ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
JAWABAN TEKA TEKI PANJANG


__ADS_3

"Di mana, Ki? Aku penasaran seperti apa dia sekarang, karena sosok ular itu sudah berhasil saya bunuh," jawab Darto sembari mencoba berdiri dari posisi duduknya. Dia tampak masih lemas karena pertarungan sengit yang ia lakukan benar-benar menguras tenaga.


"Tidak jauh, Dar. Di atas air terjun itu ada gubuk bambu yang selalu dia gunakan," ucap Ki Karta sembari menunjuk dengan jari telunjuk ke arah air terjun.


"Ayo, Dar. Biar Si Mbah bantu kamu jalan," ucap Mbah Turahmin sembari mengarahkan lengan Darto agar merangkul leher miliknya.


Saat itu Darto dipapah oleh Si Mbah Turahmin, mereka berjalan beriringan bersama Ki Karta yang menjadi penunjuk jalan. Tidak jauh dari tempat mereka berangkat, tampak sebuah gubuk bambu yang begitu reot dan tanpa sedikitpun penerangan di depan mereka. Ki Karta langsung berlari meninggalkan Darto dan Si Mbah begitu daja, dia langsung membuka pintu gubuk tersebut setelah sampai terlebih dahulu.


"DAR! MIN! CEPAT!" Teriak Ki Karta sembari melambaikan tangannya. Dia menyuruh kedua lelaki di depannya untuk segera bergegas menghampirinya.


Darto kembali memaksa kaki lemas miliknya untuk berlari dan ketika mereka sampai di depan pintu gubuk sebuah bau busuk yang menyengat langsung tercium. Darto langsung menahan nafas kemudian memasukkan kepala miliknya untuk mengintip keadaan di dalam gubuk.


Tampak ada dua pria tua di dalamnya. Mereka tengah menunggu seorang wanita yang sedang terbujur di atas dipan. Melihat itu Darto langsung masuk dan mengabaikan bau busuk yang kini sudah mulai tidak begitu menusuk, karena hidungnya sudah mulai terbiasa mencium bau tersebut secara terus menerus.


"Terimakasih, Dar," ucap wanita yang sedang terbaring di atas dipan. Tubuhnya dipenuhi borok dan nanah, bahkan perutnya membuncit begitu besar.


"Sekarang, kamu bisa pulang dengan tenang, Nyi. Saya memaafkan semua kesalahanmu," ucap Darto sendu, menatap kemalangan yang Nyai gending rasakan. Dia merasa kasihan setelah melihat kondisi yang dialami Gending di depannya.

__ADS_1


"Terimakasih, hu hu hu, sekali lagi terimakasih hiks hiks," ucap Gending sembari mencoba berdiri, meski Sastro dan Wajana terus menghentikannya. Dia menangis begitu pilu hingga sesenggukan.


"Dar, tolong tusuk Gending dengan keris yang ditinggalkan Darsa," ucap Sastro singkat sembari menatap mata Darto dengan begitu tajam.


Mendengar itu, Darto tidak langsung menuruti keinginan Sastro. Dia malah justru duduk di samping Sastro dan kembali bertanya kepada Sastro, "Sebenarnya kenapa dulu kalian berkhianat?"


Sastro dan Wajana bungkam, mereka menunduk tanpa membuka sedikitpun suara. Hingga akhirnya Gending membuka suara dan memberikan jawaban untuk apa yang Darto tanyakan.


"Mereka tidak membantu dirimu atas permintaanku, Dar. Mereka hanya takut jika tubuh mereka akan hancur, karena tubuh mereka sedang terkurung di dalam benda yang ular itu ciptakan," ucap Gending sembari menatap Darto sendu.


"Mereka sebenarnya sudah mati, Dar. Dulu ketika mereka membantu Darsa, mereka benar-benar hampir musnah, jika ular yang bersekutu denganku tidak memberi sedikit energi kehidupan untuk mereka. Sejak saat itu, mereka berdua terikat janji yang sama seperti janji milikku. Mereka tidak bisa membantah apapun permintaan sang ular, sebelum dua benda yang mengurung mereka dihancurkan. Mereka juga tidak bisa memberitahukan itu, karena mereka bisa mati kapan saja jika membocorkan rahasia miliknya. Sama seperti buto ireng yang pernah kamu lawan. Dia meleleh seketika setelah menyebut keberadaan diriku," ucap Gending sembari tertunduk. Dia merasa bersalah mengingat semua kelakuannya. Kemudian kembai berkata "Mereka berdua bersekutu dengan sang ular, hanya untuk hidup dan meminta penawar racun. Meskipun hanya bisa menyembuhkan sebagian tubuh, setidaknya dulu mereka berhasil menyelamatkan Darsa."


Darto, Si Mbah dan Ki Karta benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari Gending. Setelah semua yang terjadi Darto benar-benar masih tidak bisa percaya dengan ucapan tersebut. Hingga dirinya akhirnya memaksa untuk kembali bertanya pada wanita sekarat di depannya itu, "Lalu? Kenapa bukan kamu saja yang memberi penawar kepada Darsa?"


"Apa kamu tahu? Bahkan untuk menggerakkan jariku sendiri pun aku tidak bisa. Setelah pertarungan dengan Darsa tubuhku sepenuhnya menjadi milik ular tersebut. Aku hanya bisa melihat tubuhku melakukan segala sesuatu dari sisi yang berbeda, dan aku tidak bisa sama sekali merebut itu. Aku hanya bisa memiliki tubuh ini dalam tujuh tahun sekali. Itupun hanya berlangsung satu malam, Dar," ucap Gending kembali, kemudian dia memegang pundak Darto dan kembali berkata "Tolong, Dar. Tusuk aku menggunakan keris Darsa, aku ingin bertemu dengan semua orang yang sudah sosok ular itu bunuh, aku juga ingin meminta maaf kepada Darsa. Dan yang lebih penting aku ingin meminta maaf pada Istri Darsa yang sudah aku bunuh atas keinginanku sendiri."


Mendengar itu, Darto menoleh ke arah Si Mbah serta Ki Karta yang berdiri di belakangnya, setelah mendapat anggukan dari kedua orang tua itu, Darto langsung meraih keris di pinggulnya, kemudian melepas senjata itu dari dalam sarungnya.

__ADS_1


Meski sedikit iba, Darto memaksa hatinya untuk tetap menusuk tepat di jantung milik Gending. Hingga akhirnya keris itu tertancap sempurna, bahkan menembus punggung Gending ketika Darto menusuknya dalam sekejap.


Gending hanya menatap tempat Darto menusuk keris tersebut. Dia kemudian menoleh menatap Darto dengan darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya. Kemudian memalingkan pandangannya menuju Ki Karta yang tengah menatapnya dengan iba sembari berkata "Maaf, Karta. Saya pernah memanfaatkan kamu. Tapi jika saya boleh meminta, tolong jaga anak saya. Saya benar-benar mengerti sebuah rasa cinta yang mampu mengalihkan perasaanku pada Darsa, setelah anak itu keluar dari rahimku sendiri."


Ki Karta seketika menangis, dia langsung memeluk tubuh penuh borok di atas dipan itu sembari berkata "Jangan bicara yang tidak-tidak. Sekarang kamu pulang saja dengan tenang. Akan aku jaga darah daging kita berdua."


Gending menangis sejadi-jadinya malam itu, tidak ada yang berani mengganggu pelepasan rindu sepasang suami istri tersebut, hingga akhirnya Gending meninggal di dalam pelukan Karta. Dia meninggal dengan sudut bibir mengambang, namun air mata membasahi seluruh pipinya.


"Sastro.. Wajana... Benda apa yang mengurung kalian?" Tanya Darto setelah Ki Karta selesai membaringkan mayat Gending di atas ranjang.


"Cincin dan kalung itu, Dar. Itu penjara yang ular itu ciptakan," ucap Sastro sembari menunjuk dua perhiasan yang tergeletak di samping mereka.


Mendengar itu, Darto langsung meraih dua benda tersebut. Kemudian meremas sekuat tenaga dengan tangan yang bercahaya. Tidak lama setelahnya, dua benda itu mengeluarkan suara yang menandakan batu merah dan hijau di tangan Darto sudah retak.


Sastro dan Wana tersenyum lebar karena energi mereka yang semula terbelenggu di dalam batu, berangsur masuk ke dalam tubuh mereka kembali. Dalam rasa senangnya, Wajana mengucap sesuatu yang mengejutkan, dia mengucap sebuah kalimat yang berbunyi "Sekarang aku bisa membantumu tanpa diminta sekalipun, Dar. Mari kita ringkus semua mahluk yang bahkan ular itu tidak berani untuk menatap matanya. Pertarungan sebenarnya baru saja di mulai, Dar."


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2