ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASALAH BARU


__ADS_3

"Tok, Aku tidur di rumah kamu ya malam ini. Kamarku di pakai Harti, dan ruang tamu di pakai Bidin sama Surip," tukas Darto sembari berjalan meninggalkan warung pak Sapto.


"Iya, Dar. Ayo aku antar kamu pamitan dulu di rumahmu, biar sekalian nanti pulang barengan," Jawab Anto sembari menarik pundak Darto. Dalam hati Anto benar-benar ingin cepat sampai kamar rumahnya, dia ingin bertanya tentang mahluk yang menempel pada calon istrinya itu.


Tidak butuh waktu lama, Darto dan Anto melesat menuju rumah Daro, dan kemudian kembali lagi setelah berpamitan kepada kedua Simbah juga temannya. Kini Darto dan Anto sudah berada di kamar Anto, mereka tidur sebelahan, di atas dipan yang sama.


"Dar, sebenarnya apa yang ngikut sama Sri?" tanya Anto, kemudian merubah posisi dari yang semula tidur menjadi duduk di atas dipan.


"Aku juga bekum tau, Tok. Tapi yang jelas ada sosok nenek bungkuk, dia ngikut terus di belakang calon istrimu, yang jelas itu bukan hal baik," jawab Darto yang kini juga ikut berganti posisi duduk.


"Darimana kamu tau kalau itu tidak baik Dar?" tanya Anto kembali.


"Yah, cuma firasat aja Tok, kalau di pikir lagi buat apa coba ada sosok yang ngikut si Sri, pokoknya kamu percaya saja Tok, besok Aku minta saran dulu sama Simbah," Ucap Darto kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas dipan.


Tak butuh waktu lama, Darto langsung terlelap kala itu, badan miliknya masih menanggung segunung rasa lelah dari perjalanan panjang yang sudah dia lewati. Kemudian Anto pun ikut mencoba memejamkan mata sekuat tenaga, meski sulit akhirnya mereka berdua bisa terlelap bersama, di atas dipan yang sama, sama halnya dengan masa kecil mereka dulu.


...***...


Fajar sudah menyapa, solat subuh sudah selesai di tunaikan. Tampak Darto dan Anto tengah berbicara dengan Kakung dan Simbah Turahmin di depan langgar, sebelum akhirnya mereka berjalan bersama meninggalkan langgar, menuju arah yang berbeda dengan jalan pulang, karena mereka hendak mengunjungi rumah calon istri Anto bersama-sama.


"Assalamu'alaikum!" teriak Anto di depan pintu utama rumah calon istrinya.


"Waalaikumsalam!" jawab Sri sembari membuka pintu, tampak Sri masih menggunakan mukena, dia baru selesai menunaikan shalat subuh di rumahnya.


Melihat Sri yang tengah berdiri di pintu, Simbah dan kakung terkejut seketika. Tersadar ada mahluk yang terus memegang lengan Sri dari belakang.


"Nduk, boleh kami masuk? ada yang ingin Simbah rundingkan sama kamu," ucap Simbah Turahmin pelan.


"Monggo Mbah, silahkan masuk," jawabnya singkat kemudian membuka lebar pintu rumahnya itu, dan keempat lelaki itu pun bergegas masuk kedalam rumahnya.


"Ibu Bapak kamu dimana Nduk?" tanya Simbah kembali.


"Mereka di belakang Mbah, biar saya panggil mereka," jawab Sri kemudian bergegas menuju ruang sebelah. Setelah itu dia kembali dengan orang tuanya, juga mukena yang semula ia kenakan sudah ia lepaskan, sembari membawa empat gelas teh panas di atas nampan.


"Buk, Pak, boleh saya minta air putih di gelas besar?" Tanya Kakung singkat.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, kedua orang tua Sri saling bertatap, kemudian mengangguk dan menyuruh Sri untuk bergegas mengambil pesanan Kakung.


"Niki Mbah," ucap Sri sembari menyodorkan gelas besar berisi air putih di depan Kakung.


"Pak, Buk, dan kamu Sri Saya mau bilang sesuatu sama kalian, tapi saya harap kalian bisa menerima apapun yang saya ucapkan," Simbah membuka suara kembali.


"Maksud Ki Turah?" tanya bapak Sri kebingungan.


"Kalian boleh percaya ataupun tidak percaya, saya tidak memaksa. Saya cuma mau bilang kalau anak Bapak di ikuti sesuatu yang tidak kasat mata," ucap Mbah Turahmin kembali.


Mendengar ucapan itu Sri serta orang tuanya saling bertukar tatapan sembari menggeleng, sulit untuk menerima kenyataan yang bagi mereka susah di percaya. Namun mau bagaimana pun Ki Turah sudah terkenal bukan lelaki tua biasa di desa tersebut, jadi mau tidak mau mereka harus percaya.


"Maksud Ki Turah anakku ketempelan?" tanya Ibu Sri.


"Sepertinya kiriman Buk, bukan ketempelan," Timpal Kakung menyela perbincangan mereka.


"Kalau di perbolehkan, saya boleh kan bantu anak Bapak sama Ibu?" tanya Kakung kembali.


"Boleh Mbah, jika Sri mau," jawab Bapak Sri cepat sekali.


Mendengar perintah Simbah, Sri langsung berpindah tempat duduk, dari yang semula duduk dekat orang tuanya, kini duduk tepat di depan Simbah.


"Pejamkan matamu Ndu," perintah Simbah Turahmin.


Mendengar perintahnya, Sri langsung memejamkan matanya. Dilanjut tangan Simbah meraih kepala Sri yang berbalut kerudung hitam itu.


Doa demi doa panjang terus dilantunkan Simbah, Darto dan juga Kakung, sedangkan Anto dan orang tua Sri hanya bisa tercengang melihat tingkah Sri yang tiba-tiba berubah drastis. Sri terus meronta dan berteriak mengucapkan umpatan kepada Simbah di depannya.


"Siapa yang suruh kamu?" Ucap Simbah pelan di depan Sri.


Tidak menjawab Sri kembali meronta kesakitan setiap tangan Simbah menyentuh keningnya, Matanya terus melotot memandangi wajah Simbah di depannya sembari ingin pergi dari tempat duduknya, namun terus ditahan Kakung dan Darto.


Hari itu sungguh terasa panjang bagi orang tua Sri jan juga anto, raut khawatir tergambar jelas di wajah mereka. sesekali mereka hendak berdiri melihat Sri yang terus meronta kesakitan hingga menangis, hingga akhirnya Sri berangsur tenang setelah air di gelas itu di usapkan ke wajah Sri oleh Simbah.


Kini Sri tengah terbujur di ruang tamu tersebut, dia pingsan setelah berhasil di obati oleh Simbah. Dan tak butuh waktu lama Simbah dan Kakung beranjak pergi setelah berpamitan, meninggalkan Darto dan Anto di rumah itu.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa Dek yang mengirim mahluk itu?" ucap Ibu Sri sembari terus memijit pergelangan kaki Putrinya itu.


"Saya juga kurang tau Buk, biar nanti Simbah yang urus sisanya di rumah," jawab Darto sembari menggelengkan kepala.


"Makhluk itu sudah tidak ada kan Dek?" Bapak Sri kembali bertanya.


"Sudah aman Pak, Sri sudah tidak di ikuti mahluk itu lagi. Sekarang mahluk itu sedang di bawa Simbah sama Kakung, Pak,"


Ucapan Darto sontak membuat kedua orang tua Sri berangsur merasa lega, dan karena Darto juga penasaran, dia bergegas mengajak Anto untuk pergi menyusul Simbah dan Kakung.


Setelah berpamitan, mereka berdua berjalan cepat menuju rumah Darto. Kini mereka berdua sudah duduk di ruang tamu bersama Harti, Surip, dan juga Bidin.


"Aku susul Simbah sama Kakung dulu ya, Kalian sini dulu," ucap Darto kemudian meninggalkan keempat temannya itu menuju kamar Simbahnya.


"Mbah.." Ucap Darto sembari mengetuk pelan pintu kamar Simbah.


"Masuk Dar," Jawabnya singkat mempersilahkan cucunya masuk ke dalam kamarnya.


Terlihat di mata Darto sosok nenek yang ikut bersama Sri bersimpuh terengah-engah di depan Simbah dan Kakung yang tengah bersila.


"Sebenarnya siapa yang kirim Mbah?" tanya Darto penasaran sembari mendekat kemudian duduk di samping Simbah Turahmin.


"Ini tidak sederhana, Dar. Dia sudah di tandai oleh seseorang yang sama dengan orang yang menandai Ibumu," Ucap kakung tertunduk.


"Maksud Kakung penari yang lalu?!" ucap Darto dengan mata membulat, tangannya mengepal, nafasnya berangsur memburu.


"Iya Dar, kita punya kesempatan buat membalas kali ini. Kamu harus siap, akan Simbah ceritakan kebenaran yang belum kamu ketahui, apa kamu siap?" Ucap Mbah Turahmin sendu.


"Darto siap Mbah!" Jawab Darto cepat, dia memang sudah tidak sabar ingin mengetahui semua rahasia yang belum dia ketahui.


Setelah mendengar jawaban cucunya, dengan sedikit ragu Simbah mulai bercerita.


Cerita apa yang Simbah utarakan? nantikan di episode selanjutnya ya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2