ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TEMPAT MENGEJUTKAN


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada serangan lagi dari puluhan sosok manusia tanpa kulit, Darto dan Jaka terus melangkahkan kaki mereka menuju sumber arus sungai darah. Mereka berjalan hingga berjam-jam lamanya, namun sumber aliran sungai tersebut sama sekali belum tertangkap oleh mata.


Sungai tersebut benar-benar tampak begitu panjang, namun yang pasti semakin jauh kaki Darto dan Jaka melangkah, semakin sempit juga ukuran sungai yang terpampang di depan wajah mereka.


Sayangnya, harapan besar dari Darto dan Jaka untuk segera melihat sumber aliran tersebut harus ditunda secara paksa. Mereka benar-benar tidak bisa menemukan tempat tujuan tersebut secepat rencananya, mengingat kondisi hutan di depannya sudah mulai menggelap secara merata.


"Jak ... kita istirahat saja dulu di sini, siapa tahu Maung dan Komang nanti sudah berhasil menyusul kita," usul Darto sembari menghentikan langkah kakinya. Dia berhenti di satu tempat yang lapang kemudian menyandarkan punggung lelahnya kepada batang pohon di dekatnya.


"Baik, Kang. Kita makan dulu yuk, Kang," sahut Jaka kemudian membuka buntalan yang dia bawa.


Mendengar ajakan itu, Darto langsung ikut membuka buntalan miliknya, mereka mengeluarkan sisa daging rusa yang sempat mereka makan sebelumnya kemudian melahapnya setengah bagian tanpa berfikir lama.


Setelah satu hari berkeliling di antah-berantah, tenaga dua pemuda itu benar-benar terkuras habis, mereka berdua benar-benar langsung memejamkan mata, setelah selesai melahap sisa daging yang mereka bawa.


Detik demi detik terus berlalu di tempat tersebut, Darto dan Jaka benar-benar terlelap tanpa memperdulikan bahaya yang ada di sekitarnya. Mereka hanyut dalam rasa lelahnya, hingga tanpa mereka sadari Maung dan Komang sudah berhasil menyusul mereka.


"Bahaya jika yang datang bukan kita, Mang!" ucap Maung setelah melihat dua pemuda di depannya tengah terlelap begitu pulas.


"Bisa celaka kalau yang datang mahluk lain," sahut Komang sembari menggelengkan kepala miliknya, "Tapi syukurlah ... karena tidak terjadi apa-apa dengan mereka," sambung Komang dengan wajah yang begitu lega.


Setelah mengucap gerutu demi gerutu, Maung dan Komang yang juga merasa lelah langsung berbaring di dekat Darto dan Jaka. Mereka memasang wujud binatangnya, kemudian meringkuk di sebelah kedua temannya.


Malam itu mereka berempat tidur bersama, dalam keadaan aman dan tanpa gangguan sama sekali, bahkan hingga pagi kembali menyapa.


Darto dan Jaka sangat senang ketika melihat Komang dan maung sudah baik-baik saja. Mereka membangunkan dua binatang itu secara tergesa, dengan wajah berbinar karena merasa bahagia.


"Komang! Maung! Bangun!" teriak darto sembari menggoyang tubuh dua binatang di depannya.

__ADS_1


Mendapat goncangan yang cukup keras, Maung dan Komang langsung terperanjat dari tidurnya. Mereka mengerjap dan menguap untuk sesaat, kemudian menatap Darto dan Jaka dengan mata sembab.


"Kita lanjut lagi?" tanya Maung dengan wajah malas dilanjut menguap.


"Nggak, kita pulang sekarang," sahut Jaka sembari meniru wajah Maung yang sangat malas, kemudian Jaka pura-pura menguap untuk melengkapi ejekannya. Wajah Jaka benar-benar terlihat jelek, hingga Darto dan Komang langsung terbahak setelah menyaksikannya.


Sesaat setelah gelak tawa terpecah. Mereka kembali mengisi tenaga menggunakan semua bekal yang tersisa, sebelum akhirnya Maung dan Komang mempersilahkan dua pemuda itu naik ke punggungnya, dan melesat mengikuti arus sungai yang tampak tidak memiliki ujung sama sekali.


Masih butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke tempat tujuannya, meski mereka berempat melesat dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata. Tempat tujuan Darto dan Jaka benar-benar sangat jauh, hingga membuat Komang dan Maung sedikit terengah-engah ketika berlari.


Setelah cukup lama, akhirnya tempat yang menjadi tujuan awal tersebut tampak di depan mata mereka. Sebuah tempat yang jauh dari perkiraan Darto dan Jaka , dengan pemandangan yang melebihi imajinasi mereka.


Sungai besar yang mengalir sangat jauh membelah tempat ini ternyata bermula dari sebuah bangunan. Air itu mengucur dari bangunan yang seutuhnya terbuat dari batu, dengan bentuk segitiga dan memiliki satu lubang di tengahnya. Dari lubang tersebut lah air itu berasal, darah tersebut seakan diproduksi masal di dalam bangunan raksasa di depan mereka.


"Sekarang kita ke mana lagi, Dar?" tanya Maung setelah berhenti berlari.


Mendengar ucapan Darto, Maung dan Komang kembali saling menatap untuk sejenak, kemudian mereka saling mengangguk, dan dilanjut melesat menuju tempat yang ditunjukkan oleh Darto.


Semakin dekat tubuh mereka dengan bangunan itu, semakin tampak lebih besar juga ukurannya. Bangunan tersebut bahkan bisa disebut sebuah bukit, mengingat ukurannya jauh sekali dari kata wajar.


Maung dan Komang terus berlari untuk mendaki bangunan itu tanpa istirahat. Mereka terus berlari membawa dua pemuda di punggungnya, hingga tiba saatnya mereka benar-benar sampai di puncak dari bangunan tersebut.


"Apa itu, Kang?!" tanya Jaka dengan nada sedikit tinggi, dia sangat terkejut setelah melihat satu pemandangan mengejutkan yang terpampang di bawahnya.


"Aku yakin jika itu rumah iblis biadab itu," sahut Darto sembari memandang tempat yang tengah Jaka perhatikan.


Bukan hanya Darto dan Jaka yang terkejut kala itu. Maung dan komang pun ikut terperangah dengan apa yang sudah mata mereka saksikan, karena pemandangan yang terpampang di sana merupakan satu keanehan yang bahkan terasa janggal bagi para penduduk sebelah.

__ADS_1


Yang terpampang di bawah mereka tidak lain adalah bangunan demi bangunan yang berdiri berkerumun sepanjang mata memandang, dengan satu bangunan ya luar biasa besar di tengahnya. Model rumah yang tertata di sana benar-benar tampak aneh, dengan warna putih yang memenuhi sisi hutan merah di depan matanya.


Karena sangat penasaran dengan apa yang ada di sana, Darto langsung mengajak Maung, Komang dan Jaka untuk bergegas ke tempat tersebut. Mereka kembali berlari dengan kecepatan gila, meski mereka baru saja beristirahat untuk beberapa detik saja.


Sekilas jika dilihat dari jauh bangunan tersebut hanya tampak seperti bangunan yang dibuat asal-asalan. Namun ketika Darto dan Jaka sudah sampai di tempat tersebut, mereka langsung membulatkan mata secara sempurna.


Bangunan yang berdiri rapi di sepanjang mata memandang ternyata terbentuk dari tumpukan tulang belulang manusia dan binatang. Mereka menata tulang-tulang tersebut sedemikian rupa, hingga memiliki bentuk setengah lingkaran yang menelungkup ke bawah dengan sepasang tanduk yang terpasang di atap rumahnya.


Jika disaksikan dari dekat, bangunan itu benar-benar terlihat seperti barisan tempurung tulang, yang memiliki tanduk di atasnya. Mereka berbaris begitu rapi, dengan satu jalan setapak yang terbuka lebar menuju bangunan paling besar di tengahnya.


Untuk sesaat Darto, Jaka, Maung dan Komang tidak bisa melepas rasa heran dari dalam hatinya. Mereka terus menerus tertegun hingga tidak bergeming di buatnya.


Dari banyaknya tulang belulang yang mereka lihat saat ini, mereka tidak bisa membayangkan seberapa banyak jumlah mayat yang sudah mereka jadikan bahan untuk membangun rumah mereka.


Hati Darto dan Jaka seketika teriris, ketika mereka bisa memastikan jika tulang manusia memiliki jumlah yang lebih banyak, dibanding tulang binatang yang tergeletak. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana cara dirinya mengumpulkan benda itu, dan bagaimana cara dirinya membawa ke rumahnya.


Melihat Darto dan Jaka tersulut emosi dan mulai mencoba menerjang masuk, Maung dan Komang langsung menghentikan aksi brutal dari kedua temannya. Mereka sudah merasakan jika saat ini mereka tengah diawasi, hingga Maung dan Komang harus menghentikan paksa, tindakan gegabah yang akan dua temannya lakukan.


"Sabar, Darto! Jaka! Jangan terjebak dengan tipu dayanya!" teriak Maung mencoba menyadarkan dua teman yang sudah memerah wajahnya. Darto dan Jaka benar-benar tampak murka, setelah melihat tumpukan tulang belulang di depannya.


"Maaf ...." gumam Maung pelan kemudian memukul tengkuk leher dua pemuda di depannya.


Hanya dengan satu gerakan, Darto dan Jaka yang tengah tersulut emosi berhasil dibuat tidak sadarkan diri oleh Maung, dan setelah mereka berdua terkulai lemas, Maung dan Komang langsung membawa tubuh mereka kembali ke bangunan segitiga. Mereka kembali berlari sembari membawa dua pemuda itu menggunakan rahangnya, sebelum akhirnya mereka tiba di tempat tujuannya.


Saat itu, jika Maung dan Komang tidak menghentikan dua pemuda tersebut, bisa dipastikan jika Darto dan Jaka tidak akan bisa keluar dari tempat tersebut. Barisan tulang yang membentuk rumah di sana tidaklah kosong, setiap bangunan kecil yang berdiri di sana benar-benar berisi lebih dari sepuluh sosok yang tengah menunggu.


Untung saja Maung bisa menghentikan mereka, Jika Darto dan Jaka tadi langsung menerjang, itu sama saja mereka melompat ke tengah perangkap, yang sudah disiapkan secara matang oleh ribuan musuhnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2