ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TIDAK DISANGKA


__ADS_3

Setelah menepis serangan Darto, Lelaki itu menyerang Darto dengan telapak tangannya, dia memukul Daro sekuat tenaga hingga membuat tubuh Darto melayang cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Darah segar mulai mengucur dari sudut bibir Darto, namun dia kembali berdiri dari posisi tersungkur, kemudian mengusap darah yang sudah membasahi dagu, menggunakan telapak tangannya.


Darto kembali berpindah ke arah lawan, kemudian menyerang menggunakan energi miliknya ke arah lengan lawan yang sedang memegangi leher Jaka.


Pedang yang Darto kenakan kali ini lebih tebal dari sebelumnya, dia mengumpulkan sebanyak mungkin energinya, sehingga pedangnya sangat padat dan mampu membelah apapun yang terkena bilahnya.


Musuh yang sedang Darto dan Jaka hadapi sedikit terkejut melihat senjata Darto, dia melepas cengkeraman di leher Jaka, untuk menghindari serangan yang tengah Darto lancarkan.


Jaka seketika ambruk ke atas tanah, tubuhnya terkulai lemas, meski dia masih memiliki kesadaran.


Darto melemparkan satu buah misterius kepada Jaka, dia berharap Jaka langsung pulih, setelah memakan buah pemberian Ki Guntur yang dia bawa di dalam sakunya.


Namun sebelum buah itu sampai ke tangan Jaka, musuhnya berhasil meraih buah tersebut lebih dahulu, dia menghilang bagai kepulan asap, kemudian muncul di tempat dimana buah itu sedang melayang.


"Kenapa kalian punya buah ini?" Ucap Musuh kemudian berpindah ke samping tubuh Darto.


Kali ini dia bertanya dengan wajah murka, sembari mencoba mencekik Darto yang belum sadar akan kehadirannya.


"Berikan buah itu!" Teriak Darto sembari berpindah, dia bisa menghindari cekikan lawan, yang hampir saja berhasil meraih lehernya.


Setelah mengucap kata tersebut, Darto kembali berpindah sembari mengayunkan pedang miliknya. Dia terus menebas musuhnya, yang kini juga memakai pedang energi untuk menangkis tebasan Darto.


Pedang energi di tangan musuhnya terlihat begitu sama dengan energi milik Jaka, warnanya merah menyala, dan kepadatannya tidak kalah dengan pedang milik Darto.


Melihat warna pedang milik musuhnya, Jaka sempat memicingkan matanya, sebelum akhirnya dia berteriak, "Berhenti!"


Jaka berteriak selantang yang dia bisa, hingga dua pria yang sedang bertarung langsung menghentikan aksinya secara bersamaan.


"Kang! Dia leluhur kita!" Jaka masih berusaha berteriak, meski sudah sangat lemas.


Mendengar hal tersebut, kedua mata Darto seketika membulat. Dia tidak menyangka akan mendengar satu kalimat yang sangat mengejutkan, dari bibir teman yang sedang terkapar.


Darto mencoba menoleh kepada musuhnya yang baru saja hilang dan berpindah ke arah Jaka. Dia menunduk sembari menatap Jaka, kemudian membuka suara, "Apa maksudmu manusia?!"

__ADS_1


"E... Eyang Amerta, Kan?" tanya Jaka terbata.


Darto dan musuhnya benar-benar membulatkan mata secara bersamaan, mereka sama-sama terkejut, dengan apa yang Jaka ucapkan.


"Dari mana kalian dengar namaku?" tanya Amerta sedikit mengendurkan wajah garangnya.


"Eyang Semar... Maaf, kalau saja aku tahu itu Eyang," ucap Jaka kembali.


"Tapi kalian pikir aku akan diam saja setelah semua yang kalian lakukan?" Amerta kembali mencekik Jaka, namun kali ini Jaka mencoba memegangi lengan Amerta untuk mencegahnya.


Energi milik Amerta benar-benar terhisap, hanya dalam beberapa detik saja Jaka kembali bugar karena mendapat asupan energi dari musuhnya.


Amarta cukup terkejut, dia menarik lengannya dengan wajah kebingungan, kemudian duduk di samping Jaka yang sudah mulai memasang posisi duduk.


Setelah Jaka duduk secara sempurna, Amerta kembali melemparkan sebuah pertanyaan, "Apa cerita yang sudah kalian lihat? Bagaimana kalian menyebut bahwa kalian penerusku?"


Jaka tidak menjawab, dia malah menoleh ke arah Darto, untuk meminta agar Darto mulai menjelaskan.


Darto mengangguk, dia menyodorkan tangannya, untuk menunjukkan cincin yang sedang melingkar pada salah satu jarinya.


"Ha ha ha ha! Jangan bilang kalau kalian juga dapat kepercayaan dari Brahmana dan Guntur? Dia lelaki yang susah diajak bicara!" Amerta terbahak, dia berbicara sembari menunjukkan buah ajaib yang tadi sempat dia rebut dayei Jaka.


"Benar, Eyang... Teman-temanku masih ada di sana semua," jawab Jaka menyela perbincangan.


"Apa aku bisa bertemu dengan adikku?" Amerta kembali membuka suara.


"Bisa... Tapi ada syaratnya," Darto menjawab dengan senyum yang mengambang.


"Apa?" tanya Amerta singkat.


"Biarkan kami lewat," Darto meminta dengan tatapan yang sangat tulus.


"Kalian pasti kalah kalau melawan dia, semakin banyak kawan yang kalian bawa, dia akan menjadi semakin kuat," ucap Amerta dengan wajah sangat serius, "Tapi setelah melihat kemampuan tubuh anak ini, mungkin aku tahu apa yang Guntur rencanakan," sambungnya lagi sembari mengembalikan buah di tangannya kepada Darto.


Darto menangkap dengan sempurna buah yang dilempar oleh Amerta, dia mengantongi buah tersebut, karena Jaka sudah terlihat bugar setelah menyerap energi milik Amerta.

__ADS_1


Setelah melihat Darto selesai mengantongi buah tersebut, Amerta kembali membuka suaranya, "Aku ikut kalian."


Darto dan Jaka kembali membulatkan mata, mereka tidak percaya jika akan mendapat sebuah bantuan besar lagi, yang mereka temui di ujian terakhir yang menghalangi usahanya.


Dengan senyum yang begitu tulus, Darto memanggil nama Amerta sembari mengalirkan energi menuju cincinnya. Amerta mulai memudar, kemudian masuk kedalam cincin yang tengah Darto kenakan.


Melihat kamar nomor satu sudah kosong, Darto dan Jaka memutuskan untuk kembali menemui Ki Guntur. Mereka berlari secara tergesa kemudian kembali membuka pintu kamar nomor dua setelah berhasil keluar.


Darto sempat menoleh ke arah singgasana yang terletak tidak jauh dari pintu nomor satu, namun kali ini dia menatap dengan sebuah senyuman yang menggambarkan secercah harapan.


Darto tidak lagi sendiri, dia bahkan ditemani oleh sekumpulan orang hebat, yang sebentar lagi akan membuat sebuah rencana.


Darto dan Jaka kembali berlari dengan begitu cepat ketika masuk ke dalam pintu nomor dua. Mereka melompat dari dahan ke dahan, menyusuri tempat yang masih mereka ingat dengan jelas.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah Ki Guntur, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah, dan menyaksikan semua teman yang sedang menunggu kedatangannya.


"Bagaimana? Kalian bisa mengalahkan dia?" tanya Ki Guntur penasaran.


"Tidak... Kami tidak perlu mengalahkan dia," jawab Darto dengan senyum yang mengambang.


Sesaat Darto kembali mengangkat lengannya, dia memanggil semua mahluk yang sedang bersembunyi di dalam cincinnya, hingga membuat Ki Guntur begitu terkejut setelah ya.


"Mereka keluarga kami, Ki," sambung Darto setelah Kanti, Abirama, Brahmana, dan Amerta keluar dari dalam cincin secara bersamaan.


Tubuh ki Guntur seketika gemetar, dia tidak menyangka jika penghuni kamar pertama yang selalu menjadi saingannya bisa diajak bekerja sama, oleh dua manusia yang masih begitu muda.


Belum lagi tiga mahluk selain Amerta juga tidak bisa dianggap lemah. Kanti dan Abirama diberi kamar nomor belakang karena mereka selalu menentang, meski sebenarnya kekuatan mereka setara dengan Brahmana.


Setelah cukup lama melihat Ki Guntur tertegun, Amerta membuyarkan keheningan yang sedang tersaji dengan berkata, "Aku tahu rencana yang kamu pikirkan, Guntur. Mungkin itu bisa berhasil, jika mereka berdua yang melakukannya."


Mendengar kata tersebut. Sepuluh pasang mata yang sedang menatap Amerta, mulai memancarkan tatapan yang begitu tajam. Mereka saling menunggu kata kelanjutannya, untuk rencana yang mungkin akan mengakhiri sebuah perjalanan panjang dua manusia muda.


Hari ini Amerta menjabarkan semua yang dirinya ketahui, baik dari kelemahan musuh terakhirnya, hingga bagaimana cara agar Darto dan Jaka memiliki sebuah peluang untuk mengalahkannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2