ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MENYAMPAIKAN KEBENARAN


__ADS_3

Jaka melakukan itu bukan tanpa rencana. Dia merasa tidak bisa memberikan bantuan sedikitpun dari senjata miliknya, mengingat tombak di tangannya sama sekali tidak memberikan luka pada punggung Ki Gandar.


Hanya serangan dari pedang Darto saja yang berhasil melukai Ki Gandar, karena energi yang digunakan oleh Jaka sama persis dengan energi yang dimiliki oleh Ki Gandar. Jadi, serangan dari senjata milik Jaka benar-benar tidak memberikan dampak pada tubuh lawannya.


Meski sebenarnya Darto sangat khawatir, dia tidak bisa menghentikan Jaka sama sekali, karena memang hanya itu kesempatan yang mereka punya. Jika Jaka tidak maju untuk menyerap hawa panas yang terpancar dari Ki Gandar, maka mereka sama sekali tidak bisa memberi satu pun serangan kedepannya.


Dalam rasa khawatir tersebut, Darto kembali menciptakan panah di tangannya, kemudian menarik sekencang mungkin dan membidik Ki Gandar yang kini tengah meraung di depan Jaka.


Setelah sampai di depan Ki Gandar, Jaka langsung melompat dan mendekap tubuh Ki Gandar yang tengah berkobar. Dia mendekap dari arah belakang, hingga tubuhnya menggelantung selayaknya digendong di punggung Ki Gandar.


Tubuh Jaka benar-benar langsung berubah menjadi merah, dia menerima ledakan energi yang terpancar dari Ki Gandar secara langsung, hingga tubuhnya benar-benar terasa terbakar saat itu juga.


Darto benar-benar merasa kasihan melihat Jaka yang terus menggelantung di pundak Ki Gandar, dia khawatir karena Jaka terlihat sangat kesakitan setelah mencoba menyerap energi milik Ki Gandar dalam beberapa detik saja.


"Sekarang, Kang!" teriak Jaka setelah dia merasa tidak sanggup lagi menyedot energi lawannya. Dia berangsur melepas dekapannya, kemudian berguling menggeliat di atas tanah menahan rasa panas yang tengah membakar setiap tubuh serta organ dalamnya.


Mendengar kata itu, Darto langsung melepas anak panah yang sedari tadi dirinya tahan. Dalam satu kedipan mata ledakan besar langsung terdengar dari arah tempat Ki Gandar berdiri. Serangan Darto kali ini berhasil mengenai tubuh lawannya, hingga Jaka yang tengah berguling di bawah kaki Ki Gandar pun seketika terpental karena terkena gelombang ledakan dari dua energi yang bertabrakan.


Melihat Jaka terpental, Darto berpindah menuju arah dimana tubuh temannya itu akan mendarat. Dalam satu kedipan mata saja, Darto berhasil menangkap tubuh Jaka sebelum tubuh tersebut jatuh ke atas tanah.


Setelah menangkap Jaka, Darto kembali berpindah ke arah Maung dan Komang. Darto langsung menurunkan tubuh Jaka, dan melihat kondisi lengan miliknya sendiri.


Lengan Darto benar-benar meremang. Kulitnya berubah menjadi merah, hanya karena beberapa detik saja memegangi tubuh Jaka. Darto benar-benar khawatir setelah merasakan sendiri suhu badan Jaka, hingga dia meminta Jaka untuk tidak melakukan hal tersebut lagi.


"Sekarang kamu fokus saja memakan energi itu, Jak. Biar aku urus sisanya," pinta Darto sembari menatap iba ke arah Jaka.


"Maaf, Kang. Lagi-lagi aku hanya menjadi beban," sahut Jaka sembari menunduk.


"Kata siapa? Coba lihat itu, dia menerima serangan panahku karena bantuan dari kamu," jawab Darto sembari menunjuk ke arah Ki Gandar.


Ki Gandar benar-benar terluka sangat parah, dada miliknya sepenuhnya berlubang, setelah menerima serangan anak panah yang Darto lepaskan.

__ADS_1


Melihat Ki Gandar yang sudah terluka, Jaka langsung tersenyum sendu sembari berkata, "Saya mau istirahat dulu, Kang."


"Fokus saja memulihkan energi di dalam tubuh kamu, itu bisa menjadi energi yang berguna jika kamu bisa menguasainya," sahut Darto sebelum akhirnya kembali berpindah ke dekat tubuh Ki Gandar.


Melihat Darto sudah melanjutkan pertarungan, Jaka langsung duduk bersila serta memejamkan matanya. Dia mencoba mengatur setiap energi yang meledak di dalam tubuhnya, agar bisa menjadi satu dengan energi miliknya.


Jaka benar-benar diam dan tidak bergeming sama sekali, dia begitu fokus hingga tanpa terasa tubuhnya mulai membaik setiap detiknya.


Maung dan Komang yang sedari tadi menjaga Jaka, mulai merasa lega setelah tubuh Jaka mulai menjadi coklat kembali. Kulit yang semula merah sempurna kini mulai redup dan menampilkan warna yang sewajarnya.


Melihat Jaka yang sudah membaik, mereka kembali membantu Darto yang tengah bertarung dengan Ki Gandar di dekat mereka.


"Bagaimana kondisi Jaka?" tanya Darto setelah dua temannya itu sampai di samping tubuhnya.


"Baik, Dar. Sudah hampir selesai dia mengolah energi liar di dalam tubuhnya," sahut Maung dibarengi anggukan kepala Komang.


"Alhamdulillah .... Syukurlah kalau begitu," sahut Darto sembari memasang wajah lega.


Ki Gandar benar-benar gesit. Meski tubuhnya tidak sepanas tadi, namun dia sama sekali tidak melemah meski sudah memiliki lubang di dadanya. Dia terus menghalau serangan demi serangan yang Darto lontarkan, sembari terus menyebarkan energi pada luka di dadanya.


Setiap detik yang terbuang selalu mendekatkan pada kesembuhan Ki Gandar. Luka menganga di dadanya benar-benar mulai tertutup rapat meski dirinya terus bergerak untuk menepis setiap serangan yang diberikan tiga lawan di depannya.


"Ah! Sudahlah!" teriak Darto tiba-tiba. Dia merasa kesal karena serangan yang dia hujam selalu dimentahkan. Meski sesekali dia mendaratkan serangannya secara telak, namun hanya dalam hitungan detik saja luka pada Ki Gandar langsung tertutup setelahnya.


"Kamu menyerah, manusia? Ha ha ha ha!" teriak Ki Gandar sembari tergelak.


"Cukup, Eyang! Apa kamu tidak tahu? Aku masih memiliki darahmu!" ketus Darto sungut-sungut, dibarengi mata Maung dan Komang yang sepenuhnya membulat.


"Apa maksudmu, Dar?" tanya Maung.


"Kamu bercanda, Dar?" Sambung Komang.

__ADS_1


"Nanti kalian dengar sendiri jawabannya" jawab Darto sembari menghilangkan pedang di tangannya.


Mendengar ucapan itu mata Ki Gandar benar-benar membulat sempurna. Dia terkejut dengan satu kalimat yang keluar dari bibir Darto, hingga wajahnya tiba-tiba memucat dalam seketika.


"Apa yang kamu maksud, manusia?" tanya Ki Gandar yang mulai mengendurkan posisi sigapnya. Keringat mulai membanjiri pelipisnya, dengan tubuh bergetar karena saking terkejutnya.


"Aku sudah melihat semuanya. Kamu begitu sayang dengan sesepuh kami yang tidak lain adalah Eyang Amerta dan Eyang Brahmana. Tapi kamu menjadi gila setelah insiden bongkahan emas dan membakar sebuah pasar. Kamu tidak pernah lagi melihat kedua anakmu tumbuh dan memiliki keluarga," sahut Darto menatap sendu ke arah Banaspati.


"Sebenarnya siapa kamu!" Ketus Ki Gandar dengan bibir bergetar.


"Aku cucu dari keturunan Eyang Brahmana, dan pemuda yang di sana itu adalah salah satu cucu dari keturunan Eyang Amerta," sahut Darto sembari menunjuk Jaka yang tengah duduk bersila.


"Dari mana kalian tahu?! Siapa yang menunjukkan hal itu kepada kalian?!" tanya Ki Gandar dengan wajah berangsur memucat.


"Eyang Semar," sahut Darto singkat dengan tatapan tajam menatap Ki Gandar.


Mendengar nama itu keluar dari bibir lawannya, Ki Gandar benar-benar langsung bergidik. Tubuhnya seketika gemetar, karena merasa takut dengan sosok yang namanya baru saja terucap dari bibir lawan bicaranya.


"Jika kamu mau mendengarkan, akan aku ceritakan semuanya," sambung Darto setelah melihat Ki Gandar bungkam.


Mendengar kata itu, Ki Gandar langsung menatap darto dengan tatapan ragu. Dia benar-benar penasaran, namun di satu sisi dia juga ketakutan. Namun karena rasa penasarannya benar-benar menggebu, akhirnya Ki Gandar mengangguk, sebagai isyarat setuju untuk dirinya mendengarkan.


Setelah melihat Ki Gandar mengangguk, Darto bergegas menghirup nafas panjang kemudian ambruk dan rebahan di atas tanah. Dia merasa lega karena bisa berbicara, seperti apa yang sudah dirinya dan Jaka rencanakan sebelumnya.


Setelah melihat Darto tertidur telentang di atas tanah, Ki Gandar langsung duduk di sebelahnya, kemudian dia berkata, "Sekarang biar aku dengarkan apapun yang sudah beliau tunjukkan, Manusia."


Mendengar kata itu, Darto bergegas duduk dan mulai bercerita semua pengalamannya. Dari ketika dirinya dikirim memasuki tubuh pemuda hingga saat dimana dia menyaksikan satu kampung dibakar dalam waktu bersamaan.


Cerita demi cerita terus terlontar dari bibir Darto, hingga tanpa terasa bulir bening mulai merambat dari sudut mata di wajah Ki Gandar. Dia merasa terharu karena ingatan demi ingatan yabg sudah lama ia lupakan, mulai masuk kembali ke dalam kepala miliknya, setelah mendengarkan separuh cerita yang Darto jabarkan.


Hari itu, setelah mendengar separuh cerita yang Darto lontarkan. Ki Gandar kembali memiliki sebuah perasaan, yang sudah lama mati karena sudah dibutakan oleh amarah dan balas dendam.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2