
Setelah hari berganti, Darto kembali duduk di depan teras rumah Si Mbah sehabis shalat jamaah subuh di langgar bersama keluarganya. Kali ini bukan Anto yang menemani, melainkan Dava yang duduk di sebelah ayahnya.
"Dava, kamu tidak merokok?" tanya Darto basa-basi. Dia bingung ingin memulai perbincangan dari mana.
"Tidak, Pak. Dava tidak merokok," jawab Dava sembari menepis tangan ayahnya yang sedang mengulurkan sebungkus rokok.
"Oh ... bagus malah, nanti kamu bisa simpan uangnya buat berangkat haji, he he he," canda Darto sembari mengantongi bungkus rokoknya.
Setelah mengantongi bungkus rokok Darto kembali bertanya, "Sudah hafal Al-Qur'an?"
"Alhamdulillah sudah, Pak. Sudah lulus tiga tahun lalu," sahut Dava dengan senyum mengambang.
"Alhamdulillah ... Anak Bapak memang benar-benar bisa diandalkan kaya ibunya," Darto tersenyum bangga, "Siapa yang menguji kamu ketika tes hafalan?" Sabung Darto sedikit memasang wajah penasaran.
"Ustad Bidin sama Ustad Surip, Pak. Ibu bilang mereka teman Bapak, apa benar, Pak?" jawab Dava kemudian kembali bertanya.
"Mereka jadi ustad di pesantren, Nak?" tanya Darto dan langsung mendapat anggukan kepala Dava.
Melihat anaknya mengangguk, Darto sempat mendongak dan merasa senang dengan kabar baik dari dua sahabat yang belum sempat dirinya temui sesudah pulang.
"Pak ... apa Bapak mau pergi lagi?" tanya Dava ketika melihat Darto tersenyum-senyum setelah mendengar kabar dari Surip dan Bidin.
"Iya, Nak ... Bapak akan sedikit lama kali ini di rumah, Bapak takut jika nanti pas pulang Bapak tidak bisa lihat kalian lagi," Darto menunduk dengan wajah lesu.
"Apa Dava boleh ikut, Pak?" tanya Dava dengan begitu polos.
"Tidak!" ketus Darto, "Kamu harus jaga Ibu kamu di sini, Bapak tahu kalau kamu pasti bisa menggunakan sesuatu yang Bapakmu ini kuasai," sambung Darto kembali sembari menunjukkan energi yang menyelimuti telapak tangannya.
"Dava tidak bisa, Pak. Tapi kalau boleh, Dava pengen belajar sama Bapak," jawab Dava dengan wajah girang.
Mendengar ungkapan anaknya, Darto sempat berfikir sejenak, kemudian mengangguk untuk mengiyakan keinginan anaknya. Darto merasa jika Dava bisa menggunakan energi, setidaknya dia bisa menjadi bantuan untuk sekedar jaga diri dan melindungi orang tercintanya di dunia ini.
__ADS_1
"Besok kita latihan di pesantren," sahut Darto dan langsung mendapat balasan mata berbinar di wajah anaknya. Dava benar-benar mirip dengan Darto, dia selalu merasa penasaran, dan ingin mencoba sesuatu hal baru yang menurutnya menarik.
Setelah percakapan itu, Harti datang membawa segelas teh hangat untuk suaminya. Darto yang melihat istrinya sudah berbeda usia tetap tidak merubah perasaan di dalam hatinya, dia terus tersenyum melihat istri yang tetap begitu cantik meski sudah terpaut usia 15 tahun banyaknya.
"Dek ... aku mau ajarkan Dava buat jaga diri, boleh, kan?" ucap Darto sesaat setelah menerima minuman yang Harti suguhkan.
"Terserah kamu, Mas. Dia kan anak laki-laki, akan jadi lebih baik jika Dava mendapat didikan dari Ayahnya," jawab Harti tanpa sedikitpun berfikir. Dia benar-benar percaya dengan setiap keputusan yang suaminya pilih.
Dava yang mendengar persetujuan ibunya begitu bahagia kala itu. Dia langsung menghambur ke arah Harti dan mendekap erat tubuh Ibunya sembari berkata, "Terimakasih, Bu. Ibu memang orang paling cantik dan baik di muka bumi."
Mendengar kata itu, Darto dan Harti sempat saling bertukar pandang, kemudian saling mengulum senyum dan kemudian mengacak kasar kepala Dava secara bersamaan.
Setelah itu, Harti dan Dava kembali masuk ke dalam rumah, mereka meninggalkan Darto yang masih betah duduk di teras ditemani sebatang rokok dan segelas teh pahit. Darto masih mencoba mengikhlaskan Si Mbah, meski masih belum sepenuhnya rela untuk berpisah.
Ketika hari sudah siang, Darto, Harti dan Dava langsung menuju tempat andalan ayahnya disaat pulang kampung. Mereka berjalan bersama Anto yang memimpin jalan, karena Anto sempat berkata jika warung Pak Sapto sudah pindah.
Setelah melewati beberapa gang, Anto dan keluarga Darto berdiri di depan satu kios yang sudah tampak begitu besar. Di dalamnya tampak begitu ramai pembeli yang tengah melakukan sarapan, dan juga terlihat Pak Sapto dan dua karyawati yang tengah sibuk menyiapkan segala pesanan.
"Kamu mau tinggal di kampung ini mulai sekarang?" tanya Pak Sapto setelah sampai dihadapan Darto.
"Tidak, Pak. Kami cuma singgah sebentar, pondok pesantren tidak ada yang urus kalau kita terlalu lama di sini," jawab Darto, "Ngomong-ngomong warungnya sudah besar sekali, Pak," sambung Darto.
"Alhamdulillah, Dar. Sekarang sudah tidak sulit lagi nyari dagingnya, di desa ini saja sudah ada yang jual, jadi aku bisa buat banyak bakso setiap harinya," jawab Pak Sapto sumringah, kemudian menarik lengan Darto agar cepat masuk ke dalam kios miliknya.
Setelah duduk di dalam, empat tamu langganan itu langsung mendapat bakso yang memiliki ukuran besar. Darto kembali memperkenalkan Dava meski sebenarnya Pak Sapto sudah pernah bertemu ketika Dava singgah bersama Kakung dulu kala.
Setelah selesai memakan makanan andalan Darto, mereka kembali menuju rumah Si Mbah untuk menerima tamu pelayat yang datang dari luar kampung halamannya.
Hari itu tidak ada sesuatu yang berarti terjadi, sehingga hari terus berlalu dengan begitu cepat dan tanpa terasa hari sudah kembali menjelang malam.
Malam itu Darto kembali menghabiskan waktu di teras, dia masih suka melamun untuk sekedar menenangkan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.
__ADS_1
Setelah pagi berganti, Darto mendapat kabar jika seluruh petak yang mengelilingi rumahnya sudah berhasil ditawar oleh Anto. Darto benar-benar senang setelah mendengar kabar dari Anto, hanya butuh dua hari saja sahabatnya itu sudah bisa mendapatkan apa yang sangat Darto inginkan.
"Bagaimana cara kamu nawar, Tok?" tanya Darto penasaran.
"Aku bilang mau beli tanahnya. Harga yang aku kasih lumayan tinggi dari harga sebenarnya, ditambah aku bilang sama orangnya kalau memang masih mau tanam padi boleh saja sampai pemiliknya tiba, yang penting surat kepemilikan sudah ganti atas nama," sahut Anto sembari tersenyum.
"Makasih banyak ya, Tok! Kamu memang bisa diandalkan," ucap Darto sembari tersenyum lebar.
"Tidak, Dar, kalau bukan karena uang yang banyak, mana mungkin aku bisa bantu kamu, ha ha ha ha," Anto terkekeh.
"Memang ya, Tok. Semuanya pasti ujung-ujungnya duit he he he," Darto ikut terkekeh.
Setelah mendengar kabar gembira itu, Darto merasa semua urusan yang ada di kampung halamannya sudah terpenuhi. Darto berencana untuk segera kembali ke pesantren, setelah mendapatkan surat tanah yang hari ini tengah diurus oleh sahabatnya.
Setelah satu minggu berlalu, Darto kembali menuju pesantren bersama anak dan Istrinya. Mereka melaju dengan membawa berkas kepemilikan tanah yang sudah sah menjadi haknya, agar meski ditinggal selama apapun itu, tanah milik Si Mbah tetap tidak akan bisa diakui oleh orang lain selain pemegang surat tersebut.
Setelah sampai di pesantren, Darto langsung mengajak Dava untuk singgah ke danau yang masih tetap terlihat sama dengan dulu. Mereka berdua duduk di atas batu dengan posisi bersila, kemudian Darto menyalurkan energi miliknya ke dalam tubuh anaknya.
Dava benar-benar pintar, sama seperti ayahnya, dia langsung bisa menggunakan energi dalam sekali coba. Saat ini Darto benar-benar merasakan apa yang Mbah Turahmin rasa, dulu Mbah Turahmin terheran dengan kecakapan Darto, sekarang Darto terkesan dengan kesigapan anaknya.
"Dava ... Guru terbaik itu pengalaman. Sekarang akan Bapak beri kamu sebuah pengalaman bertarung dengan dua teman Bapak. Kamu mau, kan?" tanya Darto sesaat setelah melihat tangan Dava memancarkan energi putih.
Dava langsung mengangguk dan setuju dengan apa yang ayahnya utarakan. Darto yang melihat Dava mengangguk langsung tersenyum untuk sesaat, kemudian meneriakkan nama yang sudah cukup lama tidak dirinya ucapkan dam hidupnya.
"Sastro! Wajana!" Teriak Darto sembari terus menatap anaknya, dia tidak menoleh sama sekali hingga Dava sedikit kebingungan.
Sesaat setelah Darto berteriak, Dava langsung membulatkan mata ketika melihat dua sosok yang tiba-tiba muncul di belakang ayahnya. Mereka berjongkok dengan satu lutut menyentuh tanah, menghadap Darto sembari berkata, "Saya Gusti."
Sungguh perlakuan yang sangat berbeda, dulu mereka memanggil Darto hanya dengan nama saja. Namun untuk kali ini bahkan Darto ikut terkejut, karena dia juga tidak menyangka akan dipanggil dengan sebutan tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1