka, Mas," timpal Magisna.
"Aku punya anak?" teriak Jaka kegirangan.
Mendengar teriakan Jaka, Magisna langsung mengangguk, dia mengulum senyum dengan wajah tertunduk. Sedangkan Jaka yang melihat Magisna mengangguk, dia langsung meraih kepala yang tertunduk itu lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kening Magisna.
Pipi Magisna seketika memerah, sudah sangat lama dia tidak merasakan sentuhan dari seseorang yang sangat dirinya rindukan.
"Berapa lama kami pergi, Dek?" tanya Darto yang tidak menghiraukan aksi Jaka.
"Sudah li ... ," ucapan Harti terhenti, karena ada seseorang yang membuka pintu rumah tanpa permisi.
Sesaat setelah pintu terbuka, sepasang pemuda pemudi melangkah masuk dengan santainya sembari mengucap salam.
"Itu Dava sama Ratna," sambung Harti. Dia tidak meneruskan jawaban sebelumnya.
Jaka dan Darto yang mendengar nama anaknya disebut, sontak menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Seketika tatapan mereka bertemu, tatapan seorang ayah yang bertemu setelah sekian lamanya.
Dava yang kebingungan menoleh ke arah Harti, dia menatap Ibunya kemudian bertanya tanpa suara. Dari gerakan bibir Dava, Harti langsung tahu jika anaknya mengucapkan sebuah kata yang berbunyi "Siapa?"
Harti langsung tersenyum, dia membalas pertanyaan anaknya dengan begitu bahagia. Dalam senyumannya Harti berkata, "Bapak kamu, Nak."
Dava yang masih muda benar-benar tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Dia hanya tertegun dengan perasaan tidak percaya yang bersarang pada dadanya. Bagai mana tidak? Umur ayah dan ibunya benar-benar berbeda, bahkan Darto lebih pantas jika disebut seorang kakak.
Hal yang sama terjadi pada Ratna. Anak perempuan Jaka sama sekali tidak percaya jika Jaka adalah Ayahnya, karena Jaka memang tergolong masih sangat muda ketika pergi, dia bahkan hampir seumuran dengan anaknya saat ini.
"Berapa umur kamu, Nak?" tanya Darto pada Dava.
"Lima belas, Pak," sahutnya dengan nada sedikit segan. Dava merasa agak kaku memanggil orang di depannya dengan sebutan bapak.
"Berarti umur kamu 14 ya, Nak?" ucap Jaka pada anaknya. Dia meninggalkan istrinya ketika mengandung anaknya, jadi selisih umur Ratna dan Dava mungkin hanya terpaut beberapa bulan saja.
"Iya, Mas," sahut Ratna. Dia tidak bisa memanggil pemuda di depannya dengan sebutan Bapak, karena umur Jaka yang memang baru 17 tahun.
__ADS_1
"Heh! Biarpun kecil begitu dia bapak kamu, Ndok!" ketus Magisna.
Ratna menunduk setelah mendengar ucapan Magisna, kemudian dia menatap Jaka dengan sendu dan kembali mengulang perkataannya, "Iya ... Bapak benar, Ratna sudah 14 tahun."
Jaka kembali memeluk anaknya, perasaannya benar-benar tidak bisa dijelaskan secara lisan. Jaka tidak tahu harus bahagia atau sedih saat itu, karena ini adalah kali pertama dia melihat darah daging yang sama sekali tidak mempercayai kebenaran orang tuanya.
"Kakung di mana?" tanya Darto setelah semua orang sudah saling berkenalan.
"Sebentar, Mas," jawab Harti kemudian melangkah menuju kamar miliknya.
Semua orang tampak bungkam ketika Harti pergi, tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mereka sama sekali. Setelah Harti kembali, Harti langsung memberikan sebuah kertas sembari berkata, "Satu minggu lalu Anto temen Mas Darto mengirim surat. Harti belum buka, Mas, karena itu surat buat Mas Darto."
Setelah meraih surat di tangan Harti, Darto langsung membuka amplop tersebut. Dia membaca isi suratnya tanpa suara kemudian menunduk dengan wajah lesu yang terpampang.
"Apa isinya, Mas?" tanya Harti dibarengi rasa penasaran dari seluruh orang yang berada di dalam ruangan.
"Mbah Turahmin sakit, Dek. Mas harus pulang," jawab Darto sembari menyerahkan selembar kertas di tangannya kepada Harti.
Harti langsung membaca surat itu dengan seksama, dan kemudian dia juga langsung memasang wajah lesu sama halnya dengan suaminya. Di dalam surat tersebut Anto menjelaskan kondisi Si Mbah di kampung, yang jelas kondisi Si Mbah turahmin benar-benar jauh dari kata sehat.
Masih dalam posisi tertunduk, Darto kembali bertanya pada Harti, "Di mana Kakung? Jangan bilang ...."
Harti langsung menghentikan ucapan suaminya dengan cara mendekap Darto, dia langsung menarik kepala Darto agar masuk kedalam pelukannya, di depan kedua orang tua dan anaknya.
Suara tangisan seketika pecah dari bibir Harti, dia benar-benar tidak tahu harus berbicara apa untuk menjelaskan tentang keadaan Kakung. Dia benar-benar bingung untuk menyampaikan kabar duka yang sudah susah payah dirinya coba lupakan, sejak lima tahun yang lalu.
Namun hanya dengan mendengar tangisan Harti, Darto langsung tahu jika sosok yang sangat dirinya cinta sudah pulang terlebih dahulu. Salah satu sosok yang sudah sabar memberi Darto ilmu, kini sudah berada di alam yang sepenuhnya berbeda.
Darto terus menangis di dalam pelukan istrinya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Darto terus mengucapkan kata maaf dari bibirnya, dengan nada berbisik selayaknya seseorang bergumam.
Darto benar-benar menyesal, karena tidak bisa melihat saat-saat terakhir dari seseorang yang sangat berjasa bagi hidupnya, dan juga seseorang sangat dirinya hormati.
Bersambung ....
__ADS_1