
"Kamu mimpi apa, Jak? Bisa tidur sambil berantem gitu?" Tanya Darto sesaat setelah melepas kuncian tangan Jaka.
"Mimpi?" sahut Jaka dengan dahi berkerut. Dia merasa ucapan Darto sukar dimengerti.
"Iya, Jak ... kamu merem sambil tebas angin disini," jawab Darto sembari duduk di depan Jaka.
"Alhamdulillaah ... jadi yang saya rasakan cuma mimpi ya, Kang. Saya lihat Magisna kesini, tapi tiba-tiba jadi perempuan menyeramkan, Kang," jawab Jaka sembari menghembuskan nafas lega.
"Makanya, berdoa dulu kalau mau tidur. Di sini bukan dunia kita, mereka lebih leluasa mengganggu, soalnya di sini memang rumah mereka," sahut Darto kemudian berdiri.
Setelah berdiri, Darto menjulurkan tangannya. Jaka yang melihat itu langsung meraih tangan Darto dan berdiri dari posisi duduk setelahnya. Mereka berdua kembali ke pohon yang semula mereka gunakan untuk tidur, dan kali ini mereka terlelap tanpa gangguan apapun yang menghampiri.
Pagi hari menyapa. Meski sebenarnya sama saja, kondisi hutan masih gelap namun memiliki sedikit cahaya semu abu-abu dibanding ketika malam. Darto dan Jaka yang sudah berada di dalam hutan selama sehari penuh mulai bisa melihat jelas di tempat remang yang sangat minim pencahayaan. Mata mereka mulai bisa beradaptasi, setelah cukup lama melakukan perjalanan.
Kali ini Maung tidak kunjung datang, merasa sudah cukup lama menunggu, Darto dan Jaka memutuskan untuk melanjutkan langkah mereka tanpa dirinya. Mereka berdua terus mengikuti rumput yang terus ambruk, ketika menciptakan jalan untuk Darto dan Jaka.
Berjam-jam berlalu, mereka belum melihat satupun perbedaan sama sekali. Pemandangan yang tersaji masih sama, yaitu barisan pohon yang begitu besar dengan lumut tebal di setiap batangnya.
Kali ini mereka memutuskan untuk menunaikan shalat dzuhur, sebelum akhirnya mengisi perut mereka dan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berdua terus masuk ke dalam hutan yang semakin gelap, hingga hampir gila dibuatnya.
Jaka sempat berkata bahwa dia merasa hanya berputar-putar di tempat yang sama, namun Darto menepis anggapan Jaka dengan cara menggores setiap batang pohon yang mereka lewati untuk meninggalkan jejak. Dan sampai sejauh ini mereka belum menemui satu pun pohon yang tergores. Jadi bisa dikatakan mereka benar-benar terus maju meski semua pohon terlihat sama dengan yang mereka lewati.
__ADS_1
"Jak ... kita istirahat dulu, mumpung ada air itu di depan. Kita mandi dulu, badan kita sudah bau," ucap Darto setelah melihat anakan sungai yang begitu jernih di depan matanya.
Jaka langsung mengangguk, dia bahkan langsung berlari mendahului Darto yang sedari awal memimpin jalan. Setelah sampai di depan anakan sungai yang cukup besar, Jaka langsung melompat setelah melepas semua kain yang dia kenakan.
"Kang! Airnya seger banget!" Ucap Jaka sembari sesekali menenggelamkan badannya secara utuh, kemudian kembali menyembulkan kepala ketika nafasnya sudah di ujung tenggorokan.
"Dalam nggak, Jak?" Tanya Darto sembari melepas jubah miliknya. Dia menyusul Jaka yang masih asik berendam di anakan kali tersebut.
"Dalam, Kang. Ini Saya lagi berdiri, Kang," jawab Jaka singkat. Dia menunjukkan kedalaman anak sungai yang mencapai leher Jaka ketika dirinya berdiri tegak.
Setelah mendengar ucapan Jaka, Darto langsung ikut turun dan membilas semua tubuh yang sudah dua hari tidak menyentuh air. Mereka mandi cukup lama sebelum akhirnya beranjak dari anakan sungai tersebut dan langsung menunaikan shalat ashar setelahnya.
Ketika tengah melaksanakan shalat, suara perempuan kali ini bisa di dengar oleh Darto dan Jaka. Mereka berdua bisa mendengar suara ramai wanita yang berasal dari tempat mereka mandi sebelumnya.
Mereka semua mencuci jarik dan beberapa helai pakaian yang mereka taruh di atas tumbu, sembari bercanda gurau satu sama lain. Jaka yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, langsung mengucek matanya berkali-kali, namun semua yang dilihatnya tidak berubah, puluhan wanita itu malah justru menatap Jaka dan Darto, mereka sedikit mengangguk sembari menyuguhkan senyum elok di wajah mereka.
"Kang?! Itu setan, kan?" ucap Jaka sembari menelan ludah, dia mengingat mimpi semalam. Spontan dia ketakutan ketika melihat banyak gadis yang tengah duduk di depannya.
"Iya, Jak. Tapi mereka cantik ya, Jak," jawab Darto sembari terkekeh, dia merasa lucu dengan wajah Jaka yang berangsur memucat.
"Jangan tertipu, Kang! Mereka bisa berubah jadi buruk rupa!" sahut Jaka sembari menatap Darto dengan tatapan mengingatkan.
__ADS_1
Darto benar-benar terbahak melihat tingkah Jaka, meski begitu Darto tetap maju menemui kumpulan gadis cantik itu untuk sekedar menyapa.
Sedangkan Jaka yang tidak punya pilihan tetap harus mengikuti langkah Darto, meski sebenarnya dia masih terbayang dengan mimpi anehnya semalam.
"Assalamu'alaikum, Mbak," ucap Darto mencoba berbicara dengan semua wanita di depannya.
"Wa'alaykumussalam, Kang. Bisa saya bantu?" jawab salah satu perempuan yang paling dekat dengan Darto.
"Maaf kami sudah memakai sungai ini sebelumnya, dan kami juga tidak meminta ijin dulu sama kalian," sahut Darto basa-basi.
"Tidak apa-apa, Kang. Lagian kalian kan tamu Romo, dia sudah menunggu, jadi lebih baik kalian cepat ke sana, perjalanan kalian sudah tidak jauh lagi," sahutnya kemudian melempar senyum ke arah Jaka.
Jaka langsung bergidik, dia mendekat ke arah Darto sebelum akhirnya melempar balasan senyum yang susah payah dia ciptakan. Melihat tingkah Jaka yang begitu takut, perempuan itu hanya bisa menutup mulutnya dan menahan suara tawa karena merasa tidak enak pada Jaka.
Darto yang melihat itu langsung menower kepala Jaka, sebelum akhirnya dia kembali berbicara dengan wanita di depannya, "Kalau begitu saya pamit dulu ya, Mbak. Assalamu'alaikum."
Setelah mendengar ucapan Darto, semua gadis yang tengah mencuci itu menjawab salam Darto secara serentak. Darto yang mendengarnya langsung melempar senyum kepada semua gadis tersebut. Dia merasa lega dan juga sedikit merasa aman, mengingat dirinya dan Jaka tengah berada di tengah hutan, yang memiliki penghuni beragama.
Setelah itu, Darto dan Jaka kembali melanjutkan langkah mereka. Benar saja, ucapan gadis tadi tidak salah, baru satu jam berjalan mereka sudah mulai melihat sebuah ujung cahaya. Di depan sana cahaya jingga tersaji dari balik barisan pohon, menandakan ujung dari hutan sudah ada di depan mata.
Melihat cahaya itu, Jaka dan Darto mempercepat laju kakinya. Mereka langsung berlari dan tidak lama setelahnya mereka melihat sesuatu yang jauh dari perkiraan mereka.
__ADS_1
Sebuah tempat lapang yang begitu luas, seperti sebuah lingkaran yang dikelilingi pohon besar di setiap tepinya. Tempat itu memiliki satu gubuk yang masih terlihat sangat kecil, jika dilihat dari tempat Darto dan Jaka berdiri. Gubuk kecil yang sangat sederhana, berdiri miring di tengah hamparan pohon padi yang mulai menguning, tersaji elok di bawah langit berwarna jingga.
Bersambung ....