ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SI MBOK DAN JAKA


__ADS_3

Sore hari tiba, Darto bersama 24 rombongan kampung terpencil akhirnya sampai, mereka tiba di pesantren milik Kakung tepat sebelum adzan maghrib. Beberapa warga memutuskan singgah, namun sebagian besarnya langsung pergi menuju rumah tinggal milik istri maupun suaminya.


Yang tersisa kini hanya ada delapan orang yang sudah lanjut usia, termasuk Abah Ramli dan juga Si Mboknya. Jadi selain itu hanya tersisa tiga lelaki tua dan dua wanita lanjut usia. yang lainnya memilih pergi dan meninggalkan pesantren, mengingat mereka masih memiliki keluarga.


Melihat sebagian orang pergi, Abah Ramli malah justru merasa sedikit lega. Dia berfikir jika hanya enam orang yang menumpang, maka tidak akan terlalu merepotkan Kakung. Setelah punggung semua penduduk yang pergi sudah tidak tampak lagi, mereka akhirnya masuk bersama-sama menuju rumah Kakung.


Kakung dan Mbah Turahmin langsung menyambut mereka. Lima orang selain Jaka Abah Ramli dan Si Mbok Jaka langsung diarahkan untuk menuju asrama pondok yang digunakan santri. Untungnya masih banyak kamar kosong yang belum memiliki penghuni, jadi mereka bebas memilih tempat untuk beristirahat.


Sedangkan untuk Jaka dan Si Mbok mereka meminta izin untuk menginap semalam di rumah Kakung, juga meminta agar Darto menghantar ibunya ke Kampung kesemek agar bertemu dengan Pak Akbar. Abah Ramli juga mendapat kamar di rumah Kakung, mengingat dia kawan lama tang sudah begitu akrab, hingga Kakung tanpa berfikir langsung memberikan tempat untuk sahabatnya itu.


Semua orang yang sudah melakukan perjalanan langsung terlelap ketika usai menunaikan shalat isya. Mereka sangat lelah karena hampir seharian berjalan menggunakan kakinya, dalam tidurnya mereka terus tersenyum, karena merasa sangat bahagia setelah bisa melihat keramaian kembali.


Pagi hari tiba, Darto langsung menghantar Si Mbok dan juga Jaka menuju kampung kesemek. Mereka tiba setelah empat jam perjalanan, kemudian memarkirkan mobil di depan masjid seperti yang pernah Darto lakukan dulu.


Darto bersama Si Mbok juga Jaka berjalan menuju rumah Pak Akbar sembari membawa banyak sekali barang. Darto sempat mampir pasar dan membelikan banyak pakaian serta alat masak sebelum berangkat ke kampung kesemek. Alhasil Bagasi dan jok belakang benar-benar dipenuhi tumpukan alat-alat perabotan.


Ketika sampai di rumah tempat Darto dan Jaka pernah singgahi. Mereka sempat berhenti karena melihat pemandangan yang berbeda di depan mereka. Rumah yang semula menggunakan bilik bambu, sudah sepenuhnya berbeda.


Gubuk reot itu sudah menjadi rumah dengan kesan klasik bertembok papan kayu, dengan segala ukiran di setiap sudut dan tulang rumahnya. Rumah panggung yang begitu besar, dengan barisan tangga yang terbuat dari batu granit yang terpampang di depan pintu jati yang cukup besar.


"Ini beneran rumah Si Mbah kamu, Jak?" tanya Si Mbok dengan wajah ragu.


"Kemarin pas Jaka ke sini nggak ada rumah ini, Mbok," jawab Jaka sembari memasang wajah yang tak kalah bingung dengan Si Mboknya.

__ADS_1


"Sudah ... kita coba ketuk dulu," sahut Darto kemudian menaiki tangga.


"Assalamu'alaikum!" teriak Darto sembari mengetuk pintu besar itu sebanyak tiga kali.


"Wa'alaykumussalam," jawab seorang lelaki dari dalam rumahnya. Orang itu membuka pintu dengan santainya, namun setelah melihat tamunya dia langsung berlari dan memeluk Darto, kemudian beranjak pada Jaka, dan terakhir memeluk Si Mbok Jaka.


"Sari! Kamu sehat kan Nduk ... Bapak sangat kangen sama kamu," ucap Pak Akbar sembari mendekap erat tubuh putrinya, tubuhnya seketika bergetar karena merasa sangat bahagia.


"Sari juga kangen sama Bapak," jawab Si Mbok seketika menjatuhkan semua barang di tangannya, kemudian mendekap Pak Akbar dengan air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya.


"Mari, Ndok, Jaka, Nak Darto. Kita bicara di dalam," sambung Pak Akbar setelah cukup lama memeluk putrinya, dia melangkah masuk memimpin jalan, sembari terus mengusap pipinya yang masih basah.


"Rumahnya jadi besar sekali, Mbah," ucap Jaka sesaat setelah masuk ke dalam rumahnya.


"Kasur kamu juga besar Jaka, coba kamu lihat di ruangan itu," ucap Pak Akbar sembari menunjuk sebuah pintu. "Sedangkan kamar Sari yang itu," sambungnya lagi sembari menunjuk pintu yang lain.


"Terimakasih, Pak. Tapi dari mana bapak dapat uang sebanyak itu?" tanya Si Mbok Sari.


"Itu yang ngasih. Dia beli kalung kamu, tapi habis itu kalungnya di kembalikan ke anak kamu, Sar," ucap Pak Akbar mengadu tentang perilaku Darto.


"Sudah ... jangan dibahas lagi. Nanti aku minta lagi kalau masih diungkit," sahut Darto sedikit tertawa.


"Pokoknya terimakasih banyak, Nak. Bukan hanya merawat anak saya, kamu bahkan membantu Bapak, dan juga membelikan begitu banyak barang tadi di pasar. Bagaimana cara saya untuk berterimakasih, Nak?" ucap Si Mbok Jaka.

__ADS_1


"Sudah, Mbok ... Jaka sudah seperti adik saya sendiri, jadi anggap saja kalau itu rejeki dari anak Si Mbok, dan juga cucu Mbah Akbar yang baru ketemu pas sudah gede, he he he he," ucap Darto sembari mengelus kasar kepala Jaka.


"Kang Darto itu orang paling pintar, Mbok. Apa lagi kalau urusan buat alasan, ha ha ha ha," sahut Jaka dan langsung mendapat sambutan tawa dari semua pendengarnya.


"Kalian lapar? Aku ada masak nasi tadi, biar aku beli lauk sebentar, ya?" tanya Pak Akbar dan langsung mendapat anggukan kepala semua orang. Mereka bahkan tidak sempat sarapan, karena Jaka yang terus meminta agar dipercepat perjalanannya.


Setelah Pak Akbar pergi, Darto bertanya kepada Jaka di depan Si Mboknya, "Jak, kamu masih mau ikut aku?"


Jaka langsung menoleh ke arah Si Mbok, dia merasa bimbang untuk sejenak, tapi setelah Si Mbok mengangguk, Jaka langsung menjawab dengan tatapan yang menggambarkan ketegasan, "Pasti, Kang."


"Kamu boleh tinggal di sini, Jak. Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak ingin pergi," sambung Darto.


"Tidak, Kang. Aku bisa tinggal dengan tenang setelah membantu Kang Darto," jawab Jaka sembari menatap nanar mata lawan bicaranya.


"Yasudah kalau begitu," sahut Darto sembari tersenyum, kemudian menoleh kepada Si Mbok dan berkata, "Saya minta restu dari Si Mbok untuk membawa Jaka."


Si Mbok Langsung tersenyum, dia menatap sendu ke arah Darto sembari berkata, "Tolong jaga adik bandel ini, Dar. Saya yakin kalau bersama kamu, dia pasti akan baik-baik saja,"


Darto dan Jaka langsung tersenyum secara bersamaan, dan tak lama setelah itu Pak Akbar sudah kembali membawa dua kantong kresek di tangannya. Mereka melanjutkan makan bersama, Darto sungguh senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata tiga orang di depannya, dan setelah makan selesai Darto langsung pamit meninggalkan semua orang.


Mereka pun menghantar Darto menuju mobilnya, karena rasanya kurang enak jika hanya menghantar orang yang begitu berjasa dalam hidupnya, hanya sampai depan pintu rumahnya saja.


"Jaka ... tunggu aku jemput kamu, ya?" ucap Darto dari dalam mobil yang sudah menyala.

__ADS_1


"Pokoknya Jaka tunggu, Kang. Kalau Mbak Harti sudah mau lahiran, jemput saja Jaka di sini," jawab Jaka kemudian melambaikan tangannya, mengiringi kepergian Darto yang sedang menuju rumahnya.


Bersambung ....


__ADS_2