ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
RESEPSI


__ADS_3

Pagi itu pesantren begitu ramai. Semua tamu Kakung berbondong datang untuk memberi selamat serta mendoakan cucu kesayangannya. Darto sama sekali tidak mengenal semua tamu yang datang, namun meski begitu dia sangat senang karena resepsi miliknya berjalan begitu megah dan ramai melebihi perkiraannya.


Setelah selesai melakukan akad, Bidin dan Surip langsung pamit pulang. Mengingat rumahnya tidak jauh, mereka melakukan resepsi di rumahnya masing-masing setelah rombongan keluarga mereka datang menjemput. Ki Karta dan Gayatri juga ikut bersama Surip, mereka langsung ikut menerima tamu di rumah Surip pagi itu juga.


Darto dan Harti benar-benar kewalahan pagi ini, dia terus berdiri menyalami setiap tamu yang datang. Banyak sekali pertanyaan yang dia terima dalam sehari, dari orang-orang yang baru saja ia temui untuk pertama kali.


Ketika hari sudah mulai menggelap, tamu Darto tetap saja tidak kunjung mengurang. Di pagi, siang dan sore dia menerima tamu dari teman kakung, namun ketika malam dia masih di datangi oleh beberapa murid Kakung dan juga kenalan Darto yabg berasal dari alam sebelah.


Darto senang sekali melihat Kanti dan Abirama yang datang malam itu, dia bahkan langsung membawa mereka masuk ke dalam rumah Kakung untuk berbicara dengan dua Kakek yang juga mengenalnya. Tampak sekali raut wajah bahagia ketika mereka dpt berbincang dengan begitu senang, layaknya bertemu teman lama yang sudah terpisah untuk waktu yang tidak singkat.


Selain Abirama dan Kanti. Sastro, Wajana, penghuni pohon pisang dekat rumah Darto, kepala buntung yang Darto tangkap di danau, bahkan nenek penunggu batu hitam yang semula merupakan bawahan Gending pun ikut memberikan selamat. Mereka memberikan hadiah berupa batu mulia yang berkilauan. Bagi kaum sebelah, benda itu tidak memiliki nilai, tapi mereka tau persis jika benda tersebut bisa merubah derajat manusia, jika mereka memiliki bahkan meski hanya sebagian kecilnya saja. Jadi tanpa berfikir panjang mereka memberikan secara cuma-cuma, tanpa berberat hati dan juga meminta imbalan.


Darto benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka akan hadiah istimewa yang mereka berikan. Bahkan Kakung sempat berkata jika satu benda yang diberikan Kanti cukup untuk membeli semua petak sawah milik juragan Agam. Harti yang ikut mendengar pun langsung membulatkan mata, sembari terus menatap Darto dengan tatapan tertegun.


Setelah cukup lama, akhirnya satu-persatu tamu pergi meninggalkan pesantren. Tempat yang ramai seperti pasar berangsur sunyi, ketika malam sudah menjadi larut dan hampir menyentuh dini hari. Darto, Harti beserta kedua kakek dan kedua orang tua harti tampak begitu lelah, mereka tengah berbaring di atas karpet hijau di dalam ruang tamu milik Kakung. Mereka bahkan sampai memijit kaki sendiri yang terasa pegal, setelah seharian penuh melayani tamu yang datang tanpa spasi.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbaring, akhirnya Kakung dan Simbah pergi terlebih dahulu setelah berpamitan. Mereka bergegas menuju kamar masing-masing disusul kedua orang tua Harti yang pergi menuju rumah mereka. Kini hanya tersisa Harti dan Darto saja yang masih terbaring lemas diruang tamu tersebut.


Suasana kembali terasa canggung. Darto sangat ini ingin sekali masuk ke dalam kamar dan beristirahat bersama istrinya, namun dia bahkan tidak memiliki nyali meski hanya untuk sekedar mengajaknya. Di tengah kecanggungan yang sedang terjadi, Si Mbah turahmin membuka pintu kamarnya, dia mengeluarkan kepalanya saja, melihat ruang tamu sejenak, kemudian berteriak "Kalian tidur, besok masih ada banyak tamu."


Kecanggungan seketika terusir, Darto hanya menghadap pada wajah Harti yang tengah mengangguk, dan tanpa satu kata pun, mereka berjalan menuju kamar yang sama. Melihat dua cucunya berjalan melewatinya, Si Mbah tersenyum licik sembari berkata "Jangan rakus, Dar. Besok masih bisa dilanjut, He he he he."


Mendengar apa yang Si Mbah ucapkan, Darto langsung memegang tangan Harti, mereka mempercepat langkah sembari mengulum senyum. Wajahnya meremang, rasa malu yang begitu hebat merambat memenuhi segala sisi di dalam dada mereka berdua.


Tidak lama setelah Darto dan Harti masuk ke kamar mereka, suasana canggung kembali terjadi. Darto dan Harti sama-sama tau apa yang akan terjadi, namun mereka tidak tahu bagaimana cara untuk memulai. Untuk cukup lama kedua pasangan baru itu hanya berdiri, tidak ada satu orang pun yang berani duduk di atas dipan. Mereka mematung sembari menunduk dan tidak berani menatap mata pasangannya satu sama lain.


Darto benar-benar menyesali apa yang baru saja dia ucapkan. Dia pergi meninggalkan istrinya sendirian di kamar, dan berjalan menuju ruang makan dilanjut menyalakan rokok yang sudah terselip di jarinya. Dia tidak menghisap rokok yang terus terbakar di tangannya, dia hanya melamun dan mempersiapkan hati untuk apa yang akan dirinya hadapi sebentar lagi.


"Duh!" teriak Darto setelah menghisap rokoknya. Dia terus melamun hingga tanpa sadar rokoknya sudah pendek, dan bibirnya terasa panas ketika menghisapnya.


Melihat rokok yang sudah pendek, Darto segera mematikan rokok tersebut. Dia menghela nafas panjang, kemudian melangkah menuju kamarnya dengan perasaan yang sudah berangsur membaik. Sebagian besar rasa gugupnya sudah berhasil dikurangi, namun ketika pintu kamarnya terbuka Darto langsung menunduk melihat Harti yang sudah tertidur menghadap tembok.

__ADS_1


Setelah menutup pintu Darto menuju dipan miliknya dengan langkah berat, dia merasa sedikit kecewa karena malam istimewanya hanya akan berlalu begitu saja. Setelah sampai di atas dipan, dia melihat wajah Harti yang sudah terpejam dengan seksama. Malam ini pertama kalinya Darto melihat Harti tidak mengenakan mukena, dia mulai mengelus rambut milik Harti dengan begitu lembut, sembari bergumam pelan "Cantik sekali kamu, Dek."


Tidak disangka, setelah Darto bergumam pelan, pipi Harti berangsur memerah. Harti masih mendengar ucapan Darto karena dia sebenarnya belum tertidur. Dia hanya pura-pura, karena dirinya juga sangat gugup dengan apa yang akan dirinya hadapi.


Melihat pipi Harti meremang, Darto seketika tertegun. Dia langsung sadar jika Istrinya belum tertidur. Hingga akhirnya Darto langsung mengejek Harti yang masih mempertahankan sandiwaranya dengan berkata "Cie.. Adek cantik lagi malu."


Harti langsung terbahak, dia membalik badannya dan membuka mata seraya memukul lengan Darto secara lembut dengan kedua tangannya. Dia sangat malu karena aksinya diketahui, belum lagi ejekan Darto benar-benar menambah rasa malunya menjadi berkali lipat.


Darto juga ikut terbahak melihat Harti yang begitu malu, dia memegangi lengan Harti untuk menghentikan jotosan istrinya. Dan ketika Harti sudah tenang, mereka berdua saling menatap sendu dengan barisan gigi yang teepampang. Suasana tertekan hening kembali, sebelum akhirnya Darto yang terlebih dahulu melakukan pembukaan dengan mengecup bibir Harti dengan begitu mesra.


Malam itu, suara dipan yang berderit begitu menggema. Suaranya bahkan bisa terdengar hingga ke kamar Anto, Si Mbah dan Kakung di sampingnya.


Bersambung,-


...Vote nya jangan lupa 😁...

__ADS_1


__ADS_2