ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TEMPAT LEBIH ANEH


__ADS_3

Sungguh satu ledakan yang sangat gila, dampak dari ledakan tersebut tidak hanya menghempaskan Darto saja. Komang dan Jaka yang tengah duduk layu cukup jauh dari ledakan juga ikut terkena dampaknya, mereka bertiga melambung ke udara, dalam waktu yang hampir bersamaan.


Untungnya Jaka dan Komang masih bisa mempertahankan kesadaran, tidak seperti Darto yang sudah sepenuhnya pingsan ketika melambung di udara .


Setelah meledakkan sosok anjing besar, pria berbaju serba hitam itu mulai melangkah ke arah di mana Darto tengah tergeletak.


Dia berjalan dengan langkah pelan dan juga ekspresi geram yang terpampang jelas pada wajahnya.


Sembari berjalan, pria itu menciptakan satu energi berwarna hitam pada lengannya, kemudian mengarahkan energi tersebut ke arah Darto yang sedang terkulai di atas tanah.


Energi milik pria itu melesat begitu cepat, satu ledakan kembali terjadi kala itu, membuat Jaka dan Komang langsung membulatkan mata mereka secara bersamaan.


Untungnya bukan Darto yang terkena serangan dari pria tersebut, Maung benar-benar datang pada waktu yang tepat, untuk menghalau serangan yang dilancarkan oleh pria asing di sampingnya.


Maung langsung mengigit tubuh Darto yang tergeletak, kemudian pergi menemui Komang dan Jaka, dan meminta mereka untuk menaiki punggungnya.


Maung benar-benar berlari sekuat tenaga, keringat membanjiri setiap wajahnya, ketika terus berlari dengan luka pada tubuhnya.


Sosok pria berbaju hitam tidak melakukan apa-apa kala itu, dia hanya menatap Maung dengan tatapan kosong, dan membiarkan Maung mengumpulkan tiga temannya yang sedang terkulai di atas tanah.


Lelaki itu tampak tidak menggubris sebelumnya, tapi ketika Maung sudah berhasil membawa tiga temannya secara bersamaan, dia menciptakan satu bola energi yang mengambang di atas kepalanya.


Bola energi yang berukuran sangat besar, dan terlihat sangat padat jika dilihat dari kejauhan.


Seluruh warna hitam di dalam ruangan tersebut merambat menuju satu titik, yaitu tempat di mana pria itu sedang mengumpulkan energinya.


Perlahan warna hitam yang memenuhi segala sisi kamar nomor dua mulai menipis, semua isi kamar berangsur bisa dilihat oleh mata telanjang milik Maung.


Semua kegelapan itu ternyata merupakan energi milik pemilik kamar, dia menciptakan satu dunia yang mirip seperti punya Maung, dan membiarkan semua peliharaannya tinggal di dalamnya.


Setelah energi hitam yang begitu besar sudah berhasil menyerap kegelapan secara sempurna, lelaki itu mengarahkan energi tersebut ke arah Maung yang sedang berlari.


Dia berpindah ke tempat yang dia inginkan dengan begitu cepat, kemudian melempar energi miliknya tepat dari depan wajah Maung.


Dia membiarkan Maung mengumpulkan semua rekan bukanlah tanpa alasan, melainkan agar dirinya bisa menyingkirkan empat musuh yang sedang berada di depannya secara sekaligus.


Serangan besar itu benar-benar mengarah lurus ke wajah Maung yang sedang membawa tiga temannya, hingga kemudian terdengar satu ledakan yang dahsyat di tempat tersebut

__ADS_1


Pepohonan yang berada di sekitar Maung benar-benar ambruk dalam sekejap, udara yang berhembus bagaikan topan, serangan tersebut benar-benar memporak-porandakan tempat tersebut hanya dalam waktu yang sangat singkat.


"Naik, Sastro!" teriak Maung di dalam kekacauan.


Sastro langsung berpindah ke atas punggung maung, dia memegangi Komang dan Jaka yang hampir terhuyung, dengan kedua lengan yang merangkul dua sahabatnya secara sekaligus.


Untung saja Sastro datang tepat waktu, dia berhasil menghalau serangan dari pria asing tersebut, dengan cara menciptakan satu pelindung yang menyelimuti dirinya beserta empat teman lainnya.


Melihat tempat itu masih dipenuhi dengan debu dan kabut setelah ledakan, Maung berlari dengan memanfaatkan penghalang tersebut.


Dia memanfaatkan kekacauan tersebut, untuk bisa kabur, karena jarak pandang musuhnya tengah terhalang debu yang memenuhi sekeliling area tersebut.


Usaha Maung benar-benar berhasil, dia melampaui batasannya sendiri, ketika terus berlari sembari membawa empat temannya.


Seharusnya akan lebih cepat jika Maung berlari menuju utara, namun setelah ledakan terjadi dia berlari menuju ke selatan, untuk mengecoh lawan yang sedang mencari mereka.


Sungguh satu keberuntungan ketika Maung bisa lepas dari pengintainya, dia terus melesat menuju hutan yang begitu lebat, hingga akhirnya sampai pada tempat tujuannya.


Maung ambruk setelah berhasil sampai di tempat yang dirinya tuju, dia merasa sangat lelah karena harus berlari memutar, untuk mengelabuhi musuh yang sedang mengejarnya.


Goa itu ditemukan oleh Maung secara tidak sengaja, ketika dirinya membawa kabur Sastro dan Wajana yang tengah terluka.


Kini enam pria itu benar-benar tergeletak di atas tanah, Wajana satu-satunya orang yang bisa mempertahankan kesadaran, karena dia dan Sastro sudah sedikit beristirahat sebelumnya.


Sastro yang baru pulih harus kembali membuang semua energinya, dia pingsan bersama dengan Maung ketika sampai pada tempat tersebut.


Sastro benar-benar menerima dampak yang luar biasa, setelah menahan satu serangan dahsyat yang dilancarkan musuhnya.


Melihat semua kawannya tidak berkutik, Wajana mulai berdiri dan bergegas keluar dari dalam goa. Dia berjalan dengan hati-hati, menuju mulut goa yang lumayan jauh dari tempat lima temannya beristirahat.


Wajana ingin memberi bantuan, dia ingin menjaga dari depan, untuk menghindari jika musuh bisa menemukan tempat persembunyian tersebut.


Setelah sampai pada mulut goa, Wajana sedikit terkejut dengan pemandangan yang tengah dirinya saksikan.


Hutan yang berada di depan mulut goa tidak tampak seperti hutan-hutan yang terletak pada kamar sebelum-sebelumnya, melainkan hutan yang mirip dengan apa yang sering dirinya lihat, di dalam dunia manusia.


Tidak hanya satu maupun dua jenis pohon saja yang hidup di dalam hutan tersebut, semuanya tampak berukuran wajar, dan juga tidak ada keanehan dengan setiap pohon yang sedang dirinya lihat.

__ADS_1


Untuk menjawab rasa penasarannya, Wajana memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh dari tempat persembunyian.


Dia mengikuti satu suara yang menganggu telinganya, yaitu suara gemericik air dan juga suara dari sebuah percakapan.


Wajana terus berjalan mengendap-endap, dia terus bersembunyi dari balik pohon ke pohon yang lainnya, ketika sudah merasa dekat dengan suara aneh yang dirinya dengarkan.


Mata Wajana benar-benar langsung membulat ketika melihat sumber dari suara, dia terkejut ketika melihat beberapa wanita yang sedang mencuci pakaian di pinggiran sungai.


"Bagaimana bisa ada manusia di dalam kamar nomor dua?" Gumam wajana sembari menunduk, dia merasa otaknya buntu.


Setelah cukup lama berfikir, Wajana memberanikan diri untuk mendekat ke arah sekumpulan wanita tersebut.


Wajana sedikit ragu ketika sudah berada di balik pohon yang paling dekat dengan rombongan tersebut, namun dia tetap tidak memiliki pilihan lain untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Wajana memberanikan diri keluar dari balik pohon, kemudian mendesis untuk memanggil sekumpulan wanita di depannya, "Ssttt... Sstt..."


Sayangnya tidak ada satupun wanita yang mendengarnya, Wajana yang merasa aneh kembali berdesis, namun sekali lagi usahanya tidak mendapatkan respon dari sekumpulan wanita tersebut.


Karena masih sangat penasaran, Wajana memberanikan diri untuk mendekat, dia berdiri di dekat para perempuan, tapi mereka sama sekali tidak bisa melihat Wajana.


Itu merupakan hal teraneh yang dirinya lihat sejauh ini, bagaimana bisa manusia asli hidup di alam miliknya. Wajana bisa memastikan jika mereka adalah manusia, karena mereka tidak bisa melihat wujud fisiknya.


Dalam rasa bingung Wajana hanya bisa menunggu, dia menunggu sekumpulan wanita itu selesai melakukan kegiatannya, kemudian mengikuti mereka menuju tempat dimana wanita-wanita itu tinggal.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat mereka mencuci pakaian, tampak sebuah desa yang terlihat normal bagi manusia.


Wajana tidak langsung masuk kal itu, dia tidak berani mengambil resiko, mengingat mungkin ada satu orang yang bisa melihat wujudnya di dalam desa.


Setelah mengingat lokasi desa tersebut secara pasti, Wajana bergegas untuk kembali ke tempat teman-temannya berada.


Dia berlari kembali menuju hutan, namun langkahnya terhenti ketika melihat satu pria yang mengenakan pakaian serba hitam sedang berdiri di depannya.


Lelaki itu benar-benar berpindah dengan sangat cepat, tiba-tiba saja dia sudah ada di samping Wajana, kemudian memukul tengkuk leher Wajana menggunakan lengannya.


Wajana langsung tidak bisa melihat apa-apa lagi, semua yang ada pada pandangannya hanyalah kegelapan, karena dia pingsan setelah mendapat satu serangan dari pria asing tersebut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2