ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASIH DI TEMPAT YANG SAMA


__ADS_3

Setelah cukup lama berbaring, Darto mulai sadar dari pingsannya. Dia menoleh ke arah empat kawan yang sudah bangun terlebih dahulu, kemudian ikut duduk di tengah kerumunan tersebut.


"Dimana Wajana?" tanya Darto penuh rasa penasaran.


"Itu yang sedang kami bahas, Dar. Aku sudah berkeliling barusan, tapi dia tidak ada di manapun," sahut Maung dengan wajah lesu.


"Apa jangan-jangan... " ucap Jaka dengan wajah yang tidak kalah lesu.


"Tidak... Aku percaya dia masih hidup," ucap Maung, "Tidak jauh dari sini ada pemukiman manusia, mungkin dia dibawa ke sana oleh pria asing yang tadi kita lawan," sambung Maung kembali.


Darto sungguh tersentak setelah mendengar kalimat tersebut, dia sangat khawatir mengingat kekuatan dari pria asing yang begitu besar.


"Kita ke sana," ucap darto dengan tatapan bimbang.


"Belum saatnya, Dar... pulihkan dulu energi kalian," tolak Maung dibarengi anggukan kepala semua temannya.


"Ini saya dapat di luar," ucap Komang sembari menyodorkan satu sisir pisang yang sudah sepenuhnya menguning.


"Kamu dapat di mana?" tanya Darto heran.


"Sudah Maung bilang, Kan? tidak Jauh dari sini ada desa, mereka benar-benar manusia, Dar... Semua orang bertani sama seperti semua manusia normal," sahut Komang kembali.


Meski masih merasa janggal, Darto dan Jaka tidak bisa menolak buah yang Komang sodorkan, mereka memakan semuanya dengan rakus, mengingat sudah cukup lama mereka tidak merasakan buah yang dulu sering mereka makan.


Setelah pisang tersebut habis, Darto kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding goa, dia mendongak sembari mengingat semua pertarungan yabg sudah dirinya lewati.


"Bagaimana kamu tahu di tempat ini ada gua, Maung?" tanya Darto mencoba memastikan.


"Aku cuma mau kabur tadi, Dar... Aku bawa Sastro dan Wajana yang mulai pingsan setelah mendapat serangan puluhan anjing, dan tidak terasa aku tiba-tiba keluar dari tempat gelap tersebut," jawab Maung.


"Lalu?" tanya Darto kembali.


"Setelah keluar dari kabut hitam, aku benar-benar terkejut karena melihat sebuah hutan, dan secara tidak sengaja juga aku nemukan tempat ini," sambung Maung kembali.


"Jadi kamu bilang kita masih di tempat yang sama dengan tempat kita bertarung?" Darto masih memendam sejuta rasa penasaran.


"Iya, Dar. Kita menari diatas telapak tangan satu mahluk, dia menciptakan dunia gelap tadi, makanya kemampuanku tidak berfungsi disana, mata kalian juga tidak bisa melihat, Kan?" Maung kembali melempar pertanyaan, dan langsung mendapat anggukan kepala dari semua temannya.

__ADS_1


"Terus? Bagaimana ada manusia?" tanya Darto dengan wajah penuh tanda tanya.


"Itu yang sedang kami semua bahas, Dar. tempat ini benar-benar aneh," sahut Komang.


"Sekarang kita istirahat saja dulu, mau bagaimanapun kita sedang berperang, Dar. Percaya saja sama Wajana, dia pasti bisa mengatasi situasi yang sedang dirinya hadapi," usul Sastro.


"Tapi bagaimana kalau wajana kenapa-kenapa?" timpal Jaka dengan raut khawatir.


"Setidaknya hanya satu... Kita bisa membalas apa yang Wajana rasakan, kalau kondisi kita sudah kembali prima," jawab Maung dengan tatapan yang begitu tegas, namun tampak setitik bulir yang menggenang pada kedua sudut matanya.


Semuanya langsung mengangguk kala itu, mereka sadar jika melangkah menuju tempat yang berbahaya, mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa.


Bagaimana bisa mereka bertarung? Bahkan untuk berjalan saja tubuh mereka sudah sempoyongan.


Hari itu, Darto, Maung, Komang, Jaka dan Sastro memilih satu keputusan yang sedikit egois. Mereka tetap memilih untuk bersembunyi, dan fokus untuk memulihkan energi dan tenaga yang sudah terbuang sebelumnya.


Satu malam terasa sangat panjang, lima pria itu terus mengumpulkan energi dengan terus bersemedi, dengan pikiran kacau yang memenuhi seluruh isi kepala mereka.


Mereka tidak bisa membohongi hati mereka, sebenarnya semuanya ingin segera berlari, ke tempat di mana Wajana sedang ditahan oleh lawannya.


Setelah matahari pagi sudah menyingsing dari ufuk timur, Darto dan Jaka berpamitan kepada Maung, Komang, dan juga Sastro. Mereka berjalan beriringan, menuju tempat yang sudah Maung jabarkan.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Darto dan Jaka tiba di depan sebuah pemukiman. Beberapa orang mulai melakukan aktifitas mereka, meski matahari belum muncul sepenuhnya.


Ketika Darto dan Jaka sampai, satu orang yang melihat kedatangan dua pria asing di depan rumah miliknya benar-benar terkejut. Dia membulatkan kedua matanya, kemudian berlari mendekat ke arah Darto dan Jaka.


Darto dan Jaka sedikit melangkah mundur ketika pria di depannya mulai mendekat, pria itu mengangkat kedua lengannya, seakan ingin memberi serangan pada Jaka yang berdiri tepat di depannya.


Namun tepat ketika Darto ingin menyerang pria asing tersebut, dia langsung menghilangkan energi pada tangannya, setelah melihat gerakan yang dilakukan pria itu bukanlah sebuah serangan.


Darto juga semakin yakin jika pria itu adalah manusia, karena pria itu tidak bisa melihat energi yang sudah Darto ciptakan sebelumnya.


Pria itu tampak terkejut dengan kedatangan Darto dan Jaka, dia sampai memegangi pundak Jaka dengan wajah tidak percaya, sebelum akhirnya dia mengucapkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Sungguh satu keajaiban, karena ada manusia lain di sini,"


Pria itu tampak sangat bahagia setelah melihat kedatangan Darto dan Jaka. Wajahnya sangat sumringah, dan langsung menarik Darto dan Jaka untuk bergegas menuju kediaman miliknya.


Darto dan Jaka tidak bisa menolak, dia mengikuti permintaan pria tersebut, dan masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan.

__ADS_1


"Masih pagi.... anu... siapa nama kalian?" Tanya lelaki tersebut, dia kebingungan ketika hendak memanggil nama Darto dan Jaka.


"Saya Darto, Pak... ini adik saya, Jaka," jawab Darto masih dengan wajah waspada.


"Baiklah... Masih terlalu pagi, nak Darto dan nak Jaka. Maaf adanya makanan sisa semalam, ini silahkan di makan, sudah di hangatkan tadi," ucap lelaki tersebut sembari menyodorkan singkong rebus yang masih sedikit hangat.


Darto dan Jaka sedikit takut untuk meraih makanan tersebut, mereka merasa was-was, namun ketika melihat pria tersebut ikut memakannya, Darto dan Jaka langsung membabat habis semuanya.


"Ha ha ha kalian pasti lapar... Bagaimana kalian bisa datang ke tempat ini? Dari mana kalian berasal? Padahal pimpinan kami bilang jika tidak ada manusia lain sejauh apapun kami pergi ke dalam hutan," ucap pria asing dengan wajah penasaran


"Pimpinan? Apa dia yang memakai baju serba hitam?" tanya Darto tanpa menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Benar, Nak Darto... Kalian pernah bertemu? Dia yang melindungi kami semua di sini, dia bahkan memberi kami baju, dan bibit untuk bertani," jawab lelaki itu kembali, "Jadi dari mana kalian datang?" sambungnya lagi.


Darto dan jaka sedikit terkejut dengan penjelasan yang orang itu jabarkan. Jika memang orang yang mengenakan pakai serba hitam itu merupakan pelindung, kenapa dia menyerang Darto dan yang lainnya di dalam kamar?


Namun Darto yang tidak punya pilihan lain harus sedikit berkilah, dia sedikit mengarang cerita dengan berkata, "Kami sedang berjalan dari desa menuju kota, tapi di tengah jalan kita tersesat dan sampai ke sini. Sebenarnya ini di mana Pak... "


"Dakir... Nama saya Dakir, Nak," jawab lelaki itu ketika melihat Darto kebingungan untuk memanggil namanya.


"Baik, Pak Dakir... Sebenarnya ini di mana?" Sambung Darto dibarengi anggukan kepala Jaka.


"Maaf nak, kami juga tidak tahu... Nanti biar kami antar ke pemimpin kami, dia orang yang tahu segalanya," jawab Pak Dakir kembali.


Setelah mengucap kata tersebut, pak Dakir yang tinggal sendiri di dalam rumah tersebut melontarkan berbagai pertanyaan.


Dia selalu terlihat sangat terkagum, ketika mendengar cerita yang Darto dan Jaka lontarkan. Tampak sekali jika dirinya belum pernah melihat dunia luar, karena dia selalu bertanya tentang perbedaan yang dimiliki oleh tempat tinggalnya dan tempat di mana Darto dan Jaka berasal.


Dia tampak terus menerus terkagum, dan juga tampak sekali jika dirinya ingin mengunjungi semua tempat yang sudah Darto juga Jaka ceritakan.


Setelah puas mendengar semua cerita tentang dunia luar yang dilontarkan oleh Darto dan Jaka, lelaki itu mengintip dari jendela.


Setelah memastikan jika matahari sudah cukup tinggi, dia beranjak bangun dari posisi duduknya sembari berkata, "Mari... saya antar kalian bertemu dengan pemimpin."


Darto dan Jaka bergegas menyeruput segelas air yang sudah menganggur begitu lama di hadapan mereka, kemudian bangun dan mengikuti langkah Dakir yang memimpin jalan, untuk menuju tempat yang dia sebutkan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2