
Hari sudah siang, perjalanan Darto, Harti dan juga Jaka akhirnya usai. Mereka sudah sampai di pesantren, tepat sebelum adzan dzuhur dikumandangkan.
Siang ini, Darto kembali menanyakan suatu hal kepada Abah Ramli yang baru saja pulang dari masjid. Dia menanyakan perihal energi milik Jaka, karena dia merasa penasaran sekali dengan warna yang dominan mirip dengan rantai yang pernah mengekangnya.
"Bah... boleh saya tanya sesuatu?" tanya Darto sedikit basa-basi, dia saat ini tengah berjalan beriringan bersama Jaka dan Abah Ramli.
"Apa, Dar? Langsung saja kalau cuma mau tanya," jawab Abah Ramli sembari menoleh ke arah Darto.
"Boleh saya lihat rantai di leher Abah?" pinta Darto setelah mengingat dia belum melepas Abah Ramli dari jeratan Banaspati.
"Baik, nanti kalung ini saya titipkan ke Si Mbah kamu, sekarang kita tunggu dulu mereka keluar dari masjid," sahut Abah Ramli sembari melangkahkan kakinya.
Darto, Jaka dan Abah Ramli menunggu Kakung dan Mbah Turahmin di dalam rumahnya. Dua orang itu memang terkenal khusuk dalam berdoa, sebab mereka selalu keluar dari dalam masjid sebagai orang yang terakhir.
Setelah cukup lama akhirnya Kakung dan Mbah Turahmin datang membuka pintu secara bersamaan. Darto yang melihat mereka datang langsung berdiri dari posisi duduknya kemudian menarik tangan Kakung agar cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa ini, Dar?" Tanya Kakung sedikit heran.
"Kakung ke sini sebentar, Darto butuh bantuan Kakung sama Si Mbah," ucap Darto sembari meraih tangan Mbah Turahmin. Dia menarik lengan kedua orang tua itu secara tergesa.
__ADS_1
Ketika Mbah Turahmin dan Kakung sudah Sampai di ruang tengah. Darto langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Jaka, dari saat tubuh Jaka mulai bercahaya, hingga semua demit seakan mengincarnya. Abah Ramli benar-benar terkejut setelah mendengar penjabaran Darto, apa lagi ketika Darto berkata jika Jaka melihat pertarungan leluhurnya di dalam mimpinya.
"Belum pernah ada yang cerita selama aku hidup, Dar. Keluarga besar kami tidak ada yang pernah melihat pertarungan itu, meskipun itu hanya di dalam mimpi mereka. Begitu juga aku, Dar. Aku hanya mendengar cerita itu dari sesepuh sebelumnya, dan yang jelas hanya sesepuh saja yang tahu tentang kejadian itu, kami merahasiakannya agar tidak menciptakan kepanikan yang tidak perlu," ucap Abah Ramli sembari memandang Jaka dengan wajah heran.
"Makanya itu, Bah. Dan pas Jaka mimpi, tubuhnya sampai ngambang di atas dipan. Aku saksinya," jawab Darto sembari memasang wajah heran, sama seperti wajah Abah Ramli. "Kalau begitu, aku coba melepas belenggu milik Abah, kalau memang kejadiannya sama kaya Jaka. Berarti itu efek samping karena belenggunya sudah dilepas, Bah," sambung Darto kembali, dia menatap lurus ke arah Abah Ramli.
Mendengar itu, Simbah, Kakung, Jaka dan juga Abah Ramli langsung mengangguk. Sejurus kemudian Abah Ramli melepas kalung yang melingkar di lehernya, kemudian menyerahkan pada Kakung yang sedang duduk di sampingnya, dia berkata, "Titip ini sebentar, saya keluar pesantren dulu, di sini energi yang mengekang saya benar-benar tidak terlihat."
Memang benar, jika Jaka maupun Abah Ramli tengah berada di dalam pesantren, belenggu yang mengekang mereka seakan tertekan, menjadi tipis, bahkan seakan tidak ada di leher mereka. Itulah alasan kenapa dulu Abah Ramli menyuruh Jaka untuk berjalan menuju luar gerbang pesantren, agar Darto bisa melihat energi yang mengikat Jaka.
Setelah menyerahkan kalung, Abah Ramli berdiri dan mengajak Darto untuk pergi meninggalkan area pesantren. Mereka berjalan beriringan, dengan Jaka yang mengikuti di belakang. Jaka sangat penasaran, karena dulu dia tidak melihat seperti apa bentuk energi yang mengikat lehernya.
"Iya, Jak. Sama persis," jawab Darto singkat kemudian meraih tali di leher Abah Ramli.
Ukuran tali di leher Abah Ramli benar-benar berbeda dengan milik Jaka, ukurannya hampir tiga kali lipat lebih tebal dari dari tali yang pernah mengikat Jaka. Untuk sesaat Darto memejamkan mata, dia mencoba mengeluarkan energi dari tangannya, namun aksinya berhenti di tengah jalan. Dia mengurungkan niatnya sembari berkata "Jak... coba kamu yang pegang ini."
Jaka mengangguk, dia melangkah maju, mendekat pada tubuh Abah Ramli yang hanya diam sedari tadi. Tidak lama setelah dirinya sampai, dia langsung meraih tali yang mengikat erat leher sesepuhnya. Sesuatu hal yang aneh terjadi, energi yang melilit Abah Ramli memudar begitu saja. Seakan rantai itu menguap dan masuk ke dalam tubuh Jaka, melalui setiap pori-pori di lengannya.
"Hah?! Apa saya sudah bebas?" Ucap Abah Ramli dengan wajah yang tak kalah tercengang dengan wajah Darto. Dia terus memegangi lehernya yang terasa renggang, karena selama masa hidupnya dia merasa seperti tengah tercekik pelan.
__ADS_1
"Kang?! Kenapa bisa masuk ke tangan saya, Kang!" Teriak Jaka dengan wajah ketakutan. Setelah melihat rantai yang mengikat Abah Ramli, seakan masuk ke dalam lengannya.
Mendengar itu, Darto tidak bisa menjawab pertanyaan Jaka. Meski Darto tidak bisa menjawab dengan yakin, tapi Darto langsung memiliki firasat yang begitu kuat tentang tubuh Jaka.
"Bukan saya yang di tunggu oleh semua keluarga Abah. Mereka semua menunggu Jaka," ucap Darto sembari menatap Jaka yang sedang memperhatikan lengannya.
"Kang... Apa maksudnya?" Tanya Jaka kembali, dia menuntut jawaban dari Darto, karena Darto tidak menjawab pertanyaan darinya, malah justru berbicara kepada sesepuhnya.
"Kamu sabar dulu, Jak, aku baru punya perkiraan. Tapi semoga saja perkiraan ini tepat," sahut Darto dengan tatapan lurus menatap Jaka, dan sejurus kemudian dia berbicara kepada Abah Ramli, "Boleh saya bawa Jaka sebentar, Bah? Saya ingin bertanya kepada seseorang yang mungkin tahu dengan Tubuh Jaka. Saya berjanji saat kembali nanti, Jaka sudah bisa menjaga semua keluarganya."
"Saya tidak bisa melarang, Dar. Jaka sudah besar, dia sudah bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Lagian aku mengajak dia keluar desa, juga untuk mencari pasangan. Yang jelas kami sekeluarga sudah siap merelakan Jaka," jawab Ki Karta sembari memandangi Jaka. Dia tampak khawatir, namun dia tidak bisa menolak semua keinginan Jaka.
"Jadi... gimana, Jak? Kamu siap?" Tanya Darto singkat.
Untuk sejenak Jaka menunduk, dia memikirkan matang-matang tentang apa yang akan dia lakukan. Dia bingung antara langsung pulang dan membebaskan semua keluarganya, atau pergi bersama Darto untuk sementara waktu.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau, Jak. Lagian ini juga untuk kebaikan kamu. Aku cuma bermaksud membantu, siapa tau suatu saat kamu bertemu dengan sosok yang kuat, kamu bisa melindungi keluargamu tanpa meminta bantuan orang lain lagi," sambung Darto setelah melihat Jaka hanya menunduk. Darto benar-benar tahu jika Jaka sedang kebingungan saat ini. Untungnya, setelah mendengar ucapan Darto, Jaka langsung berkata, "Kang... tolong ajari Jaka, supaya Jaka bisa sekuat Kang Darto. Jaka tidak mau merepotkan orang lain lagi. Setidaknya, ajari Jaka untuk membela diri."
Bersambung,-
__ADS_1
...VOTE NYA JANGAN LUPA 😁...