
Matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, pagi sudah menyapa. Darto, Harti serta dua teman juga dua Si Mbahnya tengah berjalan beriringan menuju Langgar, tempat mobi Mbah Kung terparkir. Mereka membawa tas besar di tangan mereka, tas yang berisi sebagian besar pakaian, bekal dan benda-benda yang sering mereka gunakan setiap harinya.
"Ini saya duduk dimana, Mat?" Tanya Si Mbah singkat, setelah melihat Darto, Bidin dan Surip yang sudah duduk di belakang, dan kursi penumpang depan sudah di gunakan Harti.
"Kamu duduk di atas saja Min, biar jaga jerigen bensin sekalian, ha ha ha ha!" jawab Kakung singkat sembari terus tertawa.
"Aku saja yang nyetir sini Mat, kamu saya masukin bagasi!" ketus Si Mbah kemudian menyerobot kursi kemudi.
"Yasudah kebetulan sekali kamu mau nyetir, Min. Biar saya duduk sama Harti," ucap Kakung kemudian bergeser dan sedikit melompat agar pakaian yang ia kenakan tidak tersangkut panel persneling.
"Nah gitu dong, kan saya paling enak duduknya, he he he," ucap Si Mbah kemudian menyalakan mesin dan menginjak pedal gas perlahan.
Perjalanan pun di lakukan, Darto sempat terheran melihat Si Mbah Turahmin bisa mengendarai mobil, karena itu kali pertama Darto melihatnya.
"Si Mbah latihan nyetir dimana?" tanya Darto sedikit memajukan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Si Mbah yang tengah menyetir.
"Di pesantren dulu, Dar. Pakai mobil milik orang tua Kakung," Jawab Si Mbah singkat, kemudian kembali fokus melihat lintasan yang di penuhi batu di depannya.
Mendengar jawaban itu, Darto hanya mengangguk, dan meminta Kakung untuk mengajarinya menyetir. Raut wajah gembira tergambar di wajah Darto ketika Kakung menyanggupi permintaanya, dia benar-benar tidak sabar untuk segera sampai pesantren dan berlatih menyetir.
Perjalanan berlangsung lancar, mereka sudah tiba di kota terdekat dari kampung kemoceng. Si Mbah dan kakung sempat mencari-cari penjual bensin hingga berkeliling kota kecil tersebut, sayangnya mereka hanya menemukan satu penjual bensin eceran, itupun hanya berhasil mendapat enam botol bensin literan. Kata sang penjual, dia hanya pergi seminggu sekali ke kota sebelah untuk membeli bensin di sana. Wajar saja, pemilik kendaraan bermotor masih bisa di hitung dengan jari satu tangan.
"Ini cukup nggak ya Mat, buat ngelewatin hutan?" tanya Si Mbah sembari memperhatikan Speedo meter, jarum penunjuk bensin menunjukkan hanya berisi setengah tanki lebih seperempat.
"Kalau sudah lewat hutan si ada pom nanti Min, tapi cukup nggak ya kalau cuma segini," jawab Kakung sembari memiringkan badannya agar bisa melihat speedo.
"Jerigen kosong Mat?" tanya Si Mbah kembali.
__ADS_1
"Kosong, Min, kemaren habis saya isikan di tengah hutan. Sudah yuk bismillah saja, kayaknya cukup," paksa Kakung.
Mendengar ajakan Kakung, Simbah bergegas mengarahkan kendaraan itu menuju jalan yang mengarah ke hutan belantara. Satu-satunya jalan yang tersedia untuk mengarah ke kota selanjutnya.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu begitu saja, waktu sudah menunjukkan waktu dzuhur di jam tangan yang Kakung kenakan. Mereka memutuskan beristirahat dan menggelar tikar pandan di tanah lapang bahu jalan.
Setelah mereka selesai berwudhu di anakan kali dekat jalan, mereka berjamaah di bahu jalan tersebut, kemudian memutuskan untuk beristirahat mengisi perut mereka di tempat yang sama, hingga tak terasa sudah lewat satu setengah jam mereka beristirahat. Dikarenakan takut terlalu sore Kakung bergegas mengajak semua orang untuk kembali ke dalam Mobilnya.
Kali ini Kakung yang menyetir, Sedangkan Si Mbah duduk dengan Harti di depan. waktu berlalu begitu saja, sudah hampir dua jam mereka melesat dengan hati-hati di atas jalan bebatuan berlumut. Kakung benar-benar ekstra hati-hati memilah jalan gang hendak rodanya tapaki, mereka sudah masuk di kedalaman hutan yang sangat jauh.
"Kok enggak sampai-sampai di kota, Mat," tanya Si Mbah penasaran.
"Butuh hampir delapan jam, Min. Pas aku lewat sini terakhir kali," jelas Kakung.
"Nggak bisa di cepetin lagi Mat?" tanya Si Mbah kembali.
"Enggak deh, Mat. Jalannya udah kaya muka kamu, sudah hancur, berlumut lagi ha ha ha ha," Si Mbah terbahak.
Tidak menanggapi ledekan Si Mbah, Kakung hanya menggerutu pelan sembari terus fokus menatap jalanan, dan tidak lama setelah itu, setelah melihat tempat lapang, mereka memutuskan untuk kembali beristirahat sekedar menunaikan shalat ashar.
Singkat cerita Shalat Ashar sudah selesai mereka tunaikan di tepi jalan, kembali bergegas mereka masuk ke dalam mobil Kakung, dan perjalanan kembali dilakukan.
Sayang sekali, apa yang Si Mbah takuti benar-benar terjadi. Baru berjalan sekitar lima belas menit, mesin mobil tidak mau di nyalakan kembali setelah tiba-tiba mati.
"Bensinnya habis, Min. Sudah sore lagi," ucap Kakung sembari melihat jam tangannya.
Mendengar perkataan Kakung semua orang sontak langsung dirundung kebingungan, berjam-jam mereka berjalan di hutan, mereka hanya bertemu dengan satu kendaraan saja, sedangkan pemukiman juga tidak ada.
__ADS_1
"Kita tunggu mobil lewat dulu, kita beli bensin di tankinya," ucap Si Mbah.
Kembali suasana panik sedikit terburai setelah ucapan itu keluar dari bibir Si Mbah. Mereka kembali menggelar tikar pandan di dekat mobil, sekedar meluruskan punggung yang sudah mulai pegal karena terus duduk, sembari memasang telinga agar mendengar suara deru mesin mobil jika ada yang lewat.
Waktu terus berlalu. Wajah penuh harapan mereka mulai berubah menjadi wajah kebingungan kembali. Setelah langit sudah benar-benar menggelap namun tidak ada satupun kendaraan yang melintas di jalan tersebut.
"Kira-kira masih jauh nggak Mat?" tanya Si Mbah singkat.
"Sekitar dua sampai tiga jam kalau pakai mobil, Min," Kakung menerka sembari mendongak setelah mengingat waktu yang sudah mereka lewati saat menyibak hutan.
"Jarang Mat yang bawa mobil lewat sini, kalau sampai besok tidak ketemu kendaraan gimana Mat? " ucapan Si Mbah semakin memperkeruh suasana.
Mendengar pertanyaan itu Kakung hanya menggeleng sebagai isyarat tidak tahu.
"Yasudah saya jalan aja bawa jerigen, nanti saya bawa bensin kesini naik ojek kalau ada," ucap Si Mbah memberi solusi.
Mendengar solusi tersebut, Darto berdiri dan menawarkan diri untuk ikut serta.
"Mbah Min disini saja, Biar aku sama Bidin yang temani Gus Darto," ucap Surip disambut anggukan kepala Bidin, mereka tidak tega melihat lelaki tua hendak membawa jerigen dan berjalan jauh.
Setelah mendengar tawaran Surip, Si Mbah mengangguk, kemudian membiarkan tiga lelaki muda itu berjalan menjauh dari mobilnya. Meninggalkan Harti bersama Kakung dan Simbah di dalamnya.
Tampak tiga lelaki berjalan beriringan sembari menenteng jerigen kosong yang mereka raih dari atas mobil itu. Semakin jauh punggung mereka semakin tak terlihat. Tertutup gelapnya malam yang sunyi di dalam hutan belantara.
Bersambung.
...jangan lupa dukungannya 😊...
__ADS_1