ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERMINTAAN DARTO


__ADS_3

Setelah melipat tangan Si Mbah menjadi sedekap di atas dipan, Darto beranjak melangkah menuju pintu. Langkah kakinya gontai, setiap sendi di kakinya terasa sangat lunak kala itu.


Darto sempat mengusap air mata yang membanjiri setiap sudut pipinya sebelum akhirnya membuka kunci pintu kamar Si Mbah. Kemudian Darto langsung berjalan menuju sekumpulan orang yang tengah berkumpul di dalam ruang tamu.


"Si Mbah sudah tidak sakit lagi, Tok," ucap Darto dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Mulutnya benar-benar mengambang, namun bulir air mata terus mengalir dari sudut matanya.


Melihat ekspresi suaminya begitu mengiris, Harti langsung menghambur dan memeluk Darto tanpa aba-aba. Harti mencoba memberikan sepatah dua patah kata penguat untuk suaminya, meski dia juga menangis kala itu.


Anto dan Sri yang melihat tangisan Darto dan Harti langsung paham, dia bergegas pergi untuk membagikan kabar duka kepada setiap rumah yang dilewatinya, sebelum akhirnya mengumumkannya di langgar yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.


Sesaat setelah Anto mengumumkan menggunakan pengeras suara langgar, puluhan orang langsung berbondong menghambur ke rumah Darto. Diantara mereka ada yang membawa alat yang akan digunakan untuk mensucikan jenazah, dan sebagian pria yang masih bugar langsung pergi ke makam Candi Wulan setelah melihat jasad Si Mbah untuk terakhir kalinya.


Hampir seluruh warga kemoceng datang menemui jenazah Si Mbah, mau bagaimana pun Si Mbah dikenal baik oleh warga, dia juga merupakan seseorang yang bisa memberikan contoh baik untuk semua warga.


Setelah semua prosesi pensucian selesai dilaksanakan, Si Mbah dibawa menuju langgar dan langsung dishalati oleh beberapa warga dan cucunya. Kemudian Si Mbah dibawa menuju makam yang sudah rampung digali oleh beberapa pria di sana.


Setelah sampai di kuburan Candi Wulan, Darto langsung masuk ke dalam liang, dia bertugas menerima jenazah Si Mbah di bagian tubuh atasnya. Setelah menidurkan tubuh kaku milik Si Mbah, Darto dan dua orang sisanya langsung membuka semua tali yang mengikat tubuh Si Mbah dari kaki hingga kepala.


Setelah terbuka dan posisinya sudah tepat, Darto langsung mengumandangkan adzan samping Si Mbah. Ini adalah kali kedua Darto mengumandangkan adzan di samping telinga manusia. Pertama ketika Dava hadir di dunia, dan kini ketika Si Mbah meninggalkan dunia.


Setelah lantunan adzan pilu selesai dikumandangkan oleh Darto, bergantian orang-orang mengulurkan sebatang demi sebatang bambu menuju tiga lelaki yang masih berdiri di samping jenazah. Mereka menutupi tubuh Si Mbah kemudian menguruk liang tersebut setelah bambu tertata rapi.


Prosesi pemakaman berjalan begitu lancar tanpa sedikit pun hambatan. Hingga semuanya usai, satu persatu orang pergi meninggalkan makan untuk kembali pada kediaman masing-masing.


Darto, Harti, Dava, Anto beserta Sri dan anaknya masih tetap tinggal. Enam orang itu masih terus berdoa sebelum akhirnya mereka juga pergi meninggalkan Darto sendirian. Darto masih berjongkok di samping gundukan tanah coklat dengan terus mengucap lantunan doa, hingga tanpa sadar ketika Darto membuka mata sudah tidak ada lagi orang lain di sampingnya.


Sesaat Darto melihat dua makam yang terletak di samping Si Mbah. Darto kembali mengadahkan tangan dan melanjutkan berdoa.

__ADS_1


Setelah usai, Darto kembali berdiri dan menatap tiga makam itu secara bergantian. Sebelum pergi Darto sedikit bergumam dengan suara sendu yang keluar dari bibirnya, "Mbah ... Pak ... Mbok ... kalian yang akur ya, di sana. Nanti Darto datang kalau waktunya sudah tiba."


Setelah mengucap gumaman itu, Darto melangkah menuju rumahnya. Masih banyak rasa tidak rela yang bersarang di dalam hatinya, namun mau bagaimanapun Darto tidak menghujat maupun membenci kejadian tersebut.


Darto benar-benar bersusah payah menerima, untuk setiap takdir yang tidak akan mungkin bisa dirinya rubah semaunya. Dalam langkahnya, Darto terus mengingat setiap kejadian maupun ucapan yang terus Si Mbah ucap sedari dulu.


Meski rumah Si Mbah tidak pernah berpindah, namun saat ini Darto merasa tidak punya tujuan untuk arah langkah kakinya.


Setelah sampai pada rumah Si Mbah. Darto mendapat begitu banyak pelayat yang datang. Mereka berbondong-bondong untuk memberikan kata penyemangat, hingga tanpa terasa waktu sudah berlalu dengan begitu gesitnya.


Hari sudah malam, rumah Si Mbah juga sudah mulai sepi. Hanya tersisa keluarga Anto dan keluarga Darto yang tampak begitu lelah melayani tamu.


Setelah sedikit berbincang, semua orang masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Hanya Darto dan Anto yang masih tinggal di depan teras sembari menghisap rokok di tangan mereka.


Dua lelaki itu tengah saling menatap rombongan bintang di atas kepala mereka, dengan wajah lesu yang begitu kentara.


"Aku berguru, Tok," jawab Darto lesu.


"Di mana, Dar?" Sahut Anto.


"Di alam sebelah, Tok. Kamu percaya? Aku di sana cuma kisaran dua bulan," jawab Darto, kali ini dia menatap Anto dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.


"Begitu ya, Dar? Si Mbah juga dulu sering cerita kalau waktu di sana dan di dunia kita beda. Makanya Si Mbah yakin kalau kamu pasti akan pulang, meski itu sangat lama," jawab Anto dengan wajah sangat mantap. Dia benar-benar percaya sepenuhnya dengan ucapan yang Darto lontarkan.


"Si Mbah pernah bilang apa, Tok?" kembali Darto bertanya.


"Dia bilang kamu lagi ketemu sama sosok yang bahkan Si Mbah tidak bisa temui. Dia selalu bercerita dengan wajah bangga, Dar," jawab Anto sembari menunduk.

__ADS_1


"Yah ... Si Mbah memang gitu orangnya, Tok. Setidaknya aku masih bisa bicara sama beliau, tidak seperti Kakung yang sudah meninggal cukup lama," sambung Darto sedikit tersenyum dengan mata yang kembali berbinar.


"Tok ... aku ada satu permintaan. Anggap saja ini permintaan terakhir dari teman masa kecil kamu," timpal Darto sedikit murung.


"Tinggal ngomong, Dar. Nggak usah pakai bilang kalau ini permintaan terakhir!" ketus Anto sungut-sungut.


"Aku mungkin akan sangat lama pergi, Tok. Tapi aku tetep pengen punya rumah ini, kalau semisal aku pulang ke sini lagi. Kamu mau jagain dan rawat rumah ini, Tok?" tanya Darto.


"Itu sih sepele, Dar," sahut Anto.


"Satu lagi, Tok. Jangan rubah sedikitpun bangunan rumah ini, sama tolong beli semua petak sawah yang ada di samping rumah ini. Aku mau pas pulang suasananya masih seperti sekarang ini, masih tetap jadi rumah kayu yang berdiri di tengah sawah padi," timpal Darto kembali, dia membayangkan jika rumahnya akan tetap seperti rumah masa kecilnya, meski kampung kemoceng sudah menjadi dusun maju, jika dirinya bisa pulang dari tugasnya di hari esok.


"Baik, Dar. Lagian semua sawah ini punya satu orang. Nanti biar aku bicara sama dia. Kamu cuma perlu siapin duitnya," jawab Anto dengan wajah yakin.


"Makasih ya, Tok. Sekarang cuma kamu satu-satunya harta yang aku punya di kampung ini. Ini pasti cukup buat beli tujuh petak sawah sebelah rumahku," sambung Darto sembari menjulurkan tangan yang mengepal.


Melihat tangan Darto menjulur, Anto langsung mengadahkan tangan untuk menerima apapun yang akan Darto berikan. Dan ketika Darto melepas kepalan tangannya sebuah batu jatuh di atas telapak tangan Anto.


Sebuah Batu oval seukuran telur puyuh, yang begitu bening dan mengkilap mendarat tepat di atas tangan Anto. Anto benar-benar terkejut melihat batu itu, hingga matanya benar-benar membulat seutuhnya.


"Ini mungkin bisa membeli setengah kampung, Dar!" Sergah Anto setelah melihat berlian yang begitu besar di tangannya.


"Sisanya buat upah bantuan kamu, Tok," Darto melemparkan senyum tulus yang mengambang sempurna di sudut bibirnya.


Mendengar ucapan Darto, Anto pun tidak bisa berkata-kata lagi. Dia bungkam dengan pelipis berkeringat, karena masih terheran dengan ukuran benda mahal yang tengah dirinya pegang.


Malam itu, sebuah permintaan sederhana dari Darto untuk mempertahankan kondisi rumah penuh kenangannya, merupakan satu keinginan yang bahkan berhasil merubah satu nasib dari seorang teman dekatnya. Anto menjadi seseorang terpandang di masa depan, dia dikenal sebagai seorang dermawan yang selalu membagikan harta, namun selalu mengatasnamakan temannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2