
Setelah tubuh Darto dan Jaka terlihat selayaknya tengah terbakar oleh kobaran energi, mereka berdua melompat bersamaan, dengan menghentakkan kaki mereka ke tanah.
Tubuh mereka melambung begitu tinggi, kemudian menghilang di atas udara dan dalam sekejap mereka berpindah tempat ke tengah pusaran ribuan ngengat yang kini tengah berputar-putar selayaknya ****** beliung.
Hewan itu benar-benar begitu banyak, Darto dan Jaka yang berada di tengah pusaran sampai tidak bisa melihat Maung dan Komang yang tengah menonton mereka. Pandangan mereka terhalang oleh ribuan serangga yang kini tengah memutari mereka.
Darto dan Jaka langsung saling menatap ketika baru saja berpindah, mereka berdua mengepalkan tangan begitu erat kemudian saling meninju kepalan tangan lelaki di depannya.
Dentuman hebat tercipta dari tinju Darto dan Jaka yang tengah beradu kala itu, suasana berubah drastis dalam seketika, yang semula terik dan terasa panas, mulai muncul gemuruh dan juga kilat yang sesekali menyambar ke arah pohon di sekeliling mereka. Angin ribut juga datang membawa hujan lebat di kala dua energi milik Darto dan Jaka berbenturan.
Dari dentuman tersebut, ribuan ngengat yang terkena gelombang benturan energi Darto dan Jaka, langsung terbakar habis bagai selembar tisu yang dilahap oleh api besar.
Ribuan ngengat yang sedari tadi terbang berputar, secara sempurna berubah menjadi debu yang perlahan jatuh ke atas tanah dan menjadi tumpukan.
Melihat lawannya sudah berhasil disingkirkan, Darto dan Jaka kembali berpindah sebelum kaki mereka menyentuh tanah di bawahnya. Mereka kembali muncul di samping Maung dan Komang, sembari mencoba menyembunyikan energi yang meluap-luap pada tubuh mereka.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Darto kepada Maung dan Komang yang masih memasang wajah terkejut setelah melihat ledakan energi yang baru saja mereka saksikan.
"I iya, Dar. Kami baik-baik saja," sahut Maung dengan wajah berkeringat. Dia merasa ngeri dengan apa yang baru saja dirinya saksikan, sedangkan Komang masih bungkam dengan mata terbelalak menyaksikan ribuan bangkai yang sudah menjadi debu di atas tanah.
"Komang?!" panggil Jaka sembari menepuk pundak Komang.
Mendapat tepukan di pundak, Komang langsung terperanjat, kemudian dia menatap Jaka dengan wajah berkeringat sembari berkata, "Itu yang diajarkan Eyang?"
"Bukan ... Si Mbah Samasta yang mengajari kita," sahut Jaka sembari tersenyum.
__ADS_1
Setelah suasana tegang kembali mencair, Darto dan Jaka meminta Maung serta Komang untuk merubah wujud mereka menjadi binatang lagi. Setelah Komang dan Maung berubah, Darto dan Jaka langsung naik ke punggung mereka tanpa aba-aba.
Ketika hendak melanjutkan langkah kembali, ribuan ngengat kembali menyapa di tempat yang sama. Mereka keluar dari dalam tanah, melalui lubang yang menganga dibawah batu besar tersebut.
Ternyata, yang sudah Darto dan Jaka lawan tidak lain hanya sebagian kecilnya saja, serangga itu masih memiliki koloni yang lebih banyak lagi jumlahnya di dalam tanah. Mereka berbondong-bondong keluar, dan berteriak dengan suara nyaring setelah melihat ribuan koloninya sudah menjadi abu.
Setelah puluhan ribu ngengat itu berteriak, pimpin mereka yang memiliki ukuran sangat besar tiba-tiba datang dari langit. Setiap kepakan sayapnya menciptakan angin yang begitu besar, hingga pepohonan di bawahnya serentak terombang-ambing, seakan-akan siap ambruk karena akarnya tidak bisa menahan guncangan.
"Jaka ... firasatku benar. Rasanya aneh jika kita mengalahkan binatang yang paling setia dengan banaspati dengan begitu mudah," ucap Darto setelah cukup lama terdiam. Dia beranjak turun dari tubuh Maung setelah sejenak tertegun melihat ukuran pemimpin, dan juga jumlah lawan yang kini berkali-kali lipat dari jumlah musuh yang sudah dirinya dan Jaka singkirkan.
"Kita akan melakukan itu lagi, Kang?" Sahut Jaka sembari turun dari tubuh Komang.
Mendengar pertanyaan Jaka, Darto hanya diam untuk sejenak kemudian berkata, "Pertama kita lakukan itu, kemudian kamu urus anakan yang tersisa, biar aku tahan induknya."
Darto dan Jaka kembali melompat, mereka kembali menghilang dan berpindah ke sisi pemimpin yang berada di tengah gerombolan ngengat. Mereka kembali beradu jotosan dan kembali membuat ledakan yang sangat hebat dari benturan energi di tangan mereka.
Bukan hanya sekali, kali ini dua tangan Darto dan Jaka terus mengayun untuk saling beradu kepalan, mereka menciptakan dentuman demi dentuman seperti ledakan ketika dua kepal tangan mereka saling beradu. Puluhan ribu anak ngengat pun kembali terbakar hingga menjadi tumpukan debu yang semakin menebal di atas tanah.
Sungguh satu lawan yang cukup merepotkan, jumlah mereka seakan tidak ada habisnya. Darto dan Jaka yang sedari tadi melayang terpaksa harus berpijak ke atas batu panas yang memiliki ukuran lebih lebar dan tinggi dari bangunan megah tingkat lima.
Hanya berpijak sepersekian detik saja mereka kembali melompat setelah kaki mereka menyentuh batu. Mereka terus bertahan bertarung di udara agar tidak terpojok karena dikelilingi batu yang siap memanggang siapapun yang menyentuhnya.
Pertarungan itu berlangsung cukup lama, mereka terus mengadu kepalan selayaknya orang bertarung, dan menyingkirkan hampir separuh lebih dari semua ngengat yang mulai berhenti keluar dari dalam lubang.
Melihat jumlah anakan sudah menyusut, Darto bergegas menatap Jaka kemudian berkata, "Urus sisanya!"
__ADS_1
Jaka langsung mengangguk kemudian menciptakan sebuah tombak api yang begitu panjang. Dia memutar-mutar tombak berukuran hampir empat meter di tangannya itu dengan kecepatan yang sangat gila, hingga setiap siapa saja yang melihat Jaka pasti mengira Jaka tengah memegang lingkaran pipih yang terbuat dari kobaran api.
Karena begitu cepat Jaka memutar tombak di tangannya, Jaka benar-benar terlihat seperti tengah memegang sebuah piringan api di tangannya. Setiap ayunan yang Jaka lakukan benar-benar memiliki dampak yang tidak biasa, satu kali putaran ratusan anak ngengat kembali terbakar setelah menyentuh senjatanya. Angin seakan bertiup kencang di sekeliling tubuh Jaka, akibat ayunan tombak yang terus dirinya putar di tangannya.
Darto yang melihat Jaka bisa mengatasi jumlah dari lawannya, dia tersenyum sembari mendarat ke atas batu besar untuk berpijak.
Darto kembali menendang batu itu sekuat tenaga, kemudian melambung begitu tinggi melebihi Jaka. Usahanya benar-benar berhasil, Darto melompat begitu tinggi hingga tubuhnya berada tepat di hadapan ngengat yang paling besar.
Ngengat itu terlihat marah, dia siap menerkam Darto dengan kaki berduri yang dipenuhi racun mematikan. Darto yang melihat lawannya melakukan gerakan, seketika menciptakan perisai yang terbentuk dari energi miliknya.
Darto menahan ayunan kaki yang ukurannya sama dengan tubuhnya, hingga dirinya terpental jatuh ke bawah dengan kecepatan yang sangat gila.
Usaha Darto untuk melompat mendekat benar-benar seakan seperti gerakan bunuh diri, dia tidak menyangka akan terhempas begitu dia berhadapan dengan pemimpin ratusan ribu serangga itu. Kekuatan dari kaki raksasa itu benar-benar tidak bisa dibayangkan, seakan Darto menahan sebuah pohon besar yang tiba-tiba ambruk ke arah tubuhnya.
Ketika terjun bebas dengan kecepatan gila di udara, Darto berteriak memanggil Jaka yang tengah berdiri membelakanginya. Jaka benar-benar sigap, dia berpindah dari tempatnya dalam waktu yang lebih cepat dari kecepatan terjun Darto. Dia membuat tombak di tangannya menjadi lentur seperti tali, kemudian memecut tali itu ke pada tubuh Darto.
Tepat sebelum tubuh Darto menyentuh tanah, tali yang Jaka ayunkan sudah berhasil melilit tubuhnya. Jaka menarik--mengayun tali yang melilit Darto sekuat tenaga, hingga terjun bebas Darto berubah haluan menjadi sedikit belok ke samping kemudian tertarik ke atas kembali.
Kini dengan bantuan Jaka, kecepatan terjun yang sangat gila berhasil dimanfaatkan menjadi lontaran yang lebih cepat lagi.
Tubuh Darto melayang ke atas tepat ketika hanya beberapa centimeter lagi tubuhnya menyentuh tanah.
Dengan perasaan lega Darto melambung dengan begitu cepat. Dia menghunus pedang panjang yang baru saja ia ciptakan, ke arah sosok raksasa yang tengah mengambang di atas kepalanya.
Bersambung ....
__ADS_1