ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEMBALI


__ADS_3

Setelah kembali terduduk di atas batu, Darto sempat mengerjap matanya, dia masih belum percaya sepenuhnya dengan kenyataan yang dia saksikan. Mungkin karena dirinya sudah terlalu lama dibawa ke dalam dunia kilas balik si leluhur oleh sang qorin, hingga membuat Darto sedikit bingung membedakan kenyataan dan ilusi.


"Mbah!" teriak Darto mencoba mencari Mbah Turahmin di dalam kegelapan. Tidak ada apapun yang terlihat di sekitarnya, karena waktu benar-benar sudah malam.


"Dar! Darto!" teriak Mbah Turahmin sembari melambaikan tangannya. Lelaki tua itu terlihat bahagia setelah mendengar suara cucunya, dia langsung melompat ke dalam sungai, dan kembali tersenyum ketika melihat Darto sudah kembali duduk di atas batu, sungguh penantiannya tidaklah sia-sia.


"Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah.. Alhamdulillah," ucap Siba Mbah berulang-ulang, sembari merangkak memanjat batu besar di depannya. Dia tidak bisa menggambarkan rasa syukurnya setelah melihat cucunya baik-baik saja, setelah sekian lama menantinya seorang diri.


"Si Mbah kira kamu tidak akan kembali, Dar!" ucap Si Mbah sembari memeluk cucunya. Dalam pelukan itu, Si Mbah meneteskan peluh dari matanya, dia sungguh sangat khawatir dengan keadaan cucunya.


Melihat tingkah Si Mbah, Darto hanya bisa bungkam. Dia memilih diam agar Si Mbah merasa puas dulu menumpahkan keluh kesah di hatinya, hingga tiba saatnya Si Mbah terlihat lebih baik, Darto pun membuka suara miliknya.


"Kenapa Si Mbah begitu? bukannya Si Mbah juga pernah melakukan ujian?" tanya Darto sembari memegang pundak Si Mbah, dan menatap mata Si Mbah dengan tatapan sendu.


"Dulu kami hanya butuh waktu seminggu, Dar. Tapi kamu sampai tiga bulan baru kembali," ucap Si Mbah sembari menarik nafas panjang. Dia mencoba menenangkan hatinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya menyalakan rokok di tangannya.


Mendengar ucapan Si Mbah, Darto sama sekali tidak bisa menerima begitu saja ucapannya. Matanya membulat, bibirnya menganga dan wajahnya tampak sangat kebingungan.


"Apa benar selama itu, Mbah?" tanya Darto sembari mengernyitkan dahinya. Kemudian meraih sebatang rokok dari bungkusan yang tengah Si Mbah pegang. Dia juga heran dengan perbedaan waktu yang terlintas di dunia nyata dan dunia Darsa.

__ADS_1


"Iya, Dar. bahkan Kakung sampai ke sini dua kali karena kabar darimu tidak kunjung datang. Untungnya dia tau tempat ini Dar, karena dulu dia ikut menunggu Si Mbah melakukan ujian. Bayangkan saja kalau kakung tidak datang, Si Mbah mau makan apa selama tiga bulan," jawab Simbah sembari menghisap rokok di sela jarinya, sesekali dia meniup kencang asap di bibirnya, dengan pandangan yang menatap kurus kumpulan bintang di atas kepala mereka.


"Masih ada makanan Mbah? perutku lapar sekali," ucap Darto sembari menggaruk rambut di kepalanya.


"Masih, Dar, baru dua minggu terakhir Kakung kesini, dia bawa beras mentah sama alat masaknya, Ha ha ha ha!" ucap Si Mbah terbahak mengingat tingkah Kakung yang begitu lucu.


Setelahnya, dua lelaki itu melompat dari batu, masuk ke arus sungai dan berangsur menepi menuju tempat mereka menaruh barang. Ketika mereka hampir sampai di tepi, tampak Kakek Sastro dan Kakek Wajana hendak menyambut kepulangan Darto, mereka berdiri bersebelahan di tepi sungai.


Melihat mereka, Darto hanya diam saja, dan ketika berpapasan Darto hanya melempar senyum seadanya. Dua sosok tua itu sempat bingung dibuatnya, hingga akhirnya mereka saling menatap kemudian saling mengangguk sebagai isyarat mengikuti langkah Darto yang sudah sampai di tepi.


"Apa semuanya lancar, Dar?" tanya Kakek Sastro di barengi anggukan kepala Kakek Wajana.


"Kami tau penyebab kamu marah, Dar. Tapi kami benar-benar ingin memperbaiki itu semua," ucap Kakek Wajana sembari tertunduk. Dia juga merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.


"Sudah, saya lelah dan lapar. Lebih baik Kalian kembali dulu saja ke rumah kalian, nanti saya panggil kalau sudah baikan," ucap Darto sembari terus berjalan, tanpa menoleh ke arah dua sosok di belakangnya.


Melihat tingkah Darto, Kakek Wajana dan Kakek Sastro kembali saling bertatap, kemudian mengangguk, dan menghilang bagai kepulan asap. Sedangkan Mbah Turahmin hanya bisa tersenyum melihat tingkah cucunya, dia sedikit merasa lega mengetahui Darto sudah tidak terlalu dekat dan bergantung pada kedua sosok tua itu.


Sesampainya Darto dan Mbah Turahmin di tempat mereka menaruh barang, Darto sedikit terkejut melihat waktu yang tertera di jam tangan pemberian Si Mbah. Saat itu jarum pada jam tangan miliknya sudah menunjukkan pukul 02:27 dini hari, jadi Darto bergegas menyiapkan api untuk menanak nasi.

__ADS_1


Singkat cerita, kedua lelaki itu sudah selesai menyantap nasi dengan ikan hasil pancingan Si Mbah sebagai lauknya, Mereka kini sedang duduk sebelahan dan menghisap rokok yang terselip di jari mereka. Suasana sungguh hening, tidak ada suara lain selain suara mereka berdua dan sautan binatang malam. Akhirnya setelah mereka selesai menghisap rokok mereka, mereka kembali menuju sungai untuk mengambil wudhu dan dilanjut menunaikan shalat subuh setelahnya.


"Jadi bagaimana, Dar? apa kamu dapat barangnya?" ucap Si Mbah setelah selesai memimpin shalat.


Mendengar ucapan Si Mbah, Darto bergegas meraih tasbih yang dia kantongi di saku celana miliknya. "Apa ini yang Si Mbah maksud?" ucap Darto sembari menyodorkan tasbih kayu pemberian Qorin.


"Alhamdulillah, ternyata benar kamu yang dipilih, Dar," ucap Si Mbah singkat kemudian mengajak Darto pergi dari tempat mereka duduk.


Merekapun melakukan perjalanan setelah shalat sudah ditunaikan, detik demi detik, jam demi jam mereka lewati dengan terus berjalan. seperti awal keberangkatan, mereka benar-benar melakukan perjalanan pulang dan hanya beristirahat untuk menunaikan kewajiban, hingga tak terasa waktu sudah menyajikan langit hitam di atas kepala mereka kembali.


Langit malam menyambut kepulangan mereka dari atas gerbang pesantren milik Kakung. Kakung yang melihat mereka dari dalam pesantren langsung bergegas menghampiri dengan sedikit berlari. Dan sesampainya Kakung di depan Darto, sebuah pelukan kembali mendarat untuk pemuda itu. Bulir air mulai merembes keluar dari mata keriput milik Kakung. Dengan nada lega, ia terus mengucapkan kalimat hamdalah untuk mengutarakan rasa syukurnya.


"Mari, Dar, kita masuk. Kalian pasti lapar Kan?" ucap Kakung sembari menarik lengan Darto, dia sudah tidak sabar mendengar cerita tentang ujian yang dia jalani.


Setelah Darto sampai di rumahnya, Harti, Surip dan juga Bidin datang setelahnya. Mereka bertiga juga ingin mendengar cerita tentang pengalaman yang Darto alami, sehingga mereka langsung menyusul ke rumah Kakung setelah kabar Darto pulang menyebar dari bibir para santri.


Malam itu, Darto bercerita semua hal yang dialami oleh dirinya, Dari saat dia menjadi Darsa, hingga proses terbentuknya musuh bebuyutan keluarganya. Semua orang sungguh terpana dengan cerita yang Darto utarakan. Meski banyak kata yang tidak bisa dipercaya, namun mereka percaya sepenuhnya dengan seseorang yang bercerita. Hingga akhirnya mereka paham dengan situasi yang keluarga Darto hadapi, dan mereka semua menawarkan bantuan untuk apapun yang akan Darto hadapi kedepannya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2