ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MALAM KE 5


__ADS_3

"Mbah, Darto tidur dulu ya Mbah, Si Mbah belum ngantuk?" tanyaku kepada Simbah Kakung yang tengah duduk bersila sembari terus berdzikir dan memainkan tasbih di tangan kananya itu.


"Iya Dar, kamu tidur dulu, Kakung belum ngantuk," ucapnya singkat kemudian melanjutkan dzikirnya.


Mendengar itu, aku langsung membalut tubuhku dengan sarung, kemudian duduk bersandar di batang pohon di dekat api. Perlahan pandanganku mulai kabur, hingga tiba mataku sepenuhnya terpejam, kembali jiwaku terbawa ke dalam alam gelap itu.


"Nak.." suara laki-laki dari tengah kegelapan menggema begitu nyaring menembus kesunyian.


"Siapa?" suaraku teriak di dalam kegelapan, kali ini aku bisa mendengar suaraku sendiri berbeda dari saat yang lain.


Pertanyaan dariku tidak pendapat jawaban, hanya saja tiba-tiba muncul setitik cahaya dari kejauhan. Cahaya itu seakan mendekat, cahaya itu berangsur membesar dan terus membesar hingga terlihat bentuknya seperti manusia ketika berada tepat di hadapanku.


Samar terlihat lelaki tua yang tengah berjalan membungkuk dengan punuk di punggungnya. Jenggot putih miliknya panjang sekali hingga menyentuh tanah. Tangan kanannya membawa sebuah tongkat, ia gunakan untuk tambahan pijakan saat berjalan. Tongkatnya terbuat dari ranting yang aneh, dengan ujung atas berbentuk seperti kepala ular.


"Oh Aku tau siapa kamu, kamu pasti adiknya si Darmin ya?" suara laki-laki tua itu begitu menggema hingga telingaku mendengung.


"Bisakah Kakek pelankan suara Kakek?" jawabku sembari menutup kedua telinga.


"Ahahahahaha Kakak sama Adik sama saja, di mana Kakakmu nak?" tanya lelaki tua itu dengan nada yang sudah terdengar pelan.


"Namaku Darto kek, Darmin bukan Kakakku, tapi Bapakku, dan Bapak sudah lama meninggal. Sebenarnya siapa Kakek?" jawabku sembari meniup lubang di antara telapak tangan yang tengah mengepal, dilanjut menempelkan kepalan tangan itu ke telinga untuk menghilangkan suara dengung.


"Apa! Apa benar sudah selama itu aku di abaikan sama dia? Berapa umurmu, Nak? Dan bagaimana Bapakmu meninggal? Kamu tidak perlu tau namaku Nak, karena namaku juga banyak sekali. Setiap orang yang membawa batu ini selalu memberikan nama baru, aku lebih nyaman dipanggil kakek olehmu Nak"


"Baik Kek. Bapak meninggal ketika aku berusia empat tahun Kek, dan sekarang Aku sudah berumur 15 tahun, aku tidak tau jelasnya, tapi kedua Si Mbahku berkata jika Bapak meninggal setelah bertarung dengan pemilik rawa lumpur"


"Bapakmu Kalah sama buto ireng?"


"Buto ireng? Itukah nama si pemilik rawa kek?"


"Iya nak, Dia memang kuat, karena sudah makan tumbal bahkan sejak masih ada kerajaan di tanah sini,"


"Apa Kakek kenal sama Buto Ireng itu?


"Hahaha Aku bahkan sudah tua, ketika dia lahir, aku benar-benar ingin melihat seperti apa dia sekarang. Nak, hati-hati pocong merah terus ikutin kamu sedari kalian keluar desa!" ucap Kakek itu dengan wajah serius

__ADS_1


"Pocong merah? Apa dia dekat kek?"


"Yah enggak mungkin si dia mendekat selama ada pria putih itu di sampingmu"


"Boleh Darto tanya sesuatu Kek?"


"Silahkan mumpung kita masih disini, sebentar lagi laki-laki tua serba putih itu juga bakalan bangunin kamu, karena di luar hampir masuk sepertiga malam," nadanya ketus, sepertinya penunggu batu ini tidak menyukai Simbah Kakung.


"Kenapa dulu Kakek ikut Bapak?" tanyaku penasaran.


"Kalian mungkin tidak tau siapa aku, tapi aku tau siapa leluhur sedarah kalian. Yang jelas, bahkan raja manusia dan raja jin pun harus membungkuk jika bertemu dengan Leluhurmu,"


"Apa seistimewa itu Kek? Lalu apa tujuan Kakek?"


"Aku cuma mau ikut saja, aku pengen lihat pertumbuhan keturunan temanku, tapi si Aki-Aki serba putih itu menghalangiku untuk ikut bersama Bapakmu. Tapi yah untungnya aku bisa ketemu lagi sama Anaknya, di tambah di bandingkan dengan Bapakmu auramu lebih mirip dengan aura yang temanku punya selama dia masih hidup, mungkin kamu orang yang selama ini aku tunggu, Nak!"


"Lalu? Kenapa Kakek membuat seisi pesantren kesurupan padahal katanya cuma mau lihat pertumbuhan bapakku?"


"Setelah bapakmu memungut batu ini atas bisikan dariku, Aku senang sekali bisa melihat manusia lagi. Mungkin sudah ratusan tahun aku terkurung di dalam batu, di tengah hutan belantara sebelum bertemu ayahmu, ya bisa di bilang aku cuma usil Nak hehehe,"


"Sudahlah Nak, Masih banyak waktu yang kita punya, kembalilah, waktu disini dan di sana berbeda, jangan terlalu lama masuk ke alam ini. kalau begitu Kakek pergi dulu nak, jaga dirimu. Assalamualaikum," ucapnya sembari meninggalkan diriku dan kembali menghilang.


"Deg.. deg..!" suara jantungku berdegup cukup cepat, baru kali ini aku mendengar sosok mahluk halus mengucap salam.


'Apakah dia muslim? apakah dia tidak jahat?' gumamku dalam hati.


"Wa-Wa'alaikumsalam," jawabku masih terbata.


Setelah kesadaran mulai kembali, lirih kudengar suara Kakung memanggil namaku.


"Dar.. Darto, Ayo kita sahur."


"Njih Mbah Kakung?!" jawabku sembari mengerjap mata karena masih belum begitu sadar setelah tertidur.


"Sudah ketemu?"

__ADS_1


"Apanya Kung?"


"Aki-Aki yang tinggal di batu itu," jawab Kakung sembari menunjuk gantungan kalung yang aku kenakan


"Oh.. Sudah Kung, Dia banyak cerita, dan katanya dia teman dari leluhur, Kung,"


"Pantas... Dia minta syarat atau apapun nggak Dar?"


"Mboten Kung, dia cuma bilang mau ikut, dan dia juga mengucap salam, apa dia muslim ya Kung?"


"Baguslah kalo tidak minta syarat, dan bagus juga kalau dia muslim. Jadi nanti enggak perlu repot nyuruh dia mengucap syahadat. Semoga dia enggak lagi kaya waktu dulu, yang tiba-tiba jingkrak-jingkrak sambil teriak 'aku bebas aku bebas' terus menerus, sampai-sampai seisi pesantren kesenggol dan kesurupan"


"Oh jadi gara-gara dia jingkrak-jingkrak ya Kung sampai seisi pesantren kesurupan? Hahaha!"


"Iya Dar emang aneh itu aki-aki di dalam situ, mungkin saking lamanya dia sendiri,"


***


Sahur, sholat subuh, bersiap sudah selesai kita lakukan, dilanjutkan kembali perjalanan kami membelah antah berantah. Sekarang kita sudah masuk ke dalam hutan yang sangat lebat, bahkan cahaya matahari tidak di perbolehkan masuk oleh daun yang berkerumun di atas kepala kami. hingga membuat siang hari terasa seperti pagi buta ketika matahari belum sepenuhnya tampak.


Terus berjalan, kami berdua hanya beristirahat ketika hendak melakukan sholat ataupun beristirahat tidur di malam hari. tak terasa sudah lima hari kita berjalan terus menerus membelah hutan belantara tanpa bertemu satupun manusia.


Rasa kantuk dan lelah tergambar jelas dari kantung mata Kakung yang sudah menghitam, aku tau dia tidak tidur sedari awal kita melakukan perjalanan, entah karena menjagaku, atau memang dia sudah biasa tidak tidur dalam perjalanan aku benar-benar tidak tau.


"Dar, kita istirahat disini ya, Kakung capek,"


"Njih Kung, biar Darto yang cari kayu bakar, Kakung istirahat dulu saja,"


Sembari mencari kayu kulihat jemari keriput itu terus bertasbih dengan tubuh yang ia sandarkan ke batang pohon besar di belakangnya. Matanya berkedip pelan seakan berat sekali untuk terus menjaganya tetap terbuka. Bagaimana tidak mengantuk? hari sudah malam, empat malam dia tidak tidur, dan melakukan perjalanan ketika berpuasa di usia yang tidak muda lagi. Dia sungguh sosok yang kuat melebihi apa yang ada dalam gambaranku.


"Dar, Kakung tidur sebentar ya, kalau ada apa-apa bangunkan saja," ucapnya kemudian kembali menyandarkan tubuhnya ke pohon itu. dengan mata merah yang terlihat sangat lelah.


"Njih Kung," ucapku menyanggupi permintaanya. Padahal aku tidak tau kenapa simbah terus terjaga hingga empat malam.


Dan benar saja, baru terlelap berapa detik, baru juga Kakung berhenti berdzikir. Seketika itu juga suara riuh ramai seperti pasar tiba-tiba terdengar dari berbagai penjuru, seakan mereka menunggu kesempatan, kesempatan untuk menghampiri ketika lantunan Dzikir terhenti.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2