ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SUASANA YANG DIRINDUKAN BAGIAN 2


__ADS_3

Sore itu, suara kumandang adzan Mbah Turahmin menggema memenuhi segala penjuru desa kemoceng. Setelah melaksanakan shalat Maghrib, Darto bertemu dengan Anto, Satya dan juga Dining.


Satya dan Dining benar-benar merasa tidak nyaman dengan cara Darto memandangi mereka berdua. Mereka sampai terheran-heran karena Darto terus memandangi mereka sembari menahan genangan air yang sudah memenuhi setiap sudut matanya.


"Kamu kenapa si, Dar? Aneh bener," umpat Satya setelah melihat Darto terus tersenyum dengan mata sembab miliknya.


"Nggak apa-apa, Sat, Kamu sehat, Kan?" Jawab Darto singkat sembari terus tersenyum seraya memandangi Satya serta Dining kecil secara bergantian, "Kamu juga, Ning ... Bapak kamu sehat, Kan?" sambung Darto kembali.


"Alhamdulillah, Dar ... kamu kenapa tanya begitu?" Sahut Dining sedikit kebingungan.


"Alhamdulillah kalau begitu, eh tadi kalian ke rumah mau apa?" Tanya Darto kembali.


"Besok kita bantu bapakku panen buncis ya, Dar? Kamu enggak lagi repot, kan?" Jawab Satya.


"Boleh, asal upah sepadan ... he he he he," saut Darto kecil sembari cengengesan.


Mendengar itu, Anto, Satya dan Dining langsung terkekeh pelan, mereka benar-benar tahu persis jika Darto pasti akan menjawab ajakan mereka dengan kata tersebut.


Setelah perbincangan itu, Darto dan tiga temannya hanya menghabiskan waktu untuk bergurau ria, hingga tanpa terasa Si Mbah Turahmin kembali mengumandangkan adzan isya.


Setelah usai shalat berjamaah, mereka berpisah. Seperti biasa, Darto berjalan beriringan menyusuri persawahan yang membentang diantara langgar dan rumah miliknya.


"Mbah ... Ada banyak pertanyaan yang ingin Darto sampaikan. Jika boleh Darto tidur di kamar Si Mbah, ya?" ucap Darto seraya terus melangkah di belakang Si Mbahnya itu.


"Cucu Si Mbah sudah besar masih manja, ha ha ha ha ... Boleh, Dar. Nanti Simbah jawab semua pertanyaan kamu," jawab Mbah Turahmin sembari menoleh ke belakang.

__ADS_1


Mendengar jawaban simpel tersebut, Darto langsung mengulum senyum di bibirnya, kemudian mendekat ke arah Si Mbah Turahmin, dan menggandeng telapak keriput milik Si Mbahnya.


Di tengah perjalanan, Darto sempat menoleh ke arah rimbun pohon pisang yang ada di tengah sawah tersebut.


"Dia sudah lama ya Mbah di sana?" ucap Darto sembari menatap mahluk hitam yang terus berdiri di bawah pohon, sama seperti mahluk yang dia temui di kehidupan dulu.


"Kamu sudah bisa melihat?!" sahut Mbah Turahmin sedikit terkejut.


"Sudah, Mbah ...," Darto menjawab sembari mengangguk.


"Hebat, cucu Si Mbah memang hebat," jawab Si Mbah Turahmin sembari mengulum senyum di wajahnya, "Ayo cepat ... sepertinya permintaan kamu untuk tidur di kamar Si Mbah memang tepat. Banyak hal juga yang ingin Si Mbah sampaikan," sambung Si Mbah kembali.


Setelah mengucap kata tersebut, Mbah turahmin langsung memperlebar langkahnya, dia melangkah tergesa, agar cepat sampai di rumah tempat singgahnya.


Sesampainya di rumah, Si Mbah Turahmin langsung menyalakan lampu sentir di ruang tamu, kemudian meracik rokok, sembari bertanya kepada cucunya, "Sejak kapan kamu bisa lihat mereka, Dar? Kamu tidak takut?"


"Kamu sudah merokok? Siapa yang ngasih tahu kamu cara melinting?!" Mbah Turahmin benar-benar terkejut melihat kepiawaian Darto ketika meracik dan melinting rokok di tangannya.


Mendengar itu, Darto langsung bergumam di dalam hati, dia menebak-nebak jika di kehidupan ini dirinya belum pernah merokok sama sekali. Setelah menemukan jawaban yang dirasa cukup tepat, akhirnya Darto berkata, "Darto cuma sering melihat Si Mbah melakukan ini, jadi Darto cuma penasaran dan mau coba. Ternyata gampang ya, Mbah?"


"Ini pertama kali kamu buat rokok? Coba sini rokok kamu," ucap simbah sembari meraih rokok di tangan Darto, dia menyalakan rokok buatan tangan Darto, kemudian berkata, "Bisa pas gini rasanya ... Memang pinter cucu Si Mbah yang satu ini, he he he he...."


Mendengar itu, Darto pun ikut terkekeh, kemudian meraih rokok yang sudah Si Mbah buat kemudian menyalakannya. "Saya boleh merokok kan, Mbah?" Tanya Darto tepat setelah menyalakan rokok di tangannya.


"Boleh silahkan, kamu sudah 12 tahun sekarang, kamu sudah cukup besar," jawab Si Mbah singkat kemudian kembali menyesap rokok buatan cucunya.

__ADS_1


Setelah itu, mereka berdua hanya duduk menikmati kepulan asap yang terus menari memenuhi rongga tenggorokan dan juga dada mereka, tidak ada sepatah kata pun yang terucap untuk waktu yang cukup lama.


"Mbah ... Apa pernah Si Mbah bermimpi kembali ke kehidupan yang dulu?" Tanya Darto setelah cukup lama menikmati keheningan.


"Maksud kamu bagaimana, Dar?" tanya Si Mbah kembali.


"Apa Si Mbah pernah bermimpi tentang masa lalu? Sepertinya Darto sedang menjalani apa yang sudah pernah Darto alami sebelumnya, sekarang Darto pulang ke masa dimana Darto masih berumur 12 tahun seperti yang Si Mbah katakan," ucap Darto dengan wajah serius.


"Jadi? Kamu mau ngomong kalau kamu pernah dewasa sebelumnya? Ha ha ha ha ... Ada-ada saja kamu, Dar. Semua orang pernah bermimpi, apalagi masa lalu mereka, mereka sangat mudah memimpikan apapun yang mereka rindukan, karena sebelum tidur mereka sering memikirkannya," jawab Si Mbah sedikit merasa lucu.


"Apa Si Mbah tidak percaya?" Aku tahu semua, Mbah. Aku tahu seperti apa Si Mbah, Aku tahu tentang Kakung juga, Aku bahkan tahu tentang semua ujian yang selalu keluarga kita lakukan, sejak meninggalnya eyang Darsa," ucap Darto dengan wajah yang sangat serius.


Rokok di sela jari Si Mbah Turahmin seketika langsung terjatuh. Dia terheran dengan kalimat yang baru saja cucunya bicarakan, dia benar-benar tidak bisa mempercayai kebenaran dari setiap kalimat yang baru saja keluar dari bibir pemuda kecil, yang tengah duduk di depan matanya itu.


"Dar ... Apa kamu lulus?" Tanya Si Mbah sendu, dengan bibir, tangan bahkan kaki yang terus bergetar hebat.


"Njih, Mbah. Darto lulus karena bantuan Si Mbah dan juga Kakung," jawab Darto singkat sembari menatap iba kepada Si Mbah Turahmin yang tengah bergetar hebat di depannya.


"Alhamdulillah ... Alhamdulillah ... Alhamdulillah ...," Ucap Mbah Turahmin secara terus menerus. Dia meraih tubuh Darto, kemudian mendekap erat tubuh mungil cucunya itu. Dia benar-benar menangis, bahkan dia sampai terisak ketika menciumi kening Darto secara bertubi-tubi, "Sepertinya ada sesuatu yang salah di sini, Dar. Si Mbah akan bantu kamu bagaimana pun caranya," sambung Si Mbah sembari terus mendekap, dan mengacak kasar rambut cucunya.


"Tolong Darto, Mbah. Darto tahu ini bukan mimpi, tapi Darto juga tidak yakin jika ini ilusi. Darto harus kembali," sahut Darto sembari membenamkan kepalanya si dada Si Mbah Turahmin.


"Kamu tenang saja, Dar, Si Mbah akan bantu sebisa Si Mbah," jawab Si Mbah sembari melepas pelukannya, dia mendorong tubuh Darto, kemudian memegangi pundak cucunya menggunakan kedua tangannya, "Sekarang lebih baik kita tidur, biar besok kita cari jalan keluarnya," sambung Si Mbah kembali.


Mendengar semua jawaban itu, Darto semakin kebingungan jadinya. Bagaimana bisa ini mimpi? Bukankah ini terlalu nyata?

__ADS_1


Sebenarnya dimana Darto berada? Apakah dia kembali ke masa lampau? Entahlah ... mari kita tunggu saja kelanjutannya.


Bersambung ....


__ADS_2