
Darto, Jaka, Maung dan Komang benar-benar tercengang setelah melihat puluhan mayat yang sedang mengambang di permukaan air. Mereka serentak berdiri kemudian mendekat ke arah air tersebut.
"Maung... tolong tarik satu jasad itu ke tepi," pinta Darto dan langsung mendapat anggukan kepala.
Bukan hanya Maung, Komang yang masih menggunakan wujud manusia juga ikut masuk ke dalam air kemudian mereka menarik dua jasad yang paling dekat dari tepi danau.
Darto dan Jaka benar-benar langsung menutup lubang hidung mereka setelah jasad yang Maung dan Komang bawa sudah berhasil mereka angkat ke tepi.
Jasad itu benar-benar sudah berbau busuk, dan bahkan beberapa kulitnya langsung mengelupas setelah Darto mencoba menyentuhnya.
"Kang... aku enggak kuat!" ucap Jaka kemudian beringsut menjauh, dia memuntahkan semua isi perutnya, setelah melihat dari dekat, seperti apa wujud mayat yang Komang bawa.
Darto juga sebenarnya sudah tidak kuat, tapi dia menahan sekuat tenaga untuk membalik mayat yang masih memiliki posisi tidur tengkurap di tepi danau.
Dia membalik mayat tersebut dengan kedua tangannya, sembari menahan nafas selama yang dia bisa. Setelah Darto berhasil membalik tubuh tersebut, Darto langsung bergegas menyobek baju yang sudah lapuk pada mayat tersebut.
Darto, Jaka, Maung dan Komang kembali tersentak setelah melihat kejadian yang ada di depan mata mereka.
Ada satu ekor lintah yang menempel di dada mayat tersebut. Dia masih melekat dengan begitu erat, meski mayat itu sudah tidak memiliki darah sama sekali pada tubuhnya.
"Hati-hati, Dar!" teriak Maung setelah melihat Darto ingin meraih lintah di dada mayat.
"Tidak apa-apa. Ini cuma binatang," ucap Darto kemudian mencabut lintah pada dada mayat tanpa ragu-ragu.
Satu hal aneh kembali terjadi, mayat yang semula membusuk dan masih memiliki bentuk meski abstrak, mulai meleleh di depan keempat pasang mata pria tersebut.
Dari mulai kulit, daging, bahkan hingga tulang belulangnya ikut meleleh menjadi sebuah lendir hitam yang menggumpal di balik baju dan tergeletak di atas tanah. Hal itu benar-benar terjadi setelah Darto melepas lintah seukuran kepalan tangan orang dewasa di dada miliknya.
Sayangnya bukan hanya hal itu saja yang terjadi. Lintah di tangan Darto langsung menggeliat lalu menggigit punggung tangan Darto.
Darto yang terkejut langsung mengibaskan tangannya, dia mencoba melepaskan lintah tersebut, namun binatang itu sangat lengket di punggung tangan miliknya.
Karena tidak mau lepas, akhirnya Jaka menarik binatang tersebut dari punggung tangan Darto. Dan setelah lintah itu lepas, satu hal aneh kembali terjadi.
"Bagaimana bisa, Kang?" tanya Jaka keheranan setelah berhasil melepas lintah di tangan Darto.
"Aku juga tidak tahu, Jak," jawab Darto sembari melihat tempat yang semula digigit oleh lintah.
__ADS_1
Ukuran lintah benar-benar bertambah setelah mengigit Darto. Ukurannya kini menjadi seukuran kepala manusia, meski dirinya hanya menggigit dalam hitungan detik saja.
Namun yang aneh bukanlah hal tersebut, melainkan punggung Darto tidak memiliki bekas luka sama sekali.
"Sebenarnya apa yang dimakan oleh lintah ini?" tanya Jaka sembari mencoba meremas lintah menggunakan kedua tangannya dan ingin melihat isi perutnya.
Melihat tindakan Jaka, tiga temannya yang juga penasaran langsung ikut mengamati. Mereka melihat dengan seksama, proses Jaka memecah lintah di tangannya.
Jaka benar-benar meremas lintah itu sekuat tenaga menggunakan kedua tangan, dia bahkan sampai meletakkan lintah diatas tanah, karena cengkeraman kuat darinya tidak cukup untuk melukai binatang lentur tersebut.
Tepat setelah lintah tersebut Jaka letakkan di atas tanah, Jaka langsung menginjak mahluk tersebut menggunakan kedua kakinya. Usaha Jaka akhirnya berhasil, perut lintah yang sedang membuncit seketika pecah, namun yang keluar bukanlah darah.
"Itu energi kamu, Dar! Dia memakan energi!" sergah Maung setelah sadar benda apa yang membuncah dari dalam perut lintah tersebut.
Darto dan Jaka benar-benar tersentak. Darto langsung kembali menatap gumpalan lendir yang tercipta dari mayat yang meleleh, kemudian dia kembali merasa terkejut karena lendir hitam yang semula tertumpuk mulai bergerak ke arah danau.
"Dia berkembang biak di dalam tubuh manusia! Mayat tadi bukan sekedar mayat, mungkin dia inang yang digunakan untuk makanan anak-anak lintah ini!" ucap Darto dengan wajah yang sukar dijelaskan.
Jaka, Komang dan Maung juga sangat tersentak dengan apa yang baru mereka dengarkan. Mereka semua bergegas menoleh ke arah danau kemudian kembali membulatkan mata ketika melihat sudah ada ratusan mayat yang mengambang di atas permukaan air.
"Maung... Komang... kalian bisa berenang?" tanya Darto dengan wajah gelisah.
"Tolong jemput Sastro dan Wajana. Aku takut mereka kenapa-kenapa, musuh kita memakan energi," sambung Darto.
Maung dan Komang langsung merubah tubuh menjadi harimau kembali, mereka mengambil ancang-ancang cukup jauh, sebelum akhirnya melompat ke dalam air setelah berlari. Setelah cukup jauh berenang, dua harimau itu kemudian menyelam, hingga tidak tampak lagi dari pandangan Darto dan Jaka.
Darto dan Jaka hanya bisa menunggu dalam gelisah, empat temannya sedang masuk kedalam sarang dengan kondisi yang tidak menguntungkan, karena mereka tidak bisa membantu sama sekali di dalam air.
Beberapa menit berlalu setelah Maung dan Komang menyusul dua sahabatnya. Mayat demi mayat masih terus mengambang setiap detiknya, namun empat sahabatnya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Jak ... kamu tunggu dulu di sini," ucap Darto.
"Mau kemana, Kang? Jangan bilang Kang Darto mau masuk ke dalam Danau," jawab Jaka.
"Aku cuma mau memastikan satu hal, Jak," sahut Darto sembari melangkah mendekat ke air.
Jaka tidak lagi menjawab, dia hanya melihat apa yang tengah Darto lakukan, setelah dia sampai tepat di tepi danau.
__ADS_1
Darto memasukkan telapak tangannya ke dalam air, dan dia terlihat menunggu sesuatu dalam diamnya.
Darto terus mengamati telapak tangan yang masih terendam di dalam air, dia tampak begitu serius sebelum akhirnya mengangkat telapak tangannya dengan tergesa.
"Kang!" teriak Jaka panik setelah melihat ada setumpuk lintah yang menempel pada punggung maupun telapak tangan Darto.
"Sekarang aku tambah khawatir dengan keadaan mereka, Jak... Aku hanya mengalirkan sedikit energi, dan mereka langsung datang," ucap Darto sendu sembari menatap ke arah Danau.
"Percaya saja, Kang... mereka teman kita yang hebat, jadi tidak mungkin mereka mati cuma gara-gara lintah," sahut Jaka mencoba menenangkan. Dia terus membantu mencabut lintah yang mulai membesar di tangan Darto.
"Kita berdoa saja, Jak," Darto sedikit tenang setelah mendengar ucapan Jaka, dia juga langsung ikut mencabuti lintah di tangannya kemudian mengajak Jaka untuk menjauh dari danau tersebut.
Detik menjadi menit, menit bahkan sudah menjadi jam berlalu. Empat teman yang Darto dan Jaka miliki benar-benar belum keluar dari dalam danau.
Yang terus muncul hanyalah mayat yang semakin banyak mengambang setiap detiknya, bahkan kecepatannya muncul lebih cepat dibandingkan beberapa saat yang lalu.
Darto dan Jaka semakin khawatir dan tambah khawatir lagi setiap detiknya, namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa dengan tubuh manusianya.
Dalam perasa yang sangat menggangu itu, setitik cahaya mulai muncul dari tengah danau.
Dua harimau yang tengah berenang mulai terlihat jelas dari kejauhan, mereka tampak menggigit dua tubuh di rahang mereka sembari berenang.
Setelah mendekat, Maung dan Komang langsung menepi dan menaruh dua tubuh diatas tanah. Darto dan Jaka benar-benar sangat senang, mereka langsung berlari ke arah dimana Maung dan komang menepi kemudian memberikan bantuan.
Mereka menyingkirkan seluruh lintah menggunakan tangan, pada tubuh mereka dan juga tubuh dua sahabatnya yang sedang terkulai. Sastro dan Wajana benar-benar tidak sadarkan diri, mereka tampak sama persis, seperti ketika keluar dari dunia ilusi.
"Mereka kehabisan energi, Dar. Tolong bantu mereka berdua, energi milikku dan Komang juga hampir habis," ucap Maung sembari menatap Darto dengan wajah lesu.
Darto mengangguk dan langsung membagi energi pada kedua temannya, sedangkan Jaka hanya diam dan memperhatikan saja karena dia tidak bisa membantu, mengingat tubuhnya bisa menguras energi siapapun yang disentuh oleh dirinya.
Usaha Darto benar-benar langsung mendapat kemajuan, tidak butuh waktu lama untuk membuat Sastro dan Wajana sadar. Bahkan setelah Sastro dan Wajana sadar, Darto kembali membagikan energi miliknya kepada Maung dan Komang yang masih terlihat pucat.
Setelah semua temannya terlihat baikan, Darto langsung bertanya kepada mereka. Mendengar itu empat temannya pun langsung menjabarkan apa yang mereka lihat di dalam danau tersebut.
Sebenarnya apa yang ada di dalam danau?
Bagaimana mereka mengurus mahluk yang ada di dalam air?
__ADS_1
Mari kita tunggu kelanjutannya.
Bersambung ....