
Tanpa rasa ragu maupun bimbang Darto langsung mendekat ke arah pria tersebut. Terus mendekat dalam tiap langkahnya, hingga akhirnya Darto tepat berdiri di depan pria tersebut sembari mengucap kata, "Assalamu'alaikum...."
Lelaki itu sontak membuka mata, tatapannya sangat tajam, dia menatap lurus tepat ke arah kedua mata Darto.
Dengan wajah yang memiliki ekspresi tenang namun mengintimidasi, dia terus mendongak melihat Darto kemudian berkata, "Wa'alaykumussalam"
Setelah menjawab salam Darto. Lelaki itu hilang dari posisi duduknya, dia tiba-tiba berdiri tepat di depan Darto, dengan kecepatan yang bahkan melebihi kedipan mata.
"Kamu bisa sampai di sini? Sepertinya kamu bukan pria lemah seperti lima orang yang sedang kewalahan di luar," ucap pria itu sembari melangkah pelan mengitari Darto yang tengah tertegun. Dia menatap sembari menelisik setiap ujung kaki hingga ujung kepala Darto sembari berputar.
"Kenapa mereka bisa selemah itu di tempat ini?" tanya Darto mencoba mendapat jawaban atas kebingungan yang dirinya miliki.
"Aku akui mereka hebat ... Kalau mahluk lemah mencoba masuk lewat pintu depan, sudah dipastikan mereka mati bahkan sebelum melangkahkan kaki," lelaki itu sedikit tersenyum. Senyumannya benar-benar angkuh, seakan menghina setiap tindakan Darto dan kelima temannya.
Darto sedikit geram mendengar ejekan tersebut. Dia segera menciptakan pedang di tangannya, kemudian menebas lelaki tersebut tanpa berpikir panjang.
Duarrrr...
Wussshhh...
Suara dentuman benar-benar menggelegar disertai angin kencang langsung tercipta seketika itu juga.
Satu tebasan Darto benar-benar bisa dimentahkan, menggunakan pedang yang kini juga di pegang oleh pria tersebut.
Efek dari benturan kedua pedang di tangan mereka benar-benar dahsyat, semua obor seketika padam, disertai gemuruh yang mulai terdengar dari dalam bangunan.
Saat pedang mereka bersentuhan, dua lelaki itu langsung dihujam rasa kebingungan.
Darto menatap heran pria tersebut, sedang pria itu tercengang melihat senjata milik Darto.
Pedang mereka memiliki warna yang sama, energi yang sama, bahkan tidak terlihat sedikitpun perbedaan.
"Hei anak muda ... siapa kamu sebenarnya?" ucap sang pria sembari menarik mundur pedang miliknya.
Tepat ketika Darto dan pria itu menarik mundur pedang mereka, obor kembali menyala dengan sendirinya.
"Aku juga mempunyai pertanyaan yang sama. Siapa sebenarnya kalian?" Darto kembali bertanya.
"Kalian?" Pria itu kebingungan dengan maksud dari kata 'kalian' yang Darto utarakan.
"Iya ... kalian ... Kamu, Abirama, bahkan Mbok Kanti," sambung Darto kembali.
"Mbok Kanti?" Pria itu kembali memunculkan pedang di tangannya kemudian melesat sembari mengarahkan bilah tajam ke arah leher Darto.
__ADS_1
"Iya! Mbok Kanti!" Darto menjawab tanpa berfikir sembari menghalau serangan pria tersebut dengan pedang miliknya.
"Hei ... banyak yang perlu di jelaskan di sini," ucap lelaki sembari terus menebas Darto.
Dia terus mengayun pedang di tangannya, sembari terus berpindah tempat ke arah titik buta yang Darto miliki.
"Bisakah kita bicara saja? Apa perlu kita bertarung seperti ini? Tujuanku bukan mengalahkan kamu, tapi aku Datang untuk memenggal iblis merah itu," ucap Darto sembari terus menepis serangan pria itu.
"Kamu? Melawan dia? HA HA HA HA HA!" Pria itu terbahak sembari menghentikan serangannya. "Kamu bahkan tidak akan bisa menggores sedikitpun rambut miliknya, anak muda."
Darto geram sekali setelah mendengar ejekan tersebut, kemudian berpindah ke belakang musuhnya, dan langsung mengayun pedang tepat ke arah lehernya.
"Aku tidak menghinamu anak muda! Ha ha ha ha!" Kembali pria itu terbahak sembari menepis serangan Darto dengan mudahnya.
Darto tidak menggubris tawa dari lawannya, kali ini Darto terus berpindah dengan begitu gesit, ke tempat titik buta musuhnya sembari mengayun senjata miliknya.
Dentuman demi dentuman terdengar secara beruntun kala itu, mereka berdua bergerak dengan begitu cepat, hingga tubuh mereka tidak terlihat sama sekali.
Yang tampak hanya percikan demi percikan cahaya ketika dua pedang beradu, yang terus menerus memercik di berbagai tempat dengan begitu cepatnya.
"Aku akui kamu cepat anak muda. Tapi itu saja tidak cukup," ucap pria itu sembari terus menghalau serangan Darto, "Gores tubuhku ... Jika kamu bisa, akan aku jawab apapun yang kamu pertanyakan," sambungnya lagi.
Mendengar itu, Darto seketika menghentikan serangannya dan berkata, "baiklah kalau begitu ... tapi, tolong tunggu sebentar."
Pedang Darto kian memadat kala itu. Baik kekerasan, ketajaman senjata Darto benar-benar mengalami peningkatan yang begitu pesat, jika dibanding pertarungan tadi.
Ketika Darto membuka mata, dia benar-benar mengangkat pedang yang begitu mengilap, cahaya putih bagai lampu ratusan watt, dengan ekor cahaya yang mengurai dan menguap di setiap sudutnya.
"Hooo ... tidak buruk anak muda ... itu mungkin benar-benar bisa melukai diriku," ucap Pria itu masih dengan senyum angkuhnya.
"Sebaiknya kamu menghindar dengan benar mulai sekarang," ucap darto sembari tersenyum, senyum Darto benar-benar tidak kalah angkuh dari lawannya, membuat dua orang itu terlihat sangat menikmati pertempuran yang akan mereka lakukan sepersekian detik lagi.
Setelah Darto mengucap kata tersebut, Darto berdiri sembari berkata, "Aku datang!"
Tepat ketika kalimat tersebut Darto selesai ucapkan, Darto benar-benar menghilang dari pandangan.
Dan bertepatan dengan waktu Darto menghilang, musuhnya langsung mengangkat pedang miliknya menuju sisi kiri lehernya.
Klang ...
Benturan dua pedang kembali terdengar. Pria itu benar-benar bisa membaca serangan Darto, dia bisa menepis serangan yang tidak terlihat, dengan cara bergerak menggunakan perkiraan.
"Benar-benar berbahaya!" Ucap pria itu kembali, setelah melihat pedang di tangannya langsung patah setelah menerima satu serangan dari Darto.
__ADS_1
Darto tersenyum ketika melihat ekspresi lawan yang mulai berubah menjadi waspada. Dia juga merasa lega, karena energi di tangannya cukup kuat untuk mematahkan energi lawannya.
"Masih belum mau menyerah?" tanya Darto dengan senyum mengejek.
"Maju saja ... dasar ... Ha ha ha ha!" pria itu kembali tertawa.
Darto juga ikut terkekeh melihat pria tersebut, sebelum akhirnya kembali menghilang dan dan menghunus pedang padat miliknya.
Saat itu Darto benar-benar merasa bisa menebas apapun, tapi yang terjadi sangat diluar dugaan.
Musuh Darto menciptakan pedang energi yang mulai melayang di sekitar tubuhnya.
Dari yang semula berjumlah satu, menjadi dua hingga berakhir menjadi tuju pedang yang terus terbang mengitari tubuhnya.
Tiap kali Darto melesat dan memberikan serangan, pria itu selalu menempatkan satu pedang yang tengah melayang untuk menghalau serangan Darto.
Meski pedang yang digunakan untuk menahan serangan Darto selalu patah, pria itu langsung menciptakan satu pedang pedang yang baru dalam waktu yang bersamaan.
"Untuk apa cepat? Untuk apa juga senjata kuat? Kalau arah serangan bisa dibaca dengan mudah?" Lelaki itu kembali terkekeh.
"Baiklah ... Coba baca serangan yang satu ini," Darto benar-benar tersenyum lebar.
Darto benar-benar melesat maju dengan kecepatan gila. Dia maju tanpa gerakan lain, hanya berlari lurus tanpa sedikitpun tipuan.
Melihat Darto melesat maju, pria itu menempatkan lamgsung dua pedang sekaligus di depan wajahnya, bahkan sebelum Darto menggapainya.
Dia benar-benar bisa membaca gerakan Darto, namun dia tidak tahu apa yang Darto rencanakan kali ini.
Saat itu Darto berlari sekuat yang dia bisa untuk maju, tapi bukan untuk menyerang.
Darto terus berlari hingga tepat berdiri di depan mata musuhnya, kemudian berpindah menggunakan teknik lempit yang sudah dirinya kuasai.
Darto berpindah ke atas musuhnya, kemudian terjun sembari memegang panah chandrabha yang sudah siap dilepaskan anak panahnya.
Pria itu benar-benar terkejut, dia terlambat menyadari. Ketika dia sadar Darto berada di atasnya, ketika itu juga anak panah sudah hampir menyentuh kulit kepalanya.
Duar!
Dentuman dahsyat kembali terdengar, bahkan langit juga ikut bergemuruh, mengiringi getaran tanah yang kian berguncang.
Darto terjun dari udara dengan senyuman yang sangat lebar kala itu. Dia merasa bahagia, karena musuh kuat yang tengah dirinya lawan sudah memiliki satu goresan yang cukup besar di pipi miliknya.
Saat kaki Darto sampai di atas tanah, dia langsung terkekeh sembari berkata, "Sekarang saatnya kamu menjelaskan semuanya."
__ADS_1
Bersambung ....