
Setelah sampai di kampung kesemek, semua orang di dalam mobil langsung tertawa melihat tingkah bocah yang tengah mengejar mobil mereka dengan berlari. Tak lama setelah itu adzan dzuhur terdengar cukup lantang dari masjid kayu yang tidak jauh dari posisi mereka. Darto memutuskan untuk memarkir mobil tersebut di depan masjid, kemudian bergegas pergi menuju masjid untuk menunaikan shalat jamaah dzuhur bersama penduduk desa.
Setelah usai menunaikan shalat, Darto langsung menanyakan alamat yang sudah diberikan oleh Abah Ramli. Dan beruntungnya alamat rumah yang tertera di dalam kertas terletak tidak begitu jauh dari masjid, ditambah penduduk yang ditanyai oleh Darto bersedia mengantar mereka menuju alamat tersebut.
Setelah lima menit berjalan, Darto dan ketiga teman perjalanannya sudah sampai di depan rumah sederhana. Rumah bertembok bilik bambu dengan atap jerami yang sungguh berbeda dengan rumah-rumah tetangganya. Setelah mengantar Darto dan tiga lainnya, warga yang menawarkan bantuan tersebut langsung pamit untuk pulang ke rumahnya Dan tidak lama kemudian Darto langsung mengetuk pintu rumah di depannya, setelah punggung penduduk yang mengantarnya sudah tidak terlihat lagi.
"Assalamu'alaikum!" teriak Darto sembari mengetuk pintu yang terbuat dari papan kayu. Pintunya tidak memiliki engsel, hanya tergeletak begitu saja untuk menutup lubang yang bisa dianggap sebagai tulang pintu.
"Wa'alaykumussalam!" ucap seorang laki-laki paruh baya dari dalam rumah. Dia bergegas mengangkat papan kayu yang ia gunakan sebagai daun pintu, dan menggesernya sedikit agar dirinya bisa keluar. Setelah dia selesai menggeser pintu itu, dia langsung bertanya singkat "Ada apa?"
"Maaf.. Apa benar ini rumah bapak Akbar?" ucap Darto setelah melihat lelaki itu sudah selesai memindah pintunya.
"Iya saya sendiri, kamu siapa?" tanya Pak Akbar.
"Maaf pak, saya cuma mau mengantar cucu bapak," sambung Darto sembari mendorong pundak Jaka agar mendekat ke Pak Akbar.
"Cucu?" ucap Pak Akbar sembari terus memperhatikan Jaka secara seksama dengan alis yang bertautan. Sebelum akhirnya dia membulatkan mata dan berkata "Anaknya Sari?!"
Lelaki itu langsung memeluk Jaka tanpa aba-aba, dia terus terbahak sembari mengelus kasar rambut Jaka. Sebelum akhirnya dia berkata "Apa ibu kamu baik-baik saja, Le? Di sana hidupnya enak kan?"
__ADS_1
Mendengar itu Jaka hanya mengangguk, kemudian dia menyerahkan kalung titipan ibunya sembari berkata, "Si Mbok suruh Jaka untuk ngasih ini ke Si Mbah."
Pak akbar langsung meraih kalung di tangan Jaka, dia menggenggam kalung itu dengan begitu erat kemudian mencium tangannya sendiri yang masih mengepal. Dia mulai mengeluarkan air mata sebelum akhirnya dia menyuruh kami masuk ke dalam rumah miliknya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Darto dan tiga lainnya hanya bisa tertegun setelah melihat kondisi rumah tersebut. Tidak ada meja, tidak ada kasur, yang ada hanya tikar pandan dan sebuah bantal terbungkus sarung yang di selipkan di pojok ruangan. Keadaan itu sontak membuat hati kecil Darto menjerit, dia tidak tega dengan keadaan yang Pak Akbar miliki.
"Bapak tinggal sendiri di sini?" tanya Darto setelah pak Akbar menyuguhkan empat gelas teh pahit di atas nampan, gelas yang dia gunakan benar-benar usang.
"Iya, Nak. Istri saya meninggal lima tahun lalu," jawabnya singkat kemudian bertanya pada Jaka "Bapak kamu sehat juga kan Le? Tadi siapa nama kamu?"
"Bapak sudah meninggal, Mbah. Saya Jaka, Mbah," jawab Jaka langsung pada intinya.
"Inalillahi.. Dia kenapa? Bukan gara-gara..." ucap Pak Akbar terhenti matanya menyapu segala sisi.
"Syukurlah, tapi kenapa kamu bisa ke sini tanpa sesepuh? Dulu ayah kamu tidak bisa jauh-jauh dari sesepuhnya, lho," sambung Pak Akbar kembali.
"Perkenalkan, Mbah. Ini Kang Darto. Sesepuh Ramli cuma nitip salam dan dia bilang kalau Jaka harus memperkenalkan Kang Darto. Dia orang yang selama ini kami tunggu, Mbah, Jaka sudah bebas sekarang," ucap Jaka panjang lebar, sembari menunjuk Darto yang tengah mendengarkan perbincangan.
"Maaf, Nak. Saya tidak bisa memberi suguhan yang pantas, hanya ini yang saya punya," ucap Pak Akbar sedikit menunduk, dia terkejut setelah mendengarkan ucapan Jaka. Namun di satu sisi dia merasa malu karena tidak bisa memberi sambutan meriah kepada seseorang yang mungkin akan menyelamatkan putrinya.
__ADS_1
"Jangan begitu, Pak. Saya yang minta maaf karena sudah merepotkan," jawab Darto sembari menatap Pak Akbar denan penuh senyuman.
Setelah melihat Darto tersenyum, Pak Akbar langsung merasa lega. Dia kembali berbincang dengan cucunya, dalam perbincangan itu, Pak Akbar mengucapkan sesuatu yang membuat Darto kembali terharu. Dalam tatapan sendu, Pak Akbar berkata "Jaka... Bawa saja kalung ini. Dulu Si Mbah sengaja jual rumah buat beli ini, cuma ini yang bisa Si Mbah beri untuk hadiah hari bahagia putri Si Mbah. Lagian Si Mbah sudah tidak butuh uang banyak, bisa makan sehari sekali saja sudah cukup. Dan Alhamdulillah tetangga Si Mbah baik semua, mereka sering memberi Si Mbah makanan secara bergantian."
Bagai teriris, Hati kecil milik Darto, Harti, Ki Karta dan Juga Jaka sangat ngilu. Mereka tidak tega setelah mendengar nasib yang harus dipikul oleh orang yang sedang duduk di depan mereka. Darto tampak termenung untuk sesaat, sebelum akhirnya dia berkata "Biar saya beli saja kalung itu, Pak. Bagaimana? Saya akan kasih tiga kali lipat dari harga pasar."
"Maaf, Nak. Kalung ini bukan milik saya lagi, jadi kamu tidak bisa bernegosiasi dengan saya," jawab Pak Akbar dengan tatapan lurus, dia tidak bergeming ketika Darto menawarkan harga yang sangat tinggi.
"Baiklah kalau begitu pak," ucap Darto sembari mengangguk kemudian menoleh pada Jaka, "Jadi bagaimana, Jak? Boleh kan saya beli kalung ini?"
Jaka kebingungan dengan perkataan Darto, dia menatap Si Mbah yang terus menggeleng lalu menoleh ke arah Darto yang terus mengangkat alis secara terus menerus. Dalam rasa bingungnya, Jaka benar-benar ingin membantu Si Mbah dari keterpurukan, namun dia tidak ingin membuat Si Mbah merasa kecewa dengan keputusannya.
"Gimana, Jak?" tanya Darto kembali setelah tidak mendapat respon dari Jaka.
"Baik, Kang. Saya setuju," ucap Jaka sedikit ragu, dia sampai menelan ludah ketika baru saja selesai berucap.
Pak Akbar tampak tidak senang, dia tertunduk, namun dia tidak bisa mencegah sama sekali setelah dirinya mengatakan jika itu sudah bukan benda miliknya lagi. Dia hanya diam melihat Darto yang tengah menengadahkan satu lengan kepada Harti, sembari mengacungkan empat jari dari lengan satunya. Tidak lama setelah itu Harti mengeluarkan 40 lembar uang kertas bernominal 10.000 rupiah dari dalam tasnya.
"Empat ratus ribu cukup kan, Jak?" sambung Darto.
__ADS_1
Jaka kembali menelan ludah, dia tidak tahu berapa jumlah uang di hadapannya itu. Karena selama hidupnya belum pernah melakukan transaksi, dan hanya melakukan bertani untuk bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan pangannya. Namun melihat Mata Si Mbah Akbar yang membulat, dia langsung mengangguk sembari menebak jumlah uang yang Darto sodorkan, dia yakin jika jumlah uang di depannya itu jauh dari kata sedikit.
Bersambung,-