ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
IZIN


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu dari saat keberangkatan Darto menuju kampungnya. Siang ini Darto baru saja menginjakkan kakinya di kampung kemoceng setelah dua malam ia terus berjalan sendirian. Dia langsung singgah di rumah miliknya sekedar untuk mengemas semua barang yang semula ia bawa, kemudian dilanjut pergi ke rumah Anto dengan semua barang bawaannya.


"Assalamu'alaikum!" Teriak Darto sembari mengetuk pelan daun pintu rumah Anto.


Mendengar teriakan Darto, Anto langsung berlari menuju ruang depan dari kamarnya. Dia tampak tergesa setelah mendengar suara yang slalu ia pikirkan selama berbulan-bulan lamanya, hingga akhirnya dia sampai dan berhasil membuka pintu rumahnya.


"Alhamdulillah!!!" teriak Anto setelah melihat seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya adalah Sahabatnya yang sudah menghilang berbulan-bulan lamanya. Dia langsung mendekap Darto dan terisak dalam pelukannya saat itu juga.


"Kamu kemana saja, Dar? Saya kira kamu..." ucap Anto terhenti karena dua merasa kata mati tidak pantas untuk diucapkan.


"Sudah, Tok, Saya baik-baik saja. Bagaimana kabar kamu dan Sri?" ucap Darto menjawab setengah pernyataan Anto, sembari menatap sendu sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, Dar. Kami semua baik-baik saja, Sri juga sudah besar perutnya," Jawab Anto sembari menarik Darto menuju dalam rumahnya.


Setelah Darto masuk, Sri langsung bergabung pada percakapan panjang yang tengah Anto dan Darto lakukan. Darto menceritakan seluruh kejadian yang ia alami kepada sahabat masa kecilnya itu. Darto hanya berhenti bercerita ketika terdengar kumandang adzan, dan kembali melanjutkan seluruh cerita setelah usai menunaikan ibadahnya.


Hari itu begitu cepat berlalu, malam sudah kembali menyapa. Setelah berbuka puasa dengan Anto dan keluarganya, Darto membuka suara di tengah perkumpulan tersebut. "Buk, Pak, boleh saya ajak Anto sama Sri ke pesantren?"


Kedua orang tua Anto begitu terkejut mendengar ucapan Darto. Mereka tampak tidak senang dengan apapun yang Darto ucapkan, bahkan Bapak Anto langsung menolak mentah-mentah ucapan Darto dengan kata, "Jangan bercanda kamu, Dar!"


Mendengar ucapan Bapaknya, Anto hanya bisa tertunduk. Dia tidak bisa membantah sama sekali karena Anto memanglah anak yang sangat penurut sedari dia kecil.

__ADS_1


"Maksud saya begini, Pak. Anto dan Sri lebih aman di sana, ditambah di sana juga sudah kota besar, Pak. Sri bisa mencari semua kebutuhan dengan mudah, juga bisa melahirkan di rumah sakit. Urusan biaya biar nanti saya yang urus," ucap Darto mencoba merayu.


"Mau sampai kapan?" tanya Ibu Anto sedikit sungut-sungut. Dia juga tampak tidak suka jika cucu yang mereka nantikan tidak akan terlahir di rumah mereka.


"Setidaknya sampai Sri sehat setelah melahirkan. Nanti saya janji akan antar dia ke sini lagi," sambung Darto sembari menatap tajam ke arah kedua orang tua Anto.


"Sebenarnya ada apa si, Dar? Kamu sama Si Mbah kamu itu terlalu takut sama begituan!" ketus bapak Anto dengan wajah geram.


"Saya cuma mau Sri selamat, Pak. Tidak lebih," jawab Darto sedikit murung setelah mendengar ucapan yang dilontarkan orang tua Anto barusan.


"Selamat dari apa? Hantu? Kamu ini sudah mirip sama Si Mbah kamu! Memang buah jatuh tidak jatuh dari pohonnya. Aku kurang percaya, Dar sama begituan!" ketus Bapak Anto semakin meninggikan suara.


'Ini saya dapat ketika saya dilahirkan, Pak," ucap Darto sembari menunjuk bekas luka di dada, kemudian memindah jari telunjuknya ke arah bekas luka di perut sembari berkata, "Kalau yang ini saya dapat kemarin ketika selamatan desa. Dua luka ini saya dapat dari perempuan yang sudah membunuh ibu saya. Sekarang perempuan biadab itu sedang mengincar istri anak Bapak, saya harus membawa Anto dan Sri meski Bapak tidak setuju. Itu semua demi kebaikan anak dan cucu Bapak."


Kedua orang tua Anto tertegun melihat luka yang bersarang pada tubuh Darto. Mereka sedikit mengendurkan emosinya, meskipun belum sepenuhnya percaya dengan ucapan yang telah Darto utarakan.


"Tok... Tolong ambil kertas," sambung Darto setelah melihat kedua orang tua Anto bungkam. Dia bermaksud ingin menunjukkan sesuatu yang mungkin akan merubah keputusan kedua orang di depannya.


Mendengar permintaan Darto. Anto bergegas masuk ke ruang sebelahnya, kemudian kembali dengan membawa selembar kertas kosong di tangannya. Dia melakukan apapun yang Darto pinta tanpa ragu, meskipun dia tidak tau apa yang akan Darto lakukan dengan kertas tersebut.


"Ini, Dar. Sebenarnya mau buat apa, Dar?" ucap Anto sembari menyodorkan Kertas kosong kepada Darto.

__ADS_1


"Pak, Buk, Sri, Tok, kalian Harus percaya jika kita hidup bersebelahan dengan mahluk selain manusia. Saya akan membuktikan hal itu saat ini juga," ucap Darto kemudian duduk bersila di atas tikar pandan, sembari menaruh kertas tepat di depannya.


Dalam hening, semua keluarga beserta Anto memperhatikan apa yang Akan Darto lakukan. Mereka tidak Sadar jika Darto sudah memanggil Nenek penghuni batu di dalam tasnya. Setelah Nenek itu keluar, Darto langsung menyuruh Nenek tersebut untuk memindah kertas tang berada di depannya.


"Bisa lihat, Pak? Buk? Didepan saya sekarang ada nenek yang semula disuruh untuk memantau Sri atas perintah orang yang sudah membunuh Ibu saya," ucap Darto sembari memandang keluarga Anto yang jubi tengah kebingungan melihat kertas yang tengah melayang di depan mereka.


"Halah paling itu ada triknya, Dar! Lagian mana mungkin setan bisa melukai manusia?" jawab Bapak Anto masih ragu.


Mendengar itu, Darto langsung menciptakan energi di tangannya, kemudian dia melemparkan ke arah kertas tersebut, hingga kertas yang semula melayang kini hangus dalam sekejap mata.


"Masih tidak percaya?" ucap Darto sedikit meninggikan nada, sembari melempar energi ke segala arah menuju gelas seng yang sudah ia dan keluarga Anto kenakan tadi.


Saat itu semua benda tiba-tiba jatuh dari atas meja makan. Dari gelas kosong, piring, sampai kendi tang tertata di atasnya benar-benar pecah karena Darto menyerang benda tersebut secara membabi buta.


"Jangankan melukai, membunuh manusia itu sama seperti membunuh semut jika kalian bertemu dengan setan yang sudah memakan banyak jiwa," Sambung Darto kembali kemudian merapikan kekacauan yang ia ciptakan.


"Terserah Bapak sama Ibu saja, Saya sudah berusaha meyakinkan kalian. Jika terjadi apa-apa sama Sri atau cucu kalian, itu sepenuhnya salah kalian," ucap Darto kemudian bergegas meninggalkan rumah Anto, dengan membawa semua barang bawaannya, saat itu juga.


"Dar! Darto! Iya, Dar! Kami percaya!" teriak Bapak Anto menghentikan langkah kaki Darto, kemudian menarik Darto masuk ke dalam rumahnya kembali untuk kembali berunding.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2