ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MUSUH SEBENARNYA


__ADS_3

Deru degup jantung begitu memburu, tatkala tangan Surip dan Bidin tak bisa lepas dari kepala itu. Sesekali mereka mencoba melemparnya, namun rambutnya seakan melilit kencang lengan mereka.


"Brug," Bidin pingsan, ketika melihat bola mata di kepala itu lepas sebelah. Tubuh Surip juga mulai limbung, mukanya memucat seketika. Darto yang terkejut melihat kejadian itu spontan langsung melompat dari atas batu, membantu melepas rambut yang melilit tangan kedua sahabatnya itu.


"Allahuakbar.. tolong Gus! Gus tolong!"


Surip menangis ketakutan. Sedangkan Bidin masih terkapar.


Tidak menjawab, Darto hanya memejamkan mata, mengucapkan ayat panjang sembari menempelkan telapak tangannya di dahi kepala itu.Cincin merah di jari Darto tiba-tiba menyala. Bagian kepala yang menyentuh cincin tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap, dengan bau gosong yang menyertai.


"aaaaaaaaa!" teriakkan keluar dari kepala buntung itu, suaranya begitu melengking, hingga berhasil membuat telinga Harti yang lumayan jauh pun ikut berdenging.


"Pergi!" teriak Darto ketika mendorong kepala tersebut masuk kembali ke dalam air.


"Alhamdulillah..." ucap Darto sembari mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya.


Tidak menggubris Darto, Surip masih terdiam. Badannya kaku, pandangannya kosong, bibirnya bergetar, keringatnya memenuhi segala sisi wajahnya. Hingga tangan Darto menepuk pundaknya, barulah Surip tersadar bahwa mahluk itu sudah tidak menempel di tangannya.


"Apa tadi Gus?" Tanya Surip masih dengan bibir gemetar.


"Sudah, lupain! emang kurang kerjaan itu demit, bikin emosi saja. Ayo bawa Bidin ke pesantren," jawab Darto bersungut-sungut. Kemudian di bantu Surip menaikkan tubuh Bidin ke punggung Darto.


Mereka pun bergegas pergi. Sebelum pergi, Harti sempat melempar tulang belulang dari ikan yang mereka makan. Tanpa dia sadari, tulang itu kembali berenang layaknya ikan yang masih hidup. Dan tanpa mereka sadari juga, kepala yang sempat terangkat, muncul kembali, hanya sebatas hidung yang muncul di atas permukaan air. Pandangannya lurus, menatap kepergian mereka berempat.


...***...


Solat isya sudah selesai di tunaikan, Bidin yang di letakan di rumah Kakung sudah sadar, namun belum bisa memasang wajah lega seperti yang lainnya. dia paling penakut di antara mereka berempat. Mungkin itu pengalaman pertamanya melihat demit secara langsung.


Di temani Kakung, kita berlima berkumpul di ruangan tempat Bidin beristirahat. Banyak hal yang masing-masing ceritakan, sebelum Harti melontarkan pertanyaan kepada Kakung yang membuat semua orang bungkam, menyimak percakapan mereka.

__ADS_1


"Anu Mbah.. Kenapa Surip dan Bidin juga bisa lihat mahluk halus ya Mbah?"


Pertanyaan yang menurut Darto menarik, dan bergegas memasang telinga. Mengingat dulu Satya dan Anto juga sempat melihat lusinan pocong ketika hendak menggali kuburan Dining, di rawa lumpur.


"Begini Nduk.. setahu Kakung, Allah menciptakan beragam mahluk yang tinggal di Bumi, diantaranya manusia kaya kita ini, Jin, hewan, dan tumbuhan. Seperti Jin yang tidak bisa melihat malaikat, manusia juga sebenarnya tidak bisa melihat Jin. Kecuali memang di beri kelebihan atau mahluk itu yang sengaja menampakkan dirinya, contohnya kepala yang tadi, dia pasti sengaja," jawab Kakung sembari menatap langit-langit ruang tersebut.


"Lalu.. apa yang Harti lihat juga karena keinginan mereka?" tanya Harti kembali.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak Nduk, Simbah tidak bisa memberi kesimpulan. Tapi jika mereka memang sengaja, berarti kamu memiliki sesuatu yang mereka sukai Nduk,"


"Lalu bagaimana dengan Mas Darto?''


"Dia spesial Nduk, tidak bisa di samakan dengan kalian. Jika kalian tau, mata Darto sudah melek ketika baru dilahirkan, persis seperti pendiri pesantren ini, bahkan sebelum Darto bisa bicara dia sudah hidup berdampingan dengan mahluk yang asalnya dari alam sebelah"


Mendengar cerita Kakung. Selain Darto dan kakung, semuanya terkejut tak bisa berkata-kata, seketika menjadikan ruang tersebut menjadi hening.


"Yah mereka paling pada pulang Dar, nanti juga kalau sudah waktunya kamu bakalan ketemu lagi,"


"Kamu ingat kejadian pas kamu masih bayi?!"


timpal Surip seraya mengernyitkan dahi.


"Iya Le, mungkin itu juga kelebihan yang Gusti Allah kasih," jawab Kakung singkat. Dan mendapat reaksi gelengan kepala daei ketiga temanku sebagai isyarat sukar percaya.


"Kung, kalau boleh Darto tanya lagi, Siapa sosok yang terus berdiri di belakang Ibu seusai melahirkan Darto?" raut Kakung berubah drastis, wajahnya kebingungan, namun tampak sedikit kemarahan ketika mendengar pertanyaan ini.


"Seperti apa sosoknya Dar?" Kakung memegang kedua lenganku dengan tangannya.


"Wanita Kung, pakaian Kemben yang dia pakai sangat bagus, selendang warna emas bahkan dia menggenakan mahkota emas, dan setiap dia datang, wangi kembang selalu hadir juga, dan mahluk yang sudah lama datang sebelum dia seperti takut, lalu pergi menghilang begitu saja"

__ADS_1


Mendengar jawaban Darto, raut muka Kakung berangsur lega dan berkata "Bukan dia Dar, Dia teman ibumu. Kakung kira kamu lihat sosok lain yang selama ini Kakung cari," Kakung menghela nafas panjang melepas rasa tegang yang bersarang.


"Sosok apa Kung?" mendengar pertanyaan Darto, Kakung kembali menoleh, tatapan matanya tajam, raut serius terpampang dari wajahnya.


"Nenek tua yang selalu memakai baju serba hitam," jawab Kakung singkat, namun tampak begitu emosi ketika mengucapkannya.


"Darto pernah lihat Kung, dia juga pernah ngasih bekas luka ke Darto dulu," Darto membuka kancing baju kemejanya dan menunjukan bekas luka di dada bagian kanannya. Bekas kula seperti cakaran satu jari terpampang di sana.


"Mulai besok, kamu sudahi bermain di danau, setiap habis ashar Kakung akan kasih ajaran lebih ke kamu Dar, bukan cuma pemilik rawa, nenek peot itu juga harus lebih kamu waspadai Dar" ucap Kakung dengan wajah geram.


"Memang siapa dia Kung?"


"Dia orang yang berbahaya Dar, tua bangka yang menganut ajaran sesat, dia mengincar kamu pas masih bayi, dia penyebab Ibumu meninggal," ucap Kakung dengan mata berkaca-kaca namun tatapannya geram.


Melihat wajah kakung yang sudah geram, Bidin, Surip dan Harti pamit meninggalkan ruangan, meninggalkan Darto dan kakeknya berdua saja di ruang itu.


"Dar... kamu itu punya sesuatu yang sangat di inginkan oleh makhluk-makhluk sebelah, terutama nenek itu, Kakung takut tidak berumur panjang, dan tidak bisa selalu melindungi kamu selamanya," pandangan Kakung terbanting ke tanah. ucapannya berubah menjadi nada sendu.


"Darto sudah bukan anak kecil lagi Kung, Darto percaya Gusti Allah tidak akan memberi ujian yang tidak mampu Darto lewati, Darto siap dengan apapun yang akan Darto hadapi, tapi Darto masih butuh Kakung dan Simbah di kampung untuk melihat kesuksesan Darto melewati ujian itu. Jadi Darto kan selalu meminta sama Allah, supaya Kakung dan Simbah berumur panjang" Darto tersenyum menghadap Kakung yang tengah tertunduk layu itu.


Setelah mendengar jawaban dari cucu tercintanya itu, senyum kecil terlihat di wajah keriput miliknya, sembari berkata


"Memang tidak salah jika kamu yang terpilih. Sudah sana pergi ke kamar, mulai besok hari-harimu akan lebih berat. Kakung akan ajarkan semua yang Kakung punya"


Setelah mencium punggung tangan Kakungnya, Darto melangkah meninggalkan ruangan tersebut, Menutup pintu kamarnya, juga menutup kisah yang sudah dia ukir hari ini.


Bersambung,-


...karena sudah senin, di tunggu vote gratisannya 😹😹...

__ADS_1


__ADS_2